SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
145


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Sayur asem, sambal ati goreng, kerupuk udang dan pergedel jagung sudah di tata rapi di atas meja, di ruang kerja Nia. Jam makan siang telah tiba, seorang pengawal dari istana cinta Nia, rumah masa kecilnya datang bersama Pakde membawakan semua menu masakan Bi Kartik sesuai permintaan Nia.


Senyum semeringah Nia terkembang sempurna, sudah 2 kali Nia menelan ludahnya sendiri. Hanya dengan mencium aroma masakan di depan dirinya, Nia sudah bisa membayangkan rasa lezat di dalam mulutnya itu.


“Wihhh, enaknya “. Mata Nia sibuk menelaah satu persatu urutan menu makan siangnya.


“Tapi ini porsinya kok banyak banget ? Bibi aneh deh “. Nia malah heran. “Ini tuh menu makan siang 2 orang, mana bisa aku habisin semuanya “. Nia nampak ragu.


“Bagus aku ajak siapa ya makan siang bareng ?” Nia berpikir sejenak. Mengambil handphonenya dan menatap sesaat.


“Ajak.....”, kalimat Nia terhenti. Ada panggilan masuk di layar handphone yang sedang di pegangnya.


“Mas “, sorak senang Nia, lupa akan tujuan utamannya mau menghubungi seseorang untuk di ajak makan siang bersama.


“Sayang...”, suara senang Nia.


“Lagi apa istriku “. Tanya Aisakha tersenyum pada Nia.


“Baru mau makan siang sayang “.


“Apa menunya ?” Aisakha menyandarkan bahunya ke sandaran kursi.


“Ini “, Nia memamerkan semua masakan yang di buat bibi untuknya. Tapi sayangnya, Nia lupa kalau suaminya tidak bisa melihat. Mereka tidak sedang teleponan dengan menggunakan aplikasi video.


“Istriku, suamimu ini mana bisa lihat. Kan kita Cuma telepon aja, bukan video “. Aisakha berusaha menahan tawanya.


“Astagaaaaaa “. Nia menepuk keningnya. “Lupa sayang, lupaaaaa. Hehehehe “, kekeh Nia salah tingkah.


“Jadi, Bibi masakin kamu menu apa ?” tanya Aisakha ingin tahu.


“Banyak sayang “, suara Nia bangga. “Ada sayur asem, ada sambel goreng ati, ada pergedel jagung dan ada kerupuk udangnya. Enakkkk “.


“Widih, banyak banget tuh ?” seakan Aisakha bisa membayangkan.


“Iya benar sayang, aku juga heran. Kenapa bibi buatnya sebanyak ini ?”


“Trus makannya udah ? Habis ?” Tanya Aisakha kemudian.


“Belum, kan baru mau makan “. Jawab Nia polos.


“Kalau gituh makan gih, biar aku temani dari sini “, suara Aisakha sambil menatap keluar jendela.


“Memang kamu lagi di mana ? Udah makan siang juga ?” Nia mulai menyuap sendok pertama makan siangnya.


“Aku sedang di jalan, mau ke suatu tempat. Ketemu klain, tapi aku sudah makan tadi “.


“Sayang, nanti pulangnya jam berapa ?” Tanya Nia dengan mulut penuhnya.

__ADS_1


“Kamu maunya aku pulang jam berapa ?”


“Boleh sekarang ?” suara Nia antusias.


“Boleh, tapi tunggu pekerjaanku yang sedikit ini selesai ya “. Bujuk Aisakha.


“Janji yaaaaaa “. Rengek Nia sambil menyuap makanannya.


“Iya...istriku sayang “. Suara Aisakha lembut.


“Bilang lagi “, rengek Nia. Membuat Aisakha di seberang sana terheran-heran.


“Apa ?”


“Ulang lagi bilang sayangnya “. Suara Nia masih terdengar merengek.


Tumben, batin Aisakha heran dengan sikap manja sang istri yang belakangan ini terlihat luar biasa.


“Istriku sayang, istri hebatku sayang “. Suara Aisakha di buat semerdu mungkin.


“Makasih “, Nia sangat senang.


“Kami tahu, kalau kamu bilang sayang. Perutku terasa hangat “. Jujur Nia sambil mengusap perutnya.


“Hah ? Gimana ?” Aisakha merasa salah dengar.


“Iya, belakangan ini. Kalau kamu bilang sayang ke aku, perutku terasa hangat “. Ulang Nia dengan lancar.


“Ihhh, yang goda kamu itu siapa ?” wajah kesal. “Aku serius, kok malah di bilang menggoda “. Merajuk.


Waduh, kok suasana hatinya cepat banget berubah ? Batin Aisakha bingung.


