SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
80


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Ma...kami pulang ", sang Mama bisa mendengar suara Aisakha di depan pintu kamarnya.


 


Persis seperti pesan sang Mama pada pelayan di istana megah Aisakha, apabila Aisakha dan Nia sudah kembali, sepasang kekasih ini di tunggu di kamar sang Mama.


 


"Masuk nak ". Cepat Aisakha membukakan pintu kamar Mama untuk dirinya dan Nia.


 


Aisakha mengandeng tangan Nia berjalan ke arah Mama yang sedang duduk sofa tepat di depan ranjang putih besar.


 


"Mama menunggu kami ?" Tanya Aisakha sambil melepaskan gengamannya dari Nia. Nia langsung memilih mendudukkan dirinya di samping Mama.


 


"Kemana saja kalian ? Kenapa sudah hampir jam 3 baru pulang ". Tanya Mama sambil memandangi wajah Nia dan Aisakha bergantian.


 


"Tadi selesai dari makam ayah dan Ibu, kami ke kantor Mas, Ma. Kami membahas tentang seleksi penerimaan calon penelitiku nanti ". Jelas Nia sambil bergelayut manja pada Mama mertuanya.


 


"Dan Mama tahu, aku sudah punya satu peneliti yang akan bekerja bersamaku kelak ". Nia tersenyum senang.


 


"Oyaaa..? Bukannya tadi baru membahas, bagaimana sudah ada calon saja ?" Mama mengusap-usap rambut Nia.


 


"Karena sahabatku di laboratorium di Bengkulu tadi menelepon Ma. Si Resya namanya, dia mengajukan diri untuk menjadi peneliti pertama aku. Orang tuanya pensiun akhir bulan ini, jadi keluarga mereka akan pindah ke kota kelahiran Papanya di Bandung Ma. Aku sudah sangat mengenal integritasnya, Resya peneliti hebat. Jadi aku minta izin Mas buat langsung terima dia, tanpa seleksi. Heheh ", tawa malu Nia.


 


"Wah..itu nepotisme namanya ". Mama pura-pura tidak suka.


 


"Tapi Ma, kualitas Resya memang bagus. Dia peneliti senior loh Ma, untuk sebuah laboratorium baru aku sangat yakin keberadaan Resya nanti tidak cuma sebagai karyawan, tetapi juga bisa sebagai patner bagus untuk sebuah terobosan awal ". Jelas Nia membela diri.


 


"Hahahahaha, iya..iyaaaa. Mama tadi hanya mengoda kamu saja Nia ". Nia terlihat memasang tampang melogo, karena telah sukses di kerjai oleh si Mama mertua.


 


"Jadi ". Dengan senyum di sudut bibirnya melihat sang Mama dan calon isterinya saling bersenda gurau. "Ada apa menunggu kami ?" Ulang Aisakha pada pertanyaan awalnya.


 


"Kita berangkat ke Bengkulu jam 5 nanti !" Aisakha menaikan alisnya, wajahnya merasa heran.


 


Sedang Nia, serta merta melepaskan rangkulannya dari Mama dan langsung sibuk bertanya, banyak bertanya. "Ke, ke Bengkulu Ma ? Kenapa Ma, ada apa ? Akukan baru 3 hari di sini, masih 4 hari lagi Ma. Kan baru minggu depan Mama bakal antar aku pulang. Kenapa sekarang Mama malah mau bawa aku ? Kenapa Ma ? Apa aku buat salah, iya Ma ?" Nia tertunduk lemas. "Maafkan aku Ma, Maafkan aku ".


 


"Sayang, yang bilang kamu buat salah siapa ? Kamu ini ". Mama menowel hidung mancung Nia. "Sekarang kemasi barang-barangmu ya ! Lita dan Riana sudah menunggu untuk membantumu ". Senyum Mama sambil memandang Nia.


 

__ADS_1


"Tapi kenapa Ma ?" Nia masih enggan bergerak.


 


"Nanti Mama jelaskan, sekarang Nia kemasi barang-barang Nia yang mau di bawa. Atau enggak usah aja kali ya ? Bawa saja yang memang sangat penting. Sisannya biarkan di sini, kamu jugakan bakal segera balik ke sini. Jadi nggak perlu capek bolak-balik bawa barang yang samakan ?" Mama memaksa Nia berdiri.


 


Di tengah ke engganannya, Nia memandangi Aisakha. Wajah mereka sama bingungnya, tetapi Aisakha berusaha mengendalikan keraguannya.


 


"Bawa saja yang memang penting ya ". Aisakha mendekati Nia. "Nanti aku temui kamu di kamar, sekarang aku bicara dulu sama Mama ya ". Aisakha membantu Nia berdiri. Memberi kecupan pelan di kening Nia dan membiarkan Nia meninggalkan dirinya dan sang Mama berdua.


 


"Ada apa Ma ?" Tanya Aisakha saat yakin Nia telah jauh meninggalkan mereka berdua.


 


"Bibi Nia menelepon Mama tadi, calon mertuamu itu meminta kamu mengantar Nia pulang hari ini juga ". Jawab mama singkat.


 


"Apa alasannya ?" Aisakha berusaha bersikap tenang.


