
πππππ
γ
"Selamat ya, presentasi kamu dan timmu tadi sangat hebat ". Sebuah pujian tulus meluncur begitu saja dari mulut Aisakha di ujung telepon.
γ
"Terima kasih Mas ". Ucap Feya sambil tangan kanannya memegang pipi kanannya. Perasaan senang dan penasaran campur aduk dalam hatinya "Apa Divisi Promosi sudah memberitahu Mas tentang produk yang kami buat ?" Tanya Nia penasaran.
γ
"Sudah, Mas baru saja menerima laporan mereka ".
γ
"Trus ?"
γ
"Apa ?"
γ
"Tanggapan Mas gimana ?" Tanya Nia penasaran.
γ
"Bagus, Mas apresiasi kerja keras Lembaga penelitian kalian ". Ucap Aisakha jujur.
γ
"Sungguh ?"
γ
"Loh, kok gituh gomongnya ? Ada apa ?"
γ
"Apa benar hasil kerja kami bagus Mas. Bukan karena Mas kasihan padaku ?"Β Nia sedikit ragu.
γ
"Tunggu, tunggu. Maksud kamu Mas boong sayang ?" Andai Nia bisa melihat, Aisakha sampai berdiri dari kursi kerjanya mendengar pertanyaan Nia barusan.
γ
"Bukan karena itu kah Mas ?"
γ
"Nia....tentu saja bukan karena kamu atau hubungan kita. Pujian Mas tulus, inovasi yang kamu dan timmu hasilkan memang jenius. Bernilai guna dan berharga pula, petani untung, masyarakat pengguna senang dan lumbung perusahaan melambung. Lantas dimana kira-kira Mas boongnya ?" Aisakha mengeleng sendiri di ruang kerjanya.
γ
"Lagi pula pihak Divisi Promosi belum tahu tentang hubungan kita, jadi cara penyampaian mereka pada Mas sangat objektif, mereka menganalisa hasil inovasi kamu dari segi laba dan prospek pasar. Bukankah enggak ada alasan Mas enggak puji kamu ? Orang lain saja segitu bangganya sama kamu, apa lagi Masmu ini sayanggggg. Calon suamimu ". Suara berat Aisakha terdengar sangat merdu di telinga Nia.
γ
"Hehehehe ". Cekikikan Nia yang salah tingkah. "Maaf sayang, akukan tadi takutnya kamu hanya iba saja padaku ".
γ
"Iba ? Nia, Nia, sebelum aku ketemu kamu saja aku tidak pernah bersikap tidak profesional. Apa lagi sekarang saat kita bersama, aku sangat ingin kita mendasari pekerjaan ini atas dasar profesionalisme. Aku memujamu, sangat mencintai kamu. Tapi aku enggak mau membuat kamu hanya terbuai dalam anggan-anggan keberhasilan karena kamu adalah calon isteriku. Aku mau kamu sukses Nia, sukses karena kemampuanmu yang memang tidak diragukan lagi, dan karena pekerjaan ini adalah dunia kamu. Kamu suka pekerjaanmu, maka aku akan mendukung kamu sepenuhnya ". Jelas Aisakha panjang pada Nia.
γ
"Mas salah ". Suara Nia membuat Aisakha berkerut kening di ujung telepon.
γ
Gagal menemukan jawaban, "Apa salah Mas ?" Aisakha malah balik bertanya.
γ
"Duniaku itu kamu, Mas. Bukan pekerjaanku, jadi Mas salah..hahahaha ". Tawa Nia senang.
γ
"Oooo, sudah pintar ya sekarang. Berani ya ngeles...", Aisakha tersenyum membayangkan wajah senang Nia tertawa saat ini.
γ
"Baiklah..tunggu balasan Mas saat Mas pulang besok ". Ancam Aisakha.
γ
"Ehhhhh ? Mas mau ngapain ?"
__ADS_1
γ
"Mau cium bibir tipismu yang sudah berani godain Mas ".
γ
"Hehehe, kita damai...kita damai ya ". Nia melambaikan tangannya ke depan, seakan tahu Aisakah bisa melihat apa yang tengah dilakukannya. "Ya sayang...kita damai ya ". Bujuk Nia lembut.
