
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Capek ?" Tanya Aisakha sambil mengendong Nia masuk ke dalam mobil yang telah di parkir Kristo di depan teras aula pernikahan mereka.
 
"Hu-uh ". Jawab Nia sambil merebahkan kepalanya di dada Aisakha.
 
"Maaf ya, aku juga gak nyangka yang hadir bakal sebanyak itu ". Aisakha menatap mata Nia. "Padahal aku udah bilang sama Mama, cukup kita keluarga inti saja. Nanti saat resepsi di Jakarta barulah kita buat acara megah untuk menjamu semuanya ".
 
 
"Nggak papah sayang ". Nia berusaha tersenyum. "Lelahku ini bukan karena jumlah tamu kita, tetapi ini karena tamu bulananku ". Suara Nia agak pelan. Setengah berbisik di telinga Aisakha.
 
"Tamu bulanan ?" Aisakha mengulang perkataan Nia. "Sudah berapa hari ?" Tanya Aisakha kemudian ?"
 
"Su, sudah mau berhenti kok. Ini hari kelima ", jawab Nia gugup. Dirinya terlalu malu.
 
"Biasanya berapa hari ?" Aisakha sedikit penasaran.
 
"Tu, tujuh hari ". Nia memilih menjawab sambil menyembunyikan wajah di dalam pelukan Aisakha. Ini adalah kali pertama mereka membicarakan hal yang menurut Nia sangat pribadi sifatnya.
 
Hemmmm, datang bulan ya ? Tujuh hari lamanya ?
Aisakha sedang berpikir.
 
Tidak boleh sekamar sama Nia minimal 2 hari setelah menikah.Â
Aisakha tiba-tiba mengingat persyaratan dari keluarga Nia.
 
Apa ini arti syarat itu ? Aku nggak boleh sekamar dulu sama Nia, karena Nia sedang datang bulan. Sepertinya keluarga Nia tahu kalau kami sekamar, kecil kemungkinan aku tidak akan menyentuh isteriku. Tapi kalau Nia sedang dalam kondisi seperti sekarang apa juga gunanya ? Akukan memang harus menahan diri lagi.Â
Aisakha menganguk mengerti.
 
Iya...iyaaa...benar. Ternyata keluarga Nia berpikir sampai sejauh itu.Â
Senyum simpul menghiasi bibir Aisakha.
 
Sambil memandang Nia yang sepertinya telah terlelap dalam pelukannya, Semoga saja saat kali pertama kita nanti, kamu sedang dalam masa subur ya sayang. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki Sakha junior, mereka pasti akan menjadi anak sebaik kamu isteriku ".Â
 
Aisakha larut dalam pikirannya.
 
"Tuan ". Kristo telah memarkirkan mobil sedan mewah sang tuan di depan teras rumah Bibi Ros. Semua orang telah kembali ke tempat masing-masing, acara pernikahan telah selesai. Hari pun mulai beranjak malam. "Kita sudah sampai ".
 
__ADS_1
"Pergilah beristirahat Kris ! Bibi telah menyiapkan kamar untukmu. Aku akan mengantar isteriku dulu ". Ucap Aisakha bangga, yang langsung diiyakan oleh Kristo.
 
Dan Kristo pun membukakan pintu mobil untuk sang tuan, menatap takjub dan penuh kesan. Melihat bagaimana sayangnya sang tuan pada si nyonya mudanya. Tanpa membangunkan isterinya, Aisakha mengendong Nia menuju lantai 2, langsung ke arah kamar Nia.
 
"Nia ", Aisakha menyentuh lembut pipi Nia saat tubuh Nia telah terbaring di atas ranjang.
 
"Isteriku ". Panggil Aisakha sekali lagi.
 
Nia mengerjabkan matanya beberapa kali.
 
"Sayang ". Nia sepertinya sudah berhasil mengenali keberadaannya saat ini.
 
"Bersihkan diri dulu, kemudian ganti bajunya ". Aisakha masih mengelus sayang pipi Nia. "Baju ini sangat tidak nyaman di bawa tidur ".
 
"Iya ", jawab Nia singkat.
 
Jadilah Nia segera berjalan ke kamar mandinya, menganti baju dan membersihkan diri. Sejujurnya kaki Nia sangat lelah. Berjam-jam berdiri menerima ucapan dan doa tulus dari para tamu. Sungguh Nia tidak menyangka, hari ini akan berakhir begitu spektakuler. Dekorasi ruangan, artis dan penyanyi papan atas yang selama ini hanya di lihat Nia di televisi, ternyata menjadi pengisi acara sakralnya, hingga jumlah tamu yang di luar kemampuannya menghitung, terlalu banyak. Sungguh sebuah perhelatan yang luar biasa, super megah bagi Nia.
 
Nia memandangi wajahnya di cermin, dia sangat bahagia. "Aku sudah resmi menjadi isterinya ". Guman Nia memandangi tampilan dirinya di kaca. Mendadak jantung Nia kembali berdebar keras, ritmenya menjadi cepat. "Suami dan isteri ". Nia nampak cukup malu saat mendengar suaranya sendiri.
 
 
 
 
"Sudah ?" Tanya Aisakha memandangi Nia yang sudah menganti gaun pernikahan mereka dengan piama tidur.
 
"Sudah sayang ". Nia mematung memandang Asiakha yang sedamg duduk di tepi ranjangnya.
 
"Kemarilah !" Aisakha mengulurkan tangannya ke arah Nia. "Aku akan menemanimu sampai tertidur ".
 
