SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 51


__ADS_3

Panggil Mama


🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Sama sekali tidak merepotkan nyonya, nyonya tidak perlu kawatir. Saya sangat senang bisa membantu nyonya". Sambil tersenyum manis, Nia menjawab permohonan maaf dari wanita paruh baya yang sedang di tolongnya ini.


 


"Mama, panggil saya Mama!" Perintah si wanita paruh baya tersebut.


 


"Tetapi nyonya", Nia bermaksud ingin menolak.


 


"Tidak ada tetapi-tetapinya. Hanya panggil Mama!" Sepertinya wanita paruh baya itu sangat keberatan kalau Nia menolak permintaannya.


 


"Baiklah", jawab Nia sambil kembali memberikan senyum terbaiknya. "Mama ingin berbelanja apa lagi, biar saya temani".


 


"Tunggu sayang". Ucap si Ibu sambil memegang tangan Nia, menghentikan langkah kakinya. "Siapa namamu nak?" Tanya si Ibu kemudian.


 


"Hehehe". Nia merasa malu sendiri, mungkin karena terlalu bersemangat ingin membantu si Ibu, dia sampai lupa memperkenalkam diri.


 


Nia berdiri dengan baik, menghadap ke arah si Ibu sambil mengulurkan tanganya. "Perkenalkan Ma, nama saya Syania Fira Sujoko".


 


Si Ibu menerima uluran tangan Nia, Nia pun mencuim hormat pungung tangan si Ibu. Si Ibu tersenyum, ada rasa takjub di hati wanita paruh baya itu, ada rasa tidak terduga akan bertemu gadis muda yang memiliki kecantikan sekelas model tetapi dengan sikap dan etitut yang sangat santun, sangat menghormati orang tua. Ada rasa kagum di hati si Ibu pada keelokan budi Nia.


 


"Nama yang cantik, secantik wajahmu dan seelok budimu". Puji Ibu tulus pada Nia.


 

__ADS_1


Cantik, baik dan sangat santun. Pandangan pertama, aku langsung sayang sama anak ini. Andai saja.....


 


"Terima kasih Ma, tetapi masih kalah dengan kecantikan Mama", Nia pun memuji si Ibu.


 


Ibu mengelus-elus punggung tangan Nia yang memang masih digenggamnya, rasanya hati si Ibu merasa senang dengan cara Nia memuji dirinya.


 


"Baiklah Syania, ayo sekarang temani Mama mengantri di kasir". Ajak si Ibu kemudian.


 


Nia menganggukan kepalanya mensetujui permintaan si Ibu, sambil terus mendorong troli belanjaan tersebut mengarah ke antrian di depan kasir.


 


"Apakah semua keperluan yang ingin Mama beli telah lengkap?" Tanya Nia kepada si Ibu.


 


 


Mana anaknya, kok tega biarin orang tua kepayahan berbelanja sendiri?


 


"Anak Mama tidak ikutkah?" Tanya Nia yang sedari awal sudah sangat penasaran melihat si Ibu yang kesulitan dengan troli belanja dan barang di salah satu tanganya.


 


"Tidak Syania, anak Mama sedang tugas di luar kota, jadi Mama sendiri. Tapi Mama bersama sopir kok, hanya saja tadi Mama memang ingin keliling Mall sendiri. Ternyata Mama malah kesulitan, hahaha". Tawa si Ibu mengingat ide berbelanja sendirinya yang ternyata malah tidak semulus rencananya.


 


"Ooo, begitu rupanya. Lantas dimana Bapak, suami Mama? Kenapa beliau tidak ikut Ma?" Nia masih memiliki rasa penasaran di hatinya.


 


"Bapak sudah lama meninggal nak, hanya tinggal Mama dan anak semata wayang Mama saja". Jawab Ibu pelan.


 

__ADS_1


"Maafkan saya Ma, saya tidak bermaksud membuat Mama sedih", Nia menatap si Ibu dengan rasa bersalahnya.


 


"Tidak apa-apa nak, tidak apa-apa". Jawab si Ibu cepat.


 


"Saya juga sudah tidak punya orang tua Ma, mereka telah lama meninggal. Nenek pun yang membesarkan saya setelah orang tua saya tiada, juga sudah lama berpulang". Ujar Nia kemudian.


 


"Benarkah nak? Betapa malang nasibmu. Tetapi yang Mama lihat, kamu tetap tumbuh dengan kebaikan hatimu. Pasti orang tuamu bangga padamu. Karena kamu berhasil menjadi wanita kuat dan berbudi pekerti yang baik, walaupun mereka telah tiada". Ucap si Ibu yang memang sedari awal sudah merasa senang dengan kebaikan Nia padanya.


 


"Amin, semoga saya selalu bisa seperti itu Ma". Jawab Nia sambil tersenyum.


 


"Apakah masih ada keluargamu nak?" Sekarang terlihat si Ibu yang penasaran.


 


"Masih Ma, masih ada Bibi dan sepupu saya. Kebetulan mereka tinggal di sini'. Jawab Nia.


 


"Dan sekarang ada Mama, jangan lupa itu", jawab si Ibu menyakinkan Nia.


 


"Terima kasih atas kebaikan hati Mama". Jawab Nia merasa terharu pada sang Ibu.


 


Tidak terasa barisan antrian yang panjang tadi telah berlalu, mungkin karena Nia dan sang Ibu sangat menikmati waktu bercerita mereka, sehingga tanpa disadari sekarang sudah waktunya mesin penghitung kasir bekerja untuk mentotal jumlah belanjaan si Ibu.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2