
Kepedihan Yang Sama
πππππ
γ
Paman memandangi Nia yang masih bertahan menutup wajahnya dengan bantal. Entah sudah berapa lama Nia mempertahankan batal itu berada di wajahnya. Apa Nia sudah tidur? Paman berusaha menilai dari arah tempat dia sedang duduk saat ini. Ah, apa aku keterlaluan?Β Paman sedang berpikir. Tapi semua ini aku lakukan untuk Nia, aku tidak mau Nia merasakan kepedihan yang sama dari masa lalunya.
γ
Paman menarik nafas dalam, mencoba mengusir kemungkinan kalau dirinya telah melakukan kesalahan. Kemudian, Paman merasakan ada sentuhan lembut di bahunya.
γ
"Suamiku, apa yang tengah membebani pikiranmu?" Si pemilik tangan yang tengah berada di bahu Paman mulai mengajaknya bicara. Dia adalah Bibi Ros, isteri Paman.
γ
"Isteriku". Paman memegang erat tangan wanita yang sangat dicintainya itu. Membawa tangan itu mendekat kearah bibirnya. Paman mengecup jemari Bibi.
γ
"Katakan, apa yang sedang kamu pikirkan". Bibi membujuk Paman.
γ
"Lihat". Paman menunjuk ke arah Nia yang mungkin telah tertudur di balik bantal yang menutupi wajahnya.
γ
"Kamu marah padanya, suamiku?" Tanya Bibi kemudian.
γ
"Tidak, tidak..aku mana mungkin marah pada anak satu itu. Mana pernah bisa marah sayang, kamu taukan?" Paman berusaha menepis dugaan salah dari Bibi.
γ
"Lantas, kenapa Nia begitu terlihat kesakitan? Dia sangat sedih suamiku". Bibi meminta kepastian dari Paman.
γ
"Isteriku, apa kamu tau. Nia kita telah jatuh cinta". Paman memulai ceritanya.
γ
"Sukurlah, sekarang sudah ada yang menjaganya. Kamu tidak perlu mengkawatirkannya lagi". Bibi tersenyum senang.
γ
"Tapi, tapi dia bukan lelaki biasa". Paman terlihat ragu.
γ
__ADS_1
"Oya, kenapa? Apa dia berjalan dengan tangan di bawah dan kaki di atas?" Tanya Bibi sambil menahan tawanya.
γ
"Ah, kamu..aku sedang serius ini". Paman terlihat memprotes Bibi yang dinilainya hanya bercanda saja.
γ
"Baiklah, baiklah. Maafkan aku. Aku hanya penasaran saja, kenapa lelaki ini menjadi tidak biasa di matamu. Jadi, kalau dia memang tidak memakai tangannya buat berjalan, lantas apa yang membuatmu berat menerima dia untuk Nia?". Bibi kembali serius menanggapi cerita Paman.
γ
"Dia orang kaya, isteriku". Jawab Paman pelan.
γ
"Orang kaya buruk rupa? Atau orang kaya yang bejat? Atau orang kaya yang sangat, sangat tua untuk Nia?" Bibi tidak paham maksud Paman.
γ
"Bukan, bukan". Paman mengeleng pelan. "Dia tampan, dia baik dan dia masih muda. Mungkin hanya empat atau lima tahun di atas Nia".
γ
Bibi memandang mata Paman, mencoba mencerna semua yang disampaikan Paman. Lantas, kalau dia tampan, baik dan masih muda, apa dosanya sampai tidak pantas untuk Nia? Begitu kira-kira arti tatapan Bibi pada Paman.
γ
γ
"Aku ingat, mana mungkin aku melupakan semua itu. Akulah yang selalu membuka jendela kamarnya di pagi hari dan menutupnya lagi saat hari beranjak sore. Akulah yang selalu melihat dia setia detiknya hidup dalam kepedihan bagai tiada harapan untuk esok hari". Dengan tangan yang lain, Bibi menepuk pelan tangan Paman yang memegang jemarinya.
γ
"Nah, kamu tahu itu. Itu semua ulah siapa? Karena apa? Kekayaan, kekayaan isteriku". Jawab Paman tegas.
