
Berita Duka (3)
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Bagaimana Pak?". Tanya Bi Kartik pad Pakde, suaminya.
 
"Sangat sedih Bu, sampai-sampai si non menangis tanpa mampu mengeluarkan isakan. Air matanya terus jatuh, si non sangat cemas dan takut Bu". Pakde berusaha menjelaskan kondisi Nia berdasarkan sudut pandangnya.
 
"Ya Tuhan, kasihan si non, Pak. Ibu enggak tega, hiks, hikss, hikss". Bibi mulai menangis.
 
"Sudah, sudah. Ibu jangan nangis, kita semua harus kuat. Kita harus memberi kekuatan pada non dan keyakinan pada non kalau Nyonya Ros pasti sehat seperti sedia kala". Pakde berusaha menenangkan istrinya yang mulai menangis dan terus menangis.
 
"Andai tuan tampan ada di sini Pak". Suara lirih Bibi berandai-andai.
 
"Apa Bapak kasih tau Bu?" Pakde baru ingat kalau Aisakha belum tahu tentang berita Bibi Ros.
 
"Menurut Ibu iya deh Pak, mana tau si tuan bisa segera pulang. Kasihan si non, Pak". Ujar Bibi sambil membersihkan sisa air mata di pipinya.
 
"Tapi apa tuan enggak sibuk Bu? Nanti malah ganggu?". Pakde cukup ragu.
 
"Kan tuan sendiri yang bilang, apa pun dan kapan pun kita boleh menghubunginya tentang non. Pak, bilang aja, terus terang, lalu minta segera ke sini. Ya Pak". Suara bermohon Bibi pada Pakde.
 
"Ya udah kita coba ya Bu, sekarang tolong Bapak, cari nomor tuan di hape Bapak kemudian spekerkan supaya Bapak mudah bicara sambil bawa mobil". Pakde pun memberikan handphonenya pada Bibi.
__ADS_1
 
Segera, Bibi mencari nomor Aisakha dan melakukan panggilan padanya. Sekali, nada sambung berlalu dan sama sekali tidak ada respon dari Aisakha. Bibi bersabar melanjutkan ke panggilan kedua, menunggu hingga akhirnya sambungan telepon di terima.
 
"Ya hallo". Jawab Aisakha di ujung telepon.
 
"Tuan, maaf saya menggangu". Ucap Pakde begitu suara Aisakh terdengar jelas.
 
"Tidak, sama sekali tidak masalah. Ada apa Pakde?"Â Tanya Aisakha yang mulai cemas.
 
Ada apa ya?
 
"Tuan, Nyonya Ros mengalami kecelakaan, beliau menjadi korban tabrak lari". Pakde masih berbicara sambil tangan terus mengemudikan laju mobil kearah Rumah Sakit.
 
 
"Menurut non Alika, Nyonya tadi pamit hendak ke toko bangunan den Pandu, suami non Alika, tuan. Nyonya berangkat dengan menggunakan motor kesayangannya seperti biasa. Tapi baru beberapa meter dari rumah, menurut saksi mata ada mobil pickup dengan kecepatan tinggi melaju kearah Nyonya Ros. Tabrakan tidak bisa dielakkkan, mobil menabrak Nyonya dengan keras. Saking kerasnya, menurut saksi mata seperti ada demtuman keras dan Nyonya tergeletak bersimbah darah". Semua yang Pakde tahu telah diceritakannya pada Aisakha.
 
"Ya Tuhan, malangnya Bibi Ros". Aisakha tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Lantas bagaimana keadaan Bibi sekarang".
 
"Kritis tuan". Hanya itu jawaban yang bisa Pakde berikan.
 
"Pelaku?" Aisakha masih bertanya.
 
"Lari tuan, tapi ada saksi yang sempat lihat plat mobilnya dan sudah dilaporkan ke Kepolisian". Jelas Pakde.
__ADS_1
 
Aisakha geram, mengepalkan tangannya. Marah dan tidak senang, andai saja dia bisa bertemu si pelaku tabrak lari itu. Mungkin bisa dipastikan, kalau pelaku penabrakan Bibi Ros tidak akan sempat melihat matahari esok.
 
"Saya akan segera datang". Aisakha kembali berbicara.
 
"Tolonglah segera tuan". Pakde bermohon pada Aisakha. "Kasihan si non, dia sangat ketakutan. Saat saya menjemputnya tadi, non sangat bersedih. Saking sedihnya si non menangis tanpa bersuara dan air matanya telah membasahi wajah non hingga membuat matanya memerah. Tapi, tapi setelah itu tuan. Mendadak non menghentikan tangisnya, mencoba kuat walaupun sangat sedih dan cemas. Tuan, si non butuh tuan, saya mohon segeralah datang". Pakde kembali bermohon pada Aisakha. Pakde sangat tahu bagaimana keadaan Nia saat ini, Pakde yakin keberadaan Aisakha pasti akan membuat Nia kuat.
 
"Iya, iya, saya akan segera berangkat. Paling lama tiga jam lagi, saya akan sampai. Tolong jaga Nia, tolong jaga Nia sebaik mungkin sampai saya datang". Terdengar suara iba Aisakha diujung telepon.
 
"Pasti, tuan tidak perlu kawatir. Saya dan istri akan menjaga non, sekarang non sama den Bowo, teman kerjanya tuan, di mobil tuan. Tadi Profesor menyuruh den Bowo mendampingi non ke Rumah Sakit". Jawab Pakde kemudian.
 
Bowo? Lagi-lagi laki-laki ini....
 
"Baiklah, terima kasih dan tolong kabari saya terus. Saya akan segera berangkat". Ujar Aisakha.
 
Pakde dan Bi Kartik sama-sama menganggukan kepala mereka, seakan-akan Aisakha dapat melihat respon yang mereka berikan. Mungkin karena sangat berharap agar Aisakha segera tiba, jadi tanpa mereka sadari mereka mengiyakan jawaban Aisakha dengan anggukan kepala.
 
"Kristo, hubungi oteritar bandara. Minta izin untuk melakukan penerbangan ke Bengkulu satu jam lagi. Kemudian 2 rapat dan satu meeting yang harus dilaksanakan malam ini, segera laksanakan sekarang. Hubungi pihak terkait, katakan waktu mereka hanya satu jam. Kalau mereka tidak sanggup, terserah saja mau lanjut kerja sama atau tidak". Perintah Aisakha pada Kristo, sang sekertaris.
 
Kristo yang tadi mencuri dengar telepon antara majikannya dan si penelepon dapat menyimpulkan, telah terjadi hal buruk terhadap Bibi dari Nia. Maka, tanpa perlu diperintahkan berkali-kali Kristo langsung mengerjakan semua yang telah di minta Aisakha padanya.
 
 
 
__ADS_1