
BAB 1
πππππ
γ
Nia tertunduk lesu, masih ada sisa air mata yang mengering di wajahnya. Nia baru saja melepas kepergian Aisakha kembali ke Jakarta, ke kantor pusat di sana. Andai saja dia punya kemampuan, maka Nia akan melakukan segala cara untuk menahan kekasihnya itu pergi jauh darinya. Entah kenapa, setiap harus berpisah dari Aisakha, maka dirinya akan merasa ada sesuatu yang kurang, rasanya tidak seimbang, tidak sempurna. Tetapi apalah daya, Nia tidak ingin egois. Dirinya berusaha sekuat mungkin menahan diri agar tidak menahan Aisakha hanya di sisinya saja. Aisakha adalah Presiden Direkrut sebuah perusahaan ternama, banyak orang bergantung padanya. Nia tidak boleh egois, dia harus melepas Aisakha untuk kembali pada rutinitas utamanya di Kota Jakarta. Toh kepulangan Aisakha ke Jakarta juga dalam rangka persiapan masa depan mereka. Jadi walaupun air matanya tidak mau berhenti menetes saat Aisakha melepas pelukan mereka, tetapi Nia tetap berusaha memberi senyum terbaiknya saat pesawat pribadi milik Aisakha terbang meninggalkan Bandara Fatmawati Kota Bengkulu.
γ
"Kalau non memang gak mau ngantor, Pakde ajak non ke villa tuan saja gimana ? Kan di sana ada Ibu mertua non ?" Pakde sengaja membalikkan badannya menghadap ke arah Nia yang sudah duduk di kursi mobil bagian belakang.
γ
"Maunya sih gituh Pakde, tapi nanti aja deh pulang kantor. Aku segan Pakde kalau enggak masuk hari ini, apa lagi aku kan kemaren sempat izin selama Bibi di rawat ". Nia berusaha memperbaiki duduknya, sepertinya Nia benar-benar terserang penyakit lesu saat ini.
γ
"Kalau gituh kita ke kantor non ?" Pakde sebenarnya masih ragu melihat kondisi Nia yang mendadak jadi pemurung.
γ
"Iya Pakde, kita ke kantor sekarang ". Pakde pun menghidupkan mobil dan memastikan laju kendaraan stabil demi keamanan majikan kecilnya.
γ
***************
γ
"Ikutlah denganku ". Kata-kata Aisakha tergiang-giang di kepala Nia saat mereka berpelukan di bandara tadi. "Ikutlah denganku Nia ".
γ
"Aku sangat berat melangkah melihatmu bersedih seperti ini. Ayolah sayang, ikutlah denganku !" Aisakha masih berusaha membujuk Nia.
γ
Dan Nia tetap meminta waktu, dirinya masih perlu waktu untuk yakin telah menghapus semua kenangan pahit di masa lalu tentang Kota tempat kelahirannya itu. Bukan karena Aisakha, tetapi ini semua karena dirinya. Nia harus benar-benar siap melupakan semua masa lalunya dan hidup berbahagia pada lembaran baru masa depannya bersama Aisakha. Jadi untuk saat ini, Nia masih menolak ajakan Aisakha.
γ
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Lagi pula jumat malam aku sudah sampai lagi di sini. Kamu ingat janjimu sama Mamakan, kamu akan cuti satu minggu. Mama mau memperkenalkan kamu pada seluruh anggota keluarga Britana. Itu artinya kamu akan ke Jakarta Nia, kamu akan ada di dekatku. Yah, Walaupun hanya beberapa hari saja, tapi kamu akan ada di Jakarta, aku senang sekali ". Ada nada suara antusia terdengar dari mulut Aisakha.
γ
Dan sekarang, Nia tersenyum. Ingatannya tentang cara Aisakha membujuknya tadi cukup membuat hatinya tersentuh. Setelah kami menikah, aku gak mau jauh dari kamu sayang. Gak enak ternyata jauh dari kamu, rasanya separuh nafasku terbang bersama kamu pergi, aku jadi lesu dan males mau ngapa-ngapain.
