SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 122


__ADS_3

Cerita Aisakha (3)


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Maaf". Nia tertunduk malu, dia tengah kecewa terhadap dirinya sendiri. Aisakha telah membebaskan bibirnya, semua berakhir menjadi kecupan dalam, tanpa balasan. "Maafkan aku Mas, aku tidak mengerti harus membalas seperti apa". Akhirnya Nia mengakui kalau dirinya tidak tahu cara terbaik merespon bibir Aisakha tadi, walaupun Aisakha telah memintanya agar memberi balasan.


γ€€


Aisakha masih memegang wajah Nia, terlihat bagaimana kecewanya Nia pada dirinya sendiri. Nia hanya tertunduk tanpa mau menatap mata birunya.


γ€€


"Tegakan kepalamu. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini!" Aisakha memaksa Nia menatap ke arah matanya. "Kenapa kamu minta maaf? Ada apa?"


γ€€


Nia diam, dia hanya mengelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak ingin bersuara,Β Maafkan aku, aku tidak tau cara membalas ciumanmu tadi. Kamu pasti menertawakan aku yang bodoh inikah?


γ€€


"Nia...hey, Nia...?" Aisakha tidak bisa menebak perubahan sikap Nia.


γ€€


"Kamu kecewa sama akukan?" Nia masih menunduk. "Maaf, aku bukan pencium ulung. Aku, aku nggak ngerti cara balasnya seperti apa". Dengan penuh penyesalan, Nia mengakui semua pada Aisakha.


γ€€


Jangan-jangan?


"Boleh aku tanya?"


γ€€


"Apa?"


γ€€


"Apakah aku orang pertama yang merasakan manisnya bibirmu ini?"


γ€€


"I-iya". Jawab Nia pelan.


γ€€


"Ya Tuhan, betapa beruntungnya aku sayang". Spontan Aisakha memeluk Nia. "Betapa beruntungnya aku, aku telah menjadi orang pertama yang menyentuh bibir manismu". Bisik Aisakha di telinga Nia. "Aku tidak pernah menyangka akan sebaik ini jalan hidupku".


γ€€


"Tapi aku sangat memalukan, aku tidak mengerti cara membalasnya". Nia meletakkan wajahnya tepat di ceruk leher kanan Aisakha. "Aku sungguh-sungguh tidak tau harus berpartisipasi seperti apa?"


γ€€


"Aku tidak perduli kami mengerti cara membalas ciumanku atau tidak. Lupakanlah itu, seiring waktu aku akan mengajarkan semua padamu". Aisakha terlihat menghirup aroma wangi rambut Nia. "Yang jelas aku sangat berterima kasih padamu, karena telah memberi kepercayaan besar padaku menjadi orang yang pertama untuk mengecap manisnya bibir pinkmu itu. Syania, kamu memang wanita luar biasa. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, jangan pernah kamu tinggalkan aku ya!" Sebuah permintaan meluncur begitu saja dari mulut Aisakha.


γ€€


Nia tidak percaya, seorang Aisakha mengajukan permintaan yang sama persisi dengan keinginan dirinya. Terasa aneh, Aisakha yang merupakan penguasa dunia bisnis di segala bidang, lelaki berkuasa dan kaya raya itu mengajukan sebuah permohonan pada dirinya? Tetapi di satu sisi, Nia merasa semua ini menyenangkan. Dirinya merasa sangat tersanjung, merasa benar-benar berharga. Seakan-akan Aisakha tidak bisa hidup tanpa dirinya, sama persisi seperti perasaannya pada diri lelaki tampan yang masih memeluknya itu, Nia pun tidak pernah ingin Aisakha meninggakannya.

__ADS_1


γ€€


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Mas, kamu adalah belahan jiwaku. Bagaimana pun kerasnya aku menolak, jiwa ini pasti akan menuntut kamu selalu ada dalam hidupku, dalam setiap hela nafasku". Jawab Nia jujur.


γ€€


"Terima kasih". Ucap tulus di telinga Nia.


γ€€


"Sekarang boleh lanjutkan ceritanya". Tanya Nia sambil melepaskan pelukannya dari Aisakha. Nia terlihat sudah seperti biasa, suaranya telah kembali normal. Mendung di mata coklatnya telah berganti taburan bintang-bintang. Sekarang Nia terlihat telah ceria kembali.


γ€€


"Tentu saja, apapun itu". Aisakha tahu kalau sekarang Nia sudah tidak cemburu lagi.


γ€€


"Namanya Claudilara Brinston, dia seorang model dan aku memanggilnya Lara". Aisakha sempat memandangi Nia sesaat, dan terlihat Nia bersikap biasa saja. "Aku mengenalnya pada sebuah acara amal di Singapure saat aku masih kuliah S2 di London. Waktu itu aku harus menghadiri acara amal, perusahaanku terlibat dalam acara itu".


γ€€


Seorang model ya? Pasti fisikknya sangat sempurna.


Lantas kenapa? Itukan hanya masa lalu saja.


Iya, masa lalu....tapi coba lihat dirimu. Antara masa lalu dan masa depan berbanding jauh.


Heh, biar saja. Aku tidak perduli. Yang jelas akulah satu-satunya wanita pemilik hatinya saat ini dan masa depannya.


γ€€


γ€€


"Hingga suatu hari di saat hari kelulusanku. Dia sedang melakukan pemotretan di Thailand, dia bilang tidak bisa menghadiri wisadaku dengan alasan pekerjaannya. Ya..tentu aku tidak mempermasalahkan itu, aku malah berencana memberi kejutan padanya. Esok hari setelah prosesi wisuda selesai, aku langsung terbang ke Thailand. Tanpa sepengetahuannya aku pun mendatangi hotel tempat tinggalnya. Sayang, bukan dia yang mendapatkan sebuah kejutan, tetapi akulah yang sangat terkejut". Aisakha mengengam tangan Nia.