γ
"Enggak mau, rugi dong kalau damai. Enggak bisa mengecap madu yang ada di bibir kamu ". Aisakha sepertinya bisa membayangkan kalau sekarang Nia sudah sangat salah tingkah. Sikap malunya pasti sudah jelas terlihat.
γ
"Sudah, sudah ". Nia kembali memegang pipinya. "Aku matikan dulu ya Mas, aku sama teman-teman. Kami semua mau di traktir Profesor. Jadi aku pergi dulu ya ". Elak Nia.
γ
"Wah, seru tuh ".
γ
"Iya, kata Profesor hadiah buat keberhasilan kami ".
γ
"Kamu sendiri apa enggak mau minta hadiah dari kekasihmu ini ?"
γ
"Hah, bolehkan ?" Seakan Nia kurang yakin.Β Jujur apa mau godain lagi, ayoooo ?
γ
"Boleh dong, masa buat calon ibu anak-anak Mas gak boleh. Kamu mau apa Nia, tinggal bilang. Aku pasti akan penuhi, apapun itu ".
γ
"Emmmm ". Nia terdengar sedang berpikir.
γ
"Apa, kamu mau apa ?" Aisakha berdiri bersandar pada dinding di sudut ruang kantornya, dengan tangan kanan di dalam saku, mata birunya terlihat memandang keluar. Kalau Nia melihat cara berdiri Aisakha yang elegan ini, di jamin liurnya pasti menetes. Soalnya cakep banget, sudah kayak model cowok di dalam iklan-iklan di televisi saja.
γ
"Aku akan kasih tahu apa hadiah yang aku mau setelah Mas kembali ke sini. Jadi cepatlah pulang ya, aku menunggu Mas ". Senyum Nia sambil mengerak-gerakkan kepalanya senang, sepertinya sesuatu atau sebuah permintaan sudah memenuhi isi kepalanya untuk di ajukannya pada Aisakha nanti sebagai hadiah keberhasilan presentasinya tadi.
γ
γ
"Ya udah, kamu senang-senang sama teman-temanmu sana nanti mereka kelamaan nunggu. Tapi harus jaga dirinya, Mas gak mau kamu kenapa-napa ". Ucap Aisakha sebelum menutup telepon.
γ
Gleeekk...hati Nia langsung tersurut, ada rasa bersalah yang begitu besar dalam dirinya.Β Astaga, bagaimana ini ? Sampai sekarang aku masih belum jujur pada Mas tentang Bowo.
γ
"Iya Mas ". Hanya itu jawaban yang mampu keluar dari mulut Nia.
γ
***************
γ
Pakde sudah memarkir mobil milik Nia di tempat biasa, bahkan Satriyo pun sudah berdiri di luar mobilnya menunggu kedatangan Nia. Beberapa menit yang lalu Satriyo mendapat informasi dari Damar kalau sebentar lagi sang nona akan pergi bersama Profesor Yandi dan rekan-rekan seprofesi sang nona untuk makan siang di sebuah restoran di kawasan Pagar Dewa, jadi Satriyo segera bersiaga.
γ
"Sudah nona ?" Damar menunduk hormat saat Nia berjalan ke arahnya. Terlihat binar senang di mata Nia, diam-diam Damarpun ikut senang di dalam hatinya saat tahu kalau penyebab kebahagiaan di mata cokelat majikan barunya itu karena sang tuan. Tuan Aisakha yang sudah diikuti Damar hampir 6 tahun belakangan ini.
γ
"Ini ". Nia menyerahkan handphonenya pada Damar sebagai tanda kalau dirinya memang sudah selesai menelepon. "Tolong jaga baik-baik ya ?"
γ
"Siap nona ". Damar baru saja akan menyimpang handphone Nia di dalam sakunya. Tapi seketika itu juga Damar segera mengembalikan si handphone pada pemiliknya.
γ
"Nona, ada notifikasi masuk ". Khawatir kalau ada pesan masuk dari sang tuan, Damar segera menyerahkan handphone Nia.
