
🌈🌈🌈🌈🌈
“Serius hari ini ?” Toni meminta kepastian Edo yang berada di ujung telepon. Toni baru saja sampai di kantornya, baru berencana memulai aktivitasnya dengan memimpin rapat beberapa saat lagi. Dan tiba-tiba handphonenya berbunyi, nomor Edo tertera di sana. Edo menghubunginya pagi ini.
“Iya, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi “, suara Edo sangat yakin. “Aku, sejujurnya aku masih menyimpan rasa takut. Takut kalau Kemala masih belum percaya akan perasaanku padanya dan dia masih berencana untuk meninggalkanku. Aku pernah kehilangan wanita yang sangat mencintaiku sekali Ton. Itu sakit sekali, dan aku tidak mau terulang lagi “.
“Baiklah, aku akan ikuti kemauanmu kalau kau memang sudah yakin “. Ucap Toni setuju. “Aku akan hubungi Dafi, Ardi dan Angga “.
“Bantu aku ya Ton “. Suara Edo terdengar penuh permohonan di ujung telepon sana.
“Pasti, kami semua pasti bantu kamu. Jangan khawatir !” Toni menganggukkan kepalanya, seakan Edo bisa melihat saja. “Jam berapa kau selesai terapi ?” tanya Toni kemudian.
“Jam 4 sore, hari ini aku dapat jadwal siang “.
“Bagus, berati kami masih punya waktu beberapa jam ini. Tenanglah, semua akan sesuai bayanganmu, percayakan pada aku dan yang lain !” janji Toni sungguh-sungguh.
“Baiklah !” Ada senyum penuh bahagia terlukis di wajah Edo. “Hey Ton..terima kasih banyak. Padamu dan pada kalian semua “.
**************
“Selamat tuan, kondisi anda sudah pulih 100 persen. Kaki anda sudah sehat seperti sedia kala, anda sudah saya izinkan beraktivitas seperti biasa “. Dokter menyalami Edo sambil tersenyum ramah.
“Terima kasih dok, terima kasih banyak untuk bantuannya selama ini “. Edo menggenggam tangan dokter kuat, wujud rasa senangnya atas bantuan si dokter selama ini.
“Baiklah, saya akan mengantarkan anda dan istri keluar “. Ucap dokter sopan mempersilahkan Edo keluar dari pintu ruangannya.
Bersama mereka berjalan beriringan. Edo menggandeng tangan Kemala, Kemala senang, wajahnya secerah mentari dan langkahnya sangat ringan. Betapa besar rasa syukur Kemala, Edo sudah baik-baik saja.
Hingga...
“Tu, turunkan aku “. Kemala sedikit panik saat sadar Edo mengangkat tubuhnya tinggi. Kemala melihat sekitar, dokter yang mengantar mereka keluar telah hilang di balik pintu besar teras Rumah Sakit itu. Sekarang dirinya hanya bersama Edo dengan banyak mata memandang dari parkiran terheran-heran.
“Edo, turunkan aku “. Kemala menunduk menatap wajah Edo yang tersenyum mendongak padanya.
“Aku sudah sehat Mala “. Edo masih tersenyum. “Semua berkat kesabaranmu merawatku. Makasih ya “. Ucap Edo tulus.
__ADS_1
“Itu sudah kewajibanku “. Kemala meletakkan tangannya di kedua leher Edo, bergantung kuat di sana dan membalas senyum Edo padanya. “Sekarang tolong turunkan aku, aku takut nanti anakmu ini malah pusing dan berniat membuat aku muntah lagi “.
“Dia kuat Mala, dia sekuat kamu “. Ucap Edo sambil menurunkan Kemala perlahan. “Dia punya Ibu kuat yang menurunkan darah hebatnya pada dirinya “. Edo memeluk Kemala.
“Dan dia punya ayah yang luar biasa “. Puji Kemala di dalam pelukan Edo.
“Jadi, sekarang biarkan aku yang bawa mobil ya “. Edo memberikan kecupan dalam di kening Kemala. Membuat Kemala terperanjat tidak percaya, tidak percaya kalau sekarang Edo selalu memperlakukannya dengan sangat manis.
“Apa, apa kamu yakin ?” Kemala ragu.
“Sangat yakin “. Edo lagi-lagi menggandeng tangan Kemala, membawanya ke arah mobil mereka yang terparkir di ujung sana.
