
🌈🌈🌈🌈🌈
“Bagaimana kondisi tanganmu ?” bertanya sambil fokus menyetir mobil.
“Sudah enggak apa-apa lagi Pak. Sudah sangat sehat “. Mengangkat lengan kanannya tinggi untuk membuktikan. “Tu, Bapak bisa lihat “. Mengerak-gerakkan tangan.
“Syukurlah “. Ada sedikit senyum di bibir Kristo, tetapi Resya tidak tahu.
“Pak, kenapa Bapak langsung datang mencari saya ? Kenapa tidak suruh orang saja mengabari. Sayakan bisa pergi sendiri “. Bertanya sambil memainkan handphone.
“Memang kenapa kalau langsung saya ?” bertanya tanpa menatap pada Resya.
“Ya enggak enak saja Pak, Bapakkan sekretaris perusahaan. Masa iya datang langsung cari saya “. Berbicara serius. “Padahal Bapak bisa loh bilang sama Bayu supaya suruh saya ke rumah Ibu Kepala Laboratorium “. Tersenyum sambil mengangkat jari telunjuk, seakan apa yang di bicarakan adalah sebuah ide paling bagus di dunia ini.
Mungkin bagi Resya begitu, tapi tidak bagi Kristo. Entah kenapa, Kristo mendadak mengeraskan rahangnya, hatinya kesal wajahnya membeku.
“Kamu dekat sama Bayu ?” bertanya tanpa ekspresi senang, dan Resya tetap tidak sadar.
“Ya..deket gituh pak “. Bicara santai tanpa dosa.
“Kalau begitu tidak boleh !” sebuah perintah tanpa kompromi.
“Hah, kenapa ?” menatap Kristo heran. “Kenapa tidak boleh ?”
“Kamu itu, apa yang kamu tahu tentang Bayu. Apa kamu enggak kapok sembarang dekat sama lelaki. Apa kamu lupa sama matan kamu dulu ?” bicara dengan keras, mengungkit masa beberapa waktu kemarin. Membuat Resya mendadak ingat semuanya.
“Sudah..ada aku, ada aku “. Kristo menyentuh bahu Resya erat. Seakan sedang melindungi Resya, ingin melindungi Resya dari luka dalamnya.
“Apa Bapak tahu, Risky menghianati saya dengan siapa ?” bertanya di antara isak tangis.
“Kamu tahu Meri ?” Kristo merasa ada anggukan kepala Resya di dadanya.
“Dia, Meri teman satu SMA saya “. Menjawab tidak berdaya.
__ADS_1
“Sudah 3 bulan mereka jalan bersama “. Kristo merasakan Resya semakin dalam menyembunyikan wajahnya di dadanya. Jawab Kristo telah membuat hati Resya sangat sakit. Siapa yang menyangka, 2 tahun masa kebersamaannya bersama Resya dalam suka duka, sebuah hubungan yang begitu manis dan sangat serius. Justru berakhir begitu saja dengan sebuah perselingkuhan. Dan parahnya Resky menyelingkuhi Resya dengan teman sekolahnya dulu, yang notabene adalah sahabatnya sendiri.
Siapa yang menduga, kenangan akan penjelasan Kristo hasil penyelidikannya di Rumah Sakit kala itu. Resya meneteskan air matanya, di alam bawah sadarnya Resya masih berharap bisa melalui luka penghianatan. Tetapi, karena Kristo mengungkitnya lagi, luka itu kembali sakit.
“Hey..kamu “. Kristo memanggil Resya yang melamun dengan air mata di pipi.
“Hey... “. Dan Resya masih saja diam.
Apa aku salah gomong ? Kok nangis sih ? membatin heran.
“Hey...saya panggil kenapa diam ?” mulai menaikkan nada suara, berharap Resya merespon. Tetapi, Resya tetap saja diam.
Bingung harus melakukan apa, tidak mengerti sebab musabab Resya mendadak diam dan menangis. Maka, Kristo memilih menepikan mobil yang di kemudikannya. Menarik Resya masuk dalam pelukannya, melindungi Resya sebisa dilakukannya.
“Resya...”, kali pertama Kristo memanggil nama Resya. Entah kenapa, Kristo merasa ada yang aneh di bibirnya saat nama itu terucap.
Kristo mengusap punggung Resya perlahan, membuat Resya memutar wajah sedihnya menatap mata Kristo.
“Kenapa ?” Kristo tersenyum iba pada Resya.
“Kenapa, kenapa dia menghianati saya ? Kenapa harus sahabat saya ?” setelah beberapa menit berlalu, Resya mulai bisa bersuara meskipun sangat pelan.
“Apa saya begitu tidak berharganya ? Sampai dia mencari wanita lain ? Apakah saya tidak pantas buat dia ?”
“Kamu tahu ?” membelai rambut Resya. “Kamu terlalu berharga buat lelaki bodoh itu, sehingga dia mencari wanita yang sama tidak berharganya untuk mendampingi hidupnya. Bukankah kamu pernah mendengar kata pepatah, orang baik akan berjodoh dengan orang baik pula. Dan sebaliknya, orang tidak baik akan dipasangkan dengan orang yang sama dengannya “.
