
πππππ
γ
Pagi menjelang, mentari mengantikan malam, sedang berusaha mengintip kebahagiaan sepasang suami isteri yang masih berbalut selimut hangat di ranjang besar mereka. Sungguh suasana romantis yang indah, membuat iri kehangatan mentari di atas awan sana saat tahu bagaimana cara Aisakha melindungi isterinya tercinta.
γ
Nia sedikit mengeliat, membuat Aisakha langsung terjaga. Entah kenapa, jiwa ingin melindunginya langsung keluar. Aisakha memandangi Nia, matanya terbuka melihat sang isteri tidur begitu tenang. Sosok bidadari cantik yang terbungkus selimut putih, wajah teduh dengan bulu mata lentik.
γ
"Aku tidak pernah menyangka bisa seberuntung ini, melihat bidadari cantik di pagi hari tidur dalam pelukanku ", guman Aisakha bangga.
γ
Pelan Aisakha menarik diri dari samping Nia, meletakkan kepala sang isteri di atas bantal. Aisakha turun dalam diam, melangkah turun dari ranjang yang menjadi saksi indahnya penyatuan mereka semalam. Aisakha masuk ke kamar mandi, bergegas mandi hingga akhirnya telah memakai baju santai dan keluar kamar.
γ
"Tuan ", sapa Kristo hormat saat mengetahui sang tuan sedang berjalan ke arahnya. Kristo sepertinya sedang serius di depan aneka berkas ditemani secangkir kopi hitam.
γ
"Kau masih meminum itu pagi-pagi ?" Tanya Aisakha memandang gelas kopi Kristo yang isinya tinggal setengah.
γ
"Heheheh ", cenggir Kristo sambil mengaruk bagian belakang telinganya. "Besok nggak lagi tuan ". Jawab Kristo bohong.
γ
"Ah, terserah kau sajalah Krist ". Aisakha sepertinya tahu kalau sekretarisnya itu berbohong.
γ
"Tolong kau bilang Bibi agar menyiapkan sarapan untukku dan Nia. Aku akan sarapan di kamar ", Aisakha duduk di kursi yang di siapkan Kristo untuknya. Dan Kristo segera melangkah, mematuhi perintah sang tuan.
γ
"Tuan, nanti mohoh waktunya sebentar. Ada keputusan mendesak yang harus tuan periksa ". Tidak butuh waktu lama, Kristo telah berdiri lagi di samping Aisakha. Dia baru kembali dari dapur.
γ
"Penting ?" Tanya Aisakha malas. Karena sejujurnya dia sudah menyusun rencana akan mengurung Nia sepanjang hari ini di dalam kamar mereka.
γ
"Benar tuan ", angguk Kristo serius. "Dan tidak akan lama, satu jam saja ".
γ
"Hanya satu jam ?" Jemari Aisakha bergerak di atas meja menghasilkan ketukan tanpa irama, Aisakha meminta kepastian kembali.
γ
"Satu jam dan kalau tuan bisa serius, maka bisa kurang dari satu jam ". Kristo tersenyum.
γ
"Sialan kau ". Aisakha menendang ujung kaki Kristo. "Sejak kapan aku tidak serius ?" Aisakha tidak terima.
γ
Sejak tuan jatuh cinta sama nona. Isi kepala tuan, nona saja. Saya sampai harus sering mengancam tuan tentang nona, saya bilang nona paling tidak suka sama lelaki yang tidak serius bekerja, barukan tuan mau serius bekerja. Hihihi, tuan mau bohong ? Mana bisa...hehehehe....
Kristo membatin, menjawab pertanyaan Aisakha. Tetapi tetap, hanya berani di dalam hati saja.
γ
"Kita lihat saja nanti, kau siapkan saja semuanya. Tunggu saya !" Perintah Aisakha yang di sambut senyum senang dari Kristo.
__ADS_1
γ
Suasana menjadi diam, Aisakha masih menunggu Bibi datang sambil memperhatikan Kristo yang serius dengan tumpukan berkas di depannya.
γ
"Sudah sarapan ?" Tanya Aisakha yang membuat Kristo langsung menatap sang tuan.
γ
"Sudah tuan ", jawab Kristo cepat.
γ
"Cobalah hidup sehat, kamu masih muda !" Aisakha mulai menasehati Kristo. Kristo yang baru mulai berencana kembali ke tumpukan berkasnya langsung mengalihkan wajahnya, menatap sang tuan.
γ
"Dan cobalah cari wanita yang baik untuk menemani hidupmu !", Kristo terlihat mengerutkan keningnya. "Sampai kapan kau akan sendiri. Usiamu sudah cukup untuk memiliki kekasih atau isteri malah. Kau bukan anak di bawah umur lagi ". Kerutan di kening Kristo semakin dalam.
γ
"Saya hanya......", kalimat Aisakha mengantung. Bi Kartik datang dengan nampan perak di atas kedua tangannya.
