SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
42


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Jangan hiraukan Mamamu ". Papa sengaja memilih mengantarkan Edo sampai ke pintu mobilnya. Terlihat si sopir Edo menunduk memberi hormat pada tuan besar pemilik segala kekayaan yang luar biasa menurut sudut pandangnya.


γ€€


"Bahkan kalau kamu tidak bersedia menikahi wanita pilihan Mamamu itu, Papa pasti mendukungmu, Do !" Ucap Papa serius. "Bagi Papa kebahagianmu adalah segalanya. Papa sudah semakin tua nak, Papa pengen kamu hidup tenang bersama wanita yang kamu cintai !" Papa menarik nafas panjang, memberhentikannya sesaat memenuhi rongga paru-parunya dan kemudian menghembuskannya kembali. "Termasuk cinta di masa lalumu ". Papa menatap wajah Edo, sedang Edo. Edo berpura-pura tidak mendengar apa yang Papanya ucapkan barusan.


γ€€


Tiba-tiba hatinya merasa sakit, rahangnya mengeras jiwanya meronta. Wanita di masa lalunya ? Edo jelas membenci wanita itu dengan segenap jiwanya. Tanpa sang Papa sadari, saat ini tangan kanan Edo sudah terkepal kuat.


γ€€


"Pa...aku berangkat dulu ya ". Sudah payah Edo menyembunyikan rasa sakit di dalam relung jiwanya. Rasa sakit yang berkali-kali lipat melebihi sakitnya mendengar suara ribut sang Mama dengan keinginannya tentang wanita bernama Kemala.


γ€€


"Iya berangkatlah nak ". Papa membiarkan Edo naik ke atas mobilnya. "Tapi tolong kamu pertimbangkan semua yang Papa sampaikan tadi ! Tentang Mamamu, jangan khawatir itu urusan Papa !" Dan si sopir Edo pun menutup pintu mobil bagian belakang tempat Edo sudah terduduk dengan ekspresi yang sulit di tebak.


γ€€


Edo tersenyum sesaat kepada sang Papa dan kemudian memberi perintah pada sopirnya agar segera menjalankan laju mobil mewahnya itu. Edo harus segera menyingkir dari rumahnya, dari Mama yang memiliki ambisi tentang pasangan hidupnya, dan dari sang Papa yang mendadak menginginkannya kembali ke cinta masa lalunya. Ke wanita yang hanya cinta hartanya saja dan tega membuang dirinya saat dia terpuruk dalam kondisi mengenaskan. Begitu pikir Edo geram.


γ€€


Wanita sialan itu Pa ? Cih, seumur hidup aku tidak sudi melihatnya lagi. Apa lagi untuk mencintainya seperti dulu, tidak akan pernah Pa......


γ€€


***************


γ€€


"Dani ?" Nia sengaja menyapa sosok lelaki muda yang dilihatnya terduduk diam persisi di sebelah pintu apartemennya.


γ€€


"Pagi nona ". Dani menunduk hormat saat memberi salam pada Nia.


γ€€


"Pagi juga, kamu Dani kan ?" Tanya Nia masih bertahan di anak tangga pertama apartemennya. Sebenarnya Nia tadi berencana mau naik ke kamarnya, tetapi tertunda sesaat karena melihat sosok Dani. Ternyata Nia penasaran dengan sosok pengawalnya yang sudah berdiri lebih dari satu jam di depan pintu apartemennya itu.


γ€€


"Benar nona , saya Dani ", jawab Dani masih sambil menunduk hormat.


γ€€


"Mulai sekarang kamu gak boleh berdiri di luar ya ! Kamu duduk di dalam, terserah mau di sebalah mana, yang penting tidak di luar !" Dani mengangkat wajahnya menatap ke arah Bayu, rekan seprofesinya itu yang juga mendapat tugas sama seperti dirinya. Bayu hanya diam, menatap Dani tanpa bergeming.


γ€€


"Baik nona ". Dani segera mengiyakan perintah Nia barusan.


