
Nasib pria itu tengah berada di ujung tanduk saat ini. Tidak
ada seorang pun yang bisa menolongnya lagi saat ini. Bahkan ia tdak mampu untuk
menyelamatkan dirinya sendiri lagi. Jika sampai Wilsom berhasil menangkapnya,
maka bisa dipastikan jika pria itu tidak akan membiarkan Chanwo lepas dalam
keadaan hidup-hidup.
“Kenapa ia harus bersikap ingin tahu tentangku,” batin
Chanwo di dalam hatinya.
“Tidak bisakah ia duduk sja dan tetap tenang seperti tadi,”
lanjutnya.
Wilson benar-benar menyebalkan di mata pria itu sekarang.
Tidak biasakah ia tetap bersikap biasa saja. Memangnya apa yang salah jika
salah satu anggota klan ada di sini. Jika tidak boleh keluar dari hutan adalah
suatu larangan, lantas pria Wilson sudah lebih dulu melanggarnya sebelum Chanwo.
Baru beberapa langkah pria itu berjalan dari tempat
duduknya. Bahkan dua meter saja belum ada. Langkahnya harus terhenti karena
satu dan lain hal. Secara tiba-tiba seekor burung merpati putih menerobis masuk
ke dalam ruangan itu melalui cerobong asap. Kebetulan kayu bakarnya sedang
tidak dinyalakan, karena suhu udara tidak terlalu dingin. Mereka harus bersikap
bijak dalam penggunaan setiap barang di sini. Terutama bagi beberapa barang
yang stoknya memang terbatas dan tidak banyak.
Burung merpati tersebut berhasil mencuri atensi semua orang.
Kini seluruh mata yang berada di dalam ruangan itu hanya tertuju kepadanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae memutuskan untuk ikut beranjak dari tempat
duduknya dan menghampiri merpati tersebut. Sepertinya ia sudh jinak, karena
tidak berusaha untuk melarikan diri sama sekali begitu Eun Ji Hae mendekat.
Eun Ji Hae membawa merpati tersebut ikut ke meja makan
bersamanya. Sepetinya bukan hanya Eun Ji Hae saja satu-satunya orang yang
merasa penasaran di sini. Tapi begitu pula dengan yang lainnya. Semua orang
terlihat merasakan hal yang sama.
“Ada sebuah surat,” ujar Eun Ji Hae sembaru mengambil
sepucuk surat yang terselip di kaki merpati itu.
Jika dilihat dari bentuk suratnya, kelihatannya isinya tidak
terlalu panjang. Potongan kertasnya saja hanya berukuran kurang dari sepuluh
centi meter. Kertas usang tersebut digulung dengan rapih, kemudian diikatkan
pada kaki sang merpati.
Burung merpati ini bisa selamat sampai ke tujuannya tanpa
ada luka atau cacat sedikit pun. Padahal salju sedang turun sekarang, walau pun
tidak terlau lebat juga sebenarnya. Dari beberapa fakta yang mereka lihat
secara langsung, bisa dipastikan jika salju abadi tidak akan memiliki pengaruh
apa pun terhadap para hewan dan tumbuhan. Buktinya, tubuh mereka tidak membeku
saat bersentuhan secara langsung dengan butiran salju abadi. Berbeda dengan
manusia yang akan langsung terlihat efeknya. Mungkin mahluk hidup lain juga
akan mendapatkan reaksi yang sama. Hanya saja reaksinya jauh lebih cepat
terjadi pada manusia. Mungkin karena beberapa faktor tertentu.
Tidak bisa dipungkiri jika Wilson juga merassa penasaran
dengan apa yang dibawa oleh burung merpati itu. Hal tersebut berhasil
mengalihkan perhatiannya. Akhirnya Chanwo bisa merasa jauh lebih lega. Setidaknya
ia bisa memanfaatkan situasi ini untuk memutar otak dan segera mendapatkan
solusinya. Kali ini Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya.
“Untung saja ia tidak jadi datang kemari,” batinnya di dalam
hati.
Kini perhatian semua orang benar-benar sudah teralihkan
kepada sang merpati. Entah dari mana asalnya dan kenapa bisa datang tepat waktu
seperti ini. Sungguh sebuah kebetulanyang tidak bisa dipercaya oleh akal sehat
manusia.
