
Perkenalan
πππππ
γ
"Udah ya, jangan lagi. Perutku sakit ketawa terus". Nia terlihat benar-benar menyerah dengan keusilan Aisakha yang begitu puas mengelitiki dirinya.
γ
"Beneran udah kapok?"
γ
"He-eh, nggak lagi-lagi". Nia melambaikan tangan sebagai bukti dia telah menyerah.
γ
"Mas, lihat Bibi yuk?" Nia mengajak Aisakha.
γ
"Bentar, keringatnya di lap dulu". Aisakha mengeluarkan saputangan biru dari saku celananya dan terlihat sibuk mengelap dahi Nia.
γ
Nia diam memandangi Aisakha, gerakan tangannya sangat telaten. Mengusap lembut dahi Nia, menyeka keringat yang sempat terbentuk di sana. Bahkan Aisakha masih sempat merapikan rambut hitam Nia kembali kebelakang telinganya.
γ
"Selesai". Aisakha pun membantu Nia turun dari tempat tidurnya.
γ
Dengan tangan yang saling bergandengan, Aisakha membukakan pintu kamar periksa untuk Nia. Terlihat dirinya berjalan duluan selangkah di depan Nia.
γ
Kreeek. Pintu terbuka.
"Tuan". Kristo langsung menunduk hormat.
γ
Aisakha keluar bergandengan bersama Nia.
γ
"Tuan, nona". Tim dokter menyapa hormat.Β Akhirnya keluar juga, hahahahahaaaa.
γ
Wah, rame sekali. Apakah mereka sudah ada di sini sedari tadi? Jangan-jangan mereka semua mendengar aku tertawa dingelitikan sama Mas tadi? Nia merasa pipinya memanas,Β astaga......memalukan sekali.
γ
"Dokter-dokter semua dan para perawat, terima kasih sudah bekerja keras untuk bibi saya". Ucap Nia hormat.
γ
"Sama-sama nona, nona tidak perlu sungkan. Itu sudah menjadi tugas kami". Jawab salah satu dokter yang Nia lupa siapa namanya.
γ
"Maaf nona, apa anda sudah baikan. Sudah tidak pusing lagi?" Dokter Yoga terlihat memperhatikan wajah Nia, seperti tengah menilai sesuatu.
γ
Ga-gawat, aku merasa sangat malu. "Saya baik-baik saja dok, saya sudah sehat. Pusingnya pun sudah hilang. Terima kasih ya dok". Nia mencoba menyembunyikan rasa malunya.Β Semoga mereka tidak menertawakan ulah kekanan-kanakan kami tadi.
γ
"Oooo, sukurlah kalau begitu".Β Ucap dokter Yoga sambil mengangguk-anggukan kepala pelan.Β Ah, yang sedang jatuh cinta.
γ
"Apakah nona Syania malu, telah tertangkap kering tertawa lepas di dalam tadi?" Aisakha berbisik pelan di telinga Nia.
γ
"Mas, berhenti mengodaku". Jawab Nia juga dengan berbisik.
γ
γ
"Kita ke kamar rawatan bibinya nona, tuan?" Kristo mengajak Aisakha.
γ
"Ya". Jawab Aisakha singkat dan mulai berjalan mengikuti tim dokter Bibi Ros, bersama Nia yang terlihat nyaman di sampingnya dan Kristo yang berjalan persisi di belakang mereka.
γ
Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai tiga. Nia sibuk melihat sekeliling, mencoba mengenali lorong yang tepat berada di sisi kana dan kiri lift.
γ
__ADS_1
"Mas, bibi di rawat bukan di kamar kemaren ya?" Nia merasa asing dengan sekelilingnya.
γ
"Tidak, sekarang bibi di sini". Jawab Aisakha sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Nia yang ada di genggamannya.
γ
"Kenapa Mas, kok pindah lagi?" Tanya Nia heran.
γ
"Maaf nona". Dokter yang tadi terlihat menyapa Aisakha di bawah tadi, tengajh mencoba mengajak Nia berbicara. Sepertinya dokter ini berniat menjawab pertanyaan Nia. "Kamar rawatan yang kemaren, atas perintah tuan sengaja kami buat. Tujuannya agar bibi nona bisa mendapat rawatan yang paling maksimal. Berhubung kondisi beliau kemaren memang sangat tidak baik. Tetapi untuk hari ini, karena sifatnya tinggal pemulihan saja, jadi ruang rawatanya juga harus yang senyaman mungkin". Dokter menatap Nia.
γ
"Jadi, tuan Aisakha memerintahkan kami agar membuatkan kamar rawatan yang nyaman dan bisa menunjang suasana hati pasien agar cepat pulih. Tentunya juga harus nyaman bagi keluarga pasien yang menemani". Ucap dokter bersemangat.
