SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 100


__ADS_3

Perbedaan


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Ke-kenapa Paman?" Suara nia terdengar sangat pelan. Hatinya tidak bisa tenang, kata tidak yang disuarakan oleh sang Paman telah membuat nyalinya menciut jauh


γ€€


"Paman". Suara berat khas Aisakha membuat Paman yang hendak berbicara langsung berhenti, beralih memandangi tubuh tinggi Aisakha yang telah selesai membersihkan diri dan menganti baju


γ€€


Nia berdiri, berjalan mendekat kearah Aisakha. Aisakha langsung mengulurkan tangannya, merangkul Nia dan memberi senyum manis yang sukses membuat Nia sedikit tenang


γ€€


Paman memperhatikan dua anak manusia itu, terlihat jelas ketulusan satu sama lain dalam pancaran mata mereka. Tetapi cepat, Paman mengenyahkan semua itu. Paman sedang berusaha menyakinkan diri, semua ini adalah kesalahan.


γ€€


"Paman, mohon maaf saya belum memperkenalkan diri secara layak". Aisakha menunduk hormat wujud rasa bersalahnya.


γ€€


"Perkenalkan Paman, saya adalah Aisakha Elang Britana. Saya adalah kekasih Nia, saya sangat mencintai keponakan Paman ini. Dan saya mohon, restui kami Paman. Saya ingin Nia menjadi isteri saya saat dia telah siap nanti". Kata demi kata wujud kejujuran hatinya pada Nia telah Aisakha ungkapkan kepada Paman.


γ€€


"Tidak". Lagi suara tegas Paman membuat wajah Nia berubah pias.


γ€€


Nia memandang sedih pada Aisakha, rasanya dia sangat ingin menangis saat ini.Β Kenapa tidak? Apa salah kami Paman?


γ€€


Aisakha mempererat rangkulannya pada Nia. Dia tidak ingin wanitanya menjadi sedih.


γ€€


Sementara Kristo telah maju mendekat, dengan tangan yang di genggam kuat, Kristo telah berdiri di belakang sang tuan.Β Apa-apaan Paman nona Nia ini?


γ€€


"Tidak pada apa Paman?" Tanya Aisakha.


γ€€


"Tidak, tidak pada semua". Jawab Paman sambil mengerakkan kedua tangannya keudara, sebagai wujud gambaran kata semua yang disampaikannya.


γ€€


"Boleh Paman tolong jelaskan". Aisakha terlihat sangat tenang.


γ€€


"Tuan, saya sungguh-sungguh berterima kasih atas kebaikan tuan pada keluarga saya. Pada Nia yang telah tuan izinkan bekerja di perusahaan tuan. Bahkan pada isteri saya, atas pertolongan tuan menyelamatkan hidup isteri saya". Paman terlihat menatap kearah Bibi Ros yang terbaring lemah dengan semua peralatan medis disekitarnya.


γ€€


"Kita keluarga Paman, saya akan melakukan segala yang terbaik yang saya mampu untuk orang-orang yang sangat disayangi Nia". Jawab Aisakha sambil menatap tulus pada Nia.


γ€€

__ADS_1


"Tuan, berhentilah berpura-pura". Paman sangat kesal.


γ€€


"Hey, jaga bicaramu Pak. Meskipun kamu adalah orang tua nona Nia, tapi kalau....". Kristo.


γ€€


"Diam, siapa yang suruh kamu bicara". Aisakha membentak Kristo begitu keras, hingga membuat Kristo berhenti berbicara.


γ€€


"Boleh saya tau kenapa Paman bisa memiliki pikiran itu?" Aisakha memandang wajah Paman.


γ€€


"Tuan, anda sangat kaya. Teramat sangat kaya, sangat mudah bagi anda memilih wanita mana pun yang anda mau. Tetapi jelas itu bukan Nia kami. Kami ini keluarga bisa, kami tidak sama dengan keluarga anda. Kita berbeda tuan". Paman terlihat sangat putus asa atas semua isi pikirannya saat ini.


γ€€


"Jadi, menurut Paman saya tidak layak untuk Nia? Untuk menjadi menantu dalam keluarga Paman?" Aisakha berusaha memojokkan Paman.


γ€€


"Hahaha". Tawa sinis Paman. "Anda tidak usah memutar cerita, saya tau anda sangat mengerti maksud perkataan saya". Jawab Paman kesal.


γ€€


"Paman, kenapa?" Nia muli merasa tidak berdaya.


γ€€


"Nia, kemarilah!" Perintah Paman dengan sorot mata tajam pada Nia.


γ€€


γ€€


"Nia, dia itu lelaki kaya. Keluarganya dan kita beda nak. Apa kamu mau di sakiti lagi oleh keluarga orang kaya, iya?" Paman mulai marah.


γ€€


"Tidak, tidak". Nia menunduk lesu. Paman telah membawa ingatannya kembali ke masa lalu.


γ€€


"Paman, ada yang harus saya jelaskan". Aisakha berdiri maju satu langkah, menyembunyikan Nia dibelakang punggungnya.


γ€€


"Tuan, sudahlah. Carilah wanita kaya yang sederajat dengan kalian. Saya mohon". Ucap Paman lirih.


γ€€


"Pak, anda benar-benar membuat saya kesal. Bahkan anak kecil saja tau kalau tuan Aisakha dan nona Nia tulus saling mencintai". Kristo benar-benar kesal.