γ
"Sayang, suamiku". Bibi berbicara lembut sambil tersenyum pada Paman. "Itu adalah masa lalu Nia, masa yang sudah Nia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Sekarang Nia hidup untuk masa depannya, tentu saja dengan lelaki yang akan mencintai Nia hingga akhir masanya kedepan nanti. Nah, kalau lelaki yang ternyata sanggup mencintai Nia hingga akhir masanya nanti, suatu kebetulan berasal dari keluarga kaya. Apa salahnya? Kamu yang bilang dia baik. Iyakan suamiku, kamu bilang dia baik tadi?" Bibi mendesak Paman.
γ
"Ya". Jawab Paman singkat.
γ
"Suamiku, lelaki itu bisa mengubah kelam di mata Nia menjadi cahaya indah senja dengan kilau warna jingga yang membahagiakan. Lelaki itu bisa membuat keponakan kita belajar membuka diri, hingga dia bisa kembali percaya cinta tulus itu ada. Lelaki itu membuat Nia mengakui bahwa di dalam hatinya dia layak dicintai dengan segenap jiwa raga. Apakah semua itu suatu kesalahan suamiku, lelaki tersebut telah salahkah?" Bibi meminta Paman memikirkan semua.
γ
Paman diam, tertunduk menatap tangan Bibi yang berada di atas tangannya. Hanya bertahan menatap tangan Bibi, hingga sesaat kemudian Paman mengangkat kepalanya, mengeleng pelan ke arah Bibi.
γ
__ADS_1
"Lihatlah apa yang telah kamu lakukan, senja indah di mata Nia telah hilang. Sekarang, kepedihan kembali menghiasi mata coklatnya". Tunjuk Bibi pada Nia. "Dan apa kamu juga lihat, kepedihan yang sama juga ada di mata lelaki itu?" Bibi sekali lagi meminta Paman berpikir. "Suamiku, mereka saling mencintai. Lelaki itu tulus memenangkan hati Nia. Dia berhasil membuat Nia membalas cintanya".
γ
Mata Paman mulai berkaca-kaca. "Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan". Paman terlihat mulai menyesali sesuatu.
γ
"Kaya atau pun tidak, lelaki itu adalah pemilik hati Nia. Dia mencintai Nia dan dia adalah lelaki yang akan memberikan dunianya hanya untuk Nia, Nia kita". Bibi kembali menepuk-nepuk pelan punggung tangan Paman.
γ
"Isteriku, aku sudah melakukan sebuah kesalahan. Aku pikir dengan menjauhkan Nia dari lelaki itu, akan membuat hidupnya kembali berwarna. Tapi ternyata aku salah, aku salah". Paman amat sangat menyesal saat ini. "Aku malah menyakiti Nia dan lelaki itu. Isteriku, apa yang sudah aku lakukan?" Paman menatap penuh sesal pada Bibi.
γ
"Aku tau kamu bisa melihat itu semua". Bibi menyakinkan Paman. "Jadi,Β restuilah mereka. Jangan pisahkan mereka". Bibi memegang wajah Paman.
γ
"Tanganmu dingin sekali". Paman merasakan hawa dingin dari sentuhan Bibi di wajahnya.
γ
"Benarkah?" Bibi melepas tangannya dari wajah Paman dan menatapnya. "Itu mungkin karena aku kelelahan".
γ
"Iya, wajahmu pun sangat pucat". Sekarang gantian Paman yang memegang wajah Bibi.
γ
"Aku sangat lelah". Bibi menatap Paman. "Sepertinya aku harus kembali tidur".
γ
"Isteriku". Paman kembali memegang tangan Bibi. "Jangan tinggalkan aku, aku mohon". Mata Paman kembali berkaca-kaca.
γ
"Sayangku, suamiku. Aku hanya akan tidur sebentar. Aku harus menghilangkan lelahku dulu. Aku tidak akan kemana-mana, percayalah. Aku hanya tidur sebentar". Bibi tersenyum pada Paman.
γ
Paman mengangguk pelan, memberi kecupan dalam pada jemari Bibi dan kemudian, membiarkan Bibi berlalu.
γ
γ
γ
γ
__ADS_1