SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 84


__ADS_3

Mobil Patroli Pengawal


🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Sudah beres, kalian silahkan lanjutkan pengawalan". Ucap petugas yang tengah mengamankan situasi di TKP kecelakaan kepada salah satu petugas patroli pengawal yang telah di sewa Aisakha


 


Sigap, si petugas patroli memberi arahan kepada rekan yang masih menunggu di dalam mobil. "Hidupkan kembali mobil, kita sudah diizinkan lewat ! Aku akan memberitahu rombongan tuan Aisakha".


 


Setengah berlari, si petugas patroli langsung mengabari pengawal pribadi Aisakha yang masih berjaga di depan mobil sang tuan.


 


"Kita sudah mendapat izin Pak, mari kita lanjutkan perjalanan". Sang petugas patroli memberi arahan pada pengawal Aisakha.


 


"Oo, sudah bisa lanjut ya? Sukurlah. Baik saya akan memberitahukan tuan Aisakha. Silahkan Bapak standby di depan". Cepat si pengawal memberi petunjuk kepada sopir di mobil Aisakha dan mobil di belakang Aisakha. Dan setelah itu, mereka pun melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit.


 


 


**********


 


Bagas merasa kesal, suara ribut sirine mobil patroli pengawal benar-benar memekakkan telinganya. Beberapa kali Bagas mendapat kode agar menepi dan memberi jalan pada rombongan mobil yang di kawal oleh petugas. Tanpa rasa bersalah, Bagas tetap memaksa tancap gas, semakin di minta menepi semakin dia menjadi-jadi.


 


Lampu merah di simpang tiga, sesuai peraturan maka laju kendaraan akan berhenti sejenak. Tetapi itu tidak berlaku untuk Bagas, bukan melambatkan mobilnya untuk mencari posisi berhenti di lampu merah. Dia malah menekan gas sedalam mungkin, dengan kenekatan yang tidak layak di tiru. Bagas sangat percaya diri meneroboh lampu merah.


 


"Peduli setan, aku tidak mau berhenti". Teriak Bagas saat nekat menerobos lampu merah.


 


Bagas menekan gas dalam, sambil menghindar dari mobil lain yang memang seharusnya berada di lajur jalan. Mobil tersebut sempat oleng kekanan, tergelincir di tepi trotoar. Bukan berhenti dan memastikan keadaan pengemudi mobil lain tersebut baik-baik saja, Bagas malah sengaja mempercepat jalan mobilnya.


 


"Salah sendiri, aku sedang buru-buru". Ucap Bagas sangat tidak perduli dengan ulahnya barusan.


 


"GAWAT". Teriak para petugas di mobil patroli pengawal Aisakha. "Sudah tidak mau menepi padahal sudah kita beri tanda, membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi, menerobos lampu merah dan parahnya membahayakan nyawa pengendara lain".


 

__ADS_1


"Apa kau catat plat kendaraannya?". Tanya salah satu petugas kepada temannya.


 


"Iya aku catat".


 


"Laporkan ke kantor agar segera di tindak. Pengemudi itu sangat berbahaya".


 


**********


 


Seorang petugas medis keluar dari kamar operasi dengan sangat tergesa-gesa. Spontan Nia, Bowo, Pakde dan Bi Kartik berdiri, sedang Pandu memperhatikan dengan seksama sambil terus memeluk Alika yang masih tertidur di dalam dekapan sang suami tercinta, mereka semua berpikir bahwa operasi sang Bibi telah selesai.


 


Petugas medis melewati mereka, tanpa menoleh, berjalan sangat cepat. Nia menatap Bowo, tetapi tidak mendapatkan jawaban apa-apa.


 


Selang beberapa saat kemudian, petugas medis tadi kembali lewat di hadapan Nia dan yang lain, tetap dengan langkah cepat, tetapi sekarang bersama seorang petugas medis lainnya. Entahlah siapa dia, dokterkah atau perawat? Tidak ada yang tahu.


 


Penasaran dan dihinggapi rasa takut yang teramat sangat, Nia nekat memberhentikan petugas medis yang pertama. "Ada apa ini?" Tanya Nia.


 


 


Refleks Nia pun mengikuti langkah sang petugas medis, mengekor di belakang punggung orang tersebut. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tetapi dia merasa harus ada di ruang operasi, harus bersama sang Bibi, itu yang diyakininya. Sayang begitu petugas medis telah sampai di dalam ruangan, pintu terkunci kembali dari dalam. Meninggalkan Nia di depan pintu, diam, bingung karena tidak diizinkan masuk.


 


"Non, sudah". Ucap Bi Kartik sambil memegang bahu Nia.


 


Nia menepis tangan Bibi, berjalan menjauh dari pintu menuju ujung lorong kamar operasi. Nia menjauh dari semua, berdiri membelakangi semua tanpa suara, hanya menatap kosong.


 


 


**********


 


"Kita tidak bisa mendahului rombongan di depan". Profesor merasa gagal mencari celah untuk mengejar Bagas.


 

__ADS_1


"Lantas, bagaimana ini?" Tanya Wulan pada profesor.


 


"Saya tidak tahu, yang bisa kita lakukan hanya mengikuti rombongan di depan. Tanpa bisa memotong mereka". Jawab Profesor putus asa.


 


"Dan Bagas?" Anita pun berusaha mencari keberadaan mobil Bagas.


 


"Sudah jauh mungkin, aku gak lihat lagi". Jawab Wulan yang merasa kecewa.


 


 


**********


 


"Bersabarlah tuan, sebentar lagi kita sampai". Kristo masih terus menghibur Aisakha yang sekarang sudah mencapai level sangat marah.


 


"Kenapa tidak di bawa ke Rumah Sakitku saja?" Tanya Aisakha dengan suara marahnya kepada Kristo.


 


"Karena Rumah Sakit ini yang paling dekat dengan rumah Nyonya Ros tuan, kalau di bawa ke Rumah Sakit tuan pasti akan lebih membahayakan keadaan Nyonya Ros pada saat itu". Jelas Kristo dengan penuh kesabaran.


 


Kesal, marah, sangat marah dan setelah itu? Tuan akan mengamuk. Harus tenang menghadapi tuan.


 


"Lama sekali. Suruh mereka lebih cepat lagi!" Terdengar perintah Aisakha pada Kristo yang tetap dengan suara marahnya.


 


"Mereka sudah di kecepatan maksimal patroli pengawal tuan". Kristo masih mencoba menjawab dengan suara tenangnya


 


"Kau menjawab saja. Sudah bosan bekerja dengan saya, ha?" Dan akhirnya Kristolah yang menjadi tumbal amarah Aisakha.


 


Sabar, sabar, jangan di dengar. Acuhkan saja, namanya juga lagi panik. Bersabarlah tuan, sebentar lagi kita sampai.


 


 

__ADS_1


__ADS_2