γ
Nia memilih duduk di meja kerja Anita sambil membuka pesan masuk di handphonenya.
__ADS_1
γ
"Sekarang waktunya !" Isi pesan singkat yang di kirim Bowo pada Nia.
γ
Kayaknya dari tuan deh..hehehehe.
Yah... yang lagi jatuh cinta, belum juga semenit telepon-teleponan, ehhh...udah kangen aja. Ternyata si tuan romantis ya, hahaha. Damar.
γ
Bagaimana ini ?Β Rasa senang di wajah Nia seketikan hilang.
γ
"Jangan bilang sekarang kamu berencana membatalkannya Nia. Kamu sudah janji, kamu ingatkan ?" Merasa tidak mendapat balasan dari Nia, Bowo mengirim pesan kedua.
γ
Tangan Nia mendadak dingin, sekilas dirinya menatap Damar. Ada pancaran kebingungan di mata Nia sekarang.Β Aku harus jawab apa ?
γ
"Aku sangat kenal kamu, kamu bukan tipe orang yang tidak bertanggup jawab apa lagi untuk sebuah janji ". Pesan ketiga Bowo benar-benar membuat Nia terpojok.
γ
Sesaat Nia meletakkan handphonenya di atas meja. Mendadak tangannya benar-benar terasa sangat dingin, sepertinya kecemasan mulai melanda Nia.
γ
Bodohnya aku semalam mengiyakan permintaam Bowo. Sekarang malah aku jadi serba salah, kalau aku iyakan aku sendiri ragu akan kejujuran Bowo. Tapi kalau aku batalkan apa nggak kenapa-kenapa ya ? Kemaren Bowo sampe memohon segala.
γ
"Ada masalah nona ?" Damar menyadari kalau Nia mendadak hanya diam menatap layar handphonenya.
γ
"Hah ? Enggak, enggak kok ". Nia sedikit gelagapan.
γ
"Apa nona mau berangkat sekarang ?" Tanya Damar kemudian, "sepertinya teman-teman nona sudah jalan semua bareng Profesor Yandi ".
γ
"Se, sebentar ya ". Nia terlihat semakin gelagapan
γ
"Aku sudah bilang sama Profesor dan yang lain kalau kamu dan aku agak telat. Mereka percaya ". Pesan keempat Bowo masuk, Nia segera membacanya.
γ
"Lantas bagaimana dengan Damar ?" Akhirnya Nia mengetik sesuatu di layar handphonenya dan segera mengirim kepada Bowo.
γ
Akhirnya....Bowo tersenyum senang.
γ
"Sudah aku atur. Kamu tinggal ikuti arahan aku !" Secepatnya Bowo mengetik pesan baru untuk Nia.
γ
"Apa ?" Isi pesan Nia yang sangat singkat.
γ
"Bilang pada pengawalmu itu, kalau kamu mau ke toilet dulu. Di pasti akan ngekorin kamu, kamu jalan aja ke toilet di ruangan kita. Aku sudah pasang merek kalau toilet sedang rusak ". Jantung Nia mulai berdebar keras saat membaca intruksi Bowo. "Dengan alasan sangat kebelet, kamu pergi ke toilet di pantry. Kamu tahukan kalau di sebelah bangunan toilet ruang pantry ada pintu ke parkiran selatan gedung ? Aku di sana sekarang nunggu kamu !"
γ
"Aku ragu akan berhasil ". Nia jujur mengungkapkan rasa takutnya
γ
"Semua sudah aku pikirkan matang-matang. Sekarang tinggal kamu saja lagi. Berjalanlah dengan anggun seperti biasa, jangan gugup ! Aku yakin semua akan berhasil. Pengawalmu tidak akan curiga ". Notifikasi pesan baru masuk ke handphone Nia.
γ
Nia menarik nafas panjang sampai 2 kali malah, Nia sedang berusaha menenangkan dirinya.
γ
"Aku mohon Nia, aku mohon ", pesan singkat yang di iringi emoji menangis di tatap Nia pada layar handphonenya.
__ADS_1
γ
γ