SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
141


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Tanggal 29 di bulan ini, sudah hampir 3 minggu sejak kepulangan Nia dan Aisakha dari acara bulan madu mereka di Pulau Cinta, di Destinasi wisata kepunyaan Kota Gorontalo. Bulan madu yang sangat berkesan bagi Aisakha dan sangat melelahkan bagi Nia. Itulah mereka, pasangan penganti baru yang bawaannya mau bersama-sama saja. Tapi itu kata Aisakha loh ya, sedang bagi Nia bersama dengan suaminya itu sama dengan pengurasan energi yang luar biasa. Aisakha akan menempel selalu padanya, seorang suami yang sangat mengilai tubuh istrinya.


 


Itulah Nia dan Aisakha, selalu tersenyum bahagia untuk pernikahan mereka yang akan memasuki angka 2 bulan. Masih baru, masih sangat awal, bahkan belum seumur jagung. Masih banya cobaan yang akan menguji cinta suci mereka. Tetapi yakinlah, Tuhan di pihak orang-orang baik. Tuhan bersama hambanya yang berhati murni. Dan cobaan pasti berlalu.


 


Malam ini Nia memilih tidur di rumah masa kecilnya, rumah yang Nis sebut sebagai istana cinta. Pagi tadi, Nia baru saja melepas keberangkatan Aisakha untuk tugas ke Singapura. Tugas dadakan untuk masalah yang menurut orang kepercayaan Aisakha di sana, hanya Aisakha yang bisa selesaikan.


 


Pagi tadi tidak seperti biasanya, Aisakha melihat ada yang aneh pada istrinya itu. Ya, walaupun Aisakha sebenarnya sudah menyadari, sudah 3 hari ini Nia bersikap sangat berbeda. Nia sangat manja padanya, tidur harus di peluk dengan kepala Nia harus berada di dadanya. Kata istrinya itu, tidak bisa tidur kalau tidak mencium aroma tubuhnya. Tidak hanya itu, saat berkerja, tiap sebentar minta di teleponi. Minta dirinya bilang sayang pada Nia berkali-kali.


 


Dan pagi ini, Aisakha mendapati Nianya menangis melepas kepergiannya. Padahal Aisakha hanya semalam di Singapura. Malam besok dia sudah kembali dan memeluk Nia lagi. Tetapi, Nia tetap menangis. Aisakha bingung, di ajak tidak mau. Alasan Nia karena laboratorium sedang dalam proyek pertama mereka, Nia tidak bisa meninggalkan tugasnya sebagai kepala laboratorium begitu saja. Ya, walaupun untuk satu malam. Tetap bagi Nia, tanggung jawab adalah tanggung jawab, dan itu mutlak.


 


Jadilah adegan perpisahan tadi berlangsung mengharu biru. Nia menangis dan Aisakha berat melangkah. Hingga akhirnya, Nia membiarkan Aisakha pergi. Satu malam, begitu janji yang di pegang Nia dari suaminya itu.


 


Nia sudah berbaring di ranjang cintanya, di istana cinta miliknya. Pikirannya sedang melayang kemana-mana. Nia kembali merindukan Aisakha, padahal hampir 2 jam suaminya menelepon dengan menggunakan panggilan video. Tetap saja, Nia merasa masih belum cukup. Entahlah, belakangan ini Nia memang kelewatan bergantung pada Aisakha. Seakan Nia kehilangan sisi mandirinya selama ini.


 


“Hampir jam 12 malam, boleh telepon Mas lagi nggak ya ?” Gumam Nia bertanya pada bantal yang di peluknya.


Si bantal diam, Nia juga diam.


 


“Ya...aku tahu bagusnya jangan “. Nia menatap bantal yang di peluknya. “Tapi aku kangen, kamu ngerti gak ?”


 


Kemudian masih seperti tadi, si bantal diam dan Nia juga diam.

