SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 127


__ADS_3

Pertemuan Yang Diinginkan Mama


🌈🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Sudah lebih lima menit Julia duduk manis menunggu kedatangan Aisakha, yang konon berdasarkan cerita sang Mama, yang namanya Aisakha ini adalah lelaki tampan yang sukses merajai segala sektor dunia bisnis. Sedikit penasaran, tetapi lebih banyak sekedar ingin pembuktian. Itulah yang tengah di rasa Julia saat mendengar kisah Aisakha dari kedua orang tuanya.


γ€€


Julia adalah wanita cantik dan mandiri dengan latar belakang pendidikan Manajemen dari Universitas terkenal di Belanda bahkan pendidikan Pasca Sarjananya pun diselesaikannya di Belanda. Di Belanda Julia menjalankan cabang perusahaan sang papa dengan sangat sempurna. Wanita cerdas satu ini masuk dalam jajaran successful and hot women pada sebuah majalah terkemuka di negeri kincir angin tersebut. Dari silsilah keluarga bisa di bilang wanita dengan tubuh sintal nan seksi ini tidak bisa dikategorikan sebagai orang biasa. Sang papa sukses di dunia politik dan sang Mama, wanita paruh baya yang memiliki komunitas sendiri dalam group sosialita para isteri-isteri lelaki tajir.


γ€€


Lantas, kenapa wanita yang nyaris sempurna ini mau di paksa duduk menunggu ke datangan Aisakha di sebuah restoran megah oleh kedua orang tuanya?


γ€€


Seminggu yang lalu sang papa menelepon dan meminta agar Julia pulang ke Bandung, secepatnya. Penasaran dan sangat terpaksa, Julia pun segera kembali ke tanah air menggunakan penerbangan pertama dua hari kemudian.


γ€€


Dan setelah sampi dengan selamat, akhirnya dirinya tahu apa penyebab kedua orang tuanya sangat ingin diaΒ  pulang secepatnya.Ternyata ini menyangkut perjodohan kuno yang telah di atur oleh sang Mama bersama temannya, Mama dari lelaki bernama Aisakha.


γ€€


"Memang lelaki itu kenapa sih ma? Kok bodoh banget buat cari pasangan, sampe mau di jodohkan segala?" Julia jelas menolak kehendak orang tuanya.


γ€€


"Julia, jaga bicaramu". Mama terlihat tidak senang. "Aisakha bukan lelaki sembarangan. Latar keluarganya sangat baik, Aisakha sendiri adalah lelaki cerdas dengan kekayaan yang tidak akan habis sepuluh generasi. Belum lagi, Aisakha itu sangat tampan."


γ€€


"Jadi, kalau dia sesempurna itu kenapa sulit sekali menemukan pasangan untuknya. Tinggal tunjuk, selesaiii". Suara keras Julia terdengar seantero rumah


γ€€


"Sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada seorang gadis". Mama tersenyum miris pada anak gadis semata wayang mereka.


γ€€


"Ma, Pa...meski aku bukanlah wanita penganut cinta suci. Tapi bukankah sangat tidak baik membuat aku menjadi wanita perebut kekasih orang. Aku juga gak sudi membuang waktuku untuk mengejar seorang lelaki yang pasti tidak akan memandang aku. Tolong lupakan saja". Julia sudah berdiri, berniat meninggalkan kedua orang tuanya.


γ€€


"Julia, coba kamu lihat dari sudut pandang Papa dan Mama. Kalau kamu berhasil menikah dengan Aisakha, ini bisa mengangkat pamor Papa di dunia politik. Debut Aisakha di dunia bisnis sangat terkenal, di merajai segala bidang. Terbayang olehmu berapa banyak kekayaannya, hingga siapa saja kolega Sakha?" Papa tersenyum penuh misteri, seakan ada niat terselubung dalam senyum tersebut.


γ€€


Julia berbalik, menatap wajah sang Papa yang terlihat jelas sedang sibuk membayangkan sesuatu.


γ€€


"Nak, kalau kamu berhasil mendapatkan Aisakha, Mama jamin semua wanita seantero jagat ini akan iri padamu.Β  Karena kamu bisa bersanding dengan lelaki kaya, mapan dan tampan. Mama akan semakin di segani oleh para sosialita di luar sana dan Papamu semakin gampang melenggang ke Senayan". Julia menyimak semua yang diucapkan Mama. "Dari seorang Aisakha, keluarga kita bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda".


γ€€


"Lantas bagaimana dengan gadis yang dicintainya itu? Papa dan Mama suruh aku bersaing dengan gadis itu?" Julia terlihat sangat enggan.


γ€€


"Kamu sama sekali tidak bersaing Julia. Justru kamu sudah hampir jadi pemenang". Sekarang Mama berhasil membuat Julia menatap penuh minat. "Mama Aisakha memberi dukungan seratus persen pada kamu, dan sebenarnya, ide memperkenalkan kamu ke Aisakha justru di ajukan oleha Mamanya sendiri. Mama pikir, gadis yang dicintai oleh Aisakha bukan berasal dari keluarga terpandang, mungkin inilah penyebab Mamanya Aisakha lebih memilih kamu".


γ€€


Menarik, aku jadi penasaran sama Aisakha ini. Baiklah, aku setuju dengan pertemuan antara aku dan dia. Aku ingin lihat seberapa perfect lelaki ini.


γ€€


"Pastikan kamu bisa menaklukan dia!" Papa sudah melihat senyum licik menghiasi wajah cantik anak gadisnya.


γ€€


γ€€

__ADS_1


***************


γ€€


"Hai, kamu Julia?" Suara khas Aisakha membuyarkan semua lamunan Julia.


