
Eun Ji Hae tengah bersama Nhea di suatu ruangan kelas. Hanya
mereka berdua saja. Tidak ada yang lain. Sepertinya pembicaraan kali ini cukup
bersifat privasi. Sampai-sampai gadis itu harus menutup semua tirai dan bahkan
pintunya juga. Eun Ji Hae sempat merasa panik, karena mengira jika Nhea akan
melakukan hal buruk kepadanya. Ia takut jika ternyata gadis itu sudah
mengetahui semua rencana busuknya selama ini.
Padahal jika dipikir-pikir lagi, Eun Ji Hae jauh lebih kuat
jika dibandingkan dengan Nhea. Lantas, untuk apa ia merasa takut terhadap gadis
itu yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Sebenarnya
ia bisa melakukan apa saja jika merasa terancam. Eun Ji Hae bisa melumpuhkan
gadis itu hanya dalam satu kali serangan. Nhea pasti tidak akan bisa berkutik
lagi.
Tapi, panik tetap lah panik. Rasa itu telah merasuki
dirinya. Bahkan yang lebih buruknya lagi, hal tersebut telah berhasil
mengendalikan diri Eun Ji Hae. Gadis itu berusaha untuk bersikap tenang. Ia
tidak mau citra yang selama ini ia bangun dengan susah payah, rusak begitu saja
di depan Nhea.
Eun Ji Hae tidak perlu takut sama sekali. Tidak ada yang
perlu dicemaskan. Ia akan tetap baik-baik saja selama berada di sini. Nhea bisa
memastikan hal tersebut. Karena pada dasarnya, Nhea sama sekali tidak memiliki
niat untuk menyakiti orang tersebut. Eun Ji Hae tetap lah kakaknya. Meski
mereka tidak berasa dari rahim yang sama dan tidak memiliki hubungan darah
sedikit pun, tapi Nhea sadar betul jika Eun Ji Hae adalah salah satu bagian
dari keluarganya.
Tujuan Nhea mengajak Eun Ji Hae bicara empat mata di tempat
seperti ini adalah untuk membicarakan sesuatu yang terbilang cukup penting
baginya. Entah dengan Eun Ji Hae. Mungkin gadis itu akan menganggap semuanya
biasa saja. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Kita tidak pernah tahu seperti apa
cara pandang dan jalan pikiran setiap manusia yang tentunya pasti berbeda satu
sama lain.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Eun Ji Hae dengan
suara bergetar.
Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa
paniknya ini. Tapi tetap saja hal tersebut tidka bekerja sama sekali. Tidak
peduli seberapa keras usahanya. Hasilnya tetap saja nihil.
“Apa Kakak Ji kedinginan?” tanya Nhea balik.
Eun Ji Hae menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
“Apa kakak takut kegelapan seperti ini?” tanya gadis itu
lagi untuk memastikan jika Eun Ji Hae baik-baik saja.
“Aku tidak kenapa-kenapa! Katakan saja apa maumu!” seru Eun
Ji Hae yang tidak sabaran.
Gadis itu benar-benar menguji kesabarannya. Jika saja
kehadirannya tidak begitu penting di sekolah ini. Mungkin Eun Ji Hae sudah
menyingkirkan gadis itu dengan tangannya sendiri saat ini. Tidak akan ada sedikit
pun keraguan yang terbesit di dalam benaknya seperti saat ini. Dia tidak akan
bisa macam-macam dengan gadis yang satu itu. Dia berbeda dari yang lain. Semua
orang beigtu terobsesi untuk melindungi seorang gadis lemah seperti Nhea. Yang
bahkan belum tentu jika ia akan memberikan bayaran yang setimpal terhadap apa
yang telah dilakukan oleh orang-orang sekitarnya.
“Cepat katakan!” celetuk Eun Ji Hae.
“Baiklah,” jawab Nhea dengan tenang.
Sepertinya hanya Eun Ji Hae satu-satunya orang yang terlihat
sedang tidak baik-baik saja di sini. Ada sesuatu yang salah dengannya. Tapi
untuk saat ini, Nhea sama sekali tidak ma memusingkan hal itu terlalu
berlebihan. Lagi pula, Eun Ji Hae menyuruhnya untuk cepat-cepat menjelaskan.
Yang artinya, tidak ada waktu bagi Nhea untuk mengurusi gadis itu.
“Ku rasa, ada sesuatu yang aneh di sekolah kita ini,” ungkap
Nhea.
“Aneh bagaimana maksudmu?” tanya Eun Ji Hae.
Gadis itu sama sekali belum mengerti. Ia belum mendapatkan
poin pentingnya di sini.
“Tidakkah kakak merasakan jika ada sesuatu yang terasa
ganjil terjadi di sekolah belakangan ini?” tanya Nhea balik.
