
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Mama tahu kalau saat ini tatapan kesekian kali dari Paman Nia itu adalah pertanda kalau dirinya harus membawa pulang Aisakha. Tetapi apa daya, Aisakha benar-benar tidak ingin berpisah dari Nia. Terlebih selama perjalanan mereka kembali ke Bengkulu, Nia terlihat lebih banyak diam. Bicara bila di tanya dan tersentak kaget saat di sapa, seakan jiwa Nia sedang tidak di raga. Nia sangat berbeda, dan Mama bisa merasakan itu.
 
"Sakha..ini sudah malam, semua orang perlu istirahat. Kasihan bibinya Nia, beliau baru mulai membaik. Ayo nak, kita pulang ". Bujuk Mama pelan.
 
"Iya Mas...pulanglah ! Mama juga pasti lelah. Dan Mas, Mas juga perlu istirahatkan !" Senyum kaku menghiasi sudut bibir Nia.
 
Aisakha menghembuskan nafas pelan. "Baiklah...aku akan pulang bersama Mama ". Akhirnya lelah menduga, maka Aisakha mengalah. Perasaan campur aduk, ada apa dengan Nia ? Hati Aisakha terus bertanya.
 
Acara pamitan di mulai, Nia sejujurnya enggan melepas gengaman tangan Aisakha. Bahkan kalau boleh berbicara, Nia sangat berharap satu pelukan dari Aisakha. Nia ingin menangis di dalam pelukan kekasihnya itu agar perasaannya yang sedari sore tadi mengerogotinya, bisa menemukan jawaban, dan tentu saja demi bisa tenang. Namun, akal sehat Nia melarangnya melakukan semua. Paman dan Bibi jelas berdiri di belakangnya, jadilah Nia hanya bisa memaksakan diri kembali tersenyum dan melepas Aisakha begitu saja.
 
Iring-iringan mobil mewah Aisakha berlalu, meninggalkan rumah Papa dan Bibi Nia, meninggakan Nia yang berjalan lelah masuk ke dalam kamarnya.
 
Meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi Nia tetap berminat mandi di bawah guyuran air hangat. Otot-ototnya terasa kaku, pikirannya terasa buntu. Sesaat Nia perlu essensial aroma terapi untuk membuat dirinya sedikit rileks.
 
"Lelaki dari masa lalu Nia mencarinya Ma ". Suara Aisakha yang panik masih jelas dalam ingatan Nia. "Ternyata selama ini Mamanya telah memutar balikkan fakta dan mencuci otak lelaki itu dengan berbagai cerita palsu ".
 
Nia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air matanya menetes kembali. Kepalanya terasa pusing, letih, Nia merasa sangat letih.
 
Dan di sisi lain....
 
"Ma, maaf...boleh Mama pindah le mobil depan ?" Tanya Aisakha pada sang Mama yang hampir saja terlelap lelah di samping Aisakha.
 
"Eh, kenapa ?" Tanya Mama sambil menguap.
 
"Aku baru ingat, ada sesuatu yang harus aku kerjakan Ma ". Jawab Aisakha cepat.
 
"Sekarang, malam-malam ginih ?" Tanya Mama heran.
 
"Hehehe...", cenggir Aisakha pelan. "I, iya Ma. Kan baru ingat ".
 
"Ya ampun Sakha ". Mama memukul paha Aisakha beberapa kali. "Ya sudah, Mama akan pindah mobil ! Dan kamu, jangan pulang larut. Ingat kamu itu mau jadi manten, harus banyak istirahat ! Lagi pula kamu juga nggak mau libur, jadi pikiran kamu itu harus selalu tenang ! Suara omelan Mama membuat Aisakha hanya bisa menganggukkan kepala.
 
Kemudian, setelah memastikan mobil yang membawa sang Mama telah melaju ke arah Villa miliknya, Aisakha memberi sebuah perintah pada Kristo. Perintah memutar balik arah, kembali ke rumah dimana kekasih hatinya tadi sekarang berada.
 
*****************
 
Sedikit lebih baik, rasanya susunan urat-urat syaraf di sekujur tubuh Nia lebih bersahabat setelah mandi tadi. Sepertinya guyuran air hangat dan pilihan aroma terapinya cukup ampuh. Nia menaiki ranjang lamanya, ranjang yang dulu menemani harinya di rumah penuh kasih sang bibi tercinta. Dengan kepala bersangah bantal, Nia memandang sekeliling. Sudah hampir 2 bulan dirinya tidak memasuki kamar ini, apa lagi merebahkan diri seperti saat ini.
 
Waktu cepat berlalu, semua masih sama. Susunan kamarnya masih sama, Bibi selalu menjaga semua tetap sama. Bahkan kisah pilu penuh air mata di masa itu pun masih sama.
 
__ADS_1
"Edo ". Entah kenapa malam ini Nia sanggup menyebutkan nama itu. Setelah sekian banyak malam berlalu, tapi malam ini Nia memiliki kekuatan tersendiri.
 
Nia memaksa matanya memejam, jelas dirinya lelah apa lagi setelah menyebutkan nama lelaki dari masa lalunya, rasanya seluruh tenaga Nia tercurah habis.
 
Ya..Tuhan...
Nia mendudukkan dirinya. Menutup wajahnya dengan kedua tangan yang berpangku di kedua lutut.
 
