
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Susun baju kamu ya, bawa yang banyak. Kita bakal lama di sana ! Satu lagi habis itu siap-siap, kita langsung ke Rumah Sakit tempat Bundanya Bowo di rawat ". Aisakha mengecup sekilas kening Nia sebelum berdiri.
 
"Loh...Masnya mau kemana ?" Nia menahan tangan Aisakha.
 
"Mas mau ke bawah. Kenapa, mau Mas temani ?" Ada senyum jahil di wajah Aisakha. "Mas yang bantu pilih bajunya ya ?" Aisakha sangat bersemangat.
 
"Ihhhhh...nggak mau ahhhh. Nanti baju tidurku yang aneh-aneh Mas kemasi juga ". Tolak Nia dengan polosnya.
 
"Ehhh, ada baju begituan ya ?" Mendadak Aisakha terduduk kembali di sebelah Nia. Sebelah alisnya terangkat senang.
 
"Udah, gak jadi.....batal ". Nia melambaikan tangannya ke udara. "Sana, sana, Mas sana aku bisa sendiri kok ". Nia langsung berdiri menjauh dari Aisakha yang senyum-senyum sendiri dengan isi pikirannya.
 
Tadikan kamu sendiri yang bilang tentang baju yang begituan. Sekarang setelah aku iyain, kamu malah melarikan diri. Benar-benar mau menguji aku ya sayang ?
 
Aisakha menggeleng pelan sambil berlalu dari kamar Nia, turun ke lantai satu apartemen kekasihnya itu dengan tujuan mencari Pakde dan Bibi, ada sesuatu yang ingin dibicarakannya, cukup penting.
 
 
***************
 
Kemala memilih langsung masuk ke kamar tidurnya setelah sampai di rumah, utung saja rumah itu cukup sepi saat si Bibi membukakan pintu untuknya. Sehingga tidak terlalu banyak orang yang tahu kalau dia pulang dalam kondisi mata sembab dan makeup yang mulai luntur akibat derai air matanya tadi saat bertemu Edo.
 
Sekarang Kemala telah menutup wajah cantiknya, bersembunyi dari kesedihannya dan mulai bersiap menyusun sebuah rencana.
 
Tapi...
Siapa sebenarnya sosok wanita di masa lalu Edo ?
Kenapa mereka tidak bersama ?
__ADS_1
Kalau memang Edo sangat mencintainya, bukankan seharusnya mereka sudah menikah sekarang ?
Aneehh.....
 
Kemala membalikkan badannya, memilih tidur terlentang dan menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya sedang melayang jauh, penasaran dan penuh tanda tanya.
 
Apa wanita itu meninggal saat Edo mengalami kecelakaan 3 tahun lalu ya ?
Aku menjumpai Edo saat itu sangat terpuruk dalam kondisi terburuk yang belum pernah aku tahu, meskipun aku sudah lama kenal dengannya.
Edo waktu itu terlihat begitu menderita, menderita batin dan tidak berdaya.
Apa itu terjadi karena dukanya atas meninggalnya wanita itu ?
Tante Sandara pun gak pernah tuh menyinggung wanita itu,
Iya..iyaaaaa...aku yakin wanita itu sudah meninggal, mungkin wanita itu sama-sama mengalami kecelakaan saat mendaki bersama Edo, mangkanya Edo sangat marah saat aku menyebut tentang dia tadi.
Tapi.....kalau benar wanita itu sudah meninggal, kenapa dia tidak sekalian mati saja dari hati Edo sih ?
Kenapa dia malah masih memiliki sosok Edo sampai sedemikian rupa, hingga membuat aku tidak memiliki ruang sedikitpun. Meskipun Edo tahu aku begitu mencintainya, tetap saja orang mati yang berhasil menjadi pemilik cintanya.
 
Kemala mengeleng tidak berdaya atas hasil analisanya barusan. Sebuah hasil diskusi panjang dengan pikirannya sendiri, dengan sudut pandangnya sendiri. Kesal, hingga berubah marah. Mendadak Kemala membenci wanita di masa lalu Edo, wanita yang tidak di kenalinya apalagi tahu seperti apa wujudnya. Hanya saja yang Kemala percaya, wanita itu telah tiada.
 
Siapapun kamu, syukur deh kamu udah mati. Setidaknya sebelum kamu mati, kamu masih meninggalkan raga Edo buat aku.
 
