
🌈🌈🌈🌈🌈
Sudah satu bulan usia pernikahan Nia dan Aisakha, bukan usia yang masuk angka sakti dan teruji tentang ketahanan akan goyahan badai dalam berumah tangga. Tetapi, setidaknya mereka berdua sama-sama giat dan tabah dalam menyatakan perasaan terdalam satu sama lain. Hingga kebahagiaan akan selalu ada bersama pasangan muda ini.
Pagi ini Aisakha sudah rapi, kemeja biru muda dengan paduan celana bahan hitam pekat telah lekat di tubuh sempurnanya. Tinggal dasi dan jas saja lagi, untuk bagian ini sudah menjadi rutinitas sang isteri. Nia sangat telaten menyelesaikan bagian akhir tersebut.
Aisakha berjalan keluar dari pintu gandeng besar tempat seluruh pakaiannya dan Nia tertata rapi. Aisakha mencari Nia, dirinya tahu kalau Nia ada di dalam kamar mereka, tetapi entah di mana persisnya.
“Nia ?” Aisakha menemukan keberadaan sang isteri, sedang terduduk di ranjang dengan tangan kanan menggenggam sesuatu. Nia diam, dia tidak menyadari kedatangan Aisakha kearahnya.
“Nia.....? Isteriku “. Sekali lagi Aisakha memanggil Nia. Dan Nia tetap terdiam, tertunduk dengan pandang kosong.
“Nia....”, Aisakha duduk di sisi kiri Nia, menggenggam tangan kiri Nia. Nia sedikit terkejut.
“kenapa ? Kok suamimu ini panggil, kamu hanya diam ? Apa yang kamu lamunkan ?” Aisakha membelai punggung tangan Nia.
“aku....”, Nia diam, ragu untuk mengungkapkan.
“Apa ?” Aisakha berusaha membujuk.
“Kalau aku tidak bisa menjadi isteri yang sempurna buat kamu, apakah kamu akan meninggalkan aku ?” Tanya Nia sambil tertunduk.
“Ada apa ini ? Kenapa mendadak bertanya seperti itu ?” Aisakha heran.
“Kamu akan berhenti mencintai aku ? Kamu akan mencari wanita lain ? Kamu akan meninggalkan aku kan ?” Nia masih tertunduk. “Aku akan kehilangan kamu ?”
“Pertanyaan yang kamu ajukan itu, sebenarnya kamu tahukan jawabannya semua ?” Aisakha mengangkat dagu Nia agar menatap matanya. Aisakha tersenyum. “Ada apa ini ? Jelaskan padaku !”
“Maafkan aku “, suara Nia lirih sambil menatap mata Aisakha silih berganti.
“Untuk apa aku harus memaafkan isteriku tercinta ini ?” Aisakha berbicara lembut. “Apa untuk sesuatu yang ada dalam genggaman tangan kananmu itu ?”
Nia hanya mampu mengerakkan kepalanya membentuk gerakan mengangguk untuk semua jawaban pertanyaan Aisakha barusan.
“Boleh aku melihatnya ?” Tanya Aisakha masih dengan lembut. Nia tidak menolak, tetapi tidak juga mengiyakan. Aisakha pun menyimpulkan kalau itu berarti Nia memberi izin padanya.
Perlahan Aisakha menjangkau tangan kanan Nia, membuka satu persatu jemari lentik yang terkepal kuat itu.
Apa ini ? Batin Aisakha bingung. Seperti bungkusan sesuatu, tapi kecil. Aisakha heran dan sibuk memperhatikan.
Eh, tunggu ! Apa ini pembungkus itu ? Dalam hatinya Aisakha mengingat sesuatu. Aisakha pernah menemukan benda yang mirip pembungkus sesuatu itu di kamar Nia dulu, di kotak sampahnya. Semasa Nia dirinya dan Nia belum boleh sekamar setelah menikah. Sesuai persyaratan keluarga Nia.
__ADS_1
“Nia, kamu lagi dapet ya ?” terlalu penasaran, Aisakha nekat bertanya.
Nia kembali tertunduk, Aisakha tidak tahu efek pertanyaannya tadi membuat hati Nia sangat iba.
“Apa itu yang membuatmu mengajukan pertanyaan aneh tadi ?” Tanya Aisakha sambil mengingat tanggal persisi dirinya menemukan benda yang sama. Sedang Nia, tetap hanya bisa diam.
“Nia, apa yang kamu khawatirkan ?” Aisakha kembali mengangkat dagu Nia agar menatap mata birunya. “Kita baru satu bulan menikah. Bukankan hal wajar kalau untuk saat ini kita belum langsung dapat momongan ? Di luaran sana malah ada yang sampe tahunan atau puluhan tahun malah. Sedang kita, baru masuk satu bulan loh isteriku !”
“Bagaimana, bagaimana kalau aku tidak bisa memberi kamu anak ? Aku takut, apa kamu tahu itu ?” Nia mulai menjatuhkan air matanya. Hatinya sudah mau meledak, pengaruh masa datang bulan dan rasa ketakutan, membuat Nia sangat bersedih.
“lantas bagaimana kalau pertanyaannya di balik, apa aku masih bisa memiliki kamu ? Apa kamu tidak akan pergi dari hidupku dan mencari lelaki lain ?” Aisakha sangat tenang, tersenyum dan terus berbicara lembut pada Nia.
“TIDAK AKAN !” Jawab Nia cepat. Kepalanya menggeleng keras.
“Aku sudah terikat padamu cintamu, jadi mana mungkin aku bisa pergi darimu ! Sekalipun kamu usir, aku akan selalu bersamamu. Hanya Tuhan yang bisa membuat aku pergi dari sisimu “. Aisakha menarik Nia masuk dalam pelukannya.
