
Mengantar Nia Pulang
πππππ
γ
Semua bukan mimpi, semua bukan mimpi, ini nyata. Ya ini nyata, sangat nyata.Β Lagi Nia berusaha menyakinkan dirinya atas apa yang baru dirasakannya tadi. Pelan dia menyentuh bibirnya sendiri, berusaha memastikan semua ini nyata bukan khayalan yang dia ciptakan sendiri untuk membuat dia merasa bahagia, merasa berarti, merasa berharga.
γ
"Aku akan mengantarkanmu pulang hari ini", ujar Aisakha membuyarkan lamunan Nia. "Bersiaplah". Perintah Aisakha pada Nia.
γ
Percayalah sayang, semua yang kita lalui tadi nyata. Aku dan cintaku nyata sayang, hanya padamu.
γ
"Tapi tuan, saya membawa mobil sendiri". Ujar Nia memberitahukan pada Aisakha.
γ
"Niaaaaaa". Aisakha berusaha mengingatkan Nia bahwa dia telah melakukan kesalahan.
γ
"Hah, ehhh..maaf tuan, ehh, aduh..maaf emmm, emmmm", Nia merasa salah tingkah sendiri. Dia tidak tahu harus berucap apa. "Maafkan saya tuan, tolong beri saya waktu. Semua ini, semua ini terasa mendadak. Saya takut saya hanya berhayal dan besok setelah saya terbangun di pagi hari, semua telah menghilang. Dalam sekejap semua telah sirna. Saya harap tuan bisa mengerti". Pinta Nia pada Aisakha.
γ
"Aku tahu, tidak semudah itu bagimu untuk mempercayai semua ini Nia, aku mengerti kalau kamu butuh waktu untuk mempercayai perasaanku padamu. Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu mau sayang, tetapi kamu jangan menjauh dariku. Beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu kalau aku nyata. Cintaku nyata Nia". Aisakha menyakinkan Nia.
γ
Cinta, benarkan tuan..anda mencintai saya, seorang Nia yang tidak di terima oleh keluarga lelaki di masa lalu saya. Tuan, anda terlalu jauh untuk saya, apa lagi cinta anda, sangat tidak pantas untuk saya.
γ
"Beri aku kesempatan Nia, kamu akan lihat bahwa Tuhan memang telah mengariskan kita untuk bersama dalam ikatan cinta suci selamnya. Aku janji, aku selalu ada buatmu, menjagamu, melimpahkanmu dengan kasih sayang. Kamu adalah wanita pemilik hatiku Nia". Aisakha bisa merasakan ada keraguan di dalam hati Nia.
__ADS_1
γ
"Tolong berilah aku waktu". Nia kembali meminta pada Aisakah.
γ
Bagus, setidaknya kamu sudah tidak berbahasa formal lagi padaku. Sudah ada kemajuan setidaknya sekarang.
γ
"Tentu, pasti, aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu mau". Sekali lagi Aisakha mengiyakan permintaan Nia. "Sekarang ayo kita pulang. Mobilmu akan di antar orang suruhanku ke apartemenmu. Jangan kawatir tentang mobilmu. Tetapi sebelum aku mengantarmu pulang, kamu mau kalauku ajak makan malam dulu?"Β Tanya Aisakha sambil mengandeng tangan Nia untuk keluar dari pintu ruang kerjanya.
γ
"Ya, boleh..emm, Mas", jawab Nia sangat pelan. Rasanya dia benar-benar malu mengucapkan kata tersebut. Entah keberanian dari mana yang di dapatnya, mendadak diperolehnya, memanggil sang Presdir dengan sebutan Mas. Lancang sekali rasanya, tetapi dia suka, sangat pas rasanya saat mengucapkan kata tersebut.
γ
Aisakha tidak percaya, bukan kata yang itu di harapnya akan di ucapkan Nia, jelas dia meminta Nia memanggilnya sayang. Tetapi kata Mas terdengar sangat enak.
γ
γ
Aduh, aku malu. Kira-kira kalau aku ucapkan kata Mas dengan jelas, apa kamu akan suka? Gak marah? Gak lancang?
γ
Aisakha dapat melihat pipi Nia kembali merona, dia suka melihat wanitanya seperti itu. Dia takjub dengan sikap malu kekasih hatinya itu.
γ
"Emm, iya Mas. Boleh kok, jika kita mampir buat cari makan dulu". Nia menjawab sambil menatap lekat ke arah sepatu Aisakha, dia benar- benar malu saat ini.
γ
"Dengar, pipimu hanya boleh merona untukku sayang, hanya untukku. Kamu sangat cantik saat merona seperti ini, ya Tuhan, Nia, aku benar-benar mencintaimu". Kemudian Aisakha mencium lembut pipi kanan Nia.
γ
__ADS_1
Nia tidak percaya dengan pendengarannya, tetapi bekas bibir Aisakha yang jelas dirasakan Nia pada pipi kanannya adalah nyata. Iya, Aisakha jelas mengatakan dia sangat mencintai Nia.
γ
Aku gak salah dengar, terima kasih Tuhan.
γ
Kristo telah berdiri tepat di pintu keluar ruang kerja Aisakha, sebenarnya sedari tadi dia ingin membukakan pintu ruang kerja tuannya itu. Tetapi dia dapat mendengar dengan jelas saat tuannya berujar sangat mencintai Nia. Akhirnya Kristo memilih menunggu di luar pintu dengan tangan kanan memegang tas Nia.
γ
"Nona", ujar Kristo sambil menyerahkan tas Nia kembali padanya.
γ
"Terima kasih Kristo". Ucap Nia ramah pada kristo.
γ
"Sama-sama nona", jawab Kristo. "Nona, boleh saya pinjam kunci mobil anda? Sopir akan membawa mobil anda ke apartemen". Ujar Kristo.
γ
"Iya tentu saja". Nia melepaskan genggaman tangannya dari Aisakha, membuka tasnya dan memberikan kunci mobilnya pada Kristo.
γ
Saat Kristo telah menerima kunci mobil tersebut, dia segera mengarahkan tuannya dan Nia ke arah leaf pribadi sang presdir.
γ
Aisakha kembali mengenggam tangan Nia, petugas lobi melihat kejadian itu. Mereka bertanya-tanya, siapa wanita cantik yang di gandeng sang presdir. Tidak pernah terlihat sebelumnya wanita itu, tetapi tiba-tiba saja masuk ke ruang kerja presdir dengan di gandeng sang presdir. Keluar ruang kerja presdir pun tetap dalam gandengan sang penguasa Sunjaya Company, bahkan mereka dapat melihat dua orang yang tengah bergandengan itu sedang diliputi aura bahagia. Membuat mereka semakin penasaran saja. Bertanya-tanya siapakah wanita itu, apa hubungan dengan sang presdir? Bagaimana bisa wanita itu terlihat begitu di jaga oleh presdir mereka?
γ
Mata yang memandang ke arah Nia dan Aisakha hanya berani memandang saja sambil terus bertanya-tanya di dalam hati masing-masing. Entahlah, rasanya mereka tidak pernah mengenal wanita yang tengah berjalan bersama sang presdir.
γ
__ADS_1
γ