SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
23


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Pakde berusaha berlari sekuat tenaga menyusul Satriyo, sayang tubuh tuanya tidaklah selincah dulu. Meski sudah kecepatan maksimal yang dikerahkannya tetap saja Pakde butuh cukup waktu lama baginya untuk sampai di ruang kerja Nia.


 


"Arrrgghhhh ". Pakde sampai tepat di saat Satriyo berteriak marah. "Jadi dimana kamu sekarang ". Dengan penuh emosi Satriyo bertanya pada Damar. "Tunggu aku kesana !" Satriyo berjalan mendekat kearah Pakde yang sedang berdiri sambil menarik nafas untuk membantu menghilangkan lelahnya.


 


"Ada apa Pak, mana si non ?" Tanya Pakde saat Satriyo sudah sampai di sebelahnya.


 


"Saya masih belum yakin Pakde, tapi sepertinya nona hilang ". Satriyo memandang cemas pada Pakde.


 


"Apa, hilang ? Ya Tuhan. Bagaimana bisa Pak, bagaimana bisa ?" Nafas Pakde kembali naik turun, rasa panik tadi mulai mengerogoti tubuh tuanya kembali.


 


"Saya juga tidak tahu Pakde. Sekarang saya mau ke pantry dulu. Mengecek tempat terakhir nona hilang ". Tanpa menunggu jawaban Pakde, Satriyo langsung berlari cepat menuju pantry.


 


"Non, ada apa ini ? Dimana non ?" Pakde mengusap kasar wajahnya. Bayangan buruk mulai mencoba mengisi kepalanya.


 


"Pantry kan tadi bilangnya ?" Pakde berlari sebisa kaki rentanya kembali mencoba menyusul Sartriyo yang sudah jauh dan hilang di ujung koridor penghubung gedung.


 


***************


 


"Bagaimana saudara pembela ?" Suara yang mulia Hakim membuat pengacara Bagas langsung berdiri.


 


"Yang mulia Bapak Hakim yang saya hormati. Kami minta waktu 10 menit untuk berunding bersama klien kami ". Si pengacara menunjuk ke arah Bagas.


 

__ADS_1


Bapak Hakim menoleh ke sisi kanan dan kirinya ke arah 2 orang lelaki yang duduk persis di sebelahnya sambil berbicara pelan. "Baiklah, sidang kita skors selama 30 menit. Silahkan manfaatkan waktu anda ".


 


Dan yang mulia Hakim beserta 2 orang lelaki yang tadi duduk di sisi kanan dan kirinya berjalan mengikuti langkah sang Hakim keluar ruangan. Sidang di tunda sesaat, para pengacara Bagas sibuk berbicara dengan suara pelan bersama Bagas, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu.


 


"Tolong aku ". Suara Bagas kembali mengiba. "Aku nggak mau masuk penjara ".


 


"Kalian orang-orang hebat, pengacara terkenal. Jadi tolong aku !" Sekali lagi Bagas bermohon dengan wajah mengiba.


 


"Bukti cukup memberatkan anda, saksi malah para aparat hukum langsung. Sejak awal anda sudah melanggar aturan berkendaraan di jalan raya, hingga akhirnya anda mencelakai orang ". Salah seorang pengacara Bagas membuka mulutnya.


 


"Itu, itu karena aku buru-buru ". Ucap Bagas kalut. "Ibu kekasihku sakit, jadi aku lupa semuanya ".


 


"Sayangnya anda melawan saat para aparat keamanan yang sedang melakukan patroli pengawalan hendak membawa anda ke kantor untuk di tanyai. Anda memaki mereka dan menantang mereka dengan sombongnya " seorang lelaki yang mungkin sudah memasuki usia 50 tahunan tidak mau kalah menyuarakan kekecewaannya pada Bagas.


 


 


"Kami akan tetap mencari cara, yang jelas kita tidak menerima semua ini dulu. Kita minta waktu mempertimbangkan sambil cari solusi baru ". Bagas hanya bisa tertunduk lemas tanpa daya tanpa perlawanan. Seakan tenaganya telah hilang habis terkuras.


 


***************


 


Damar telah memeriksa seluruh penjuru toilet, tidak ada hal-hal mencurigakan. Semua bersih dan aman, tanpa meninggalkan jejak Nia di dalamnya.


 


Damar berjalan bolak balik menunggu kedatangan Satriyo, antara penyesalan dan ketakutan telah campur aduk dalam benaknya. Bagaimana bisa sosok wanita yang akan segera menjadi nyonya mudanya raib tak bersisa dalam pengawalannya. Damar mengepalkan tinjunya, rasanya dia ingin menghantam sesuatu untuk menyalurkan kekacauan pikirannya saat ini .


 


"Sudah periksa semua ". Satriyo menyentuh bahu Damar.

__ADS_1


 


"Sudah, nihil ". Jawab Damar lunglai.


 


"Apa yang terjadi tadi ". Satriyo mencoba merunut permasalahan dari awal.


 


"Nona selesai teleponan sama tuan, wajahnya sangat bahagia. Beliau pun bersemangat untuk berangkat, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Nona membaca isinya dan seketika wajahnya berubah. Entahlah aku tidak mengerti, ada keraguan dan mungkin ketakutan dari pandang nona ". Sejenak Damar menarik nafas.


 


"Kamu tanya kenapa ?" Satriyo tidak memberi jedah pada Damar berhenti untuk bernafas.


 


"Iya ". Anguk Damar cepat. "Tapi nona bilang tidak apa-apa. Dan beliau mengajakku pergi, tapi baru beberapa langkah berjalan nona bilang harus ke toilet dulu. Nona terlihat memang harus segers ke toilet, sayangnya toilet di ruang kerja nona rusak. Jadi nona bergegas ke sini dan itu adalah kali terakhir aku melihat nona ".


 


"Jadi si non benar hilang ". Satriyo dan Damar melonggo, entah sejak kapan Pakde sudah berdiri di belakang mereka.


 


"Telepon, sudah telepon si non ?" Tanya Pakde semangat.


 


Belum sampai hitungan detik berlalu semangat Pakde langsung lenyap melihat Damar mengeluarkan handphone Nia dari saku celananya.


 


"Ya Tuhan ". Mata Pakde melotot besar.


 


"Cepat, cari non !" Tanpa takut Pakde membentak marah kedua pengawal Nia. Sepertinya Pakde benar-benar kalut sekarang.


 


"Kau tanya semua orang di sekitar sini. Semuanya, ingat !"  Satriyo segera memberi perintah pada Damar. "Aku akan mememui Kepala Keamanan dan memeriksa cctv. Ada info apapun, cepat kabari aku !" Damar menganguk paham.


 


"Pakde, ikut saya !" Satriyo bergegas berjalan hingga membuat Pakde kembali tertinggal jauh di belakang.

__ADS_1


 


Tuhan lindungi si non, tolong Tuhan lindungilah si non dimanapun berada. 


__ADS_2