
πππππ
γ
Pagi yang cerah, Nia bangun dengan samangatnya. Senyum manis dann terasa hangat, sehangat mentari pagi menghiasi wajah cantik Nia. Jelas ada yang beda, bahkan seisi rumah pun bisa melihat semua itu. Pagi ini Nia begitu ramah, sisi lembut dan penuh cintanya telah kembali menyapa semua.
γ
Nia menyapa semua orang, tertawa riang. Bahkan seorang bayi mengemaskan seusia Alex pun bisa tahu kalau Nia sedang di penuhi cinta hari ini. Kalau semalam Nia hanya menyapa Alex dengan sedikit belaian, tetapi pagi ini Nia mengendong bayi tampan dengan pipi gembul itu. Alex bergelayut manja padanya di meja makan, dengan mulut penuh, Alex selalu saja senang ada dalam gendongan Nia.
γ
Semua orang bisa menyadari, aura hitam dan kepenatan beberapa hari ini telah hilang. Nia seakan kembali lagi dan siap menyongsong masa depan. Meskipun tidak tahu ada apa dan bagaimana, tetapi Paman, Bibi, Alika dan Pandu sangat senang, melihat Nia bernafas pelan dan penuh ceria. Tidak lagi pucat dan terlihat lelah, tidak lagi sedih untuk sesuatu yang entah apa gerangan sebabnya.
γ
"Lagi dapat undian ya ?" Tanya Paman pada Nia yang sedang menyuapi Alex kecil menu sarapannya.
γ
"Hahahaah ", tawa Nia pelan. "Paman bisa saja ".
γ
"Bukan undian Pa, tapi tatitayang ". Alika mengedipkan sebelah matanya ke arah Nia.
γ
"Apa itu artinya isteriku ?" Tanya Pandu berpura-pura lugu.
γ
"Ya apa lagi kalau bukan limpahan tatitayang dari calon abang ipar Pah, semalaman mereka teleponan. Sudah kayak orang enggak pernah ketemu puluhan tahun saja. Rindu, oh rindu ". Ejek Alika pada Nia sambil memegang tangan Pandu.
γ
"Aihh..kamu ini Alika, gomong kok ngacok gituh ". Nia hanya mengeleng melihat ekspresi wajah Alika yang di buat sangat mengiba.
γ
"Sudah baikkan kamu ?" Tanya Bibi yang duduk persis di sebelah Nia.
γ
"Sudah Bi ". Jawab Nia singkat.
γ
"Kapan kamu cuti. Masa calon pengantin kerja terus. Apa calon suamimu tidak memberi izin ?" Bibi menatap Nia.
γ
"Besok aku udah nggak masuk Bi, sesuai rencana besok,Β hingga beberapa hari seterusnya aku bakalan libur sampai laboratorium di Jakarta aktif beroperasi ". Nia tersenyum pada Bibi.
γ
"Bagus kalau begitu, Bibi mau kamu fokus lagi pada pernikahanmu. Banyak perawatan dan banyak bersenang-senang. Kamu itu bakal menikah Nia, jadi gak boleh suntuk-suntuk lagi ". Bibi terlihat serius.
γ
"Iya Bi...bibi jangan khawatir ya ". Ucap Nia ingin menyakinkan Bibi Ros.
γ
"Ooo, iya. Hari ini jadwal datang bulanmukan ?" Bibi bertanya pelan sambil memperhatikan Nia yang begitu telaten menyuapi Alex yang sedang sibuk memukul meja di dalam pangkuannya.
γ
"Iya Bi, mungkin karena itu juga aku agak sensi beberapa hari ini ". Nia bersuara setengah berbisik pada sang Bibi.
γ
"Berapa hari biasanya ?" Alex terlihat sudah kenyang, bayi mengemaskan itu sudah mulai malas membuka mulutnya.
γ
"Enam atau tujuh hari Bi ", Nia sekarang mulai kesusahan memegang Alex. Mungkin pengaruh perut kenyangnya, Alex terlihat sangat ingin lepas dari pangkuan Nia.
γ
"Hemmm, 6 atau 7 hari lagi ya ?" Ulang Bibi sambil berpikir.
__ADS_1
Bagus, perkiraanku benar. Semoga saja semua berjalan lancar.
Bibi pun tersenyum senang.
γ
Sementara itu...