γ
Hah, buatkan? Mas meminta orang-orang ini membuatkan kamar kusus untuk bibi ya?
γ
"Kenapa?" Aisakha melihat Nia terdiam.
γ
"Oh". Nia sedikit terperanjat, lamunannya menghilang. "Mas". Nia menahan Aisakha agar berhenti berjalan. Akibatnya, semua orang di sekeliling Nia dan Aisakha pun menjadi berhenti.
γ
Ada apa ya. Kristo
γ
"Terima kasih". Ucap Nia tulus penuh syukur. "Terima kasih untuk kebaikan Mas pada bibi. Jujur, ini semua di luar ekspektasi aku". Nia membuat sebuah pengakuan.
γ
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai menantu bibi. Tentu aku akan memberikan segala yang aku bisa demi orang tua calon isteriku ini". Aisakha tersenyum cerah pada Nia.
γ
Nia membalas senyuman Aisakha, bagai matahari sore yang siap memberi warna jingga di langit biru, Nia benar-benar bersyukur untuk semua rasa hangat yang menjalar di relung kalbunya hanya dengan satu senyuman yang berasal dari lelaki pujaannya itu.
γ
Emm, kalau dari luar sih biasa aja. Sama seperti pintu kamar rawatan pada umumnya di sebuah Rumah Sakit. Nia sedang memberi penilaian pada pintu kamar tempat bibinya tengah di rawat.
γ
γ
Wow..mewah banget, ini kamar hotel atau kamar rawat di Rumah Sakit ya? Kok rasanya lebih bagus dari kamar hotel yang sering ku lihat iklannya di tipi-tipi. Nia sedang tertegu memperhatikan kemewahan kamar tempat bibi Ros di rawat.
γ
"Niaaa". Sontak paman langsung berdiri dari sisi ranjang bibi begitu tahu siapa yang telah masuk ke dalam.
γ
"Paman". Nia tersenyum pada paman.
γ
"Kamu sudah sehat nak, kenapa kesini? Harusnya kamu itu istirahat dulu". Terlihat begitu banyak yang ingin paman sampaikan.
γ
Nia memandang wajah paman, ada aura lelah di sana. Wajah tua itu terlihat perlu beristirahat, sepertinya wajah tua paman masih menyimpan sebuah kekhawatiran.Β Kesehatan bibi sudah lebih baik, kenapa paman masih terlihat mencemaskan sesuatu?
γ
"Paman, aku sudah sehat. Aku baik-baik saja. Lihat!" Nia sengaja berputar di depan sang paman. "Paman berhenti mencemaskan aku ya. Aku baik-baik saja kok. Sungguh". Sebagai penutup penjelasannya tidak lupa Nia memberikan sebuah senyuman tulus sambil menepuk pelan bahu paman.
γ
Paman memegang tangan Nia yang menepuk bahunya tadi. "Sukurlah Nia. Sukurlah. Maafkan paman atas kejadian semalam". Paman memandangi Nia dan Aisakha bergantian, terlihat penyesalan di mata tuanya.
γ
"Paman, sudah. Jangan bicarakan itu lagi". Nia merasa tidak sampai hati saat ini melihat paman yang tampak merasa sangat bersalah. "Aku tau paman sayang padaku, paman berusaha menjaga aku sebaik mungkin. Jadi paman tidak salah. Paman adalah sosok ayah penganti yang sangat sayang padaku. Justru aku yang seharusnya minta maaf pada paman, sudah membuat susah paman selama ini".
γ
"Niaaaaaa". Paman merasa terharu mendengar penuturan Nia.
γ
"Anak muda". Panggil paman ke Aisakha. "Aku akan selalu memegang janjimu untuk mencintai dan menjaga baik-baik Nia!" Ucap paman dengan mata berkaca-kaca.
γ
Aisakha menggulurkan tangan kepada paman sebagai wujud keseriusannya pada janjinya, paman menerima uluran tangan tersebut dan menarik Aisakha. Mereka berpelukan, terlihat paman beberapa kali menepuk pelan punggung Aisakha. "Terima kasih nak, terima kasih". Ucap paman sebelum melepas pelukkannya dari Aisakha.
γ
__ADS_1
Tanpa di minta, entah bagaimana prosesnya. Air mata Nia jatuh menetes di sudut matanya, dirinya sangat bahagia. Sungguh, Nia masih merasa semua bagai mimpi. Dalam semalam kehidupannya bisa berbalik-balik bagai rolekoster kesana kemari. Duka datang, suka hadir, sedih mendera, bahagia pun menyempurnakan semuanya. Rasanya memang seperti mimpi, pahit dan manis. Semalam paman sangat meragukan Aisakha, bahkan tidak segan untuk memandang sinis pada lelaki yang telah menjadi pemilik hatinya itu. Paman dengan santainya sengaja memanipulasi pikiran Nia agar percaya pada kata-kata paman bahwa dirinya tidak pantas bersama Aisakha.