γ
***************
γ
Seperti biasa, sebelum masuk ke dalam laboratorium, Nia akan menyerahkan handphonenya pada Damar. Setelah itu, Damar akan duduk di dekat pintu masuk laboratorium, agak sedikit ke dalam demi bisa memperhatikan setiap gerakan Nia kemanapun Nia melangkah.
γ
"Nona ". Damar berhasil membuat Nia berhenti melangkah. "Nona ingatkan dengan janji nona ?"
γ
Nia menganguk. "Iya saya ingat, kamu jangan khawatir. Saya pasti akan menjauhi Bowo ".
γ
Damar menatap Nia, memandanginya secara serius. Sang tuan telah mempercayakan wanita penting dalam hidupnya pada Damar. Jadi Damar tidak mau ngegabah, dia tidak mengenal siapa Bowo. Lebih baik waspada demi keamana sang nona, begitu kira-kira isi kepalanya.
γ
"Sungguh, saya akan menjauhinya. Percayalah !" Nia tahu ada keraguan dari sorot mata Damar padanya.
γ
"Berjanjilah nona, karena saya tahu nona sendiri tidak mengenal Bowo dengan baik. Tidak banyak yang nona tahu tentangnya ". Damar masih memandangi Nia dengan tatapan serius.
γ
"Iya, saya janji. Saya janji Damar ". Nia mengangkat tangan kanannya dan meletakkan ke dada kirinya. Dia tengah bersumpah pada Damar. "Lagi pula kamukan ada di dekat saya, saya jadi lebih tenang ". Terlihat ada senyum di wajah Nia. "Jadi, jangan jauh-jauh dari saya !"
γ
"Pasti nona, pasti. Sekarang nona silahkan bekerja dengan tenang. Saya di sini menjaga nona ". Damar menunjuk kursi yang biasa didudukinya.
γ
"Baiklah, saya kerja dulu ya ". Nia berjalan meninggalkan Damar yang masih menunduk hormat padanya, masuk kedalam laboratorium untuk memulai pekerjaannya.
γ
"Wah, Ibu Presdir udah balik nih dari ngantar si Bapak ?" Anita menyadari kedatangan Nia.
__ADS_1
γ
"Anitaaaa ". Nia menjauhi Anita yang terlihat siap memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
γ
"Loh, kenapa Ibu Presdir ? Akukan hanya bertanya ". Anita mengekori Nia sampai ke depan meja tempat alat-alat labor telah disiapkan. Sebenarnya Nia ingin berjalan menuju papan tulis putih kesayangannya, tadi sebelum masuk ke laboratorium Nia sudah mendapat pesan dari Profesor Yandi untuk menomor satukan pola kembang pada bahan dasar yang akan mereka uji. Sepertinya hitungan awal Nia benar, tinggal penyempurnaan saja lagi. Tapi begitu melihat Bowo berdiri tidak berapa jauh dari ujung papan tulis, Nia langsung membatalkan niatnya.
γ
"Wulan, apa kamu lihat salinan pola kembang yang awal aku buat ?" Nia berpura-pura sibuk, dari sudut matanya terlihat Bowo memperhatikannya.
γ
"Nia, cerita dulu kenapa ? Langsung kerja aja ". Anita kesal di cuekin oleh Nia.
γ
"Maaf Nit, ceritanya nanti aja ya. Aku masuknya dah telat, terus tadi sudah dapat tugas dari Profesor. Aku segan kalau di jam kerja malah cerita-cerita bukan langsung kerja ". Nia masih menunggu Wulan berjalan kearahnya. Anita pun terdiam karena sikap Nia padanya.
γ
"Profesor minta kamu menghitung pola dasar ya Nia ?" Tanya Wulan saat sudah berdiri di sebelah Nia.
γ
"Iya Lan, maaf ya aku telat datang ". Nia tertunduk diam.
γ
"Enggak masalah kok, kamukan udah izin tadi ". Wulan menyentuh bahu Nia. "Sudah, sudah, enggak boleh sedih ah. Kan Presdir cuma bentar di Jakarta, weakend dianyakan balik sini lagi ". Wulan tahu bahwa sebenarnya Nia sedang banyak pikiran dan sepertinya Presdir mereka adalah salah satu yang menjadi beban pikirannya saat ini.