“Dua tahun masa yang panjang, kenapa baru pisah 3 bulan, dia sudah menyakiti saya ? Apa Bapak tahu, sakit sekali apa yang di lakukan pada saya ?” menggeleng dengan air mata masih berjatuhan di pipi.
“Karena dia tidak pantas untukmu. Jadi Tuhan perlihatkan secepat mungkin sebelum semua dia semakin membuat kamu terpuruk “. Masih membelai rambut Resya.
“Saya memang wanita biasa Pak. Pasti karena itu dia memilih wanita yang luar biasa “. Mengasihani diri sendiri.
“Dengar, saya bisa menghancurkan lelaki bodoh itu detik ini juga ! Kamu tinggal bilang “. Merasa kesal mantan Resya. Mendapati Resya kembali terpuruk hanya dengan mengingat penghianatan mantan Resya itu, Kristo jadi marah.
__ADS_1
“Dan berhenti bilang kamu wanita biasa. Hanya lelaki bodoh yang otaknya rusak yang punya pikiran sepicik itu !” mempererat pelukannya pada Resya, jelas Kristo ingin menyerap semua kesedihan Resya.
“Kamu dengar ! Berhenti merendahkan dirimu karena laki-laki sialan itu. Atau saya tidak akan ragu, memisahkan jiwanya dari raganya “. Bicara penuh ketidak sukaan.
Resya hanya mengerakkan kepalanya, membuat gerakan mengangguk. Diam-diam Resya merasa ada desiran senang di hatinya saat tahu, ada sosok lelaki sekeren Kristo yang begitu serius membela dirinya. Ada sosok Kristo yang memberikan perlindungan padanya.
“Te, terima kasih ya Pak “. Mendongak menatap mata Kristo.
Ya Tuhan, Pak Kristo tampan banget ternyata. Hidung mancung, mata hitam khas lelaki Indonesia. Batin Resya menyadari begitu dekat jarak wajahnya dan Kristo saat ini.
“Iya, sama-sama “. Kristo tersenyum. Ada simpul menawan di kedua sudut bibir Kristo.
“Jangan menangis lagi ya ! Jangan buang air matamu untuk lelaki yang tidak pantas padamu ! Jangan buang tenagamu untuk lelaki yang memang tidak di siapkan Tuhan untukmu !” Kristo menghapus air mata di mata Resya, menghapus air mata yang membasahi pipi Resya. “Ada aku. Kamu harus ingat itu !”
Dug, dug, dug..... jantung Resya mendadak berdebar keras. Ritmenya cepat, sangat ribut hingga mendekati bunyi genderang perang.
Itu, aduh..Pak Kristo kok lembut banget sih, mana baik banget lagi. Aku kan malu. Eh, apa itu ? Astaga. Mati aku... Batin Resya dengan kepala tertunduk dalam.
“Kenapa ?” Kristo merasa ada yang salah. Sikap tertunduknya kepala Resya membuat hatinya kembali marah.
Apa begitu sulit melupakan lelaki brengsek itu ? Masa iya, masih tertunduk sedih karena lelaki itu ? Membatin tidak senang. Kenapa, kenapa lelaki itu bisa begitu bodohnya melepaskan Resya begitu saja. Ahhhhhh, bodohnya. Membuat aku marah saja, ingin sekali aku menghajar orang bodoh itu. Masih membatin dengan isi hatinya sendiri.
“Sa, saya “. Masih tertunduk malu. “I, Itu “. Tergagap sambil menunjuk ke arah kemeja Kristo. “Ma, maaf Pak “. Mengucap dengan rasa bersalah.
Kristo melihat arah telunjuk Resya, melihat bagian kemejanya yang tersisa noda merah muda, persis di tempat Resya menangis tadi. Sepertinya lipstik Resya telah tertinggal di sana.
“Saya, saya akan cuci bersih nanti Pak “. Resya sangat malu.
Eh..tunggu dulu. Kalau ada noda lipstikku di sana, berarti aku tadi memeluk Pak Kristo ya ? Aku nangis dalam pelukannya ? Begitukan ? Bertanya pada diri sendiri. Ya Tuhan, aku dan Pak Kristo berpelukan, dan ini pelukan kedua kami. Dulu, yang kemaren di Rumah Sakit itu, aku dan Pak Kristo juga..ahhhhh....malunya aku. Aduh, bagaimana ini ? Membatin tanpa berani menatap wajah Kristo.
“Boleh, aku buka sekarang ya ?” Kristo sadar kalau wajah Resya memerah. Sepertinya, Resya yang menjadi pemalu ini membuat Kristo suka.
“Hah ?” mengangga lebar sambil menatap mata Kristo. “Jangan, jangan buka sekarang Pak “.
“Loh, tapi kamu mau bantu cuci ?” tersenyum lucu melihat kekikukan Resya padanya.
“Iya, tapi..tapi “. Salah tingkah.
“Ya sudah “. Mengacak-acak asal rambut Resya. “Nanti saja aku buka bajunya “. Kristo melihat Resya sudah memposisikan wajahnya ke arah depan. Lurus dan terdiam dengan wajah malu, dan lagi-lagi Kristo tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Yang jelas, Kristi suka melihat Resya dengan wajah merah dan salah tingkah.
__ADS_1