
πππππ
γ
Aisakha baru saja mengakhiri panggilan di handphonenya yang tadi sempat di hubungkannya kepada Pakde. Aisakha sengaja ingin tahu perkembangan terbaru tentang kado spesial pernikahannya kepada sang calon isteri tercinta. Seulas senyum terkembang di wajahnya, perasaan senang sedang mengelayut di relung hatinya.
γ
Kemudian Aisakha memilih berjalan ke arah jendela besar di sudut kamarnya. Memandangi sosok wanita pujaan hati yang sedang berjalan senang, bergerak bebas ke sana kemari diantara bunga-bunga indah, sambil bertelanjang kaki di atas rerumputan hijau.
γ
Wajahnya tampan Aisakha tergelak riang, dirinya bisa menebak kalau Nia sangat suka berlama-lama pada taman depan halaman rumah mewahnya itu. Sepertinya Nia senang menyentuh aneka kelopak bunga warna-warni yang kebetulan sedang bermekaran semua. Suara kekeh kecil terdengar di bibir Aisakha, mata birunya terus saja mengikuti langka kaki tanpa alas itu ke bunga mawar warna putih.
γ
"Ketemu bunga favorit ", guman Aisakha pelan.
γ
"Lantas kalau Nia ketemu bunga favoritnya, kamu jadi cemburu ?" Suara sang Mama persis di depan pintu kamar Aisakha.
γ
"Pagi Ma ", Aisakha tersenyum pada sang Mama.
γ
"Apa yang membuatmu merajuk dan sibuk berkurung di dalam kamar pagi ini ?" Tanya Mama sambil mendekat ke arah Aisakha.
γ
Aisakhapun mengecup pipi kanan sang Mama. Hadiah sayangnya yang setiap pagi selalu di berikannya kepada wanita yang telah banyak berkorban dalam hidupnya itu.
γ
"Apa yang menganggu pikiranmu nakΒ ?" Tanya Mama lembut penuh kasih.
γ
"Ma, apakah Nia akan meninggalkanku saat lelaki dari masa lalunya datang kembali ?" Bukan menjawab pertanyaan sang Mama, Aisakha malah balik bertanya.
γ
"Berarti kamu meragukan kekuatan cinta kalian dong ?" Sambil menatap kedua mata Aisakha, Mama malah balik bertanya.
γ
"Aku takut Ma, aku takut Nia akan meninggalkanku ". Tahulah Mama kalau anak semata wayangnya itu sangat-sangat tulus mencintai Nia.
γ
Mama berdiri di depan Aisakha yang sedang menyandarkan bahunya ke arah kaca sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.
γ
"Sakha, Nia punya masa lalu. Sama sepertimu nak. Tapi itukan masa lalu ". Aisakha terlihat sedang memandangi Nia yang sedang tertawa lepas, entah karena apa di sekitar koleksi anggrek langka milik sang Mama.
__ADS_1
γ
"Ma, tidak bisakah pernikahan kami di majukan minggu depan ?" Tanya Aisakha kemudian.
γ
"Nak.....", suara Mama terdengar menenangkan. "Untuk itu, maaf ya. kita harus menghormati keluarga Nia ! Kamu tahukan gimana dramanya Mama meminta tanggal pernikahan kalian di majukan pada Paman dan Bibi Nia kemaren itu ?"
γ
Masih dengan mata terus mengawasi kekasihnya yang sangat asyik berjalan tanpa bertelanjang kaki di halaman depan rumah megahnya, Aisakha mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Mama padanya barusan.
γ
"Nia punya keluarga Ka, meskipun itu bukan Ayah dan Ibu kandungnya, tetapi Nia punya wali sah. Kebetulan kondisi walinya itu baru saja mendapat musibah. Untuk musibah ini,Β kamu pasti sangat tahu jalan ceritanya !" Aisakha memandang sesaat pada sang Mama.
γ
"Mereka juga punya hak atas kebahagian Nia, nak ! Mereka selama ini yang menjaga kekasihmu itu dan satu hal lagi, Nia juga ingin pernikahannya bersamamu nanti membuat keluarga besarnya bahagia. Jadi ", Mama meletakkan tangannya di lengan Aisakha.
γ
"Kita tidak boleh egois ! Kita juga harus menghargai keinginan keluarga Nia ! Kalau mereka mauΒ 3 minggu lagi, maka kamu harus bersabar !" Ucap Mama sambil mengusap-usap lengan Aisakha.
γ
"Nia tidak akan meninggalkanmu, percayalah pada Mama ! Meskipun lelaki di masa lalunya akan muncul kembali di kehidupannya sekarang, tapi percayalah. Lelaki itu hanya masa lalunya saja. Kamu sendiri dengarkan gimana lantangnya Nia bilang dia mencintaimu, dan hanya kamu seorang pemilik hatinya ? Jadi jangan khawatirkan masa lalunya nak, sebab kamu adalah sosok di dalam masa depannyaΒ !" Ucap Mama sambil terus mengusap-usap lengan Aisakha.
