SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
37


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


γ€€


Bibi sudah menyusun rapi gelas berisi susu putih hangat, 2 piring makan berisi nasi dan lauk pauknya serta 2 gelas air putih lengkap dengan teko kaca sebagai tambahan jikalau air putih di dalam gelas tersebut di rasa kurang, tapat di atas meja kaca persis di depan Aisakha yang sedang duduk di sofa kamar Nia.


γ€€


Kalau di tanya apa yang ingin di lakukan Bibi saat ini, maka dengan suka ria Bibi akan menjawab kalau dirinya akan segera berjalan ke arah Nia, bibi ingin memeluk Nia dan memastikan majikan kecilnya itu baik-baik saja. Sejujurnya, meskipun mata kepalanya sudah jelas melihat Nia kembali dalam keadaan sehat dan selamat bersama Aisakha. Tetapi, tetap saja bagi Bibi masih belum sempurna kalau belum bisa berbicara langsung pada Nia.


γ€€


"Terima kasih Bi ", Aisakha berusaha membuat Bibi pergi meninggalkan kamar Nia. Tentu saja Aisakha tahu kalau si asisten rumah tangga Nia ini tidak berencana untuk segera berlalu dari kamar Nia, meninggalkan dirinya bersama Nia. Tetapi masalahnya, saat ini Aisakha sangat ingin segera bicara 4 mata bersama Nia tanpa ganguan siapapun.


γ€€


"Oo....iya tuan sama-sama ", jawab Bibi sambil memandangi Nia yang duduk di depan meja riasnya, Nia pun memberi bibi senyum terbaik untuk menenangkan hati wanita tua itu.


γ€€


"Bibi permisi ya non, tuan ". Bibi menunduk hormat. "Ada yang di perlukan lagi, panggil bibi ya tuan ". Bibi sekali lagi menatap wajah cantik Nia sebelum benar-benar pergi, turun kelantai satu kembali ke dapur.


γ€€


"Kemarilah ". Saat yakin bibi sudah jauh, Aisakha memanggil Nia tanpa berpaling menatap wajah Nia.


γ€€


Deg, deg, deg....


Jantung Nia berdegub kencang, entah mengapa Nia merasa sangat bersalah saat ini.


γ€€


Nia berjalan diam ke arah sofa tempat Aisakha duduk. Terlihat Aisakha duduk dengan nyamannya sambil memberi senyuman dari wajah tampannya itu pada Nia.


γ€€


"Minumlah susu hangat ini !" Aisakha menyerahkan gelas berisi susu hangat putih ke tangan Nia, di saat Nia sudah duduk persis di sebelahnya. "Minumlah !" Suara Aisakha saat Nia menatapnya sekilas.


γ€€


"Terima kasih Mas ", perlahan Nia mencoba menelan tegukan pertama susu hangatnya. Entah kenapa mendadak rasa susu putih itu tidak seenak biasanya saat berhasil melewati tengorokannya. Nia menghembuskan nafas dalam, dan...


γ€€


"Mas.....",


γ€€


"Nia.....",


γ€€


Mendadak sepasang kekasih ini berbicara dalam waktu yang sama. Nia merasa canggung, dalam hatinya benar-benar merasa bersalah.

__ADS_1


γ€€


"Bicaralah duluan !" Aisakha memperhatikan Nia meletakkan kembali gelas berisi susu putih hangat di tangannya ke atas meja.


γ€€


Ini saatnya, aku harus minta maaf. Aku begitu bodohnya sudah buat semua cemas dan Mas menjadi marah.


Nia..cepat jelaskan semua, agar kesalahpahaman ini segera berakhir !


γ€€


"Mas.... ", Nia memulai ceritanya dengan diawali menarik nafas panjang. "Mas pasti masih ingat ceritaku tentang para rekan seprofesiku yang sekaligus adalah sahabat baikku, termasuk Bowo. Diantara sahabatku, Bowo justru adalah sahabat yang paling peka padaku, seakan-akan dia tahu persis seluruh gerak-gerikku, bahkan melebihi Wulan, Resya dan Anita ". Mendadak Nia berhenti berbicara, Nia kembali menarik nafas panjang. Sepertinya oksigen di paru-parunya mulai berkurang.


