
Ini Aku (2)
πππππ
γ
Langkah Aisakha terhenti, dia sibuk memperhatikan sekeliling, melihat sekitar kamar operasi. Hanya sepasang pria dan wanita. Si pria duduk memeluk erat si wanita yang terlihat memejamkan mata dengan wajah pucat, hanya itu yang tampak oleh mata Aiskaha.
γ
Mana Nia? Dimana Nia?
γ
Aisakha mencari kearah lain, tidak tampak keberadaan Nia. Dan sekarang, level kekhawatiran Aisakha telah sampai pada angka 10. Lengkap sudah, tangan kanannya mengepal, dirinya siap meruntuhkan dinding Rumah Sakit untuk mencari pelita hatinya.
γ
Kristo cepat tanggap begitu melihat gelagat marah sang tuan. Segera berdiri, mensejajarkan kakinya di samping Aisakha. "Tuan, di sana". Telunjuk kanan Kristo mengarah kesisi lain lorongΒ itu, ke bagian ujung lorong kamar operasi tersebut.
γ
"Nia". Aisakha segera berlari menghampiri Nia.
γ
Pandu memelototkan matanya, bingung melihat seorang lelaki tampan dengan stelan jas mewah berlari ke arah Nia. Sedang Bowo, yang menyadari ada orang lain yang sedang mendekat ke arah Nia malah tersenyum senang.
γ
Syukurlah, Presdir ada di sini sekarang.
γ
"Nia". Aisakha sudah berada di depan Nia yang terduduk diam, membeku dalam kesedihanya.
γ
"Sukurlah tuan sudah sampai". Bibi segera berdiri di bantu oleh Pakde, memberi ruang pada Aisakha untuk mendekati Nia.
__ADS_1
γ
"Nia, sayang". Aisakha memanggil Nia, berusaha melepaskan kedua tangan yang menutup erat teliga Nia.
γ
Nia memberontak, menggelengkan kepalanya, berusaha menolak tangan yang sedang mencoba menurunkan kedua tangannya.
γ
"Nia, ini aku. Bukalah matamu. Aku datang sayang". Bujuk Aisakha sambil meletakkan kepala Nia di dadanya.
γ
Cessssssssss, seketika ada hembusan kehangantan di hati Nia. Menjalar pasti mengantikan rasa sakit, rasa pedih sedikit demi sedikit, yang tadi telah memehuni relung hatinya. Kehangatan yang sangat di suka Nia, sangat di kenal Nia. Tubuhnya mulai rileks, sandaran kepala Nia mulai nyaman di dada Aisakha, Nia membuka matanya, menurunkan pelan tangan yang menutup telinganya.
γ
"Ini aku, ini aku, Aisakha. Aku di sini sekarang. Aku datang". Mata Mereka beradu pandang, Nia sedang mencerna kata-kata Aisakha padanya barusan.
γ
Pelan, masih dengan memeluk tubuh mungil Nia. Aisakha membantu Nia berdiri, Nia pun hanya patuh, tidak ada pemberontakan, tidak ada usaha menolak Aisakha.
γ
γ
Seketika Nia tersadar, dengan sisa tenaganya dia melepaskan pelukan Aisaka, mendorong tubuh tinggi Aisakha menjauh darinya. Entah kenapa, semua yang memandang kejadian itu hanya bisa melotot bingung. Nia yang tadi terlihat tenang dalam pelukan Aisakha, sekarang dalam hitungan detik berubah menolak keberadaan Aisakha.
γ
"Nia..Ya Tuhan". Aisakha merasa tak berdaya, hatinya menangis melihat wanita yang dicintainya begitu hancur. Jelas telihat betapa pucatnya Nia, betapa lelahnya dia, betapa rapuhnya sosok wanita yang telah menjadi pemilik jiwa dan raga Aisakha.
γ
Aisakha melangkah mendekati Nia, memegang tangan Nia dan meletakkan kedua tangan Nia di dadanya. "Sayang". Panggil Aisakha penuh cinta pada Nia.
γ
__ADS_1
Nia menatap wajah sedih Aisakha, menatap dalam dengan segenap hati yang telah berkalung duka selama berjam-jam dari tadi. Dan seketika, entah dari mana sisa kekuatannya berasal, Nia memukul keras dada Aisakha. Sekali, dua kali, tiga kali.
γ
Nia marah, entah pada apa. Nia sangat marah, benarkah? Apakah yang seperti itu realitanya?
γ
Bukan, lebih tepatnya Nia sangat takut, dirinya sangat takut saat ini, dia benar-benar kalaut
Β Nia sempat merasa sendiri, menanggung semua rasa takut ini. Nia tidak siap ditinggalkan oleh Bibi Ros, hingga semua itu di lampiaskannya dengan memukul dada Aisakha.
γ
Aisakha hanya diam, mematung. Membiarkan Nia terus memukul dadanya, sejenak Aisakha dapat merasa sakit di bagian dadanya, tetapi Aisakha mengacuhkan rasa itu. Hatinya lebih sakit lagi saat ini, terlihat jelas oleh Aisakha betapa sedihnya kekasih hatinya itu. Lukisan kepedihan di mata Nia membuat Aisakha merasa tidak berdaya.
γ
"Astaga...non". Bibi berteriak berusaha menyudahi pukulan Nia di dada Aisakha.
γ
Aisakha mengangkat tanganya, memberi tanda agar si Bibi tidak mendekat kearah mereka, membiarkan Nia melampiaskan dukanya.
γ
"Menangislah sayang, ada aku di sini". Ucap Aisakha pada Nia.
γ
Pukulan Nia di dada Aisakha mulai pelan, mulai melemah. Kabut hitam di matanya mulai membentuk gumpalan-gumpalan hangat yang siap dijatuhkan. Tinggal menunggu perintah dan bulir-bulir kepedihan itu akan segera berjatuhan membasahi pipinya.
γ
Pelan, pelan, dan semakin pelan, pukulan Nia di dada Aisakha hanya berupa tepukan saja, tanpa tenaga. Matanya menatap lekat pada mata biru Aisakha. Tubuhnya terguncang, benteng ketegaran Nia mengoyah. Tameng kepura-puraannya runtuh sudah. Air mata Nia menetes, deras di sudut matanya. Wajah pucatnya telah di basahi bulir-bulir hangat yang sudah begitu kuat di tahannya.
γ
Aisakha memeluk Nia, memeluk erat Nia di dalam dekapan hangatnya. Berusaha menyerap sebanyak mungkin duka kekasih yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
γ
γ