Mobil hitam yang di kemudikan Edo sudah keluar parkiran Rumah Sakit, berbelok ke arah kiri langsung masuk ke arah lalu lintas Ibu Kota. Ramai dan padat, jam pulang kantor yang akan menimbulkan kemacetan di beberapa titik.
Edo nampak tenang, senyum menawan menghias wajahnya. Membuat Kemala terkesima dan takjub dengan pemandangan di belakang kursi kemudi itu. Lama Kemala menatap Edo, tidak terlalu perduli dengan arah mobil, hanya fokus pada Edo saja. Dan perlahan terlelap dengan santai tanpa dirinya duga.
“Mala “. Edo mengusap pipi Kemala pelan.
“Uhhh “, jawab Kemala masih dengan mata terpejam. Kemala sedang mengumpulkan nyawanya lagi.
“Bangunlah, kita sudah sampai “. Edo mencium pipi Kemala. Membuat mata Kemala terbuka lebar, terlalu terkejut dan terlalu suka.
Kemala memperbaiki posisi duduknya, memandang sekeliling dan merasa asing.
“Ini bukan rumah ?” Wajah heran Kemala.
“Bukan “. Edo membuka pintu mobil tempatnya duduk, berjalan keluar ke arah Kemala.
“Aku gendong ya ?” suara Edo lembut saat selesai membuka pintu mobil Kemala.
“Enggak, jangan ! Aku bisa sendiri “. Tolak Kemala cepat.
“Kenapa ?” Edo nampak kecewa.
__ADS_1
“Kamu baru sehat, gak boleh angkat aku. Aku ini berat “, Kemala mengerakkan kedua tangannya menolak.
“Kamu, berat ?” Edo tertawa kecil. “Apa kamu tahu Mala, kamu itu sangat kurus sampai membuat aku sangat khawatir. Apa anak kita cukup makan di dalam perutmu ?”
Kemala terkesima, kata-kata Edo barusan terasa sangat indah baginya. Anak kita, Kemala mengulang kata yang sama berkali-kali di dalam hatinya. Sekarang Edo sudah sering mengucapkan kata indah itu.
“Apa kamu masih kesulitan dalam makanan ?” Tanya Edo membuat lamunan indah Kemala membuyar.
“Ti, tidak. Aku makan banyak kok ?” Jawab Kemala salah tingkah.
“Banyak apanya Mala ?” Edo memandang Kemala dengan wajah lucu. “Jangan bohong, aku tahu kok kamu kalau sudah muntah, pasti bakal malas buat makan lagi “.
“Hah ?” Kemala membuka mulutnya tidak percaya. “Ka, kamu memperhatikan aku ?” Tanya Kemala tidak percaya.
“Loh, memang ada yang salah ?” Edo menekan tombol lift. Pintu terbuka, masih dengan mengendong Kemala, mereka masuk.
“Tunggu, ini kita mau ke mana ?” Kemala baru sadar kalau mereka sedang naik ke lantai 7. “Ke, kenapa kita enggak pulang ? Kenapa kita malah ke sini ?”
“Aku punya kejutan buat kamu “. Suara Edo riang.
“Kejutan apa ? Kamu mau ngapain ?” wajah Kemala serius.
“Tenanglah dan lihat nanti !” Edo pun memilih diam, membiarkan Kemala yang ada di dalam gendongannya bingung bercampur heran.
Dan tidak perlu waktu lama, pintu lift terbuka. Edo berjalan menuju sisi kanan, menuju sebuah kamar.
Pintu terbuka, Edo meletakkan Kemala di sisi ranjang.
“Ma, mau apa ?” Kemala langsung menggeser tubuhnya ke belakang, menjauh dari Edo. Wajahnya nampak sangat tidak nyaman.
“Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu “. Edo bisa menyadari ada aura gelisah di wajah Kemala
“Mala “, Edo berdiri berjalan ke sisi lain kamar, sesaat kemudian kembali. “Ini “. Meletakkan sebuah kotak berbungkus kertas kado. “Aku akan keluar. Nanti akan ada yang datang menjemputmu ! Pakai itu ya, aku menunggumu di suatu tempat “. Ucap Edo sambil mengecup kening Kemala lembut.
Kemala masih sulit mencerna semuanya, sikap baik Edo, Kamar hotel, hadiah dan apa lagi ? Kemala menatap ke arah pintu, lamunannya berakhir dengan suara pintu yang tertutup.
__ADS_1