γ
Tetapi lihatlah, apa yang Tuhan rangkai untuk dirinya pagi ini. Lihatlah apa yang Tuhan siapkan bagi dirinya saat ini. Cara paman merangkul Aisakha, ucapan paman pada Aisakha, Nia bisa melihat dan mendengar semua itu. Benar kata Aisakha, paman telah memberi restu kepada mereka.
γ
"Apakah hanya kamu saja suamiku yang mendapat pelukan hangat menantu kita?" Suara lemah bibi membuat Nia cepat menghapus butiran hangat di sudut matanya.
γ
"Bibiiiiii.....". Nia segera berjalan ke arah ranjang bibi, memeluk wanita tua yang masih sangat lemah itu. Memegang tangan kanan bibi dan mencium punggung tangannya berkali-kali.
γ
"Anak nakal, kenapa mencium tangan bibi terus. Sini lihat bibi". Ucap bibi sambil tersenyum.
γ
"Bi". Nia menatap mata hitam bibi, jelas bibi masih terlihat sakit. Meski berbagai alat-alat cangih yang Nia tidak tahu nama dan kegunaannya sudah tidak ada lagi di sekitar bibi, tetapi Nia bisa melihat. Mata bibi bersinar cerah.
γ
"Apa yang sakit bi?" Tanya Nia penuh kasih.
γ
"Hahaha". Bibi berusaha tertawa meski yang terdengar hanya sebentuk suara kecil. "Kamu benar-benar memaksa bibi menepati janji".
γ
"Maksud bibi?" Nia mencoba mengartikan kalimat bibi barusan.
γ
"Kamu itu, berteriak keras sekali memaksa bibi berjanji agar tidak menemui Ibu dan nenekmu. Kamu bilang bibi harus melihatmu berumah tangga dan bahagia bersama suami dan anakmu". Jawab bibi sambil tersenyum.
γ
"Apa kamu tau, suara teriakanmu itu terlalu keras". Bibi masih tersenyum.
γ
Maksud bibi apa? Aku kapan coba berteriak seperti itu ya? Apa bibi berhalusinasi? Nia sedang berpikir.
γ
"Anak nakal, jangan bilang kamu lupa?" Bibi seakan tahu Nia tengah berpikir.
γ
"Waktu kita duduk di taman, di bangku pada sisi kiri jalan raya. Apa kamu ingat?" Tanya bibi serius.
γ
"Hah?" Nia terlihat tidak percaya.
Β bagaimana mungkin aku lupa. Aku sangat ingat isi setiap detik dan menit yang terjadi saat itu, karena itu adalah mimpi burukku. Mimpi buruk yang membuat aku terbangun dan ketakutan. Bagaimana mungkin?
γ
"Sekarang mana lelaki yang membuat bibi harus berjuang melawan maut demi bisa menjumpainya itu".
γ
"Oh". Nia membalik badan menatap Aisakha. Aisakha pun mengerti, dirinya berjalan dengan penuh wibawa dan sangat berkharisma ke arah bibi.
γ
"Bibi". Sapa Aisakha hormah. "Perkenalkan, saya Aisakha Elang Britana. Sayalah lelaki yang bibi maksud. Saya sangat mencintai keponakan bibi yang cantik ini. Mohon kepada bibi untuk merestui kami". Ucap Aisakha tegas tanpa jeda tanp gentar.
γ
"Maafkan suami bibi yang keras padamu semalam. Kami semua sayang pada anak cantik ini". Bibi menatap Nia sesaat. "Janganlah kamu masukkan kehati". Bibi tersenyum tulus.
γ
Loh, bibi kok bisa tau kejadian paman dan aku semalam. Aisakha.
γ
"Bibi merestui kalian. Tapi kamu, Aiskaha, harus bersabar sebentar ya nak. Tolong tunggu bibi sehat dulu, baru setelah itu datanglah melamar Nia". Bibi melepaskan tanganya dari Nia dan berganti mengulurkan tangan rapuhnya pada Aisakha.
γ
Cepat Aisakha menerima uluran tangan bibi, mencium punggung tangannya. "Bibi jangan risau, aku akan sabar menunggu. Karena bibi pasti tau, aku sangat mencintai Nia. Aku akan sabar menunggu bi". Jawab Aisakha cepat.
γ
"Kamu memang anak baik. Bibi meresrui kalian. Berbahagialah nak, berbahagialah". Doa bibi sepenuh jiwa.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