γ€€


"Tapi belakangan ini Bowo berubah Mas, dia terlalu sensitif. Apa lagi saat yang lain sedang mengodaku, dia mendadak over protektif padaku. Membuat aku dan yang lainnya merasa heran, hingga tiba-tiba saat itu, Bowo memegang tanganku Mas ". Nia tertunduk diam sesaat, sementara Aisakha mengepalkan tangannya marah.


γ€€


Agggrrhhhhh.... Aisakha mendadak ingin kembali memukuli Bowo, amarah di hatinya menjadi bertambah, dia sedang cemburu.


γ€€


Perlahan Nia meletakkan tangannya tepat di atas pangkuannya, Nia pun lanjut bercerita. "Sejak saat itu aku merasa ada yang beda sama Bowo, dan dengan bantuan Damar, aku menjauhinya. Aku jaga jarak sama dia ". Nia menunduk menatap jari jemarinya yang tersusun di atas pangkuannya sendiri.


γ€€


"Hingga akhirnya Bowo berusaha menjelaskan semua keanehan sikapnya Mas. Katanya semua itu berhubungan dengan rahasiannya yang selama ini di sembunyikannya pada kami semua, pada aku dan yang lainnya ", Nia memandang Aisakha sesaat sebelum melanjutkan kembali semua ceritannya. Sebelum akhirnya Nia memilih menatap lurus ke depan, memandangi dinding kamarnya yang bercat putih.


γ€€


γ€€


"Dan Mas tahu akhirnya bukan ? Aku sampai ke Rumah Sakit itu ". Nia menautkan jemarinya yang ada di atas pangkuannya.


γ€€


"Aku takut Mas, aku bahkan berdoa sepenuh jiwa memohon pada Tuhan agar mengetuk hatimu. Aku sangat berharap kamu datang secepatnya menjemputku membawaku dari tempat yang menurutku cukup menyeramkan. Pikiranku kalut, aku bahkan sempat berpikir akan berakhir di Rumah Sakit itu ". Nia menelan sulivannya sendiri, ada pergerakan di tengorokannya. Aisakha melihat itu dan membuat rahangnya mengeras. Dia semakin marah saja.


γ€€


"Aku meratapi kebodohanku Mas dan aku selalu menyebut namamu dalam hatiku. Rasanya semua duniaku sudah berhenti saat itu saking takutnya aku ". Nia menarik nafas panjang sesaat. "Waktu berlalu, dan aku akhirnya tahu apa alasan Bowo membawaku ke sana. Aku akhirnya melihat langsung apa rahasia Bowo yang selama ini di tutupnya rapat dari kami, dari aku, Wulan, Resya danΒ  Anita ".


γ€€


"Sungguh kejam rasanya melihat kenyataan yang ada, melihat seorang Ibu terbaring lemah tidak berdaya. Begitu berharap maut segera menjemputnya Mas. Aku, aku melihat Bundanya Bowo, Mas. Terbaring di ranjang Rumah Sakit itu dengan inpus di tangan yang hanya berbentuk tulang dengan balutan kulit ". Nia mengeleng pelan.


γ€€


"Aku gak tega Mas, aku...sungguh gak tega. Aku langsung ingat Ibu ". Nia menutup wajanya dengan kedua tangannya. MengenaskaΒ  sekali, kasihan Bundanya Bowo, Mas ".


γ€€


γ€€


Dan cessshhhhhh....serasa ada sebongkah air es yang di siramkan tepat ke hati Aisakha. Mendadak, mendapati Nia begitu sedih, Aisakha langsung luluh. Hilang sudah semua amarahnya pada Bowo, lenyap sudah rasa cemburunya entah kemana.

__ADS_1


γ€€


Cepat Aisakha merangkul Nia, membawa kekasih hatinya itu masuk ke dalam pelukannya.


γ€€


"Maafkan aku, Mas.. aku mohon tolong maafkan kebodohanku ". Nia membenamkan wajahnya begitu dalam di dada bidang Aisakha. "Maafkan aku ", sekarang Aisakha merasa bahu Nia mulai bergoncang. Tahulah Aisakha kalau saat ini Nia benar-benar menyesal.