 


"Karena kamu akan dipisahkan dari Nia ". Mama sangat santai saat mengucapkan kata-kata barusan. Beda dengan aisakha yang terlihat gagal mempertahankan ketenangannya.


 


Rahang Aisakha mengeras, dia terpancing emosi.


"Tidak akan pernah Ma ", jawab Aisakha tegas. "Hanya maut yang bisa memisahkan kami ".


 


 


"Maaaa ". Kontrol amarah Aisakha mulai keluar. "Ada apa ini, kenapa Mama membiarkan mereka mengambil Nia ?"


 


"Ya..kalau enggak gituh kamu pasti bakal terus menempel sama Nia. Itu pamali Sakhaaaaa ". Mama meletakkan telunjuknya di kening Aiskaha. "Mana boleh seperti itu. Mama ini masih menganut paham pinggitan sebelum menikah loh  !" Aisakha mengerjabkan matanya beberapa kali.


 


"Bisa Mama jelaskan ?" Aisakha memegang tangan kanan Mama.


 


"Jadiiiii ". Mama sengaja berhenti sesaat. Wajah Aisakha kembali kesal.


 


"Ma..plissss !" Aisakha mengonyang tangan sang Mama.


 


"Aiihhh...susah benar sih di bawa bercanda kamu ini ". Tawa kecil terdengar di kamar tidur Mama.


 


"Jadi nak, tadi Bibi Nia menelepon Mama. Enggak lama setelah kalian pergi mengunjungi makam orang tua Nia. Kesehatan Bibi Nia semakin baik, sangat baik malah. Sekarang Bibi Nia itu sudah bisa berjalan dengan memakai alat bantu, enggak di kursi roda lagi ". Sampai di sini, Aisakha masih belum mengerti.


 


"Kamu ingat hasil Mama ngebujuki keluarga Nia waktu itu, agar mempercepat tanggal pernikahan kalian ?" Tanya Mama yang di balas anggukan kepala Aisakha. "Pihak mereka bilang di majukan 3 minggu lagi, tapi kalau hasil pemeriksaan terakhir berjalan seperti harapan kita. Maka akan di segerakan ". Aisakha masih saja menganggukan kepalanya.


 

__ADS_1


"Tuhan merestui hubungan kalian nak, 10 hari dari sekarang Nia akan sah menjadi isterimu ". Mama sudah tidak bisa menahan diri lagi. Wajah Mama terlihat sangat senang, bahkan tawa senang terdengar renyah di telinga Aisakha.


 


Sah ? 


Aisakha menatap sang Mama sesaat.


 


"Maksud Mama ?" Sebentuk senyum mulai menarik kedua sudut bibir Aisakha.


 


"Iyaaappp ". Mama bertepuk senang.


 


"Ya Tuhannnnn ". Aisakha memeluk sang Mama.


 


"Nia belum tahu Ma ?" Tanya Aisakha masih sambil memeluk sang Mama.


 


"Belum nak ". Jawab Mama pelan.


 


"Ada apa Ma ?" Mendadak suasana hati sang Mama berubah.


 


"Sakha...pihak keluarga Nia mengajukan syarat dan maaf ya nak. Mama mengiyakan semua permintaan Bibi Nia ".


 


"Apa Ma...? Mereka minta apa ?"


 


"Mereka mengajukan 3 syarat. Pertama, pengucapan janji pernikahan kalian di lakukan di Bengkulu. Kedua, dari setelah kita mengantar Nia sampai kembali ke Bengkulu, kamu gak boleh ketemuan sama Nia sampai hari peresmian kalian. Kamu hanya boleh telepon Nia sekali sehari dan itupun tanpa video call ". Raut wajah Aisakha langsung berubah muram.


 


"Dan satu lagi nak, syarat ketiganya adalah. Setelah menikahi Nia, kamu baru boleh membawa Nia ke sini minimal 2 hari kemudian. Dan selama itu, kamu dan Nia tidak boleh sekamar ". Mata Aisakha melotot besar.


 


"Ma..apa-apaan itu ?" Aisakha mengusap kesal wajahnya.


 


"Oke, syarat pertama aku tidak akan mempermasalahkannya, silahkan saja. Mana yang paling baik itu yang akan kita lakukan bersama. Kemudian, syarat kedua. Itu berat Ma ". Aisakha menatap mata Mama. "Tapi ya sudahlah, aku masih bisa menerimanya. Anggap saja itu juga yang paling baik untuk kami. Ya...walaupun aneh saja. Masa iya aku harus berjauhan dari Nia, parahnya lagi teleponan cuma sekali sehari dan itu pun di larang video call. Tapi, ya sudahlah. Aku akan patuh Ma ". Aisakha terlihat bersungguh-sungguh.


 


"Tapi Ma, syarat ketiga itu kok aneh banget ? Masa iya Mama setuju ?" Aisakha bermaksud protes.


 


"Terpaksa nak, mau gimana lagi. Mama sudah protes, Mama nggak terima. Tapi syarat tetap syarat, demi kebaikan kalian Mama setuju ". Mama membelai kepala Aisakha.


 


"Mengalah ya. Ini semua demi kamu dan Nia ". Bujuk Mama kemudian.


 


 

__ADS_1


__ADS_2