γ
Pagi ini Aisakha merasakan semangat 45 berkobar di dadanya. Pagi yang indah dan senyum bahagia tergambar jelas di wajah tampan itu. Setelah hampir 2 jam di habiskannya untuk bertelepon ria bersama Nia semalam, pagi ini Aisakha terlihat sangat senang. Aura positif memenuhi dirinya, perasaannya mengatakan semua sudah baik-baik saja.
γ
Semalam Nia telah kembali seperti Nia yang sangat di cintainya, Nia berbincang hangat bersamanya. Ada tawa, ada manja dan rengekan suka di setiap suara wanita yang sangat di pujanya itu. Aisakha tidak tahu mengapa, tetapi wanitanya, kekasih hatinya sudah seperti sedia kala.
γ
Banyak hal yang mereka bicarakan. Hingga putaran waktu begitu cepat berjalan, Nia jelas sudah mengantuk, beberapa kali Aisakha mendapati Nia menguap lemah. Aisakha bisa merasakan suara calon isterinya itu mulai payah. Tetapi tetap saja, Nia sibuk menahan kantuknya dan terus mengajak Aisakha berbicara, seakan tidak pernah ada puasnya. Hingga saat Aisakha mematikan teleponnya pun, Nia tidak menyadarinya. Sepertinya Nia sudah terlelap dan masuk ke alam mimpi.
γ
Semua telah baik-baik saja, hati kecil Aisakha bisa merasakan itu, Nianya telah kembali, permata jiwanya telah bahagia lagi. Jadilah hari ini Aisakha ingin segera menyelesaikan apapun itu jenis pekerjaannya dan sesegera mungkin kembali ke sisi Nia secepatnya, dirinya ingin segera mensahkan Nia sebagai kepunyaannya. Memiliki Nia sepenuhnya dan melimpahkan Nia cinta selama hidupnya.
γ
***************
γ
Epilog.
γ
Semalam, beberapa jam sebelum Aisakha menelepon Nia....
γ
Makan malam keluarga telah selesai, acara kumpul bersamapun telah usai. Nia pamit undur diri, meskipun baru pukul 8 malam, tetapi Nia sangat ingin menghubungi seseorang, ada hal penting yang perlu dibicarakan. Jadilah saat ini Nia duduk sendiri di kamarnya sambil memandang handphone mungil di dalam gengaman tangannya.
γ
γ
Tidak butuh waktu lama, seseorang yang di tuju Nia pun menerima panggilannya.
γ
"Hai...tumben telepon. Aku pikir kamu sudah melupakan sahabatmu ini ". Suara riang Toni terdengar memulai percakapannya bersama Nia.
γ
"Mana mungkin aku lupa sama sahabatku. Justru kamu dan yang lainnya yang lupain aku, kalian semua kompak diam, nggak ada tuh yang tanya kabar aku ". Suara protes Nia menjawab.
γ
"Ahhhh....aku, Angga, Dafi dan Ardi, kami semua bukan melupakanmu Nia. Tapi kami itu cari selamat. Calon suamimu itu maha galak, mengerikan ". Ada tawa mengiringin ucapan Toni. "Terlalu cemburu kalau kami perhatian sama kamu, kamu pikir kami berani apa ?" Suara Toni di buat sangat ketakutan.
γ
"Kamu ini Ton, ada-ada saja ". Nia malah tertawa mendengar semua jawaban Toni barusan.
γ
"Itu bukan ada-ada saja Nia, tetapi itu memang apa adanya ". Toni segera menyela Nia. "Kamu itu, punya suami kok bisa tergila-gila begitu sama kamu ya ?" Toni terdengar tertawa senang. "Hampir lupa. Ada apa gerangan malam ini kamu telepon aku ?" Toni sekarang mencoba serius.
γ
"Ada yang mau aku tanyakan ".
γ
"Ya, apa ituΒ ?" Toni mendengar ada helaan nafas Nia di ujung telepon.
γ
"Ini, ini tentang Edo ". Nia terdengar cukup ragu.
γ
"Apakah kamu sudah bertemu dengannya ?" Tanya Toni penuh selidik.
__ADS_1
γ
"Aku tidak tahu, tetapi ada yanga aneh beberapa hari ini ".
γ
"Berarti Edo yang sudah menemukan keberadaanmu. Tidak di sangka, kali ini dia bergerak cepat ".
γ
"Ton, apa yang terjadi ?"
γ
Huft, Toni menghembuskan nafas beratnya.
"Baiklah, karena kamu telah bertanya. Aku akan jujur Nia ".