"Memang kamu mau kemana setelah aku tidur ? Mau tinggalin aku ? Iya ? Kenapa ?" Nia memburu Aisakha dengan banyak pertanyaan.
 
"Bukan ninggalin kamu, isteriku. Aku hanya akan pindah ke kamar sebelah setelah itu ". Nia sudah berbaring di atas ranjangnya dengan beralaskan paha Aisakha sebagai bantal kepala. "Kan aku udah terikat perjanjian sama keluargamu. Janji adalah janji Nia, aku harus konsisten ". Aisakha mengusap-usap rambut Nia.
 
"Tidurlah ! Kamu pasti sangat lelah ".
 
"Tapi kalau aku tidur, nanti kamu pergi. Akukan masih kangen sama kamu, aku rindu banget sama kamu, sayang ". Ucap Nia jujur.
 
__ADS_1
"Apa iya ?" Aisakha berpura-pura biasa saja, padahal dalam hatinya sedang sibut bertepuk girang mendengar kejujuran Nia bisa lancar terucap pada dirinya.
 
"Sungguh....aku kangen kamu ". Nia memasang wajah serius.
 
"Sejak kapan kagen aku ?" Aisakha melihat Nia memutar badan agar bisa langsung menghadap ke arahnya.
 
"Sejak terakhir kita ketemu, sejak terakhir kamu antar aku tidur ke kamar ini ".
 
"Tapi waktu itu kamu sedang memikirkan lelaki lainkan ?" Suara Aisakha tenang, tetapi Nia cukup terlonjak keheranan.
 
"Kamu menangis karena sosok lelaki lainkan ?" Sekali lagi Aisakha bertanya pada Nia.
 
"A, aku....", Nia terlihat ragu.
 
"Jangan pernah memikirkan lelaki manapun lagi Nia, aku tidak suka ! Aku cemburu, jangan pancing aku untuk menyakiti siapapun yang ada dalam pikiran isteriku ". Perkataan Aisakha terasa menusuk hati Nia.
 
"Sayang, ada yang perlu aku jelaskan ". Nia mengangkat tangan Aisakha yang sedari tadi terus membelai rambut panjangnya. Nia mengengam tangan itu.
 
 
"Maafkan aku untuk hari itu. Benar, aku tidak bohong. Saat itu hingga 5 hari yang lalu suasana hatiku sangat kacau ". Jelas Nia sambil menatap mata biru suaminya. "Aku tidak sengaja mendengar kalau dia mencariku saat kamu berbicara dengan Mama waktu itu. Aku kaget, kenapa setelah sekian lama aku harus mendengar nama itu lagi ".
 
"Jujur, perasaanku bertanya-tanya apa arti dia dalam hidupku sekarang. Hingga setiap hari dalam kurun waktu 5 hari itu, entah bagaimana caranya dia selalu bisa membuat memoriku kembali pada masa kebersamaan kami ". Nia tampak sangat menyesal. "Kemudian Mama mulai heran melihat perubahanku, Mama mengajak aku bicara banyak hal tantang kamu, sayang. Paman, Bibi, Alika, hingga Toni pun membuat pikiranku terbuka. Yang aku butuhkan bukan masa lalu, yang aku inginkan bukan masa lalu, yang Tuhan siapkan untukku bukan masa lalu, dan yang terbaik untukku juga bukan masa lalu ". Nia mengeleng tegas.
 
"Yang aku butuhkan adalah kamu, yang aku inginkan adalah kamu, yang Tuhan siapakan untukku adalah kamu, dan yang terbaik untukku, juga adalah kamu ! Kamu segalanya bagiku ! Sayang aku tidak bisa hidup tanpa cintamu ". Suara Nia mendadak serak.
 
"Maafkan aku atas kesalahan besar itu, tetapi sungguh. Aku tidak pernah lebih menganggapnya sebagai sebuah masa lalu. Aku tidak akan hidup dalam masa lalu, aku akan hidup dalam masa depan, dan itu bersama kamu, menjadi isterimu ". Air mata Nia jatuh mengiringi penyesalannya.
 
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon...maafkan aku, sayang ". Nia mencium dalam tangan Aisakha yang sedari tadi di gengamnya.
 
"Aku pun sangat mencintaimu, Nia. Kamu pasti tahu itu ". Aisakha menghapus air mata Nia. "Sekarang kita telah terikat janji suci di depan Tuhan. Di mata hukum negara pun kita sudah halal, jadi...tolonglah kedepannya belajar ungkapkan isi hatimu padaku. Bagi suka dukamu bersamaku, ada aku, Nia. Ada aku suamimu ! Jangan sampai kita saling salah paham hanya karena masa lalu. Padahal kita punya kisah masa depan yang indah untuk di rajut bersama, jadi jangan nodai dengan masa yang tidak penting !"
 
"Iya, iyaaaaa....aku berjanji sayang ". Satu lagi bulir rasa bersyukur jatuh di sudut mata Nia. Memang luar biasa baiknya Tuhan pada dirinya. Hingga Nia bisa memiliki suami seorang Aisakha, lelaki bijaksana tanpa celah, begitu lembut dalam mencintanya, dan begitu manis dalam memuja dirinya.
 
 
Nia tersenyum manis, menarik wajah Aisakha mendekat pada bibirnya. Bibir mereka bertemu, saling satu melepas rindu.
 
"Sayang, aku mencintaimu ". Ucap Nia saat Aisakha membiarkan isterinya itu menghirup udara sekejab, sebelum mereka melanjutkan hal serupa, mengecap rasa manis yang sama.
__ADS_1