γ
Spontan Nia memeluk Wulan, Resya berlari kearah Nia, Anita lansung mengelus punggung Nia. "Nia maaf, aku tadi hanya bercanda loh. Maaf ya ". Entah kenapa, mendengar perkataan Wulan barusan pada Nia membuat Anita merasa tidak enak. Terlebih sekarang, Nia mendadak memeluk Wulan, Anita sangat menyesali kekonyolannya tadiΒ Ah, kenapa enggak peka sih. Dasar aku ini, kelamaan jomblo jadi rasa sensitifnya malah berkurang. Kawan di tinggal kekasih malah aku godaain. Aduhh, kalau sampe Presdir tahu, tamat sudah karirku.
γ
Bowo mengepal tangannya, dia sedang berusaha menahan diri untuk tidak menarik Nia dan memeluknya kuat.
γ
"Nona ". Damar ternyata sudah berdiri di belakang Wulan. Dengan raut wajah cemas Damar memperhatikan Nia yang menyembunyikan wajahnya di bahu Wulan. "Nona kenapa, nona baik-baik saja ? Ada apa nona ?" Damar mulai cemas.
γ
Nia hanya diam bertahan di posisinya. "Kamu kenapa ". Berusaha setenang mungkin Wulan mulai mengajak Nia berbicara. "Bilang sama kami, ada apa ? Ingatkan kamu punya kami, jangam ragu ceritakan semua sama kami ya ".
γ
γ
"Tenangkan dirimu dan terima teleponnya ". Wulan melepaskan pelukan Nia padanya. "Bisa ?" Wulan meminta kepastian dari Nia. Nia menganguk pelan, menerima handphone dari tangan Damar dan membawanya sedikit menjauh dari Wulan, Resya dan Anita.
γ
"Ha-hallo ". Nia berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang.
γ
"Nia, kamu kenapa ?" Jelas terdengar suara penuh kekhawatiran di ujung telepon.
γ
"Aku enggak papah Mas, kamu jangan khawatir ya ". Nia berusaha terdengar sewajar mungkin.Β Ya Tuhan kenapa aku ini, kenapa tiba-tiba aku menjadi mewek ginih sih ? Dimana Nia yang tegar, kenapa malah buat orang khawatir saja ? Sudah seperti anak SMA yang gak sanggup pisah dari pacarnya. Konyol !
γ
"Tidak seperti itu yang Damar ceritakan". Aisakha masih terdengar khawatir.
γ
"Sungguh Mas, aku enggak papah. Aku, aku cuma kebawa suasana saja. Aku sudah berusaha kuat pisah dari kamu pagi tadi, tapi begitu sampe laborartorium, Anita tanya tentang kamu. Aku, aku tiba-tiba kangen kamu Mas ". Suara Nia terdengar pelan.
γ
"Aku jemput kamu sekarang ya, tunggu ya !"
γ
"Jangan, Mas jangan ke sini. Mas harus selesaikan pekerjaan Mas. Ingat banyak orang sedang menunggu Mas !" Nia berusaha mencegah Aisakha. "Maafin aku ya Mas, sikapku konyol banget. Aku belum pernah merasakan rasa kangen seperti ini. Kayak anak kecil saja ya Mas". Bisa di bayangkan, sekarang wajah Nia sudah memerah. Dia terlihat malu dengan sikapnya sendiri.
γ
"Terima kasih ya ". Andai Nia bisa melihat Aisakha, dia sedang tersenyum semeringah sekarang.
γ
"Untuk apa ?"
γ
__ADS_1
"Karena sudah berani bilang kangen sama aku. Kamu tahu, aku juga kangen banget sama kamu ".
γ
"Aku udah gak papah lagi Mas. Maaf, aku buat khawatir kamu. Aku beneran gak papah kok, aku, aku hanya merasa jangal saja sendiri di sini. Sejujurnya aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu di siniku, dan sekarang mendapati kebiasaan itu tidak akan sama untuk beberapa hari kedepan, rasanya jangal banget ". Sepertinya Nia sudah tenang sekarang.