γ
"Sebenarnya dalam 3 tahun ini Edo telah di bohongi oleh Mamanya. Tante Sandara sengaja membuat pikiran Edo membencimu sedekian rupa. Bodohnya Edo menelan semua itu begitu saja, Edo membencimu Nia, sangat membencimu ". Tanpa terlihat oleh Toni,Β Nia sedang memejamkan matanya. Penuturan Toni barusan cukup mengagetkannya.
γ
"Hingga beberapa hari lalu, tanpa sengaja Toni tahu semua kebenarannya. Dia sangat marah, memaki tante Sandara hingga pergi meninggalkan rumah. Sejujurnya, sejak kejadian itu aku tidak mendengar kabar darinya lagi. Tapi sekarang sepertinya aku tahu di mana Edo berada ". Suara Toni yakin.
γ
"Nia, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu ". Toni mendengar ada tarikan nafas dalam di ujung teleponnya.
γ
"Nia, Edo telah menikah ". Kembali lagi ada suara tarikan nafas terdengar oleh Toni di ujung teleponnya.
γ
"Toni menikahi Kemala, kamu tahu nama itukan ?" Tanpa terlihat oleh Toni, Nia sedang mengangukan kepalanya saat ini.
γ
"Fashion desainer terkenal di sini, Kemala Diandra Kusuma. Edo telah resmi menikahinya sebulan yang lalu ". Toni diam sesaat menunggu reaksi Nia.
γ
"Apakah Edo mencintainya ?" Akhirnya Nia mampu bersuara. Entah apa isi hatinya saat ini, tetapi Toni mendengar kalau Nia biasa saja di seberang sana.
γ
"Pernikahan mereka karena perjodohan yang di atur oleh tante Sandara. Jadi kamu bisa menebak apa artinyakan Nia ? Tetapi harus kamu tahu, hal itu tidak berlaku bagi Kemala, wanita itu begitu mencintai Edo ".
γ
"Sosok wanita dengan status sosial, harta dan kedudukan yang sesuai keinginan tante Sandara ". Ucap Nia pelan.
γ
"Benar, semua persis seperti impian tante Sandara ". Sesaat ada jeda dalam pembicaraan Nia dan Toni.
γ
"Nia, apapun itu. Aku hanya berharap kamu bisa berpikir panjang ! Kamu dan Edo telah selesai ! Waktunya bagi kamu untuk berpikir tentang masa depanmu. Jangan karena masa lalu, kamu membuat masa depanmu kelam. Semua sudah usai untuk waktu yang di belakang, sekarang lihatlah untuk waktu yang akan kamu songsong puluhan tahun nanti. Kamu berhak bahagia Nia, dan aku yakin sekaranglah waktunya bagi kamu ".
γ
Toni menunggu Nia berbicara di seberang sana, tetapi Nia hanya diam saja.
γ
"Nia, Edo bukan yang terbaik untukmu. Kamu pasti bisa berpikir sampai ke sana bukan ? Kamu bisa mengunakan logikamukan ? Edo, mau apapun nama penyebab dia terjebak bersama Kemala saat ini, yang jelas dia adalah suami orang ". Dan Toni masih saja mendapati Nia diam di ujung teleponnya.
γ
"Lupakan masa lalu, tutup lembaran itu. Jangan biarkan dia merusak masa depanmu !" Toni menarik nafas dalam. "Jangan sampai kamu menyesal saat nanti tersadar kamu telah kehilangan segalanya ! Sekali lagi aku bilang, kamu layak bahagia Nia. Kamu harus bahagia !"
γ
Nia meremas kuat lembaran kain yang bersusun di depan dadanya. Mata hatinya terbuka, sang calon Mama mertua, bahkan Toni yang sampai detik ini masih terus bersuara di ujung telepon sana membuat mata batinnya terbuka. Bayangan senyum lelaki tampan bermata biru yang begitu tenang menunggunya, sabar berjuang memenangkan hatinya. Begitu telaten merawat trauma di sanubarinya, Nia bisa merasakan semuanya, slide kenangan sebuah pengorbanan tergambar jelas di dalam memori otaknya. Jiwanya bisa merasakan betapa besar cinta lelaki itu untuknya, dan sekali lagi Nia merasa tertohok pedih di sudut hatinya. Air mata Nia jatuh, sebuah kesadaran membuat Nia tahu, bahwaΒ Lelaki itu begitu besar mencintainya, justru melebihi besarnya rasa cinta Nia padanya.
γ
γ
__ADS_1