γ€€


"Aku bersemangat mengetuk pintu kamar hotelnya, tetapi yang muncul malah seorang lelaki setengah telanjang yang membukakan pintu untukku. Hahahaha". Aisakha tertawa miris. "Parahnya lagi, aku mengenal siapa lelaki itu. Dia adalah lelaki berumur yang kebetulan adalah salah satu klienku di Singapure.


γ€€


"Oohhhh". Nia menatap iba pada Aisakha.


γ€€


"Anehnya, saat itu aku hanya terkejut saja mendapati kenyataan yang ada. Tidak rasa cemburu apa lagi marah, aku hanya kecewa karena harus mengetahui seperti apa aslinya dengan cara yang cukup tidak pantas, kadang aku berpikir agak hina. Hanya itu saja sayang, aku sendiri juga heran. Kenapa aku hanya kecewa, kenapa aku tidak terpikir untuk marah. Semisal memukuli lelaki brengsek itu, atau memaki marah Lara. Sungguh aku tidak melakukan itu. Aku hanya pergi dan berlalu dari sana, membawa rasa kecewa. Aku sudah datang sejauh itu, sudah siap dengan kejutanku untuknya. Tapi malah hal tidak pantas yang aku terima".


γ€€


"Karena itu Nia, kalau saat ini kamu tanya, apakah aku mencintai Lara di masa laluku. Maka dapat aku pastikan padamu, TIDAK". Jawab Aisakha tegas. "Ternyata aku hanya menganggap dia sebagai teman, seorang teman yang menyenangkan. Itu saja".


γ€€


Benarkah, benarkah itu? Kenapa aku merasa melambung mendengar pengakuanmu sayang. Aku merasa teramat sangat senang Mas.


γ€€


Aisakha mengecap lembut bibir Nia dengan ibu jarinya, mencoba menelusuri bibir tipis berwarna pink yang sangat membuat dirinya ketagihan. "Bagaimana mungkin kamu bisa memiliki bibir semanis ini?" Aisakha tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan sebuah pertanyaan yang terasa memalukan untuk Nia.


γ€€

__ADS_1


"Kamu harus tanggung jawab kalau aku sampe kecanduan!" Aisakha memberi tatapan serius.


γ€€


"Kencanduan apa Mas?" Dengan wajah polos Nia balik bertanya.


γ€€


"Ya apalagi kalau bukan kecanduan bibir manismu ini sayang, rasanya semanis madu". Jawab Aisakha sambil menatap bermohon pada bibirΒ  Nia.


γ€€


Dug, dug, dug, Nia merasa hawa panas kembali di wajahnya. "Ja-jangan membuat aku malu".


γ€€


"Berarti Yuedo tidak pernah ?" Aisakha mengantung pertanyaannya. Entah kenapa dirinya sangat ingin mendengar kejujuran dari wanita cantik ini tentang rahasia di balik seorang Nia yang belum pernah membiarkan lelaki manapun menikmati madu di bibirnya. Dan hingga hari ini, dialah lelaki pertama yang dipercaya Nia untuk mendapatkan manisnya madu tersebut.


γ€€


Nia menatap mata biru bagai awan cerah di langit itu. Maka yang terlihat bagai penyejuk untuk alam sekitarnya, mata yang membuat sosok Aisakha begitu misterius, begitu sulit di gapai, tiada yang mampu menebak kedalamannya.


γ€€


"Tidak". Jawab Nia cepat. "Kami hanya berpegangan tangan dan, dan satu kali dia mencium pipiku saat aku ulang tahun ke dua puluh".


γ€€


"Kamu benar-benar berlian sayang". Aisakha mengenggam kedua tangan Nia dan membawanya ke arah bibirnya. Aisakha mengecup kedua tangan itu silih berganti. "Terima kasih, telah menjadikan aku yang pertama".


γ€€


Nia tersenyum, hatinya sangat berbunga-bunga. Wajahnya pun merona sempurna.


γ€€


"Kapan kamu memberi izin aku untuk melamarmu? Aku sudah tidak sabar untuk menyuntingmu, Nia?" Aisakha mengajak Nia berbicara serius.


γ€€


"Secepatnya Mas, setelah Bibi benar-benar sehat. Datanglah pada keluargaku, mintalah aku pada mereka".


γ€€


Aisakha berkali-kali mengecup tangan Nia silih berganti. Dia tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban sedemikian membahagiakannya dari Nia. Setelah selama ini Nia akan berusaha mengulur waktu atau mengalihkan pembicaraan saat dirinya ingin menikahi Nia. Tetapi tidak kali ini, kali ini Nia memberi jawaban pasti.Β Terima kasih Tuhan, begitu banyak kebahagiaan Engkau limpahkan padaku hari ini. Berapa besar kasih-Mu pada aku yang hanya manusia biasa ini. Aku benar-benar bersukur, semua ini indah. Jagalah kami dan cinta ini Tuhan, izinkanlah kami selalu bersama hingga tarikan nafas yang terakhir.


γ€€


"Kamu sudah janji Nia dan aku akan pegang janjimu. Bersiaplah mulai dari sekarang untuk menjadi pendampingku selamanya dan menjadi ibu dari anak-anak kita. Aku mencintaimu". Sekali lagi Aisakha mencium kedua tangan Ni silih berganti.


γ€€


Iya, jika masanya telah tiba. Datanglah Mas, lamar aku dan halalkan aku untuk kamu seorang. Semoga Tuhan memanjangkan jodoh kita.


γ€€


Nia mengangguk pelan dan, "aku juga mencintaimu". Nia membalas pernyataan cinta Aisakha barusan.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2