“Ada apa yang terjadi di depan sana?” tanya Chanwo kepada
teman di sebelahnya.
“Aku juga tidak tahu,” katanya.
“Sepertinya kita kedatangan sebuah berita baru. Tapi entah
dari mana asalnya,” ungkap salah seorang yang tengah duduk tepat di depan
mereka saat ini.
Semua orang sibuk memperhatikan kea rah merpati tersebut.
Saat ini suratnya sudah berada di tangan Wilson. Dia adalah orang pertama yang
membacanya. Kemudian dilanjutkan oleh anggota keluarga lainnya. Mereka lalu
sepakat untuk mengumumkan isi suratnya kepada semua orang yang berada di sini,
agar mereka juga tahu apa isinya. Lagi pula mereka semua sudah tampak tak
sabar. Rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi.
Surat ini merupakan surat pemberitahuan dari Sekolah Reodal
yang mendengar kabar jika ada salju abadi yang turun di Sekolah Mooneta. Bahkan
saat ini ketebalan saljunya sudah hampir mengubur setiap akses keluar masuk di
lantai bawah. Menjadikan lantai dasar yang berada di setiap bangunan menjadi tempat
yang memiliki suhu paling dingin di antara ruangan lainnya. Hawa dingin
menerobos masuk dari setiap permukaan tembok.
Berita soal salju abadi yang turun dan menutupi seluruh
__ADS_1
permukaan tempat ini telah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Bahkan sampai ke
belahan dunia lainnya juga. Entah siapa yang memberitahunya sehingga beritanya
menyebar dengan sangat cepat. Padahal sama
sekali tidak ada yang diperbolehkan untuk keluar dari kawasan sekolah. Terutama
pada saat seperti ini.
“Bacakan saja suratnya kepada mereka semua, agar semua orang
tahu!”perintah Wilson.
“Baiklah,” balas Eun Ji Haae.
Pria itu mengurungkan niatnya untuk mencari keberadaan
anggota klan tersebut. Dia malah kembali ke tempat duduknya. Kali ini ia
bersikap jauh lebih tenang dari pada sebelumnya.
Kini giliran Eun Ji Hae yang akan mengambil alih tempat ini.
Surat tersebut sudah berada di tangannya dan ia akan bersiap untuk membacakan
isinya dengan segera. Hal tersebut membuat mereka menjadi semakin tak sabar
untuk mengetahui apa isinya.
“Baiklah. Perhatian semuanya!” seru Eun Ji Hae.
Tanpa gadis itu meminta perhatian pun, sejak tadi perhatian
semua orang memang sudah terfokus kepadanya saja.
“Aku akan membacakan isi suratnya kepada kalian semua. Jadi
harap disimak dengan baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya lagi,”
jelas Eun Ji Hae di awal.
Sebelum membaca surat tersebut, Eun Ji Hae terlihat menghela
napasnya dengan kasar.
“Kami dari Sekolah Reodal, pertama-tama ingin mengucapkan
rasa bela sungkawa kami terhadap bencana alam yang telah menimpah Sekolah
Mooneta. Sehubungan dengan hal ini, kami ingin menawarkan bagi pihak Sekolah
Mooneta untuk bergabung dengan sekolah kami. Sekian dan terima kasih!” jelas
Eun Ji Hae dengan panjang lebar.
Kini rasa penasaran yang menghantui mereka semua telah
terjawab sudah. Tidak ada lagi pertanyaan yang menghantui mereka.
“Jadi, seperti yang kalian tahu jika Sekolah Reodal meminta
kita untuk bergabung dengan mereka. Sebelum kita membuat keputusan soal ini,
ada baiknya jika kita mempertimbangkan setiap hal baik dan buruknya,” timpal
Wilson selang beberapa detik kemudian.
Semua orang setuju dengan pendapat pria ini. Mereka harus
membicarakan hal ini terlebih dahulu. Karena sepertinya tidak semua orang akan
merasa setuju dengan tawaran yang diberikan oleh mereka.
Menurut beberapa orang, tawaran yang mereka berikan ini agak
merugikan mereka. Ini adalah sauatu tipu muslihat yang berkedok bantuan.