__ADS_1


 


“Kalau aku telepon, pasti ganggu tidurnya Mas. Trus besok Mas gak fit, pekerjaannya tidak berjalan maksimal dan Mas jadi terlambat pulang. Begitukan ?” tanya Nia pada bantal. Sedang Nia, sesaat kemudian terlihat tengah berpikir.


 


“Benar juga sih, itu bisa terjadi “. Nia membenarkan argumennya tadi. “Kalau gituh jangam ajah deh “. Nia menggeleng pelan.


 


“Trus, karena aku belum mau tidur, bagusnya aku ngapain ?” Nia menatap langit-langit kamarnya dengan bantal masih dalam pelukkannya.


 


“Eh “, Nia mengangkat bantal ke atas wajahnya. “Aku pengen makan mangga di halaman belakang, pake kecap sam rawit iris “.


 


“Pasti enak “, senyum Nia sambil mengoyang-goyangkan bantal di depan wajahnya itu. “Iya..aku mau mangga “. Sorak Nia senang.


 


“Kamu tunggu sini ya, aku mau panen mangga “. Nia duduk. Merapikan rambutnya dan berjalan keluar.


 


 


Nia berjalan pelan, menuju pintu samping. Jalan pikiran Nia agak aneh malam ini. Sedih di tinggal suami dinas keluar negeri, tidak sampai hati kalau kembali menelepon Aisakha, padahal masih mau melihat wajah suaminya itu, serta mendadak sangat ingin makan buang mangga yang sebenarnya masih tergolong muda di halaman belakang.


 


Nia berhasil sampai di halaman belakang, berdiri memperhatikan pohon mangga yang tidak terlalu besar dan sedang berbuah itu. Nia sedang mematut, buah mangga mana yang akan menjadi korbannya malam ini.


 


“Yang itu sama yang itu “, tunjuk Nia ke arah buah mangga yang ukurannya cukup besar.


 


“Tapi agak tinggi, mana dahannya kecil lagi “. Nia memiringkan bibirnya ke arah kiri. “Aku takut kalau harus manjat “.


 

__ADS_1


“Apa panggil Pakde aja, minta tolong gituh ?” Nia berpikir sejenak.


 


“Emm, jangan deh. Kasihan ganggu tidur Pakde sama Bibi “. Nia menjawab sendiri pertanyaannya barusan.


 


“Atau minta tolong pengawal aja kali ya ?” Nia menemukan ide baru.


 


“Ehh, jangan juga deh. Iya kalau para pengawal itu enggak ember. Kalau ember ? Aku pasti dilaporin ke Mas, makan mangga belum mateng tengah malam. Ihhhhh, nanti malah kena marah “, Nia menggelengkan kepalanya cepat.


 


“Jangan deh. Bagus aku usaha sendiri aja ! Aku lempar aja, mana tahu lemparanku masih sehebat dulu “. Senyum Nia sambil mencari sesuatu untuk di lempar ke arah buah mangga yang sudah di incarnya.


 


Nia beruntung, ada potongan kayu yang lumayan besar teronggok begitu saja di bawah pohon mangga. Dengan semangat Nia mengapai potongan kayu itu dan dengan sekuat tenaga melemparkannya ke udara. Persis ke arah mangga pertama yang di tunjuknya tadi.


 


Bugggggghhhhh. Potongan kayu mengenai atap sebelah. Bunyinya ribut bukan kepalang, Nia panik. Wajahnya membeku.


 


“Siapa ituuuu “, teriak pengawal yang serta merta berlari ke arah dirinya, bukan satu, tapi 10 orang pengawal sudah sampai ke sisi Nia.


 


“Nyonya, anda tidak apa-apa ?” tanya pengawal pertama.


“Kalian amankan nyonya muda. Bawa masuk !”Suara pengawal ke dua pada 4 temannya. “Sisanya, kita cari siapa yang sudah membuat onar itu !”


 


Glekkkkk, Nia menelan ludahnya dengan kepayahan. Dia masih diam, bingung mau menjelaskan apa dan bingung harus melakukan apa. Bahkan untuk melangkah saja, Nia bingung bagaimana caranya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2