γ€€


"Ya udah, kalian sarapan dulu gih ! Sambil nunggu saya ganti baju. Setelah ini kita ke kantornya ". Tanpa menunggu jawaban Bayu dan Dani, Nia segera melanjutkan langkahnya hendak menaiki anak tangga berikutnya menuju kamar.


γ€€


"Nona ". Bayu bersuara, yang mau tidak mau membuat Nia berhenti melangkah.


γ€€


"Maaf nona, hari ini nona tidak boleh kemanapun sampai tuan datang !" Nia terlihat tidak percaya.

__ADS_1


γ€€


"Kalau nona tidak percaya, nona boleh tanya Pakde dan Bibi ! Kami semua mendapat perintah yang sama nona ". Bayu seakan tahu isi kepala Nia saat ini.


γ€€


"Alasannya tidak boleh ?" Tanya Nia tidak senang.


γ€€


"Maaf nona untuk itu hanya tuan yang tahu ". Bayu mentap mata Nia, dirinya ingin menyakinkan calon isteri sang tuan Aisakha.


γ€€


"Bisa tolong panggilkan Bibi ke sini ?" Nia terlihat melipat kedua tanganya di depan dada. Menunggu Bayu yang berjalan cepat ke arah dapur untuk memanggilkan asisten rumah tangganya.


γ€€


"Apa benar Bi, saya di larang tuan keluar rumah ?" Padahal Bibi masih di ujung meja makan, masih beberapa meter jaraknya dari posisi Nia berdiri. Tetapi Nia sudah memberondongnya dengan pertanyaan. Sepertinya Nia memang penasaran tentang kebenaran ucapan Bayu padanya tadi.


γ€€


"Iya benar non, memang itu perintah tuan !" Bibi menyertakan anggukan kepalanya sebagai bentuk pembenaran atas pertanyaan Nia.


γ€€


"Kok gituh ?" Tanya Nia kembali.


γ€€


"Bibi kurang tahu non, tapi nggak ada salahnya si non turutinkan ?" Bibi tersenyum pada Nia.


γ€€


Nia menatap Bibi dalam, menatap pasrah dan akhirnya memilih menjawab iya. Nia pun kembali melanjutkan berjalan menaiki anak tangga satu demi satu menuju kamar tidurnya.Β Sudahlah........


Nia tidak mau mendebat keputusan Aisakha, sepertinya pagi ini Nia cukup sadar apa gerangan penyebab semua bisa seperti ini.


γ€€


γ€€


Nia mengulung rambutnya tinggi, menyanggul asal seluruh rambut hitamnya ke atas. "Baiklah...aku akan menganti seprai tempat tidur aja deh. Pengen pake seprai kasur warna ijo ahh..... ", senyum Nia karena telah menemukan kegiatan yang sepertinya cukup membuat dirinya senang.


γ€€


Bagai seorang petugas pembersih dan perapi perlengkapan khusus kamar, Nia terlihat sangat profesional. Tarik sana tarik sini, ulang sekali lagi. Tarik sana tarik sini, berikutnya giliran para bantal. Hal yang sama di lakukan Nia, tarik sana tadik sini, hingga....


γ€€


"Selesaiiiii ", Nia menjatuhkan dirinya di atas seprai berwarna hijau yang baru saja di pasangnya dengan sempurna.


γ€€


"Wangiiii ", Nia mengerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri sambil tertawa kecil, lucu sendiri.


γ€€


Cobaan apa ini...?


Ternyata Nia tidak menyadari kalau Aisakha sudah berdiri cukup lama di ambang pintu kamar Nia, memperhatikan Nia dengan semua gerak-geriknya, dengan rambut panjang yang di gulung asal, membentuk sanggul lucu dengan beberapa helai rambut yang terlepas ke sisi telinganya. Aisakha memandang leher Nia bagian belakang, putih, mulus dan jantung Aisakha berdebar keras. Beberapa kali jakunnya naik turun mendapati pemandang yang sangat indah itu.


γ€€


Ma, pliisss bujukin Paman dan Bibinya Nia ya Ma. Kasihan anakmu ini Ma, ini benar-benar cobaan berat Ma.


