
πππππ
γ
Nia mengerjabkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan antara penerangan ala kadar di dalam kamar dengan luar kamarnya, dengan pemandangan alam mentari pagi yang sepertinya sengaja mengintip Nia dari celah fentilasi kamarnya.
γ
Nia menguap pelan, sambil memilih posisi terlentang. Memandangi langit-langit kamar sambil tersenyum cerah.
γ
"Selamat pagi dunia ". Nia masih mempertahankan senyum di wajahnya.
γ
"Selamat pagi suamiku ", ucap Nia malu sambil memeluk bantal guling di sisi kanannya. Dan setelah itu, Nia malah menengelamkan wajahnya sedalam mungkin di sana.
γ
"Selamat pagi isteriku ". Suara dingin Aisakha yang membuat Nia terlonjak kaget luar biasa.
γ
"Suamimu di sini Nia, duduk menunggmu bangun. Kenapa malah guling itu yang beruntung, mendapat pelukan dari kamu ?" Aisakha memasang wajah sewot. "Kamu nggak adil Nia ".
γ
"Sa, sayang...", Nia sedang mengatur nafasnya. Kehadiran Aisakha yang tidak di duganya, hingga sapaan Aisakha padanya saat melihat ulahnya tadi benar-benar terasa memalukan.
γ
"Apa yang kamu lakukan di sini ?" Tanya Nia heran.
γ
"Ya menunggu isteriku bangun tidur, apa lagi memangnya ?" Aisakha masih terlihat tidak senang.
γ
"Mulai detik ini, tidak boleh ada bantal guling di dekatmu !" Aisakha memasang tampang permusuhan pada guling yang tadi mendapat pelukan malu dari Nia. "Aku tidak suka !"
γ
"Kenapa, kenapa begitu ?" Sekarang Nia sudah duduk bersandarkan kepala ranjang.
γ
"Karena aku cemburu !" Jawab Aisakha cepat. "Masa iya guling bisa bebas tidur sama kamu, dapat pelukan kamu malah. Aku ? Sudah berapa jam aku duduk di sini, tapi kamu acuhkan. Malah yang aku dapat, adegan gimana kamu mesra-mesraan sama guling itu ", telunjuk Aisakha di angkat. Sepertinya Aisakha sedang mendramitisir ceritanya.
γ
"Astaga sayang ". Nia mengangkat kedua tangannya ke udara.
γ
__ADS_1
"Kamu jangan aneh gitu deh !" Nia turun dari ranjang dan melangkah mendekat ke arah Aisakha yang terduduk di kesal di sofa.
γ
"Aneh ? Suami cemburu sama isteri sendiri itu aneh ?" Aisakha tidak terima.
γ
"Cemburunya nggak aneh kok, malah aku suka kalau suamiku cemburu sama aku. Tapi, kalau cemburunya sama guling, itu yang aneh sayang ". Nia sudah berdiri di depan Asiakha.
γ
Nia meletakkan kedua tangannya di belakang leher Aisakha, "maaf ya, aku gak tahu kalau kamu ada di sini. Kalau aku tahu, aku pasti akan langsung lari ke pangkuanmu ". UcapΒ Nia manja.
γ
"Jangan mencoba merayuku !" Aisakha masih bersikap kesal. "Aku ini sulit di taklukan !"
Padahal, kalau ada yang bisa melihat kedalam hati Aisakha. Sebenarnya, suami Nia ini hanya sedang mengerjai isterinya. Aisakha berpikir pasti seru melihat muka malu Nia. Tetapi dugaannya salah, entah bagaimana dibalik sikap malunya, Nia terlihat sedikit berani pagi ini. Berani tarang-terangan merayu manja padanya. Aisakha bertepuk senang di dalam hati, ternyata semenyenangkan ini arti larangan keluarga Nia meminta mereka belum boleh sekamar dulu. Padahal mereka sudah resmi menikah, tetapi sekarang tingkah mereka bagai anak remaja yang sedang mencuri-curi kesempatan untuk bermesraan bersama sang kekasih. Nuansa keromantisan terasa jelas, ada aliran rindu yang tidak bisa ditutupi dan minta di penuhi. Bahkan seorang Nia pun sudah mulai berani, meskipun dengan wajah memerah bagai tomat matang sempurna.
