SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
41


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Pagi Bi...", sapa Nia tepat di saat Bibi sedang menata menu sarapan pagi di atas meja makan.


 


Cepat Bibi mengelap tangannya mengunakan serbet bersih di atas meja, hingga akhirnya Bibi dengan semangat berjalan ke arah Nia, memegang kedua bahu Nia sambil mengerakkan tangan tuanya mengusap-usap lengan Nia.


 


"Non baik-baik ajakan ?" Meskipun jelas Bib bisa melihat senyum di wajah segar Nia, tetapi tetap saja Bibi perlu mendengar langsung jawaban dari mulut Nia.


 


"Baik, Bibi lihatkan ". Nia mengerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sebagai bukti ucapannya.


 


"Syukurlah...syukurlah ". Sebentuk kelegaan besar terpancaran di wajah Bibi. "Kapok ya non !" Ucap Bibi serius setelah hatinya sudah sangat tenang dengan kepastian kondisi majikan kecilnya itu.


 


"Hehehehehehe ", Nia cenggegesan malu. "Maafin aku ya Bi ". Ucap Nia sangat tidak enak hati atas semua ulahnya semalam. Hilang di bawa Bowo dan sukses membuat semua orang menjadi sangat khawatir.


 


"Bibi, Pakde, kami cemas banget non. Kami khawatir sama non ". Bibi mengajak Nia duduk di meja makan, tepat di kursi yang di depannya sudah ada tatanan menu sarapan pagi buatannya untuk Nia.


 


"Lebih-lebih tuan tampan ". Bibi mengeleng pelan, Nia pun menjadi terdiam. "Bibi sampe gak tega lihatnya non. Panik, cemas, hingga putus asa. Ahhhh, benar-benar kasihan sekali ". Bibi menepuk pelan bahu Nia.


 


"Iya Bi..aku salah. Aku sadar semua perbuatanku itu salah ". Nia hanya bisa menyesali diri sekarang, menyesali kepolosannya yang gampang iba dengan air mata Bowo.


 


"Bibi sih nggak nyalahin si non sepenuhnya, karena Bibi tahu seperti apa lembutnya hati non. Hanya saja ", Bibi meletakkan tangan kanannya di rambut Nia, mengusap-gusap pelan sambil terus berbicara. "Hanya saja kalau boleh Bibi memberi sedikit nasehat pada non. Cobalah non lihat ke dalam hati tuan tampan, tuan itu benar-benar mencintai si non loh. Si non juga sudah setuju membuka hati buat tuankan, lantas kenapa harus ada yang disembunyikan ? Bukankah si non juga mencintai tuan ?" Nia menganguk cepat setelah mendengar semua penuturan Bibi padanya.


 


"Maafin aku Bi ", semua penuturan Bibi padanya sukses membuat Nia terpojok, semua tidak ada yang salah. Nia merasa sangat malu.


 


"Kebaikan sudah ada di hati non, sudah mendarah daging dalam aliran darah non. Itu tentu saja bagus, apa lagi zaman seperti sekarang ini, wanita dengan hati yang tulus seperti si non ini sudah langka Bibi temukan, tapi non ", bibi masih mengelus rambut Nia. "Sikap waspada itu tetap harus ada, wajib malah ! Silahkan si non mau bantu siapa saja, tapi mbok ya bilang jangan main rahasiaan segala. Terutama sama tuan tampan itu, tuan itu calon suami si non. Kebayangkah sama si non bagaimana perasaan tuan ? Gimana rasanya mendapati wanita yang dicintainya menyembunyikan sesuatu dari dia. Untuk ini bukan hal fatal, tapi andai semua berakhir buruk, apa si non tahu imbas dari semua ini bisa mengenai siapa saja ?" Bagai seorang Ibu yang sedang menasehati anak gadisnya, Bibi sedang mencoba mengajak Nia berbicara dari hati ke hati.


 


"Aku sungguh sangat menyesal Bi ". Nia menghembuskan nafas berat, hatinya menyadari semua nasehat bibi padanya barusan adalah benar, seketika mata hati Nia terbuka, rasa sesal Nia berkali-kali lipat rasanya.


 

__ADS_1


"Si non sudah sampaikan itu ke tuan ?" Tanya Bibi sambil tersenyum. Senang sekali rasa hati wanita tua ini bisa membuat majikan kecilnya menyadari semua kesalahannya.


 


"Sudah Bi, semalam aku sudah minta maaf ". Jawab Nia jujur.


 


"Bagususss...dan setelah ini kapok ya ", ucap Bibi sambil memegang bahu Nia.


 


"Iya ", jawab Nia sambil memegang tangan bibi yang ada di bahu kanannya. "Tidak akan ada hal serupa lagi ". Jawab Nia sungguh-sungguh.


 


"Ya udah..kalau gituh si non sarapan lagi ya. Nanti keburu dingin loh !"


 


"Makasih ya Bi ", Nia menarik piring saji berisi nasi goreng suwir ayam mendekat ke arahnya.