γ€€


"Kau, kalau tidak bisa diam. Maka saya tidak akan segan untuk memukulmu". Ancam Aisakha pada Kristo.


γ€€


Sedang Paman, masih berdiri dan bertahan dengan pendapatnya bahwa Aisakha tidak tulus mencintai keponakannya Nia, bahwa Aisakha dengan kekayaannnya bukanlah pasangan yang tepat untuk Nia, bahwa Aisakha berbeda dengan keluarga mereka yang hanya orang biasa.


γ€€

__ADS_1


"Paman, cobalah untuk tenang dan biarkan saya bicara". Aisakha membujuk Paman untuk saling berbicara baik-baik.


γ€€


Nia memeluk Aisakha dari belakang, membenamkan wajahnya pada punggung lelaki yang dicintainya itu. Air mata mulai membasahi sudut matanya.


γ€€


Jangan menangis sayang, percaya padaku. Paman pasti merestui kita. Aisakha.


γ€€


"Paman. Saya tidak akan berbohong, karena percuma saja. Saya yakin Paman pasti telah mendengar latar keluarga saya". Aisakha mulai berbicara pelan pada Paman. Sedang berusaha menyakinkan Paman pada cinta tulusnya untuk Syania.


γ€€


"Saya memang pemilik Sunjaya Company, perusahaan besar di segala bidang. Ya, saya akui itu. Bahkan termasuk bidang pertanian tempat Nia bekerja. Lantas apa yang salah dengan itu? Saya bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan yang diwariskan Papa untuk saya, sejak saya ditinggal Papa. Saya mati-matian menjalankan perusahaan di usia sangat muda, di saat semua teman-teman saya sedang berpikir tentang ujian harian untuk esok pagi. Di saat itu saya justru sedang bergelut, berpikir keras untuk kemajuan perusahaan. Saya masih SMA saat itu Paman". Aisakha menarik nafas panjang.


γ€€


"Lantas, saya salah Paman?" Tanya Aisakha pada Paman.


γ€€


"Sekarang saya tanya pada Paman, selain kekayaan keluarga saya. Apa Paman juga pernah mendengar keburukan saya? Bahwa saya suka mempermainkan wanita dari latar keluarga yang berbeda dengan saya? Apakah Paman pernah mendengar saya adalah lelaki bejat?". Aisakha menatap mata Paman.


γ€€


Paman tertunduk diam, tidak tahu harus menjawab apa. Walaupun sebenarnya Paman tahu apa jawabannya.


γ€€


"Anda tidak tau tuan bagaimana keluarga kaya dari masa lalu Nia telah menyakiti hati keponakan saya. Telah membuat hancur hidup Nia". Paman mengusap kasar wajahnya.


γ€€


"Paman, tiga tahun yang lalu saya memang tidak tau apa persisnya yang membuat Nia begitu hancur saat pertama kali kami bertemu. Tapi, sekarang saya sudah tau. Paman, saya berusaha keras membuat Nia yakin pada cinta saya. Saya tidak pernah memaksanya. Lambat, saya memperkenalkan Nia pada cinta yang tulus. Bukan karena apa atau siapa". Jawab Aisakha tenang.


γ€€


"Kalian sudah kenal dari tiga tahun lalu?" Paman terlihat sedikit bingung.


γ€€


"Iya". Jawab Aisakha cepat. "Apa Paman percaya takdir Tuhan?" Aisakha memegang erat tangan Nia yang memeluk pinggangnya dari belakang.


γ€€


"Tuhan punya kuasa untuk menyatukan kami. Waktu itu". Aisakha memulai ceritanya. "Saya harus menyelesaikan urusan sangat-sangat mendesak di cabang perusahaan saya di sini. Karena lalu lintas udara yang sangat sibuk, otoriter bandara tidak memberi izin pesawat pribadi saya tinggal landas, lebih kurang satu jaman. Tetapi saya harus berangkat secepatnya, urusan saya sangat mendesak. Akhirnya Kristo". Tunjuk Aisakha pada Kristo yang berdiri tepat disampingnya. "Mencarikan pesawat yang berangkat ke Bengkulu saat itu". Aisakha tersenyum mengingat semuanya.


γ€€


"Karena pemesanan tepat sebelum waktu tutup tiket, kami hanya mendapat bangku di kelas ekonomi. Dan Paman, di saat itulah saya bertemu Nia. Nia menyapa saya duluan Paman, dia mau duduk. Kursinya tepat di dekat jendela, di sebelah saya. Paman, waktu itu mata Nia sembab, hidungnya memerah, wajahnya sangat lelah. Saya memang tidak tau apa yang telah dialaminya saat itu, tapi saya tau Nia telah menangis begitu lama dan dirinya sangat terluka". Tiba-tiba wajah Aisakha berubah murung.


γ€€


"Dan tanpa saya tau kenapa, detik itu juga saya telah berjanji pada diri sendiri akan selalu menjaga Nia, akan selalu memastikan semua baik-baik saja". Aisakha mengakhiri ceritanya.


γ€€


"Dimana anda saat Nia terpuruk? Dimana anda saat kami semua bahu-membahu menumbuhkan kembali semangat hidupnya? Haaa, dimana?" Bentak Paman kemudian.


γ€€


Aisakha hanya bisa tertunduk sambil mempererat pegangannya pada jemari Nia.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2