SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
126


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


“Papa istirahatlah “. Kemala menyentuh bahu Papa mertuanya. “Biar aku yang jaga “.


 


“Mala, kamu itu yang harus banyak istirahat. Kamu itu sedang hamil ! Kalau Papa ini baik-baik saja, sana kamu tidur !” perintah Papa mertua Kemala sambil menepuk-nepuk pelan tangan Kemala yang masih bertahan di bahunya. “Cucu Papa perlu istirahat Mala !”


 


“Tapi cucu Papa ini mau sama Papanya dulu, katanya “. Senyum Kemala memandangi wajah pucat Edo.


 


Aku ingin memanfaatkan waktu kami yang tersisa untuk bersama Edo, Pa. Batin Kemala.


 


“Oooo, begitu ya cucu kakek !” Papa mertua Kemala tersenyum memandangi perut rata kemala. “Ya sudah, sini “. Papa berdiri, mempersilahkan Kemala duduk. “Kakek mau meluruskan kaki dulu. Kamu ajak Papamu cerita. Supaya dia cepat sadar !”


 


Papa mertua Kemala ini berlalu, pindah ke sofa yang terlihat cukup nyaman untuk tubuh tuanya. Memberi Kemala ruang yang banyak untuk bersama Edo.


 


“Maaf ya.... aku ganggu kamu sama Papa “. Kemala memegang tangan Edo. “Aku Cuma mau memanfaatkan sisa waktu kita saja. Perasaanku mengatakan sebentar lagi kamu akan pulih ! Dan karena aku sudah janji akan bercerai denganmu setelah kamu benar-benar sehat, jadi biarkan aku agak egois saat ini “.

__ADS_1


 


“Do... “, Kemala merasa ada pergerakan jemari Edo di dalam genggaman tangannya.


 


“Kenapa ? Enggak suka aku pegang ya ? Ah... aku lupa, kamu benci aku ya ?” senyum iba menghiasi wajah Kemala. “Kalau begitu segera sadar, biar kita segera cerai. Dan selamanya tanganku akan melepasmu “. Kemala sedikit kaget, gerakan jemari Edo lebih cepat dari yang tadi.


 


“Wah.. nak, lihat ! Papamu udah nggak sabar pengen jauh-jauh dari kita “. Kemala menatap perutnya. “Begitu besar rasa tidak suka Papamu padaku. Namun, kamu enggak boleh benci Papamu ya ! Ini semua salah aku, aku yang paksa masuk dalam hidupnya. Kamu tidak boleh benci Papamu, kamu dengar aku !”


 


Kemala berdiri, dirinya sangat kaget. Tiba-tiba saja, monitor di sisi Edo berbunyi ribut. Saking ributnya, sang Papa mertua hingga berlari ke arahnya.


“Ada apa Mala ?”


 


 


“Papa, papa panggil dokter dulu ya ! Kamu jaga Edo ya !” Perintah Papa mertua yang cepat di iyakan oleh Kemala.


 


“Do...Edo, buka matamu ! Ayolah Do ! Kamu mau aku pergikan ? Ayo sadar, sadar Do !” Kemala sangat yakin kalau penyebab berbagai gerakan Edo tadi, hingga bunyi ribut layar monitor di sisi Edo karena suaminya itu memang sangat tidak suka dengan keberadaan dirinya.


 


“Bangun aku bilang ! Apa kau pikir aku dan anak ini akan suka terus ada di sini ?” Kemala mulai menangis. “Bangun, dan kau langsung bisa bebas dari kami. Huaaaaa...”, tangis Kemala mengeras.

__ADS_1


 


Edo mengerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Matanya bergerak-gerak, jemarinya juga ikut bergerak. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Edo, yang Edo sedang berusaha keras untuk kembali sadar.


 


“Tolong, tolong Ibu menjauh dulu. Kami akan memeriksa !” perintah dokter yang entah kapan telah berdiri di sisi Kemala. Memaksa Kemala memberi ruang padanya dan dokter itu pun segera bertindak.


 


Periksa sana periksa ini, Kemala hanya memperhatikan dalam derai air mata.


 


Ayo sadarlah... lihat aku, Do ! Wanita yang tidak kau cintai ini ! Ayoooo... teriak batin Kemala sedih.


 


“Bangun ! Bangun Do, kau mau bahagiakan ? Maka, bangun, sadarlah !” Kemala setengah berteriak dalam isak tangisnya. Membuat sang Papa mertua sangat kasihan pada dirinya.


 


“Sabar, Mala harus sabar !” Bujuk sang Papa mertua.


 


Hingga...


“Sakit...”, suara pelan Edo membuat seisi kamar rawat menjadi haru.


 

__ADS_1


 


__ADS_2