
🌈🌈🌈🌈🌈
Nia membuka kelopak matanya, ada hembusan nafas hangat menerpa wajahnya, ada pelukan melindungi yang membuatnya sangat nyaman. Nia memandangi wajah tampan Aisakha, tertidur tenang di sampingnya.
“Kenapa kamu bisa setampan ini sayang ?” bergumam pelan sambil mengelus pipi Aisakha.
“Itu karena matamu baru bangun tidur sayang “, Jawab Aisakha mempererat pelukannya pada Nia.
“Aaaaaa....sudah bangun ya ?” terkaget sendiri.
“Selamat pagi istriku “. Mengecup puncak kepala Nia.
“Selamat pagi suamiku “, mendongak menatap wajah Aisakha.
“Enak tidurnya ?” tersenyum cerah.
“Nyenyak bangeetttt “. Juga ikut tersenyum cerah.
“Kalau begitu, boleh aku cium seluruh tubuhmu ?” menaikkan kedua alisnya, bermaksud menggoda Nia.
“Hah ?” memasang tampang tidak mau.
“Ayolahhhhhh sayang “, sudah meletakkan bibirnya di ceruk leher Nia.
“Sayangggg “, geli tetapi suka.
“Apa ?” sibuk bermain di tempat tersebut.
“Aku lapar “, malu tetapi memang itu realitanya.
Aisakha langsung menyundahi aktivitas paginya, suara renggekan Nia membuat kesadarannya pulih. Nia sedang mengandung anaknya, Aisakha ingin memberitahukan itu segera.
__ADS_1
Tapi sebelum itu, kamu lebih baik makan dulu istriku. Aku tidak mau junior kelaparan. Apa lagi kalian memang melewatkan acara makan malam. Batin Aisakha sambil mengecup sayang kening Nia.
“Mau makan apa nyonya Aisakha ?” bertanya dengan semangat.
“Boleh enggak bubur ayam sama bening daun kelor pake jagung ?” meminta dengan wajah sangat berharap.
“Itu saja ?” merasa heran permintaan Nia sangat sedikit.
“Bo, boleh minta lebihkah ?” ragu dan takut.
“Nia sayang “, Aisakha melihat Nia mengelus perutnya waktu mendengar kata sayang. Aisakha tersenyum, betapa indah pemandangan yang di saksikannya pagi ini.
“Istriku tersayang, kamu boleh minta apa saja, aku pasti berikan !” memberi keyakinan pada Nia.
“Serius “, memeluk Aisakha bersemangat.
“Kalau begitu, aku mau cumi asam manis juga ya “. Memasang tampang imut.
“Tentu saja “. Kembali mengecup kening Nia. “Sebentar ya, aku akan minta bagian dapur siapkan “. Aisakha turun dari ranjang, mengapai handphonenya dan Nia mendengar dia memberi perintah.
Nia hanya bisa tersenyum, hatinya sangat senang pagi ini. Bangun dalam pelukan suami yang begitu mencintainya, rasanya Nia sangat beruntung.
Nia memperhatikan sekelilingnya, sepertinya Nia baru tersadar ada yang beda dengan kamar tidurnya hari ini. Jelas kamar itu sangat nyaman, tetapi Nia cukup sadar dirinya bukan di kamar tidur mereka sehari-hari. Bukan di istana megah Aisakha, dan bukan pulan di rumah cintanya.
Perlahan Nia turun dari ranjang, berjalan menuju tirai jendela, membukanya.
Pemandangan gedung bertingkat dengan beberapa jejer pepohonan menjulang. Nia menatap lama, kesadarannya sudah pulih, dia sudah terjaga sempurna. Jelas Nia bisa tahu, dirinya bukan di kamar tidur mereka.
Nia meletakkan tangannya di kaca jendela. Melihat lebih seksama, hingga tanpa sadar melihat pantulan dirinya secara buram di kaca.
__ADS_1
“A, apa ini ?” mengerakkan tangan di jendela. Merasa menemukan noda di jendela itu. Nia mengelap asal, ada noda putih buram di sana, tidak terlalu panjang, tetapi agak mengganggu.
Beberapa kali jemari Nia bergerak, berusaha mengelap. Tetapi gagal.
Nia memperhatikan dengan seksama sekali lagi, mencoba mengenali noda putih itu.
“Ini ada di leherku ya ?” bertanya sendiri, tetapi tangan bergerak ragu ke arah lehernya.
“Ya Tuhan, kenapa bisa ada perban di sini “. Terperanjat kaget.
Nia memejamkan matanya, perasaannya tidak menentu. Diam dan berpikir sampai Nia akhirnya Nia menemukan rentetan peristiwa mengerikan semalam.
“Ti, tidak...tidakkkkkk “. Histeris sampai terduduk takut di lantai, dengan tangan memeluk lutut kuat.
“Niaaaa “, batapa terkejutnya Aisakha mendapati Nia begitu rapuh, menangis ketakutan di lantai.
“Ya Tuhan, Niaaaa “, menjangkau Nia cepat, mengangkat dan mengendong Nia secepat yang dirinya bisa. Membawa Nia kembali ke atas ranjang.
“Nia “. Memeluk erat Nia, Aisakha merasa Nia gemetar. Jelas Nia sangat ketakutan.
“Nia...Nia... jangan takut. Aku mohon sayang, jangan takut. Kamu aman sekarang ! Ada aku di sini. Niaaaa “. Memeluk semakin erat, tubuh Nia masih gemetar.
“Dia, dia. Tolong aku “. Menangis histeris sambil mengeraskan cengkeramannya di bahu Aisakha. “Jangan, jangan bersujud di depan dia “. Bicara tidak jelas.
“Nia, aku mohon. Jangan takut, ada aku sayang...ada aku “. Berusaha menyakinkan Nia.
“Jangan merendahkan dirimu demi aku, jangan bersujud di depannya “. Menggeleng putus asa.
“Istriku, lihat aku memelukmu ! Kamu aman Nia, aku menjagamu. Aku tidak akan membiarkan hal buruk menimpa kamu. Percayalah Nia, percayalah sayang “. Mengusap lembut panggung Nia. Menyalurkan energi melindungi, membuat Nia yakin. “semua sudah aman sayang, semua sudah selesai “. Aisakha mengecup lama puncak kepala Nia.
Agak lama Aisakha dan Nia ada dalam situasi itu, Nia jelas butuh waktu mencerna semuanya. Nia butuh waktu agar keyakinannya kalau dia memang aman, Aisakha melindunginya sebaik mungkin.
__ADS_1