“Yang mana satu?” balas Eun Ji Hae.
Gadis itu mulai terbawa suasana. Ia mengabaikan rasa
paniknya begitu saja. Kini Eun Ji Hae juga mulai tampak serius.
“Semua kejadian besar yang terjadi dua hari terakhir!”
celetuk Nhea.
Eun Ji Hae memiringkan kepalanya beberapa derajat. Ia
memaksa otaknya untuk bekerja di saat seperti ini. Tapi kali ini, hal tersebut
__ADS_1
sama sekali tidak berakhir sia-sia. Eun Ji Hae merasa apa yang dikatakan oleh
gadis itu tadi cukup masuk akal. Jika dipikir kembali, beberapa hari belakangan
ini memang terasa agak aneh. Berbeda dari biasanya.
“Tunggu, apa yang kau maksud itu adalah…..”
Ucapan Eun Ji Hae memang agak sedikit menggantung. Namun,
dengan cepat ia segera menyelesaikan kalimatnya untuk memperjelas maksud dari
perkataannya barusan.
“Kedatangan pasukan misterius pada saat peperangan itu, anak
panah misterius yang berhasil menghujam jantung Ify dan membuatnya mati di
tempat. Satu lagi adalah kejadian pagi ini,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang
lebar.
Gadis itu menyebutkan semuanya satu-persatu secara detail. Tidak
ada satu pun yang terlewatkan di sini. Memang benar jika semua yang dikatakan
oleh Eun Ji Hae tadi adalah maksud dari Nhea. Tapi tidak termasuk perihal anak
panah misterius itu. Nhea tidak ingin membahasnya sekarang. Karena pada
kenyataannya, Nhea adalah pelakunya. Dia tidak ingin menjerumuskan dirinya
sendiri ke dalam masalah. Bukannya saat ini seluruh sekolah tidak ada yang
peduli soal hal itu.
Ify sudah meninggal. Tidak ada gunanya juga jika mereka
mencari tahu soal kebenarannya. Karena percuma saja. Gadis itu tidak akan hidup
kembali begitu kebenarannya terungkap.
“Apa itu yang kau maksud?” tanya Eun Ji Hae untuk memastikan
jika asumsinya tidak salah.
Nhea mengangguk dengan cepat, mengiyakan perkataan gadis itu
seperti biasanya.
Bagaimana bisa Eun Ji Hae masih mengingat soal anak panah
misterius itu. Tentu saja ia mengingat hal tersebut. Semua orang tahu soal anak
panah itu. Dan bodohnya, kenapa Nhea harus mengingatkan kembali gadis itu soal
kejadian yang telah berlalu.
Semakin kebenarannya terungkap, maka semakin posisi Nhea
berada di dalam bahaya. Ia tetap akan disalahkan atas meninggalnya Ify. Padahal
ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Nhea telah melepaskan
seluruh warga sekolah dari terror musin dingin. Gadis ini telah melakukan
tindakan yang benar. Tidak seharusnya ia disalahkan seperti ini.
“Tidakkah semua hal itu memiliki keterkaitan satu sama
lain?” tanya Nhea.
“Kaitan macam apa maksudmu?” tanya Eun Ji Hae balik.
Nhea bergidik. Kemudian berkata, “Aku tidak tahu apa-apa.
“Bukankah kakak juga merasakan hal yang sama?” timpalnya.
“Kemungkinan besar, jika semua masalah ini pasti berasal
dari satu orang yang sama,” simpul Eun Ji Hae.
“Aku tidak yakin jika sepenuhnya seperti yang kakak jelaskan
ini,” tepis gadis itu kemudian.
Sebenarnya ada dua alasan kenapa Nhea bisa mengatakan
seperti itu. Lebih tepatnya ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama
kenapa gadis itu bisa tidak setuju dengan pendapat Eun Ji Hae barusan. Yang pertama
adalah, karena menurutnya hal tersebut memang tidak sepaham dengan
pemikirannya. Dan yang kedua adalah poin pentingnya di sini. Nhea tidak ingin
jika perbuatannya terungkap. Setidaknya jika memang harus berakhir dengan
seperti itu, maka Nhea perlu mengulur waktu. Dia harus mempersiapkan segalanya
dengan sedemikian rupa. Tentu saja agar dampaknya tidak sefatal itu.
Sementara itu, Eun Ji Hae terlihat mengerutkan dahinya
karena kebingungan dengan ucapan Nhea barusan. Ia sama sekali tidak mengerti
dengan maksud gadis itu. Nhea memang terlalu sulit untuk dimengerti. Tidak semua
orang bisa memahaminya dengan mudah. Mereka yang bisa dekat dengan gadis ini
pasti tidak berbeda jauh dengannya. Pasalnya, mereka bisa saling memahami satu
sama lain. Hal tersebut tidak akan pernah bisa terwujud jika mereka tidak satu
frekuensi.