γ
"Aku bukan mau merayumu sayang, tapi aku ingin bermanja sama suamiku ". Nia mulai mendekatkan wajahnya pada Aisakha. "Suami yang sangatku cintai, milikku seorang ". Ucap Nia di depan bibir Aisakha.
γ
"Benarkah ?" Tanya Aisakha yang sudah merangkul Nia dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
γ
γ
Beberapa saat berlalu, Asiakha masih menjadi pembimbing pada adegan penyatuan bibir itu. Nia masih amatir, nafasnya masih tersengal. Jelas Nia lupa menarik oksigen selama proses berlangsung.
γ
"Pelan-pelan sayang ". Aisakha memberi ruang pada bibir mereka. "Bernafas dulu ". Aisakha menatap dalam mata Nia.
γ
"Maaf, aku masih bodoh dalam urusan ini ". Nia terkihat kurang percaya diri.
γ
"Dan aku suka itu, kareka akulah, suamimu yang bisa seberuntung ini. Mendapat isteri yang masih sangat murni ". Aisakha kembali menyatukan bibir mereka lama.
γ
"Isteriku, bagaimana bisa kamu selezat ini. Kamu manis sekali ". Aisakha kembali memberi ruang pada bibir mereka agar Nia bisa segera menarik nafas.
γ
"Benarkah ?" Tanya Nia masih sedikit khawatir dengan level bawahnya dalam kemampuan penyatuan bibir.
γ
__ADS_1
"Iya sayang, kamu buat aku kecanduan loh ". Ucap Aisakha sambil mengecup pelan hidung mancung Nia.
γ
"Karena kamu sudah buat suamimu ini kecandung, jadi setiap pagi kamu harus melakukan hal seperti tadi ! Setiap pagi kita ya !" Suara Aisakha tegas.
γ
"Sekali sajakan ?" Tanya Nia polos. "Gak sampe 3 kali seperti tadi ?"
γ
"Emmm, kita lihat hasilnya nanti. Kalau satu kali bisa membuat kecanduanku hilang, baiklah aku rasa cukup ! Tapi, kalau aku masih juga tidak sembuh. Maka, harus banyak dan terus dan di ulang-ulang !" Aisakha berusaha berbicara menyakinkan Nia.
γ
"Astaga sayang, di ulang-ulang ?" Wajah Nia langsung merona. "Itu terdengar sangat banyak. Ja, jangannya ". Nia mulai gugup.
γ
"Kenapa ? Kamu lebih suka kalau aku kenapa-kenapa karena kecanduan bibir kamu ?" Aisakha berpura-pura merajuk.
γ
"Bu, bukan gituh. Aduuuuh, kok jadi salah paham ". Nia memegang kedua pipi Aisakha.
γ
"Ya udah...boleh berulang-ulang sebanyak yang kamu suka ". Nia menatap mata biru itu. Ada pancaran kegirangan di sana. Sungguh kasihan Nia, ternyata kepolosannya tidak juga bisa menebak kalau sang suami sedang mengoda dirinya sedari tadi.
γ
"Bagus, kalau gituh kita ulang lagi ". Aisakha memegang tengkuk Nia dan mendekatkan wajah Nia padanya, membuat bibir mereka kembali mengecap manisnya madu pagi ini.
γ
Beberapa saat berlalu, Aisakha masih bertahan dengan bibir mungil sang isteri. Hingga tanpa di sadari, sang MamaΒ pun masuk ke kamar Nia tanpa permisi.
γ
Sontak saja Mama di buat kaget, dan Nia menjerit malu. Wajah Nia memerah sempurna, meskipun dirinya adalah isteri sah Aisakha, tetapi terpergok sedang sedemikian mesra bersama suaminya, oleh Mama Mertuanya sendiri cukup terdengar teledor.
γ
"Ya ampun Sakha, kenapa pintunya gak di tutup ?" Suara Mama terdengar heboh sendiri.
γ
"Khilaf Ma ", jawab Aisakha santai, sedang Nia sudah tertunduk malu tanpa berani menatap mata mertuanya itu.
γ
Aku pengen tengelam di dasar bumi saja, aku malu. Nia.
γ
__ADS_1
γ