SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 9


__ADS_3

Mencoba Menarik Perhatian Nia


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Nia suka ikan bakarnya". Suara Bagas mencoba memulai percakapan dengan Nia. Sedang yang di tanya hanya manggut-manggut saja tanpa bersuara. Sial, susah banget sih cari bahan obrolan pas supaya Nia mau bersuara.Β Rasa kesal Bagas karena Nia menanggapi keberadaannya sangat biasa saja.


γ€€


"Sampe lupa, aku belum bilang selamat ya atas suksesnya presentasi kamu tadi. Hebat sekali Nia, aku yakin hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi masyarakat luas". Lagi-lagi Bagas mencari cara agar Nia mau berbicara dengannya.


γ€€


"Terima kasih pak, semua berkat kerja keras rekan-rekan serta arahan Profesor Yandi. Bukan hasil kerja saya sendiri". Jawab Nia kepada Bagas.


γ€€


"Loh, kok Bapak sih Nia, panggil aku Bagas saja atau Mas Bagas juga boleh. Jangan Bapak dong, beda usia kita nggak terlalu jauh loh Nia". Bagas mulai merayu Nia.


γ€€


Wulan, Bowo, Resya dan Anita mulai merasa gerah setelah mendengar kata-kata Pak Bagas barusan. Mereka mulai berharap sosok Bagas raib di telan bumi secara perlahan.


γ€€


"Nia suka makan ikan bakar ya, wah..besok-besok aku traktir makan ikan bakar ya. Apa Nia sudah pernah mencoba ikan bakar di Pondok Kelapa? Di situ enak loh, mau hari sabtu besok Mas Bagas bawa Nia main ke sana?" Bagas belum kehabisan akal untuk mengajak Nia berbicara.


γ€€


"Terima kasih Pak". Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Nia.


Dalam hati Bagas merasa kesal,Β  di tanya banyak, ditawarkan banyak. Tapi di jawab pas-pasan. Sabar, sabar Bagas, sabar..mau dapat berlian maka harus sabar mengasahnya. Mau dapat Nia, maka harus sabar menghadapi kecuekannya. Bagas menenangkan dirinya sendiri atas perlakuan Nia padanya.


γ€€

__ADS_1


"Loh..kok masih bapak sih. Mas Bagas, panggil aku Mas". Bagas mencoba mengingatkan Nia.


γ€€


Nia hanya tersenyum saja dan tetap fokus pada ikan bakarnya, sama sekali tidak mengalihkan matanya menatap Bagas selama Bagas mengajaknya berbicara.


γ€€


"Coba deh cumi bakar punya Mas ini, enak loh". Tanpa permisi pada Nia, Bagas memindahkan seekor cumi bakar yang ada dipiringnya ke piring Nia. Sampai di sini Nia mulai kesal, menurutnya Bagas benar-benar penganggu kenikmatan makannya saja. Apa lagi di tambah ulahnya memberi cumi bakar ke piringnya barusan, lancang sekali menurut Nia. Nia menyudahi acara makannya, tiba-tiba selera makannya hilang. Setelah mencuci tangan dia langsung memohon izin pergi ke toilet.


γ€€


Bagas merasa Nia tidak menyukai tindakannya barusan. Tetapi Bagas tidak mau ambil pusing, tetap semangat. Kata hati kecilnya.


γ€€


Sementata di dalam toilet, Nia merasa kesal. "Apa coba maunya Pak Bagas itu. Ihh, kok aku jadi ngak suka sama dia, selama ini aku hormat sama dia sebagai salah satu atasanku. Tapi sekarang rasanya males banget deh. Lagian si Prof ngapain juga pake nyuruh dia duduk di dekatku. Sudah datang nggak di undang, merusak suasana pula. Nafsu makanku jadi hilang dibuatnya". Ngerutu kesal Nia di depan cermin wastafel.


γ€€


γ€€


"Kenapa kamu, di tanya diam saja? Kamu itu bukan anak kecil yang belum bisa bicara atau pun orang bisu yang tidak bisa bicara saat di tanya". Profesor merasa heran melihat sikap Nia yang mengacuhkan Bagas. Padahal menurut sudut pandang Profesor, Nia ini sangat cocok bersama Bagas, cantik bersama tampan, cerdas bersama pintar. Pasti nanti akan menghasilkan varietas bibit unggul begitu pendapat Profesor.


γ€€


"Maaf Prof, perut aku tiba-tiba kurang nyaman. Sepertinya aku mau datang deh". Jawab asal Nia.


γ€€


"Apa perlu kita periksa ke dokter Nia, biar Mas antar". Bagas tetap berusaha memberikan perhatian pada Nia.


γ€€


"Enggak usah Pak, ini biasa kok. Rasa yang wajar bagi setiap wanita". Nia heran kenapa juga Bagas punya ide membawanya ke dokter.

__ADS_1


γ€€


"Aduh Nia, Mas..panggil aku Mas. Kok Bapak lagi". Bagas tetap berkeras agar Nia mau manggilnya Mas.


γ€€


" Maaf Pak, eh..Mas, gak semudah itu bagi saya membiasalan diri merubah pangilan ke Bapak, ehhh, Mas. Karena saya sudah sangat terbiasa memanggil Bapak ya Bapak". Jawab Nia malas pada Bagas.


γ€€


"Iya Mas tau, pertama-tama pasti sulit, rada kaku, agak canggung gituh. Mangkanya harus kamu biasakan biar semakin hari semakin lancar". Jelas Bagas pada Nia.


γ€€


Nia hanya mengiyakan saja, demi supaya Bagas tidak berlama-lama bicara denganya.


γ€€


Sok akrab baget..Wulan.


γ€€


Selesai makan, mereka bercerita banyak hal. Segala hal menjadi pokok bahasan mereka, pekerjaan, politik, situasi kriminal sampai masalah pasangan masing-masing. Tetapi khusus Nia tidak menunjukan rasa antusias saat diajak membahas pasangan, lain halnya dengan Bagas. Dia selalu memuji Nia dan secara jujur bilang kalau tipe wanita idamannya yang seperti Nia. Profesor merasa senang dengan penuturan Bagas, di dalam hati Profesor berharap Nia mau membuka hatinya untuk Bagas. Pasangan serasi, begitu katanya. Tetapi lain halnya dengan Wulan, Bowo, Resya dan Anita, mereka tahu Bagas sangat tidak layak untuk sahabat mereka, Nia.


γ€€


Tepat pukul 20.30 Wib, perayaan pun selesai. Meraka bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Bagas menawarkan untuk mengantar Nia pulang, Nia menolaknya secara halus dengan menggunakan alasan kalau dia membawa sopir. Diam-diam, rekan-rekan Nia bersyukur, tadi Nia sempat menolak pergi bersama mobil mereka dan menyuruh Pakde untuk pulang duluan. Kalau tidak, sudah pasti Nia tidak punya argumen kuat untuk menolak tawaran Bagas untuk mengantarkannya pulang.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2