γ
"Aku ngerti sayang, aku juga merasakan hal yang sama. Aku akan setia sama kamu, sungguh. Di sini ada Kristo yang bakalan ngawasin aku terus. Aku nggak bakalan nakal deh, janji ". Aisakha mengangkat jari telunjuk dan tengahnya ke depan, sepertinya dia berpikir kalau Nia bisa melihat caranya berjanji itu.
γ
"Hahahahahaha, iya, iya aku percaya ". Nia menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawanya.
γ
"Aku jemput kamu ya ?"
γ
"Jangan sayang, kamu di sana aja. Selesaikan semua pekerjaanmu secepatnya ! Jumat kembali ke sini dan minggu bawa aku sama Mama ke Jakarta. Cuti aku sudah di acc sam Presdirku. Hehehe ". Nia terkekeh geli.
γ
Gak salah dengarkan ? Nia bilang bawa dia dan Mama ke Jakarta ? Iya, pasti enggak salah dengar. Apa ini pertanda hatinya sudah benar-benar siap untuk kembali menginjakkan kaki di sini ?
"Pasti, aku pasti akan datang kembali padamu dan menjemputmu. Bersiaplah ya, tunggu aku pulang ". Aisakha ingin bersorak keras kegirangan.
γ
"Mas, hati aku sudah tenang setelah dengar suara kamu. Aku lanjut kerja dulu ya, Mas juga. Eh, iya. Mas dimana sekarang ?" Nia memperhatikan jam tangannya. Menurut perkiraannya Aisakha kemungkinan baru sampai di Jakarta.
γ
"Aku baru keluar dari bandara, sekarang mau langsung ke kantor ".
γ
"Kalau gituh hati-hati ya ".
γ
"Iya sayang ". Jawab Aisakha bersemangat.
γ
"Nanti Mas bakal telepon aku lagikan ?" Nia bersiap ingin mematikan handphone di tangannya, tetapi dia masih perlu satu jawaban lagi dari Aisakha.
γ
"Pasti, nanti sampe kantor aku telepon kamu ". Janji Aisakh.
γ
"Baiklah, kalau gituh aku matikan teleponnya ya Mas. Love you Mas ". Wajah Nia berubah merah seperti tomat. Aku mulai aneh, sudah berani bilang love you ke Mas.Β
γ
"Love you to sayang". Dan panggilan di seberangpun dimatikan oleh Nia.
γ
"Yessssssssss ". Aisakha berteriak kesenangan sambil memeluk handpohonenya, membuat Kristo dan sopir yang tengah mengemudikan mobil memecah lalu lintas Jakarta bersitatap bingung berdua.
γ
Sementara Nia terlihat tertunduk malu berjalan kearah sahabat-sahabatnya, merutuki diri sendiri yang begith cenggengnya karena harus berpisah dari Aisakha.
γ
"Sudah tenang ?" Pelan Wulan bertanya pada Nia. Jelas, Wulan, Resya dan Anita sangat cemas tadi.
γ
Nia hanya mengangukan kepalanya.
γ
"Kami ngerti kok apa yang kamu rasakan. Yakinlah, Presdir sangat mencintai kamu, Nia. Sejauh-jauhnya dia pergi, pasti akan kembali padamu. Karena kamu adalah pemilik hatinya ". Ucap Resya sangat bijaksana.
γ
Akhirnya, semua bisa kembali pada rutinitas harian mereka. Nia terlihat sudah kembali ke papan tulis kesayangannya, permintaan Profesor Yandi padanya sudah hampir selesai di kerjakannya. Sementara Resya dan Anita pun telah kembali pada berbagai jenis tabung yang sedang berada di atas alat pemanas. Wulan dan Bowo juga telah serius pada hasil-hasil hitungan Nia, mereka harus segera mencampur semua komposisi sesuai pola hitung Nia.
γ
Tapi sepertinya hanya Wulan saja yang fokus, andai saja ada yang punya waktu lebih untuk memperhatikan. Maka akan terlihat jelas, Bowo sebenarnya sedang mengingat-ingat sesuatu, bukan fokus pada pekerjaannya.Β Minggu ya, minggu. Berarti sebelum minggu aku harus menjalankan semuanya. Ya, sebelum minggu !
γ
γ
__ADS_1