Mooneta High School

Mooneta High School
Sofia Von Riera


__ADS_3

Sejak awal kedatangannya kemari saja, buku itu sudah


berhasil mencuri perhatiannya. Dari judulnya, Nhea sudah yakin jika isinya


pasti menarik. Ia tidak sabar untuk segera mengetahui rahasia apa yang


sebenarnya tersembunyi di dalam sini. Gadis itu bertekad untuk menyelesaikan seluruh


isi buku ini dalam satu malam.


Sofia Von Riera


Gadis itu lahir di


Hamburg, Jerman pada akhir siklus bulan purnama. Kehadirannya mengundang banyak


pertentangan. Tidak ada ketenangan sedikit pun, seperti yang keluarga mereka


harapkan sejak awal. Dia adalah manusia biasa. Namun, digadang-gadang sebagai


utusan dewi kematian. Entah dari mana orang-orang itu bisa memberikan simpulan


tak masuk akal.


Padahal ia tidak berasal


dari klan apa pun. Kedua orang tuanya murni manusia. Bahkan tidak ada darah


klan sedikit pun dalam garis keturunan orang tuanya. Sofia lahir dengan keadaan


yang cukup istimewa. Itu sebabnya penduduk kota mengira jika ia bukan manusia


biasa.


Nhea dibuat tercengang saat membaca dua paragraph awal di


halaman pertama. Ia sama sekali tidak mengira jika prolognya akan seperti ini.


Ternyata jauh lebih mengesankan dari pada perkiraannya sebelumnya. Nhea sama


sekali tidak kecewa. Ia justru malah merasa semakin antusias untuk segera


melanjutkan bacaannya ke halaman berikutnya.


Singkat cerita, ia menghabiskan waktu kurang lebih selama


dua jam di sudut ruangan. Gadis itu masih berkutat dengan buku yang sudah sejak


tadi berada di tangannya dengan beralaskan karpet bulu. Sama sekali tidak ada


titik jenuh yang ia temui di dalam buku sejauh ini. Membacanya merupakan suatu


kesalahan besar. Karena sekarang Nhea tahu jika isi buku tersebut cukup


membuatnya merasa candu. Ia bahkan tidak ingin melepaskan buku tersebut. Jangankan


melepaskannya, mengalihkan pendangan sebentar saja ia enggan.


Entah sihir macam apa yang berada di dalamnya. Nhea nyaris


terhipnotis. Ia seperti dibawa arus waktu untuk berpetualang kembali ke masa


lalu. Kini Nhea benar-benar merasa jika dirinya tengah berada di dalam buku


tersebut, menjadi salah satu dari sekian banyak pemain figuran. Namun, hanya ia


satu-satunya figuran yang selalu setia mengawasi sang tokoh utamanya. Saat ini,


pemeran utama sama sekali tidak menyadari jika dirinya saat ini sedang diawasi.


Singkat cerita,

__ADS_1


keluarga mereka pindah ke Benua Asia untuk menjalani hidup baru. Terlepas dari


segala desakan masyarakat yang memaksa mereka untuk segera pindah. Semenjak


kelahiran Sofia ke dunia, setiap hari selalu ada saja penduduk kota yang meninggal


dunia. Anehnya lagi, sama sekali tidak diketahui apa sebabnya. Mereka bukan


meninggal karena penyakit, bukan juga karena dibantai atai semacamnya.


Hal tersebut semakin


menguatkan dugaan mereka jika Sofia Von Riera memang benar utusan dewi kematian.


Demi menghilangkan kereshan masyarakat, walikota dan warga sepakat untuk


mengusir keluarga mereka.


Begitu membaca bagian berikutnya, ia semakin dibuat tidak


habis pikir. Bagaimana bisa ada manusia yang tega dan tidak memiliki hati


nurani seperti itu. Sepertinya mereka tidak pantas untuk dikatakan sebagai


manusia.


Nhea benar-benar merasa sudah menjadi salah satu bagian dari


cerita tersebut. Tidak jarang ia bahkan sampai terbawa emosi. Sesekali gadis


itu mengumpat karena kesal. Untungnya, tidak ada orang lain di sini. Suaranya


juga tidak bisa terdengar sampai keluar. Pintu jati tersebut terlalu tebal


untuk ditembus oleh suaranya yang tidak seberapa.