γ€€


"Aku tahu, kamu begitu baik Nia. Aku tahu, kamu begitu mudah jatuh iba pada siapapun. Hatimu tulus, kamu bagai malaikat tak bersayap ". Aisakha mengusap-usap punggung Nia.


γ€€


"Kamu tahu, di dalam duniaku tidak ada yang tidak aku berikan untukmu bukan ? Aku yakin kamu pasti masih ingat pada janjiku untukmu. Apa kamu tahu Nia, mengetahui kamu hilang dan aku tidak bisa menemukanmu, benar-benar membuat aku ketakutan. Rasanya duniaku sirna saat itu juga, aku merasa sebagai orang paling tidak berguna. Aku punya segalanya tapi aku tidak bisa menemukan kekasih hatiku.Β  Aku terpuruk dan aku tidak berdaya ". Aisakha merasa Nia mempererat pelukannya pada pinggangnya.


γ€€


"Nia, bukankah sudah pernah ku katakan. Jujurlah padaku, bukalah hatimu sepenuhnya padaku. Aku akan sabar menunggu kamu bisa mencintaiku sepenuhnya, aku akan sabar. Aku janji Nia ! Tapi tolong jangan sembunyikan apapun dariku, apa lagi sampai menghilang ! Tolong jangan ulangi lagi !". Aisakha mencium puncak kepala Nia lama.


γ€€


"Aku bahkan tidak segan melenyapkan Bowo saat tahu dia adalah orang yang telah membuat aku kehilanganmu. Aku akan dengan senang hati melenyapkan siapa saja yang berani membuat aku kehilangan kamu. Cukup sudah 3 tahun lamanya aku bagai orang bodoh mencari kamu ke sana kemari. Cukup Nia, aku tidak mau kehilangan kamu lagi walaupun sedetik saja ! Kamu milikku, belahan jiwaku, kamu segalanya bagiku ".


γ€€


"Maafkan aku Mas ". Betapa perih hati Nia mendengar semua isi hati Aisakha. Penyesalan tiada tara, memenuhi relung kalbu Nia.


γ€€


"Nia, apa pun itu, kedepannya jujurlah padaku ! Aku minta padamu sayang, jujurlah. Jangan simpan semua sendiri, jangan tanggung semua sendiri, jangan merahasiakan apapun lagi dariku. Ada aku, ada Aisakhamu di sisimu ". Aisakha melepas pelukannya sesaat dari Nia.


γ€€


Dengan tangan kanannya, Aisakha mengangkat dagu Nia, dirinya ingin agar Nia menatap mata birunya.


γ€€


"Berjanjilah padaku, ini adalah kali terakhir !" Aisakha menatap mata kiri dan kanan Nia silih berganti.Β  "Berjanjilah !"


γ€€


Nia menganguk pelan tepat di saat air matanya kembali jatuh di sudut matanya indahny. Sungguh menyesal, itulah perasan mendalam yang memenuhi hati wanita cantik ini saat melihat ada pancaran ketakutan dari mata biru itu. Nia merasa penyesalan terbesarnya saat tahu, ternyata cinta Aisakha begitu besarnya padanya, bahkan lebih besar dari cintanya sendiri pada Aisakha. Aisakha begitu tulus padanya, begitu memperdulikannya. Nia tidak bisa memberi perintah pada matanya agar berhenti menjatuhkan bulir-bulir penyesalannya. Sungguh Nia merasa tersentuh dengan kedalamam cinta lelaki tampan yang sedang menatap matanya itu.


γ€€


"Aku mencintaimu Syania ". Aisakha mengecup dalam kening Nia. "Berjanjilah ini kali terakhir kamu membuat aku begitu khawatir !"


γ€€


Nia menganguk cepat langsung memeluk Aisakha. Rasanya Nia mememukan titik kebahagiaanya bersama kekasih hatinya itu.


γ€€


"Sayang...akupun sangat mencintaimu ". Nia meletakkan kedua tangannya di bahu Aisakha, memeluk erat Aisakha dan tak ingin membaginya pada siapapun jua.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2