Mereka semua sepakat untuk mengadakan rapat kembali.
Akhir-akhir ini memang terlalu banyak hal yang perlu dibicarakan untuk
mendapatkan solusi dari setiap permasalahan yang ada. Tidak bisa dipungkiri
jika setiap harinya selalu ada saja masalah baru yang muncul tanpa diketahui
sebab dan akibatnya. Masalah terus datang bertubi-tubi kepada mereka. Padahal
masalah yang sebelumnya saja belum selesai sama sekali. Semesta seolah tidak
memberika jeda sedikit pun bagi mereka untuk mengambil napas panjang-panjang.
Untuk rapat kali ini tidak semua orang akan dilibatkan.
Hanya orng-orang tertentu saja. Kurang lebih kali ini akan sama persis seperti
rapat pertama. Ini demi keefektifan rapat juga dan diharapkan jika hasilnya
nanti akan sesuai dengan ekspektasi mereka.
Setelah selesai sarapan, semua orang mulai membubarkan diri
dari ruangan tersebut. Kebanyakan dari mereka memiliki untu kembali ke kamar
asramanya masing-masing dan berberes. Sementata itu, beberapa orang yang
diminta untuk mengikuti rapat akan langsung pergi ke aula. Termasuk Nhea dan
Oliver. Begitu pula Jongdae yang memang selalu mengikuti rapat sebelumnya.
Hanya ada satu orang yang tidak ikut rapat di antara mereka berempat. Yaitu
Jang Eunbi.
Peserta rapat kali ini bisa dibilang hanya sekitar dua puluh
persen dari total semua orang yang berada di tempat ini sekarang. Memang cukup
sedikit.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera bergegas masuk ke
dalam ruangan aula yang telah disiapkan dengan sedemikian rupa sebelumnya. Kali
ini Bibi Ga Eun yang akan memimpin rapat. Sama seperti biasanya. Orang-orang akan
menjalankan tugasnya masing-masing. sehingga rapat akan tetap berjalan dengan
sebagaimana mestinya.
Setelah semua orang berada di dalam , Eun Ji Hae kembali
melakukan pengecekan satu-persatu untuk memastikan jika seluruh anggotanya
telah lengkap. Setelah selesai, ia bergegas untuk kembali ke tempat duduknya
semula. Tidak ada waktu lagi, karena rapatnya akan segera dimulai. Rapat hari
ini akan dilaksanakan secara singkat saja. Karena setelah ini mereka masih
harus melakukan beberapa hal lagi.
“Bailah, silahkan duduk di tempat duduknya masing-masing.
Rapat akan segera kita mulai,” ujar Bibi Ga Eun sembari merapihkan beberapa
tumpukan kertas yang ternyata masih tertinggal di atas mejanya.
__ADS_1
“Rapat dibuka!” serunya.
Semua orang terlihat serius. Begitu pula dengan Nhea yang
mulai terbawa suasana.
“Seperti yang sudah kalian tahu jika pihak Sekolah Reodal
berniat untuk menawarkan bantuan kepada kita. Sebelum memutuskan apakah kita
akan menerimanya atau tidak, kami harus mendengar pendapat kalian terlebih
dahulu,” jelas Bibi Ga Eun dengan panjang lebar.
“Kami persilahkan tempat dan waktunya bagi kalian yang ingin
mengutarakan pendapatnya. Tidak perlu sungkan atau ragu,” timpalnya.
Tanpa pikir panjang lagi, selang beberapa detik setelah Bibi
Ga Eun menyuudai kalimatnya, Nhea segera mengacungkan tangannnya untuk meminta
izin bicara. Tentu saja wanita itu memperbolehkannya. Ini adalah tujuan
diadakannya rapat kali ini. Yaitu untuk mendengarkan pendapat mereka semua. Setelah
semua hal dipertimbangkan, maka mereka akan tahu harus memutuskan apa.
“Silahkan Nhea!” persilahkan Bibi Ga Eun.
“Baiklah, terima kasih,” balasnya.
Nhea beranjak dari tempat duduknya. Ia memutuskan untuk
berbicara sambil berdiri agar terlihat lebih sopan. Selain itu, hal tersebut
juga memungkinkan semua orang untuk mendengarkan suara gadis ini dengan jelas.