γ€€


Julia berdiri dengan sangat anggun, memberi senyum terbaiknya pada Aisakha. "Hallo, kamu Aisakha ya?"


γ€€


Ah, cara berpakaiannya membuat mataku sakit. Apa dia ingin mengodaku dengan baju yang sangat minimalis itu. Wanita seperti ini yang Mama mau aku nikahi? Heh, jauh lebih baik Nia beribu-ribu kali di banding wanita ini.


γ€€


Emm, sangat tampan. Sepertinya aku menyukainya, aku ingin memilikinya. Baiklah, aku akan menaklukanmu sayang, aku akan memastikan kamu tunduk padaku. Jangan panggil aku Julia kalau aku tidak bisa membuat kamu bertekuk lutut padaku.


γ€€


"Sudah lama?" Aisakha terlihat berbasa-basi.


γ€€


"Oh, enggak kok. Baru aja". Julia sengaja membuat suaranya terdengar sangat merdu.


γ€€


"Silahkan". Aisakha membantu Julia duduk.


γ€€


"Terima kasih". Julia sengaja memegang tangan Aisakha saat lelaki itu membantunya duduk.


γ€€


Cih....wanita ini terlihat memiliki niat tidak baik.


γ€€


γ€€


"Sudah". Julia terlihat sedikit menundukkan badannya. "Kamu mau pesan apa? Aku panggil pelayannya ya". Suara manja Julia membuat Aisakha semakin tidak menyukai wanita itu.


γ€€


Benar-benar wanita licik. Sengaja memamerkan beladan dadanya untuk mengodaku. Cih, kenapa aku merasa jijik melihat tingkahnya yang dibuat-buat itu.


γ€€


"Aku nanti saja". Jawab Aisakha malas.


γ€€


"Kenapa, kamu capek ya setelah seharian kerja". Dengan beraninya Julia memegang tangan Aisakha. Membelai lembut punggung tangan lelaki tampan itu dan memberi senyum cantik terbaiknya untuk mengoda Aisakha.


γ€€


Ah, aku sudah tidak tahan lagi. Wanita ini membuat aku muak saja.


γ€€


"Nona Julia, ada yang ingin aku bicarakan". Aisakha menarik tangannya dari tangan Julia, memperbaiki cara duduknya dan menatap serius pada Juli.


γ€€


"Oh, silahkan. Apa itu". Julia memainkan lidahnya di bibir. Seakan-akan sedang membahasi bibir merah merekahnya, padahal jelas bukan itu tujuannya.


γ€€


"Kamu tahu ide perkenalan kita ini sudah di atur oleh para Mama-mama kita?" Aisakha mulai berbicara.


γ€€


"Iya aku tahu, dan apa kamu tahu. Aku langsung jatuh cinta padamu pada pandangan pertama". Julia bersikap malu-malu. "Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku yakin kamu jugakan Sakha".

__ADS_1


γ€€


"Heh, sayangnya tidak". Suara malas Aisakha terdengar menanggapi perkataan Julia barusan.


γ€€


Sial, lelaki ini membuat aku marah banget. Awas kau, aku pasti bisa menaklukanmu.


γ€€


"Itu pasti karena kamu belum mengenal aku". Julia masih mempertahankan sikap manjanya.


γ€€


"Jujur aku gak tahu kenapa Mamaku begitu semangat memperkenalkan kita. Maaf sudah membuat kamu tidak nyaman".


γ€€


"Oooooh...tidak masalah". Julia langsung memotong pembicaraan Aisakha. "Aku malah seneng banget bisa ketemu kamu".


γ€€


"Aku tidak". Jawab Aisakha tegas.


γ€€


Mata Julia membesar, harga dirinya tersinggung. Seumur hidupnya belum pernah dia di tolak oleh lelaki manapun. Yang ada malah seorang Julialah yang selama ini bebas menolak dan mematahkan hati kaum adam yang sibuk mengejar dirinya.


γ€€


"Nona Julia, aku sudah memliki orang yang sangat aku cintai. Jadi lupakan perkenalan kita ini, aku tidak berminat melanjutkan". Aisakha berhasil membuat Julia murka.


γ€€


"Kau berani menolak aku?" Julia sangat marah. "Kau pikir siapa dirimu. Heh, dengar ya. Seharusnya kamu itu bersyukur bisa mengenal aku".


γ€€


"Kalau begitu biarkan aku tidak usah bersyukur". Jawab Aisakha acuh.


γ€€


"Siapa wanita itu?" Julia mengepalkan tangannya.


γ€€


"Namanya Nia, dia sangat-sangat cantik. Di begitu anggun bersahaja, aku mencintainya". Aisakha tersenyum bahagia.


γ€€


"Aku bisa menjadi Nia buatmu". Entah dari mana timbul pemikiran seperti itu di kepala Julia. Tetapi jelas dia tidak berniat menyudahi acara perkenalan ini, apa lagi melepaskan Aisakha.


γ€€


"Terima kasih, aku tidak berminat. Aku hanya mau Niaku".


γ€€


"Dan Mamamu lebih memilih aku". Senyum sinis tergambar di sudut bibir Julia.


γ€€


"Hahaha". Aisakha tertawa kecil. "Jangan mimpi, ini semua terjadi karena Mama belum berjumpa dengan Nia. Kalau Mama sudah mengenal Nia, aku yakin kamu langsung di depak". Aisakha memandang sebelah mata pada Julia.


γ€€


"Kau dengar baik-baik". Julia memukul meja. "Aku suka padamu, dan aku akan memilikimu. Jangan harap aku akan kalah dari wanita manapun. Suatu hari nanti, aku akan membuat kamu bertekuk lutut dihadapanku".


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2