SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 83


__ADS_3

Macet


🌈🌈🌈🌈🌈


 


Mobil patroli pengawal berada di susunan depan rombongan mobil Aisakha, dilanjutkan dengan Aisakha bersama Kristo dan seorang sopir pada mobil kedua, sementara diurutan terakhir adalah mobil yang berisi tiga pengawal pribadi yang selalu mendampingi Aisakha saat berada di Kota Bengkulu, bersama seorang sopir.


 


Aisakha diam, sibuk memandang keluar jendela mobilnya. Melihat bangunan-bangunan sepanjang jalan berlalu, meninggalkan dirinya. Perasaannya campur aduk, dia sangat ingin bisa sesegera mungkin ada di Rumah Sakit, secepatnya bisa bertemu Nia, Syania tersayangnya.


 


"Masih jauh?" Tiba-tiba terdengar suara Aisakha mengajukan pertanyaan.


 


"Tidak tuan, sebentar lagi kita sampai". Kristo berusaha menyakinkan majikannya.


 


"Kenapa tidak pake helikopter saja tadi?" Aisakha sedikit kesal rupanya.


 


"Saya sudah meminta izin mendarat di helipad Rumah Sakit tuan, tapi pihak mereka menolak". Jawab Kristo pelan, takut menaikkan level kesal sang tuan menjadi level marah.


 


"Kau bilang siapa yang akan mendarat di sana?" Suara Aisakha masih terdengar di level kesal bagi Kristo.


 


"Sudah tuan, tapi pimpinan mereka sedang tidak di tempat, jadi mereka tidak bisa memberi izin". Jelas Kristo pelan.


 

__ADS_1


"Apakah kita masih mensupport bantuan dana ke Rumah Sakit itu?" Lagi Aisakha mengajukan pertanyaan pada Kristo.


 


"Benar tuan, perusahaan tuan menjadi penyokong utama untuk Yayasan Rumah Sakit tersebut". Dan Kristo tetap berusaha menjawab dengan pelan, dengan tenang.


 


"Kalau begitu, setelah semua ini selesai ingatkan saya untuk memikirkan ulang kelayakan mereka untuk mendapat bantuan dari perusahaan saya!" Dan sampai di sini, Kristo tahu level kekesalan sang tuan telah meningkat menjadi level marah.


 


Aku iyakan saja, biar tidak marah lagi.


 


"Baik tuan". Singkat, hanya itu kata yang di pilih Kristo untuk membuat sang tuan berhenti dari rasa marahnya.


 


Awal, Kristo merasa sangat cerdas. Gagal mendapat izin untuk landing di atas atap Rumah Sakit dengan helikopter pribadi sang majikan, dia segera mengalihkan perjalanan dari bandara ke Rumah Sakit dengan menggunakan kawalan resmi dari patroli aparat keamanan.


 


 


Mobil patroli pengawal berhenti, otimatis mobil yang ditumpangi Aisakha berhenti, hingga mobil para pengawal pribadinya pun ikut berhenti. Terlihat seorang petugas pada mobil patroli turun, berjalan jauh ke depan kearah kerumunan orang dan kendaraan yang membuat kemacetan terjadi.


 


Satu dari tiga pengawal Aisakha di mobil paling belakang pun juga turun, mengejar si petugas di depan, ingin bersama mencari tahu permasalahan dari kerumunan orang dan kendaraan yang berhenti di depan mereka.


 


Pengamatan selesai, pengawal pribadi Aisakha tahu apa gerangan penyebab terjadi kemacetan di depan rombongan mereka. Segera, si pengawal kembali kebelakang menuju Kristo yang masih bertahan di dalam mobil bersama Aisakha.


 

__ADS_1


"Ada kecelakaan motor tuan, sekarang sedang dilakukan pembersihan jalan. Petugas patroli sedang berkoordinasi dengan petugas di lokasi kecelakaan agar dibukakan jalan buat kita". Laporan si pengawal pada Kristo.


 


Kristo hanya menganggukan kepalanya saja, dan meminta si pengawal untuk standby, melihat perkembangan situasi di depan lebih lanjut.


 


Aisakha mengusap kasar wajahnya, mulai gelisah, mulai menaikkan level marah ke sangat marah. Cepat Kristo berusaha membujuk, membuat sang majikan menjadi tenang. "Sabar tuan, hanya sebentar". Kristo berusaha menyakinkan Aisakha.


 


Sementara itu, "dikit lagi Prof, kejar-kejar. Itu dia, itu mobilnya". Tunjuk Wulan dengan semangat kepada profesor.


 


"Bagaimana mau cepat Wulan, di depan macet". Protes Profesor dengan suara teriakan Wulan.


 


"Yah, nanti kita kehilangan dia Prof. Lihat itu, itu Prof. Yang hitam itu, sebelah kanan mobil warna kuning. Persisi di depan mobil patroli ituloh Prof. Itu Bagas". Tunjuk Nia mengarahkan Profesor pada posisi mobil Bagas.


 


"Iya, saya lihat. Saya tau, trus saya harus bagaimana haaa? Terbang?" Profesor mulai bosan menanggapi teriakan Wulan di telinga kirinya.


 


"Ahhh, pake macet lagi. Kalau seperti ini bisa keduluan kita sama Bagas". Anita mulai putus asa.


 


"Sudah-sudah, suara kalian malah buat saya jadi pusing. Coba diam sebentar, saya lagi mikir ini!" Profesor mulai kesal menghadapi ketiga sahabat Nia itu.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2