 


***************


 


Aisakha sedang duduk santai di teras taman belakang Villanya sambil membaca sebuah buku dengan di temani segelas jus jeruk segar. Aisakha sudah rapi dengan baju kaos panjang berwarna coklat gelap dan celana bahan berwarna hitam. Sungguh tampan lelaki bermata biru ini, wajahnya bagai pahatan tangan dewa, sempurna tanpa celah.


 


 


"Pagi Ma ", seperti biasa, satu kecupan hangat dihadiahkan Aisakha di pipi kanan sang Mama.


 


"Pagi nak ", Mama menyempatkan mengacak-acak rambut Aisakha sesaat.


 


"Maaaaaa ", protes Aisakha sambil tersenyum.


 


"Ahhh, kamu benar-benar sudah siap menikah ?" Tanya Mama sambil duduk di kursi taman tepat di sebelah Aisakha.


 


"Pasti Ma ", jawab Aisakha serius. "Mama tolong bantu aku menyakinkan keluarga Paman dan Bibi Nia ya Ma ".


 


"Tenang nak, Mama akan lakukan yang terbaik. Jangan ragukan kemampuan Mamamu ini ". Jawab Mama sambil mengerakkan kedua alis matanya.

__ADS_1


 


"Aku sudah tidak sabar Ma, rasanya sudah cukup aku melalui hari dalam kekhawatiran dan rasa tidak berdaya. Aku tidak mau kehilangan Nia lagi Ma ". Aisakha menghela nafas panjang.


 


"Mama mengerti nak...Mama sangat mengerti perasaanmu. Kamu memang mirip sama Papamu, apa kamu tahu Sakha, Papamu juga begitu mencintai Mama. Papa dulu juga maksa-maksa orang tuanya agar segera menikahkan Kami ". Ada tawa kecil di bibir Mama saat mengingat memori indah masa mudanya dulu.


 


"Oyaaaa, nah cerita ini belum pernah aku dengar Ma ". Wajah Aisakha berubah antusias.


 


"Iya nak..waktu Papa dan Mama sudah serius, kami sudah memiliki tanggal pernikahan malah. Tahu-tahu tanpa di duga, datang cobaan ". Mama memandang Aisakha sesaat. "Mantan kekasih Mama muncul lagi tepat 20 hari sebelum Mama dan Papa menikah ".


 


"Terus ?" Setelah melihat Mama menarik nafas dalam, Aisakha meminta agar Mama melanjutkan ceritanya.


 


"Antara Mama dan lelaki itu pernah terjadi kesalah pahaman yang mengakibatkan keluarga besar kami menjadi bermusuhan. Ternyata mendekati hari suci Mama dan Papa sebuah rahasia besar terbongkar. Kesalah pahaman selesai, kami hanyalah korban fitnah orang sirik yang tidak bertanggung jawab. Karena itu dia kembali lagi, meminta satu kesempatan untuk menebus semuanya ". Mama mengeleng mengingat kejadian di masa itu.


 


"Papamu tahu itu, Mama jujur menceritakan semua. Mama tidak mau kehilangan Papamu, nak dan Papa juga tidak mau berpisah dari Mama. Akhirnya Papa meminta bantuan kakek dan nenekmu untuk membujuk orang tua Mama, agar pernikahan kami dipercepat, dimajukan dari tanggal awal.  Dan hasilnya, Mama resmi dipersunting oleh Papamu ". Ada rona bahagia diakhir cerita Mama.


 


"Kisah yang sangat romantis Ma ", Aisakha ikut tersenyum mendengar akhir cerita Mama.


 


"Sama sepertimu, bakat romantismu itu turun dari Papa loh ", Mama mengusal-usap bahu Aisakha. Aisakha terlihat cukup bangga mendengar penuturan sang Mama.


 


"Ahhh, andai Papamu masih hidup nak. Dia pasti akan sangat bahagia melepasmu menikah bersama wanita yang kamu cintai ". Sekarang suara Mama berubah sedih.


 


"Papa pasti bahagia Ma di sana, Papa pasti bahagia melihat kita bahagia ". Ucap Aisakha sambil memegang erat jemari sang Mama.


 


"Sakha..berjanjilah sama Mama ! Setelah menikah nanti jadilah kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab, jaga keluargamu sepenuh jiwa nak dan sayangi isteri anakmu setulus hati ! Beri contoh sebagai ayah yang baik saat Tuhan mempercayakan kamu akan keturunan, didik dia menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan sesama, buat dia rendah hati dan santu, dan buat hatinya sebaik hati Nia ". Mendengar ucapan sang Mama, Aisakha mendekatkan kedua tangan Mama yang tadi di genggamnya ke arah bibirnya.


 


"Pasti Ma, Mama boleh pegang janjiku ". Aisakha terlihat sangat serius untuk kata-katanya barusan yang disusunya sebagai jawaban atas permintaan sang Mama padanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2