“Bersabarlah, ini baru satu bulan. Belumlah apa-apa, jika dibandingkan dengan waktu tahunan Papa dan Mamaku dulu, saat mereka menunggu kehadiran aku dalam rumah tangga mereka. Kamu ingat ceritaku dulu ? Bahkan Alika saja dalam bulan pertama pernikahannya dengan Mas Pandu tidak langsung mendapatkan Alex tampanmu itukan ?” Aisakha bertanya sambil mengusap-usap punggung Nia.
“Jadi itu hal biasa Nia. Kita harus berusaha dan bersabar, ikhlas dengan ketetapan-Nya ! Jangan lupa, kita harus yakin bahwa suatu hari nanti Yang Maha Kuasa pasti memberi kita momongan ! Mungkin bulan depan “. Aisakha merasa Nia mencoba memberi ruang di antara pelukan mereka.
“Dan kalau tidak juga ?” Terlihat Nia masih saja khawatir.
“Janji ?” Nia meminta kepastian.
“Kan aku sudah bilang, apapun untuk isteriku tercinta “. Aisakha kembali tersenyum.
“Dan janji jangan tinggalkan aku ?" Nia masih belum percaya sepenuhnya.
“Tidak akan, sampai nafasku yang pergi meninggalkan ragaku !” Aisakha mendekatkan wajahnya pada Nia.
“Aku begitu mencintaimu Nia “, ucap Aisakha sebelum menyatukan kedua bibir mereka.
"Lagi pula, lihat ada hikmak di balik semua ini ". Aisakha sudah melepaskan bibirnya dari bibir manis Nia.
"Apa ?" Nia terlihat sudah tenang.
"Itu artinya Tuhan kasih aku kode ". Aisakha diam sesaat, menatap mata Nia yang bingung. "Kode supaya meningkatkan kadar gempuran aku ". Ucap Aisakha mengoda. "Pagi, siang, malam. Emm, istirahat sejenak ! Kemudian lanjut menjelang subuh. Gimana ?"
Nia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, perkataan Aisakha barusan sukses membuat dirinya sangat malu.
__ADS_1
***************
Saat kegalauan Nia dengan jadwal datang bulannya yang sekaligus pemupus harapannya untuk momongan pada bulan ini, di saat itu pula Kemala di sebuah kamar rawatan Rumah Sakit di Kota Bengkulu, sedang terlihat tekun mengelap wajah Edo dengan sebuah handuk kecil dengan air hangat.
Telaten dan penuh cinta, Kemala bahkan sambil tersenyum dalam setiap gerakannya.
Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa
Senandung Kemala sambil terus mengerakkan handuk kecil di tangannya.
Hingga....
“Selesai “. Suara riang Kemala. Matanya menatap wajah Edo yang memucat dengan mata terpejam.
Cup, kecupan perlahan di kening Edo.
“Kamu sudah tampan lagi “. Puji Kemala pada sang suami yang hanya tertidur diam dengan banyak alat kesehatan mengelilingi tubuhnya.
Kemala menjauhkan baskom berisi air hangat yang di pakainya tadi untuk mengelap wajah Edo, kemudian terduduk diam di kursinya persis di sebelah ranjang Edo. Sudah sangat lama Edo terbaring koma dan Kemala tetap setia menemani Edo, menjaganya dan melimpahkan Edo kasih sayang, meskipun Edo hanya tertidur diam. Kemala tidak akan beranjak darinya.
“Do... “, Kemala memegang tangan Edo.
“Sepertinya anak ini juga ikut sedih lihat kamu masih belum bangun. Kalau kemaren-kemaren aku bisa muntah sampe isi perutku habis dan aku menjadi lelah. Tetapi, semenjak aku di sini kamu bisa lihatkan, aku hanya muntah beberapa kali saja ? Sepertinya dia sedih lihat Papanya hanya tidur saja “. Kemala mencoba mengajak Edo berbicara.
“Do... “. Kemala membelai punggung tangan Edo. “Cepatlah sehat ! Agar kamu bisa segera lepas dari aku !”
“Nanti kalau kamu sudah sehat, aku akan mengajukan surat perceraian ! Aku akan melepaskan kamu untuk mencari cinta yang baru. Aku tahu, aku dan kamu tidak akan bisa bersama. Meskipun aku mencintai kamu, tetapi kamu tidak sedikitpun memiliki rasa padaku. Jadi, kalau kamu sudah sehat, kita pisah saja ! Kamu carilah wanita yang bisa membuat kamu bahagia !” Kemala mencoba tersenyum.
“Aku tidak akan menghalangi kebahagiaan kamu Do ! Kamu layak bahagia. Seperti aku sekarang, meskipun aku tidak kamu cintai, tetapi di dalam sini “. Kemala meletakkan tangan Edo di perutnya. “Ada nyawa berharga yang berasal dari dirimu, dan aku mencintai dia. Aku akan hidup dengannya, aku akan menyayangi dia sepenuh jiwa. Akan memberikan yang terbaik untuknya “.
“Kamu tidak usah perdulikan kami, setelah kita cerai nanti aku dan dia tidak akan menghubungi kamu. Aku janji !” Kemala tersenyum pada wajah pucat Edo.
“Bisa bersamamu seperti ini saja aku sudah bahagia, bisa merawatmu seperti ini saja aku sangat bahagia. Itu sudah cukup buatku !” Kemala meletakkan tangannya di pipi kana Edo.
“Aku akan mengajukan cerai saat kamu sudah sangat sehat nanti, jadi bangunlah ! Agar kamu segera bisa pisah dariku !”
__ADS_1