
MENINJAU CABANG
πππππ
γ
Malam itu Aisakha pulang lebih cepat dari biasanya, kalau biasanya sang Mama sudah tidur, maka dia baru akan sampai di rumah. Tetapi tidak untuk hari ini, baru pukul 20.10 Wib dia sudah sampai di rumah.
γ
"Belum tidur Ma?" Aisakha menyapa sang Mama yang masih duduk di depan televisi.
γ
"Belum sayang, Mama masih nonton, dikit lagi filmnya". Jelas Mama.
γ
Aisakha pun memilih duduk di sebelah sang Mama setelah terlebih dahulu melepas jas kerjanya.
"Tumben pulang cepat Ka? Dah makan blom? Mama suruh Bibi siapin makanan buat kamu?" Mama memburu Aisaka dengan banyak pertanyaan.
γ
"Ma, besok siang aku mau meninjau cabang di Kota Bengkulu. Mama mau ikutkan? Sudah lama Mama gak menikmati sejuknya udara Kota Bengkulukan?" Aisakha menjawab pertanyaan Mama dengan kembali bertanya.
γ
__ADS_1
"Serius Ka? Wah, Mama mau sekali loh kamu bawa ke Bengkulu. Mama sudah rindu udara segar dan sejuk di Villa kita. Jam berapa kita berangkat besok nak?" Tanya sang Mama.
γ
"Jam 11 boleh Ma? Pagi aku mau mensurvey pembangunan real estet kita dulu, mau lihat perkembangannya sudah sejauh apa. Mama siap-siap aja besok, nanti aku minta Kristo jemput Mama ya". Ujar Aisakha.
γ
"Iya boleh juga, besok mama tunggu Kristo saja. Trus dah makan blom kamunya? Mama suruh Bibi siapin ya?" Mama kembali mengulang pertanyaan di awal.
γ
"Udah ma, aku udah makan tadi". Jawab singkat Aisakha.
γ
γ
"Ma..udah deh. Kan aku dah bilang aku belum siap. Mama kok ungkit itu juga lagi?". Aisakha menjawab sang Mama dengan malasnya.
γ
"Belum siap sampai kamu ketemu si Nia itu? Iya Ka? Sakha apa kamu gak kepikiran, jangan-jangan si Nia mu itu sudah berumah tangga, sudah milik orang nak? Atau bagaimana kalau, kalau misalnya si Nia itu sudah meninggal. Ini sudah tiga tahun Ka, banyak hal yang terjadi. Apa kamu mau Mama kenapa-napa dulu baru kamu melupakan NiaΒ dan mau berumah tangga, gituh?" Mama bertanya dengan wajah sedihnya.
γ
"Ma..Mama kok gomongnya gituh. Mama percaya deh sama aku, Mama itu akan berumur panjang. Tuhan pasti akan menjaga Mama sampai cucu-cucu Mama besar nanti". Jawab Aisakha sambil memeluk sang Mama.
__ADS_1
γ
"Aamiin nak, semoga saja", jawab Mama. "Tapi cobalah kamu pikirkan kata-kata Mama tadi tentang Nia mu itu. Ini sudah tiga tahun Ka, semua hal bisa terjadikan?". Mama meminta Aisakha berpikir kembali.
γ
Aisakha hanya diam, dia sedang tidak ingin berdebat dengan Mamanya. Setelah mencium puncak kepala sang Mama, Aisakha pun pamit masuk ke dalam kamarnya. Hari memang belum malam, tetapi rasa lelah mulai menyerang setiap sendinya. Mungkin dengan merebahkan dirinya di ranjang yang sangat disukainya bisa membuat sendi-sendinya rileks untuk sesaat kedepannya.
γ
Sesudah membersihkan diri, Aisakha merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia lelah, tetapi matanya belum mau terpejam. Kata-kata Mama barusan kembali mengisi ruang kepalanya. *Apa benar Nia sudah menjadi milik orang? Apa benar Nia sudah menikah? Apa benar Nia, apa benar hati dan dirimu sudah milik orang lain. Bukan milikku? Tetapi hati kecilku kenapa tidak bisa mempercayainya, hati kecilku tetap merasa Nia memang sudah ditakdirkan untukku hanya milik ku saja. Entah kenapa keyakinanku mengatakan Nia hanya akan menjadi milikku, bukan milik siapapun. Hanya milikku saja. Hati kecil Aisakha memiliki keyakinan yang kuat dengan wanita yang telah membuat dia mencari selama tiga tahun ini*.
γ
Keyakinan yang mungkin menurut orang banyak akan terasa aneh, sekali bertemu dan tidak tahu asal usul si wanita, kemudian tidak pernah berjumpa lagi bahkan untuk saling komunikasi, tetapi bisa memiliki ikatan yang begitu kuat. Itulah yang dirasakan Aisakha saat ini.
γ
Lantas bagaimana kalau Nia sudah tiada?Β Aisakha cepat-cepat menggelengkan kepalanya setelah kembali mengulang kata-kata Mamanya tadi.Β tidak mungkin Nia sudah tiada, hatiku mengatakan bahwa Nia masih ada, dia pasti baik-baik saja, ya pasti seperti itu.Β Kemudian Aisakha mencoba memejamkan matanya, dia percaya pada hatinya. Dia yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya masalah waktu. Sebentat lagi dia pasti akan bertemu Nia, Nianya yang selama ini dia cari. Pelan tapi pasti, terdengar suara nafas yang berhembus dengan tenang dan teratur mengisi kamar Aisakha. Sepertinya si pemilik kamar sudah terbuai dalam mimpi indahnya malam itu.
γ
γ
γ
γ
__ADS_1