
Sejak awal kedatangannya kemari saja, buku itu sudah
berhasil mencuri perhatiannya. Dari judulnya, Nhea sudah yakin jika isinya
pasti menarik. Ia tidak sabar untuk segera mengetahui rahasia apa yang
sebenarnya tersembunyi di dalam sini. Gadis itu bertekad untuk menyelesaikan seluruh
isi buku ini dalam satu malam.
Sofia Von Riera
Gadis itu lahir di
Hamburg, Jerman pada akhir siklus bulan purnama. Kehadirannya mengundang banyak
pertentangan. Tidak ada ketenangan sedikit pun, seperti yang keluarga mereka
harapkan sejak awal. Dia adalah manusia biasa. Namun, digadang-gadang sebagai
utusan dewi kematian. Entah dari mana orang-orang itu bisa memberikan simpulan
tak masuk akal.
Padahal ia tidak berasal
dari klan apa pun. Kedua orang tuanya murni manusia. Bahkan tidak ada darah
klan sedikit pun dalam garis keturunan orang tuanya. Sofia lahir dengan keadaan
yang cukup istimewa. Itu sebabnya penduduk kota mengira jika ia bukan manusia
biasa.
Nhea dibuat tercengang saat membaca dua paragraph awal di
halaman pertama. Ia sama sekali tidak mengira jika prolognya akan seperti ini.
Ternyata jauh lebih mengesankan dari pada perkiraannya sebelumnya. Nhea sama
sekali tidak kecewa. Ia justru malah merasa semakin antusias untuk segera
melanjutkan bacaannya ke halaman berikutnya.
Singkat cerita, ia menghabiskan waktu kurang lebih selama
dua jam di sudut ruangan. Gadis itu masih berkutat dengan buku yang sudah sejak
tadi berada di tangannya dengan beralaskan karpet bulu. Sama sekali tidak ada
titik jenuh yang ia temui di dalam buku sejauh ini. Membacanya merupakan suatu
kesalahan besar. Karena sekarang Nhea tahu jika isi buku tersebut cukup
membuatnya merasa candu. Ia bahkan tidak ingin melepaskan buku tersebut. Jangankan
melepaskannya, mengalihkan pendangan sebentar saja ia enggan.
Entah sihir macam apa yang berada di dalamnya. Nhea nyaris
terhipnotis. Ia seperti dibawa arus waktu untuk berpetualang kembali ke masa
lalu. Kini Nhea benar-benar merasa jika dirinya tengah berada di dalam buku
tersebut, menjadi salah satu dari sekian banyak pemain figuran. Namun, hanya ia
satu-satunya figuran yang selalu setia mengawasi sang tokoh utamanya. Saat ini,
pemeran utama sama sekali tidak menyadari jika dirinya saat ini sedang diawasi.
Singkat cerita,
__ADS_1
keluarga mereka pindah ke Benua Asia untuk menjalani hidup baru. Terlepas dari
segala desakan masyarakat yang memaksa mereka untuk segera pindah. Semenjak
kelahiran Sofia ke dunia, setiap hari selalu ada saja penduduk kota yang meninggal
dunia. Anehnya lagi, sama sekali tidak diketahui apa sebabnya. Mereka bukan
meninggal karena penyakit, bukan juga karena dibantai atai semacamnya.
Hal tersebut semakin
menguatkan dugaan mereka jika Sofia Von Riera memang benar utusan dewi kematian.
Demi menghilangkan kereshan masyarakat, walikota dan warga sepakat untuk
mengusir keluarga mereka.
Begitu membaca bagian berikutnya, ia semakin dibuat tidak
habis pikir. Bagaimana bisa ada manusia yang tega dan tidak memiliki hati
nurani seperti itu. Sepertinya mereka tidak pantas untuk dikatakan sebagai
manusia.
Nhea benar-benar merasa sudah menjadi salah satu bagian dari
cerita tersebut. Tidak jarang ia bahkan sampai terbawa emosi. Sesekali gadis
itu mengumpat karena kesal. Untungnya, tidak ada orang lain di sini. Suaranya
juga tidak bisa terdengar sampai keluar. Pintu jati tersebut terlalu tebal
untuk ditembus oleh suaranya yang tidak seberapa.