Sehingga tidak akan terjadi salah presepsi di dalamnya.
“Jika kita memilih untuk bergabung bersama Reodal, itu
artinya setiap bagian dari kita harus pergi ke sana. Kurang lebih seperti
sebuah pengungsi. Bukankah kita akan meninggalkan tempat ini setelahnya? Apakah
kita akan membiarkan nama Mooneta hilang begitu saja? Mereka hanya sedang
menghimpun kekuatan untuk suatu tujuan tertentu,” jelasnya dengan panjang
lebar.
“Terima kasih,” finalnya.
Nhea kemudian langsung kembali duduk setelah selesai
berbicara. Semua orang setuju dengan apa yang dikatakan olehnya barusan. Tidak
ada yang salah sama sekali dari kalimat gadis ini barusan. Tapi bukan berarti
sepenuhnya benar.
Di sisi lain hal yang baru saja disampaikan oleh gadis ini
benar. Jika merkea memutuskan untuk bergabung dengan Reodal, maka itu artinya
mereka harus merelakan nama Mooneta untuk selamanya. Nama itu tidak akan pernah
terdengar lagi setelahnya. Namun, di sisi lain mereka juga memerlukan bantuan
juga pada akhirnya. Mereka membutuhkan tempat baru. Tidak bisa tetap bertahan
di sini hingga akhirnya. Setiap harinya ketebalan salju semakin meningkat. Suhu
udara semakin turun, bahkan sampai dibawah rata-rata.
Hal tersebut bisa mengancam keberlangsungan hidup setiap
orang. Tidak ada cara lain selain meninggalkan tempat ini. Meski sebenarnya
tidak ada seorang pun yang setuju dengan hal itu. Tapi mereka harus tetap
melakukannya. Hanya itu cara agar tetap hidup. Memangnya siapa yang mau
terjebak dalam situasi seperti ini dan harus berakhir dengan sia-sia. Tidak
ada. Mereka semua ingin selamat. Walau nama Mooneta harus dipertaruhkan.
Sejauh ini hanya ada satu pihak yang menawarkan bantuan
kepada mereka. Tidak ada yang lain. Jika mereka tidak menggunakan kesempatan
ini dengan sebaik-baiknya, maka kesempatan yang sama tidak akan datang untuk
yang kedua kalinya. Jadi mereka tidak boleh menyia-nyiakannya dengan begitu
saja. Tapi di sisi lain, dengan menyetujui hal tersebut bukanlah suatu
keputusan yang terbaik.
“Apa ada pendapat lainnya yang ingin kalian sampaikan?”
tanya Bibi Ga Eun.
Tak lama kemudian, Eun Ji Hae bergegas mengacungkan
tangannya. Kali ini giliran gadis itu untuk berbicara. Kini semua mata tertuju
ke arahnya.
“Silahkan Eun Ji Hae!” persilahkan Bibi Ga Eun.
“Baiklah, terima kasih!” balas Eun Ji Hae.
Wajah Eun Ji Hae terlihat begitu serius. Ia sama sekali
tidak terlihat sedang bercanda. Rahangnya mengeras.
“Sebaiknya kita menerima tawaran tersebut saja,” ujar Eun Ji
Hae.
“Kita tidak memiliki pilihan lain. Hanya ini jalan
satu-satunya jika ingin selamat dari tempat ini,” jelasnya di kemudian.
“Saat ini keselamatan kita semua jauh lebih penting dari
pada sekedar nama Mooneta,” tukasnya.
Apa yang dikatakan oleh Eun Ji Hae juga tidak ada salahnya. Saat
ini pilihannya hanya ada dua. Yaitu bergabung dengan Reodal atau tidak. Sangat
sulit untuk mengambil keputusan yang tepat. Semua orang tengah terjebak dalam
pikirannya masing-masing saat ini. Mereka bimbang. Tidak tahu harus memilih
yang mana. Kedua pilihan ini sangat sulit bagi semua orang.
Di satu sisi mereka harus
mempertahankan hidup mereka dalam kondisi yang serba sulit ini. Sementara itu
di sisi lain, mereka juga tidak ingin jika harus kehilangan sekolah ini yang
sudah menjadi salah satu dari bagian hidup mereka juga.
__ADS_1