γ
γ
Sementara itu...
γ
"Nona...", panggil Lita pada Nia yang terlihat tidak bisa diam diantara bunga-bunga yang bermekaran. Lita bahkan mengeleng heran sendiri melihat majikan barunya itu bisa sebegitu senangnya, hanya dengan berjalan tanpa alas kaki di atas rumput rapi dan bunga-bunga indah. Dalam hati Lita diam-diam mengagumi kepolosan Nia. Lita takjub, wanita yang dirinya tahu sebentar lagi akan menjadi nyonya muda rumah megah bak istana itu, ternyata adalah sosok wanita cantik yang bersahaja, lembut dan santun, bahkan kepada dirinya yang hanya seorang pelayan.
γ
"Iya, kenapa Lita ?" Nia berdiri tegak dan sedikit mengerakkan kepalanya mengarah ke Lita.
γ
"Sepertinya tuan memperhatikan nona ", tunjuk Lita ke arah jendela kamar Aisakha.
γ
"Oya ?" Tanya Nia sambil langsung melihat ke arah telunjuk Lita.
γ
"Iya, benar Lita ", suara riang Nia.
γ
"Sayanggggggggg ". Nia berteriak sekuat tenaga memanggil Aisakha yang bisa di bayangkan tidak di dengar lelaki itu. Mungkin karena jauhnya jarak halaman depan dan lantai 2 kamar Aisakha, di tambah tebalnya kaca jendela, hingga Aisakha hanya tahu kalau saat ini kedua tangan Nia sedang melambai tinggi ke arahnya.
__ADS_1
γ
Tetapi tidak bagi Lita, Pengawal Nia yang mengekori langkahnya dan pengawal yang berjaga di gerbang kediaman sang tuan. Mereka bisa mendengar betapa lantangnya teriakan calon nyonya muda mereka itu memanggil sang tuan. Diam-diam di dalam hati para pekerja Aisakha ini, mereka sedang berdoa. Mendoakan sang tuan akan selalu berbahagia bersama wanita cantik yang terlihat sangat tulus mencintai tuan mereka.
γ
"Nia sungguh mengemaskan ya Ma ?" Tanya Aisakha pada Mama sambil membalas lambaian Nia si bawah sana.
γ
"Besok kira-kira cucu-cucu Mama mirip kamu atau Nia ya Ka ?" Tanya Mama sambil tersenyum memghayal. Entah kenapa wanita paruh baya ini mendadak merasa sangat penasaran.
γ
"Tenang aja Ma, aku akan usahakan ada perpaduan antara Bapak dan Ibunya ". Jawab Aisakha penuh keyakinan.
γ
"Hahahaha, Mama gimana kalian sajalah nak, yang penting rumah ini bisa rame sama cucu-cucu Mama !" Tawa Mama saat berjalan meninggalkan kamar Aiskaha.
γ
"Sakha...Mama hampir lupa ". Tiba-tiba Mama menghentikan langkah kakinya.
γ
"Apa Ma ?" Tanya Aisakha cepat.
γ
"Nanti sahabat Mama mau main ke sini, sama suami dan anaknya. Mereka mau ketemu Nia, kayaknya mereka penasaran nak waktu tahu kalau Mama sebentar lagi akan punya menantu ", jelas Mama bangga.
γ
"Nanti temani Nia ya nak !" Pinta Mama yang segera dianggukkan Aisakha tepat di saat Mama akan melanjutkan langkah kakinya meninggalkan dirinya yang sedang sibuk membalas lambaian tangan Nia di bawah sana.
γ
γ
***************
γ
"Wah..kok yang ukuran gedenya, kok udah habis ya Pa ? Padahal inikan masih pagi ?" Toni hanya menguping dialog sang Mama yang sedang curhat pada sang Papa tentang kekecewaannya tidak bisa membelikan cake kesukaan sahabatnya yang akan mereka kunjungi, dengan ukuran yang besar. Seperti yang biasa dibawanya saat bertandang kerumah sahabatnya itu.
γ
"Nggak masalah Ma, kan bisa kita akali dengan membeli ukuran kecil ini lebih banyak ". Jawab Papa sambil menunjuk 3 loyang cake yang terpajang di etalase toko kue tersebut.
γ
"Aaaaa...Iya, ya...Pa, kok nggak ke pikir sama Mama. Ya udah, Mama borong aja deh ketiganya. Siapa tahu calon menantu Nata suka juga ". Senyum antusia tergambar di wajah sang Mama yang membuat Toni juga ikut tersenyum.
γ
γ
__ADS_1