SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
178


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


Masuk bulan ketiga kehamilan Nia, berarti masuk pula bulan kedua pertemanan Kristo dan Resya. Pertemanan yang memang layaknya teman berlawanan jenis, hubungan baik yang sama sekali tidak membawa status sosial. Kristo sudah membulatkan tekad, berawal dari teman, dirinya ingin mendapatkan kepercayaan Resya.


Malam saat Aisakha memintanya berpikir tentang sosok Resya, tentang arti perasaannya pada Resya, maka, di malam itu Kristi berhasil menemukan jawaban atas semuanya. Meskipun, bukan hal mudah bagi Kristo untuk menjelajahi perasaannya sendiri, tetapi Kristo telah bertekad kuat.


“Sya, nanti aku anter kamu pulang ya !” Resya menyempatkan diri membaca pesan singkat dari Kristo sebelum kembali ke dalam laboratorium kembali.


Nia telah masuk kerja kembali, kesehatannya jauh lebih baik sekarang. Setelah pemeriksaan terakhir, Nia terlihat lebih sehat. Frekuensi mualnya sudah jauh berkurang, tetapi frekuensi gidamnya tetap sama saja. Tetap suka yang meminta sang suami memenuhi keinginannya, kadang aneh-aneh atau kadang di jam yang kurang tepat. Namun, Aisakha tidak pernah mempermasalahkan itu. Walaupun kadang, kalau boleh jujur seorang Aisakha sempat juga kelabakan, tetapi tetap saja. Sesulit apapun Aisakha akan mengikuti kemauan sang istri tercinta. Ya, kadang Kristo juga kena imbasnya sih. Aisakha kadang suka melibatkan Kristo dalam kerumitan ngidam Nia.


Alhasil, gak tuan nggak bawahan. Mereka sama kompak menanggung penderitaan. Lucu sekali.


Nah, kembali ke Resya yang sedang membaca pesan singkat Kristo padanya. Ada guratan senyum di bibir gadis cantik ini. Nia menyadari itu, sikap Resya berubah nyaris satu bulan terakhir ini. Ada rona bahagia, sahabatnya itu sedang kasmaran. Begitu kesimpulan Nia.


Resya mengerakkan jemari lentiknya, mengetik jawaban dan langsung mengirimkannya pada Kristo.


“Kristo ya Sya ?” tanya Nia.


“Hah, oooo....iya “. Agak malu menjawab, tetapi Resya jujur.


“Aku lihat belakangan ini kamu temenan baik sama dia “. Sedikit penasaran.


“Dia orangnya memang baik kok Nia “. Duduk di hadapan Nia.


“Kalau memang baik, kenapa kamu gak sudahi pertemanan ini ?”


“Sudahi gimana, maksud kamu apa coba ?” Tidak mengerti.


“Ya, jangan hanya teman dong. Tapi, ada peningkatan gituh. Pacar misalnya, jadi kekasih Sya “. Nia mengerakkan tangannya.

__ADS_1


“Wah, kamu ini “. Protes cepat.


“Mana mungkin sekretaris suamimu itu mau sama aku. Aku ini Resya, Nia. Buka kamu yang begitu beruntung bersama Presdir kita “. Pesimis.


“Sya, di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak, mana ada yang tidak mungkin ! Membuat hujan badai berlalu dan membiarkan mentari hadir dalam sekejab mata saja Tuhan mahan mampu. Apa lagi ini Sya, hanya masalah membolak balik hati manusia “. Nia menggelengkan kepalanya. Menggambarkan betapa bukan hal sulit yang dikhawatirkan Resya.


“Entahlah Nia “. Masih ragu. “Aku tidak berani mengkhayal sejauh itu “.


“Sya, coba deh kamu runut semua sikap Kristo sama kamu !” Berdiri dan menepuk bahu Resya. Lalu, Nia meninggalkan Resya di ruangan dan kembali ke laboratorium duluan. Nia ingin memberi Resya waktu yang banyak untuk berpikir.


***************


“Kenapa Sya ?” Mobil yang di kemudikan Kristo sudah jauh meninggalkan gedung perkantoran milik Sunjaya Company. Sedikit heran, Kristo mendapati Resya banyak diam sejak memasuki mobilnya tadi. “Kamu kenapa ?”


“Enggak ada Pak “. Menatap wajah Kristo lama.


“Kenapa kamu sebenarnya ?” Kristo menyadari Resya memandangi wajahnya dalam diam.


“HAH “. Kaget. “Enggak, enggak...lupakan saja “. Cepat mengalihkan wajahny ke arah depan, berpura-pura mengamati lalu lintas sore itu.


“Aku ada perlu sebentar, kamu mau temani aku dulu ?” Bertanya dengan tetap fokus menyentir mobil.


“Boleh gak apa Pak “. Mengangguk setuju.


Setelah itu, baik Resya ataupun Kristo. Mereka sama terdiam dalam alam pikiran masing-masing. Resya melanjutkan semua pertanyaannya tentang sosok Kristo yang begitu sempurna di matanya, tetapi terlalu berharga untuk di sentuhnya. Dan Kristo, juga sibuk dengan pikirannya yang entah apa, hanya dirinya yang tahu arti diamnya kali ini, di antara ketenangannya mengemudikan mobil hitam kesayangannya.


**************


“Ayo “. Ajak Kristo sambil mengulurkan tangan pada Resya, sebuah kebiasaan baru yang menjadi kegemaran bagi Kristo. Dirinya sangat suka saat jemari lentik Resya bertaut padanya, Kristo merasa bagai pemilik sejati Resya.

__ADS_1


“Bapak ada janjian ya ?” Mengamati lingkungan sekitar. Sebuah toko perhiasan.


“Iya, kok kamu bisa tahu ?” Berpura-pura heran.


“Kan Bapak tadi yang bilang “. Berdecak sendiri.


“Hehehe “. Cekikikan tidak penting. Hanya untuk mengurangi sikap salah tingkahnya.


“Selamat datang tuan dan nona “. Pelayan wanita menyambut Kristo dan Resya ramah, membukakan pintu toko dan mempersilahkan masuk.


“Manajer sudah menunggu tuan. Mari, saya antarkan “. Mempersilahkan dengan hormat.


“Pak, aku gak papah nih ikut ? Atau aku tunggu di sana saja ya ?” Menunjuk pada sofa di depan etalase.


“Kamu ikut saya. Saya gak tenang kalau kamu di sana “. Melihat sosok pelayan lelaki sedang tersenyum pada Resya. Bukan melihat ke arah sofa yang di maksud Resya.


“Kenapa, inikan di dalam toko. Bapak juga masih di dalam toko yang sama dengan aku ?” Bertanya penuh ekspresi heran.


“Pokoknya gak boleh !” Tidak mau di bantah.


 


 


“Ya udah terserah Bapak deh “. Memilih mengalah. Sedang Kristo masih kesal pada sosok pelayan lelaki yang tadi tersenyum pada Resya.


Apa kamu lihat-lihat. Membatin dengan tatapan setajam silet ke arah pelayan lelaki. Membuat orang yang mendapat tatapan langsung ciut. Melangkah mundur menjauh. Ketakutan pada rasa perih dari torehan mata Kristo.


Gila tuh cowok, segituh over proteknya sama istrinya. Pelayan lelaki membatin ngeri.

__ADS_1


__ADS_2