Sampai pada akhirnya
Korea Selatan pada saat ini. Berada di pesisir utara, membuat mereka tidak
terlalu kesulitan untuk menemukan bantuan. Ada sebuah kota yang tidak jauh dari
pesisir pantai.
Meski sudah membaca sejauh ini, namun gadis itu sama sekali
belum bisa memastikan bagaimana alur ceritanya. Dan yang terpenting adalah,
soal Sofia. Ia sama sekali tidak tahu siapa Sofia Von Riera yang mereka maksud
di sini. Apakah itu Sofia yang sama dengan yang ia jumpai di atap tadi atau
bukan. Yang bisa Nhea lakukan sejauh ini hanyalah menerka.
“Akademi sihir Mooneta?” gumamnya sambil memperhatikan
tulisan di buku itu baik-baik. Untuk memastikan jika pandangannya sedang tidak
salah kali ini.
Benar. Mereka menyebutkan nama akademi ini di dalam buku
tersebut. Yang jelas, mereka pasti memiliki keterkaitan antara satu sama lain.
Meski belum bisa dipastikan seperti apa hubungannya. Kalau tidak, mana mungkin
buku ini mencantumkan nama akademi sihir Mooneta di dalamnya.
Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat
tertunda. Ada terlalu banyak misteri yang perlu ia tahu. Tidak ada waktu lagi.
__ADS_1
Ia harus memanfaatkan kesempatan dengan sedemikian rupa. Jika bukan sekarang,
memangnya kapan lagi? Iya kalau besok keberuntungan masih berada di pihaknya. Lantas,
bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya.
Ringkasnya, Nhea berhasil menangkap garis besar isi buku
tersebut. Tidak perlu waktu lama baginya. Entah kenapa mala mini daya nalarnya
seperti mendadak meningkat. Mungkin karena paksaan dari dalam dirinya juga.
“Huh!”
Nhea menghela napasnya dengan berat. Seluruh beban yang ia
pendam selama ini, ikut mengap bersama sisa-sisa semangat yang ia miliki.
“Kenapa begitu miris?” tanya gadis itu kepada dirinya
sendiri.
Otak Nhea berhasil menangkap sebuah informasi baru yang
cukup mencengangkan. Jika di beberapa
bab sebelumnya ia sempat dibuat terkejut juga, maka kali ini sebenarnya jauh
lebih parah lagi. Namun, Nhea sudah cukup terbiasa. Sampai hal yang seharusnya
mengejutkan, kini terasa tidak begitu mengejutkan lagi baginya.
Singkatnya begini, sang tokoh utama yang bernama Sofia Von
Riera ternyata adalah salah satu murid yang dititipkan di sekolah ini. Kedua
orang tuanya meninggalakan gadis itu tepat di depan gerbang akademi sihir
Mooneta. Sama seperti beberapa anak lainnya, yang memang sengaja diterlantarkan
di sini. Eun Ji Hae adalah salah satu contoh nyatanya.
Kisah mereka tidak jauh berbeda. Sama-sama ditinggalkan oleh
kedua orang tuanya. Lalu berharap agar akademi ini mau mengurusi mereka. Tanpa
diminta pun, pihak pengelola akademi ini pasti akan melakukan hal tersebut
dengan alasan kemanusiaan. Mereka bukan manusia yang tidak punya hati. Data menunjukkan
jika hampir setiap tahunnya, pasti ada saja anak yang diterlantarkan di sekitar
gedung sekolah.
Sekarang Nhea sadar. Jika ia bukan satu-satunya orang yang
tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Gadis itu masih sempat
merasakan hal tersebut meski tidak lama. Karena ternyata, masih ada begitu
banyak orang yang memiliki nasib jauh lebih buruk darinya. Namun, mereka tidak
mengeluh sama sekali.
“Mereka nyaris membuatku menangis di tengah malam seperti
ini,” keluh Nhea sambil mengusap kedua kelopak matanya.
Ia tidak ingin menangis. Tidak boleh.
Berkaca-kaca saja sudah terasa tidak nyaman baginya. Apalagi kalau harus sampai
__ADS_1
menangis.