Aisakha masih sibuk menelan sulivannya sendiri,


Ya Tuhan,Β  kok bisa kamu secantik itu kamunya sayang ?

__ADS_1


Aisakha mengusap wajahnya.


γ€€


"Sepertinya nyaman sekali ?" Suara Aisakha di buatnya setenang mungkin, sekarang Aisakha sudah bisa mengendalikan dirinya.


γ€€


"Ehhh ", Nia langsung duduk secepat yang dia bisa, menoleh ke asal suara.


γ€€


"Masssss ". Mendadak Nia berdiri, menyambut kedatangan kekasih hati dengan suara riang dan senyum lebar di sudut bibirnya. Kepala Nia bergoyang-goyang mirip boneka di dassbord, sepertinya kedatangan Aisakha memang sudah di tunggu Nia


γ€€


"Tumben ?" Sebelah Aisakha naik ke atas. Aisakha terheran-heran melihat cara sang kekasih menyambutnya.


γ€€


Mendengar itu, serta merta Nia menghentikan langkahnya, wajah cantiknya langsung di buat secemberut mungkin, dengan memajukan bibirnya panjang ke depan. Mencebek khas seorang Nia. "Iiiiii...hhhhhhhhh ". Nia mengurungkan niatnya menyambut Aisakha, membalikkan badan dan berlalu, memilih mendudukkan bokongnya di sofa. Mendadak Nia kesal.


γ€€


Nahhh...loh?


Aisakha mengeleng heran dengan sikap sang kekasih yang bisa berubah drastis 180 derajat. Jelas-jelas tadi sangat terlihat pancaran bahagia, riang bagai anak kecil yang sukses menemukan mainan berharganya, jelas Aisakha melihat itu di mata cokelat indah sang pujaan hati,Β  lantas kenapa sekarang bisa berubah mencebek gituh ? Mengemaskan. Seperti itu kira-kira pikiran Aisakha.


γ€€


"Kok bibirnya di majuin gituh ? Mau goda Mas ya ?" Seulas senyum menghiasi wajah tampan Aisakha sambil meletakkan rambut Nia yang tidak patuh bergulung bersama dalam sanggul lucunya, kembali ke belakang telinganya.


γ€€


"Jangan pengang aku ", rajuk Nia menjauhkan badannya dari tangan kekar Aisakha yang sudah terduduk di sampingnya.


γ€€


"Loh..kok gituh sama calon suaminya ". Aisakha mendekatkan dirinya ke arah Nia yang ternyata sudah terpojok di ujung sofa. "Gak takut dosa ?"


γ€€


Nia hanya diam, bibir maju tampang kesal. Nia masih bertahan di mode mencebeknya.


γ€€


"Sayang, apa kamu tahu ? Aku sedari awal lihat kamu di kasur tadi, sudah susah menahan diri untuk tidak mendekati, menyentuhmu, menciummu. Dan sekarang, kamu malah memberi aku pemandangan indah dengan bibirmu itu. Apa kamu mau bibir manismu itu aku cium ?" Senyum jahil menghiasi wajah tampan Aisakha.


γ€€


"Bodo ", jawab Nia ketus tanpa mau memandang wajah Aisakha.


γ€€


"Oooo, nantang ya...pengen pembuktian ?" Aisakha mengelus pipi kiri Nia dengan ibu jarinya.


γ€€


Nia menatap Aisakha sesaat, hanya sesaat dan kemudian membuang muka malas.


γ€€


Astaga..mau mengujiku sayang...


Aisakha memegang dagu Nia, memaksa Nia menatap ke arah dirinya. Sekejap kemudian, bibir indah Nia sudah berada di dalam dekap mesra bibir tegas Aisakha. Lama, sangat lama. Aisakha benar-benar menikmati adegan tersebut, senyum puas terkembangnya di dalam hatinya.


Manis banget, gimana cara menyudahi ini.


Bagaimana mungkin aku bisa benar-benar kecanduan bibirmu sayang ?

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2