γ
Dua piring nasi goreng kari, dengan taburan potongan daging sapi dan telor ceplok di atasnya. Tidak lupa kerupuk udang dan di lengkapi selada hijau beserta irisan muntimun dan tomat. Di sebelahnya segelas susu putih dan segelas jus jeruk segar. Serta satu lagi, air putih hangat kegemaran Nia di pagi hari. Semua sudah tertata di atas nampan dengan rapi.
γ
"Bibi izin antar ke dalam tuan ?" Bibi menunduk hormat.
γ
"Tidak usah Bi, biar saya saja ", Aisakha mengambil nampan perak dari tangan Bibi. "Makasih ya Bi ". Aisakha tersenyum pada Bibi sambil berlalu meninggalkan Kristo yang masih mengerutkan keningnya mengingat semua nasehat sang tuan padanya barusan.
γ
γ
Nia masih terlihat menutup mata, tetapi nafasnya tidak seteratur seperti di awal.
γ
"Sudah bangun nyonya Aisakha ". Panggil Aisakha pada Nia. Tetapi Nia tidak bergeming.
Emmm...pura-pura tidur ya ?
γ
Aisakha duduk di tepi ranjang, dengan semangat berusaha merebut selimut yang terlihat sudah menutupi tubuh Nia hingga kelehernya.
γ
"Ja, jangan sayang ". Dengan mata membulat sempurna Nia menahan sekuat tenaga selimut yang membalut tubuhnya dari tangan kekar sang suami.
γ
"Tapi kamu mengodaku ". Jawab Aisakha pura-pura kesal.
γ
"Tidak, aku tidak pernah mengoda kamu ". Sekuat tenaga kembali menolak apa yang di katakan sang suami.
γ
"Bohong, ingat Nia. Bohong sama suami itu dosaloh ".
γ
"Sungguh sayang, aku nggak boong sama kamu kok. Sumpah ". Nia membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya.
__ADS_1
γ
"Tidak, tidakkkkkk.... ", Nia lupa kalau tangan sang suami masih di ujung selimutnya.
γ
"Hahahahahaha ", tawa Aisakha sangat senang mengerjai sang isteri.
γ
"Mangkanya, jangan pura-pura tidur. Suami manggil di diamin ". Aisakha masih tertawa kecil.
γ
"Ya kamunya sih, masuk kok diam-diam. Padahal akukan nggak pake baju. Aku malu tahu ". Sewot Nia dengan polosnya.
γ
"Malu ?" Aisakha menaikkan sebelah alisnya. "Astaga Nia, kamu malu apa ? Jangan-jangan kamu lupa siapa yang membuat semua bajumu berserakan semalam ?" Senyum jahil di ujung bibir. "Apa kamu juga lupa siapa yang teriak keras memanggil namaku semalam ?" Sampai di sini, wajah Nia sudah memerah. Semerah tomat penghias piring sarapan pagi mereka.
γ
"Untung saja aku sudah bilang Pak RT kalau kita penganting baru, kalau tidak teriakanmu semalam bisa membuat kita di grebek masa ".Β Nia hanya mampu menunduk malu, menggubur wajahnya dalam bantal,Β bibirnya mendadak kelu. Aisakha sukses membuat dirinya teramat sangat malu.
Apa iya aku sebegitu berisiknya semalam ? Astaga, Malu, maluuuu......maluuuuuuuuu.....
γ
"Masih malu ?" Dua detik berlalu, Nia hanya mematung di bawah selimut. Hanya kepalanya saja yang bergerak membentuk gerakan mengangguk, sebagai wujud kata iya untuk pertanyaan Aisakha barusan.
γ
"Jangan malu, aku suamimu. Kamu milikku dan aku milikmu ". Aisakha mendekat ke arah Nia.
γ
"Ayo mandi lagi, habis itu kita sarapan ya ". Sebuah kecupan ringan di kening Nia membuat dirinya tersadar kalau sekarang sedang menikmati pelukan Aisakha.
γ
"Nanti sudah sarapan kita mau kemana ?" Tanya Nia yang memilih bertahan di dalam pelukan sang suami.
γ
"Nggak kemana-mana ", jawab Aisakha santai sambil memperbaiki rambut Nia ala kadarnya.
γ
"Trus kalau nggak kemana-mana kita ngapain ?" Nia masih sibuk bertanya.
γ
"Emmm, terserah kamu, bisa pilih. Kita bisa di kamar seharian, melanjutkan kegiatan semalam. Atau kita bisa melanjutkan kegiatan semalam, sampe malam lagi khusus untuk hari iniΒ ?" Senyum senang di wajah tampan Aisakha.
γ
"Sayanggggggg.....", suara Nia kesal. "Kamu mesum, ihhhhhh ".
γ
"Husssstttt...jangan teriak-teriak Nia. Nanti Kristo ngupin loh ! Kasihankan, di jomblo. Kamu harus memahami jiwa kesepiannya ". Aisakha berlagak serius. Dan Nia langsung mencubit lengan Aisakha.
γ
Sementara itu, Kristo mendadak memegang leher bagian belakangnnya. Entah kenapa dirinya merasa ada hembusan angin di sana. Sesaat Kristo memandang sekitar hanya untuk memastikan saja.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