Sampai pada akhirnya


Korea Selatan pada saat ini. Berada di pesisir utara, membuat mereka tidak


terlalu kesulitan untuk menemukan bantuan. Ada sebuah kota yang tidak jauh dari


pesisir pantai.


Meski sudah membaca sejauh ini, namun gadis itu sama sekali


belum bisa memastikan bagaimana alur ceritanya. Dan yang terpenting adalah,


soal Sofia. Ia sama sekali tidak tahu siapa Sofia Von Riera yang mereka maksud


di sini. Apakah itu Sofia yang sama dengan yang ia jumpai di atap tadi atau


bukan. Yang bisa Nhea lakukan sejauh ini hanyalah menerka.


“Akademi sihir Mooneta?” gumamnya sambil memperhatikan


tulisan di buku itu baik-baik. Untuk memastikan jika pandangannya sedang tidak


salah kali ini.


Benar. Mereka menyebutkan nama akademi ini di dalam buku


tersebut. Yang jelas, mereka pasti memiliki keterkaitan antara satu sama lain.


Meski belum bisa dipastikan seperti apa hubungannya. Kalau tidak, mana mungkin


buku ini mencantumkan nama akademi sihir Mooneta di dalamnya.


Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat


tertunda. Ada terlalu banyak misteri yang perlu ia tahu. Tidak ada waktu lagi.

__ADS_1


Ia harus memanfaatkan kesempatan dengan sedemikian rupa. Jika bukan sekarang,


memangnya kapan lagi? Iya kalau besok keberuntungan masih berada di pihaknya. Lantas,


bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya.


Ringkasnya, Nhea berhasil menangkap garis besar isi buku


tersebut. Tidak perlu waktu lama baginya. Entah kenapa mala mini daya nalarnya


seperti mendadak meningkat. Mungkin karena paksaan dari dalam dirinya juga.


“Huh!”


Nhea menghela napasnya dengan berat. Seluruh beban yang ia


pendam selama ini, ikut mengap bersama sisa-sisa semangat yang ia miliki.


“Kenapa begitu miris?” tanya gadis itu kepada dirinya


sendiri.


Otak Nhea berhasil menangkap sebuah informasi baru yang


cukup  mencengangkan. Jika di beberapa


bab sebelumnya ia sempat dibuat terkejut juga, maka kali ini sebenarnya jauh


lebih parah lagi. Namun, Nhea sudah cukup terbiasa. Sampai hal yang seharusnya


mengejutkan, kini terasa tidak begitu mengejutkan lagi baginya.


Singkatnya begini, sang tokoh utama yang bernama Sofia Von


Riera ternyata adalah salah satu murid yang dititipkan di sekolah ini. Kedua


orang tuanya meninggalakan gadis itu tepat di depan gerbang akademi sihir


Mooneta. Sama seperti beberapa anak lainnya, yang memang sengaja diterlantarkan


di sini. Eun Ji Hae adalah salah satu contoh nyatanya.


Kisah mereka tidak jauh berbeda. Sama-sama ditinggalkan oleh


kedua orang tuanya. Lalu berharap agar akademi ini mau mengurusi mereka. Tanpa


diminta pun, pihak pengelola akademi ini pasti akan melakukan hal tersebut


dengan alasan kemanusiaan. Mereka bukan manusia yang tidak punya hati. Data menunjukkan


jika hampir setiap tahunnya, pasti ada saja anak yang diterlantarkan di sekitar


gedung sekolah.


Sekarang Nhea sadar. Jika ia bukan satu-satunya orang yang


tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Gadis itu masih sempat


merasakan hal tersebut meski tidak lama. Karena ternyata, masih ada begitu


banyak orang yang memiliki nasib jauh lebih buruk darinya. Namun, mereka tidak


mengeluh sama sekali.


“Mereka nyaris membuatku menangis di tengah malam seperti


ini,” keluh Nhea sambil mengusap kedua kelopak matanya.


Ia tidak ingin menangis. Tidak boleh.


Berkaca-kaca saja sudah terasa tidak nyaman baginya. Apalagi kalau harus sampai

__ADS_1


menangis.


__ADS_2