“Nia, nggak boleh marah loh sama suami sendiri. Dosa “, bujuk Aiskaha lembut.


“Abisnya suami aku gak percayaan. Aku jujur diartikan lain “, sewot Nia dengan mulut penuh.


“Maaf ya sayang “, sekali lagi Aisakha merayu Nia dengan suara merdunya.


“Boleh “, mulut mengunyah kerupuk. “Nanti beliin aku hadiah ya “.


“Istriku mau apa ? Aku di pakein pita hijau dan di bungkus kado, atau.....”,


“Enggak mauuuuuu “, suara Nia seketika, menghentikan kalimat Aisakha yang mengantung.


“Aku mau miniatur singga putih yang bisa menyemburkan air. Seperti yang di sana itu “. Suara Nia mengiba. “Akukan belum pernah pergi ke sana “.


“Hahahaha...”, tawa Aisakha pecah seketika. “ Hanya itu, enggak mau yang lain ?”


“Mau di peluka kamu, aku mau bobo sambil cium aroma kamu “, rengek Nia sangat manja.


Nah, kumat lagi merengeknya. Nia kenapa ya ? Perubahan suasana hatinya sulit di tebak.

__ADS_1


“Iya, nanti kalau aku udah sampe rumah. Istriku bebas mau ngapain aku, aku pasrah “. Suara Aisakha di buat setidak berdaya mungkin.


“Hahaha, bagus-bagus. Harus patuh sama aku ya “. Nia mengangkat telunjuk kanannya ke depan, dalam pikiran Nia, suaminya itu bisa melihat.


“Iya nyonya Aisakha, hamba akan patuh “. Suara Aisakha lemah, di buat pura-pura lemah.


“Kamu lucu deh sayang “. Nia tertawa sambil mengunyah makanannya.


“Tuan, kita sudah sampai “, Nia mendengar suara Kristo di ujung telepon.


“Sayang, kamu sudah harus berkegiatan lagi ya ?” tanya Nia kemudian.


“Iya, aku sudah sampai “. Aisakha menganggukkan kepalanya. “Gimana makannya, udah selesai ?”


“Udah, udah habis “. Suara Nia terdengar riang.


“Apa habis ? Bukannya tadi bilang terlalu banyak ?” Aisakha nampak tidak percaya.


“Hehehehehe “, cekikik Nia salah tingkah. “Itu, sepertinya aku salah tebak sayang. Ternyata setelah di makan, nggak banyak kok “. Jawab Nia polos.


Empat macam menu di tambah sepiring nasi dan itu di bilang gak banyak ? Istriku benar-benar lucu. Batin Aisakha bingung. Tapi sudahlah, selagi Nia suka, aku juga suka kok.


“Iya gak banyak kok. Kalau istriku mau suruh pengawal jemput lagi ke rumah. Bibi pasti buatkan !” tawar Aisakha yang mulai berjalan. Aisakha telah turun dari mobil mewahnya.


“Udah enggak mau lagi sayang. Aku udah kenyang “. Nia mengelus perutnya. “Tapi nanti sebelum ke salon aku mau makan es krim dulu, boleh ?” tanya Nia lugu.


“Masih mau es krim ?” Sampai di sini Aisakha mulai heran. Belakangan ini Nia suka merequest menu makanan tertentu, tidak hanya itu nafsu makannya juga bertambah. Bahkan, cemilan di jam sebelum makan siang dan sekarang malah es krim. Hati Aisakha mulai bertanya.


“Mau banget ya ?” Aisakha sejujurnya masih terheran-heran.


“Iya sayang, kayaknya enak makan es krim sore-sore “. Nia sangat bersemangat.


“Ya udah, nanti boleh makan es krim. Makan yang banyak juga boleh, biar bibir seksi istriku itu terasa manis saat ku kecup nanti “. Suara Aisakha menggoda Nia.


“Ihhh, kamu apaan sayang, genit banget “. Protes Nia.


“Tuan “. Kristo membuat Aisakha melihat ke arah yang di tunjuknya.


“Sayang, sudah. Nanti kita sambung lagi ya. Cepat pulang ya, aku menunggumu “, Nia merasa Aisakha sudah sampai ke lokasi tempat pertemuannya. Nia pun berinisiatif mematikan telepon.


“Aku kerja dulu ya “. Aisakha mengangguk pada Kristo, mengerti arti arah yang di maksud Kristo. “Tunggu aku ya “.


“Iya sayang, aku cinta padamu. Baik-baik ya dan jaga diri kalau aku enggak ada di sisi kamu “. Pesan Nia sebelum mematikan teleponnya.


Aisakha tertegu, perkataan Nia terakhir tadi meninggalkan rasa lain di dalam hatinya.


“Nia, aku cinta padamu istriku ".


 


 

__ADS_1


__ADS_2