Ya...Tuhan....
Sekali lagi, Nia hanya bisa menyebut nama Tuhan.
 
"Tidak bisa seperti ini ". Nia berguman pada dirinya sambil berjalan pelan keluar kamar. Berjingkrak sangat pelan menuruni anak tangga. Nia terus berjalan hingga teras luar.
 
"Nona ", suara Bayu membuat Nia tersentak di udara malam.
Ada apa ya ? Nona sangat aneh deh. Perasaan pagi tadi sangat bahagia bersama tuan, sampai sorepun senyum selalu terkembang. Tapi kenapa malam ini jadi aneh. Padahalkan nona bentar lagi mau nikah sama tuan.
 
"Ini sudah malam, udara juga sangat dingin. Nona kenapa di luar ?" Tanya Bayu heran.
 
"Ti, tidak ada. Saya hanya belum ngantuk dan, dan merasa gerah di dalam. Pengen ngadem dulu ". Jawab Nia gugup.
 
"Kalau begitu nona duduklah !" Bayu menunjuk kursi di teras itu. "Mau saya ambilkan sesuatu ?"
 
"Tidak usah ". Jawab Nia cepat.
 
 
*****************
 
"Aku harus turun Kris !" Aisakha sudah kesekian kalinya membujuk Kristo agar melepaskan dirinya.
 
Jelas hatinya gelisah, sikap diam Nia meskipun Nia tahu apa alasan dirinya harus mengantar Nia pulang kembali ke keluarganya. Tetapi tetap saja, Nia diam dan mematung tanpa komentar saat sang Mama menceritakan detel teleponnya bersama Bibi Nia.
 
Aneh, kata itu terus saja memenuhi isi kepala Aisakha.
 
Dan sekarang, mendapati kegelisahan hatinya menjadi nyata. Membuat Aisakha semakin hilang kendali, beberapa meter di depannya. Aisakha bisa melihat, Nia duduk menatap lurus tanpa kepastian di teras depan. Diam membisu dan mata kosongnya.
 
"Tuan, tuan harus ingat perjanjian tuan sama keluarga nona !" Bujuk Kristo mencegah sang tuan berlari menemui Nia. "Nanti kalau keluarga nona tahu, mereka malah salah paham dan marah sama tuan. Ingat tuan !"
 
"Aarrgghhhh..kau ini ribut saja ". Aisakha mulai marah. "Tidak lihat itu, Nia itu sangat aneh Krisooooo, pasti ada yang salah ".
 
"Iya...tapi janji tetap janji tuan ". Ucap Krsito pelan.
 
"Kau ini...kalau aku tidak mau bagaimana ?" Mata Aisakha membesar.
 
__ADS_1
"Saya mohon tuan. Demi pernikahan tuan ". Suara Kristo di buat memelas.
 
"Aarrggghhhh ". Aisakha mengusap wajahnya. Hanya bisa melampiaskan ketidak berdayaannya.
 
Lama Aisakha bertahan dalam mobilnya, memperhatikan Nia dari balik kaca hitam mobil. Menunggu ada sebuah pergerakan berarti, setidaknya sebagai tanda bagi dirinya. Kalau Nia baik-baik saja. Hingga lelah dan gagal menguasai hatinya, Aisakha memilih membuka pintu dan berlari sebisanya menuju arah Nia. Meninggalkan Kristo yang terpana tidak percaya, di tinggal lari begitu saja oleh sang majikan.
 
"Tuan ". Bayu menunduk hormat saat melihat sang majikan sudah berdiri di teras depan.
 
Dan suara Bayu membuat kepala Nia bergerak.
 
"Sa, sayang ?" Nia cukup kaget. "Ada apa ?"
 
"Entahlah Nia, aku hanya merasa harus kembali ke sini secepatnya ". Aisakha berjalan ke arah Nia.
 
"Ada apa Nia ?" Tanya Aisakha sambil memberi kode gerakan tangan pada Bayu agar menjauh dari mereka.
 
"Aku ?" Tanya Nia heran.
 
"Ya...ada apa ?" Ulang Aisakha lagi.
 
"Ti, tidak ada apa-apa ". Jawab Nia bohong.
 
"Nia, percayalah padaku ! Kamu itu bukan pembohong ulung ".
 
"Be, benarkah ?"
 
"Ada apa ? Ceritakalah padaku ! Bukankah kita sudah berjanji, tidak akan menyimpan apapun itu. Akan saling jujur !"
Aisakha bersimpuh di depan Nia sambil memegang tangan Nia.
 
Nia menatap lekat tangan lelaki yang sedang menangkup erat jemarinya, matanya mulai berkaca.
 
"Nia ". Aisakha mengangkat dagu Nia agar melihat kearahnya.
 
Mendapat perlakuan semanis itu, hati Nia serasa terhimpit, berat dan sakit. Nia akhirnya memilih meloloskan satu persatu air matanya.
 
"Sayang ". Suara Nia bergetar di antara tangisnya.
 
"Hey...ada apa ?" Dan Aisakha membawa Nia masuk dalam pelukannya.
 
Lama Aisakha membiarkan Nia bersembunyi di dadanya, membiarkan Nia menumpahkan segalanya, meskipun dirinya tidak bisa menjangkau ke dalam relung jiwa Nia menemukan sebab musabab air mata itu jatuh tanpa jeda.
 
 
__ADS_1