Kemala bangun melangkah ke meja riasnya, membersihkan riasan wajahnya sambil terus menyusun kata-kata yang bisa mewakili kebenciannya pada seorang wanita yang menurut Kemala masih menjadi pemilik hati lelaki yang di cintainya, Yuedo.
 
 
****************
 
"Tuan ". Kristo dan Bayu spontan berdiri begitu melihat sosok sang tuan sudah turun mendekati anak tangga terakhir menuju lantai satu.
 
"Kris, tolong panggilkan Pakde dan si Bibi ke sini ! Dan Bay, panggil Dani !" Sesaat Kristo memandang ke arah Bayu, perasaan Kristo mengatakan ada yang kurang beres. Kristo bisa membaca raut wajah sang tuan.
 
"Baik tuan ". Jawab Kristo dan Bayu berbarengan sambil memohon izin segera bergerak kedua sisi berbeda. Kristo ke arah dapur, sedang Bayu ke arah pintu masuk.
 
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Bayu berhasil kembali duluan ke sisi sang tuan bersama Dani di sebelahnya. Dan selang beberapa detik kemudian, Kristo pun datang mendekat ke arah sang tuan dengan Pakde dan Bibi yang mengekor di belakangnya.
 
"Pakde dan Bibi duduk dulu !" Perintah Aisakha sambil menunjuk ke sofa dabel di depannya. "Kau juga Kris !" Dan Aisakha menunjuk sebuah sofa singel di sisi kanannya pada Kristo.
 
"Untuk kalian berdua ". Aisakha menunjuk langsung ke wajah Bayu dan Dani, "siapa yang mau jawab ?" Mendengar pertanyaan Aisakha barusan, Bayu dan Dani saling bersitatap. Sepertinya mereka tidak bisa menebak arah pembicaraan sang majikan.
 
"Kau ", Aisakha menatap wajah Dani, spontan Dani tertunduk. Mata biru Aisakha sangat mengerikan. Ada rona takut menjalar di sekujur tubuh Dani. Dani diam menunggu apa yang akan sang tuan katakan pada dirinya.
 
Wajah tuan sangat serius. Setahuku, tuan bisa seperti ini hanya karena dua hal, pekerjaan dan nona. Iya, jelas sekali ini pasti tentang nona..... Kristo.
 
"Saya memberi perintah padamu dengan sangat jelas semalam ". Aisakha masih menatap Dani yang tertunduk diam. "Apa kau ingat setiap kata-kata yang saya ucapkan ?"
 
"Iya tuan ". Jawab Dani cepat, sambil mengangkat wajahnya menatap Aisakha sesaat dan segera menunduk kembali.
 
"Oooo, kau dengar rupanya ? Lantas apa yang kau lakukan tadi ?" Tanya Aisakha tidak senang.
 
Gawat..ini pasti tentang karena aku yang tidak berjaga di pintu luar. Dani.
 
Nah.....ini yang aku khawatirkan. Gimana ya cara jelaskan sama tuan ? Apa tuan mau terima kalau Dani bisa ada di dalam sini atas perintah nona ? Aduh, bingung banget ini. Bayu.
 
"Kau mendadak menjadi pendiam ?" Aisakha masih menatap Dani dengan tatapan tidak senangnya.
 
"Maafkan saya tuan ". Baik Dani atau pun Bayu terlihat sama-sama berat menceritakan versi cerita sebenarnya.
 
"Aku butuh penjelasan bukan permintaan maaf kalian !" Aisakha menghela nafas berat. "Sekarang silahkan tentukan siapa yang mau jelaskan pada saya. Silahkan pilih siapa yang mau bicara !" Kemudian Aisakha memandang Pakde dan Bibi, Aisakha beralih ke pasangan suami isteri ini yang terlihat sama-sama tidak bisa menebak apa gerangan penyebab mereka di panggil oleh Aisakha.
 
"Pakde dan Bibi sudah memikirkan tentang masa depan kalian ?" Tanya Aisakha sambil menatap mata Pakde dan Bibi silih berganti. Tetapi yang di tatap malah saling beradu pandang, sambil mengengam jemari sang suami. Bibi menatap mata sang suami, bermaksud bertanya ada apa ini sebenarnya.
 
"Maaf tuan, boleh di jelaskan apa artinya ?" Tanya Pakde gagal paham maksud pertanyaan Aisakha.
__ADS_1