“Maksudnya?” tanya Eun Ji Hae yang terlihat menuntut
penjelasan dari gadis ini.
Entah memang Eun Ji Hae yang lambat dalam mencerna sesuatu,
atau malah kepribadian Nhea yang sulit untuk diterima oleh gadis itu. Hanya ada
dua kemungkinan dengan presentase yang sama besar di sini.
“Jadi begini,” bukanya lebih dulu.
Nhea terlihat menghela napasnya panjang. Entah untuk tujuan
apa.
“Kita tidak bisa menyimpulkan jika semua peristiwa ini
disebabkan oleh satu orang yang sama,” jelas gadis itu.
“Tapi, besar kemungkinannya jika antara peristiwa yang satu
dengan peristiwa yang lain memiliki keterkaitan satu sama lain. Coba perhatikan
saja bagaimana setiap rangakaian peristiwanya. Jika diperhatikan baik-baik,
bukankah mereka seperi memiliki hubungan?” paparnya dengan panjang lebar.
__ADS_1
Eun Ji Hae mengangguk setuju dengan pendapat gadis ini
barusan. Apa yang dikatakan oleh Nhea tadi terasa cukup masuk akal. Antara peristiwa
yang petama dengan peristiwa kedua dan seterusnya, mereka seolah memiliki
kaitan yang tak terlihat dengan jelas. Butuh kreativitas tingkat tinggi untuk
memecahkan masalah yang satu ini. Pasalnya, tidak hanya logika saja yang
dibutuhkan di sini. Tapi juga imajinasi. Karena beberapa hal yang terjadi
memang terkadang tidak bisa dicerna dengan akal sehat manusia dengan begitu
saja. Kita harus mengkombinasikan keduanya untuk mencari jalan keluar yang
paling efektif.
Sebenarnya, kejadian pertama yang dimaksud oleh Nhea di sini
bukan pada saat kedatangan pasukan misterius yang mendadak membantu mereka
secara tiba-tiba. Melainkan sebuah peristiwa yang terjadi pada beberapa malam
tepat sebelum Ify datang.
Waktu itu Nhea masih belum sadarkan diri. Sampai Chanwo
datang dan membantunya untuk kembali sadar. Satu-satunya cara yang bisa ia
lakukan adalah dengan menghisap sebagian kecil darah Nhea. hal tersebut bukan
semata-mata untuk kepuasannya sendiri. Melainkan demi menjaga kelangsungan
hidup gadis ini.
Bekas lukanya bahkan masih ada sampai sekarang. Hanya saja
sudah tidak sejelas dulu. Perlahan bekas lukanya mulai memudar seiring dengan
berjalannya waktu. Namun, tidak akan pernah benar-benar menghilang.
Nhea masih merupakan keturunan klan. Sedikit banyaknya,
darah kaum kegelapan masih mengalir di dalam tubuhnya. Ia mewarisi semua itu
secara tidak langsung melalui ayahnya. Namun, darah yang ia miliki sudah tak
lagi berupa darah mursi seperti yang dimiliki oleh Chanwo dan juga Wilson. Gadis
ini juga mewarisi darah manusia.
Yang diambil Chanwo kemarin adalah darah manusia warisan
ibunya. Kini hanya tersisa sedikit kadarnya di dalam tubuh Nhea. Yang artinya
jika ia sampai kehilangan darah manusia itu, maka ia akan menjadi anggota klan
secara seutuhnya. Dia tidak bisa kembali lagi seperti dulu.
Masalahnya di sini adalah, setiap ada kejadian aneh pasti
selalu berkaitan dengan pria itu. Siapa lagi jika bukan Chanwo. Seorang pria
yang bahkan tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya dan kenapa ia bisa
sampai ke sini. Identitas pria itu masih terbilang aman. Tidak ada seorangpun
di sekolah ini yang mengetahui soal keberadaannya. Meski Wilson sempat merasa
curiga dan ia nyaris saja tertangkap.
Nhea yakin, jika peristiwa pertama, kedua dan ketiga jelas
memiliki kaita erat kepada Chanwo. Tapi untuk saat ini ia hanya bisa berasumsi
sendiri. Nhea tidak ingin membagikan buah pikirannya yang satu ini kepada orang
lain. Tidak sampai ia benar-benar yakin dengan dirinya sendiri. Setidaknya ia harus
memiliki bukti yang cukup sebelum membeberkan masalah ini. Nhea bukan tipikal
orang yang suka membual dengan semua omong kosongnya.
Chanwo bukan sorotan utamanya di sini. Tapi tujuannya dalam
melakukan setiap aksi yang kini berhasil menarik atensi Nhea dan juga Eun Ji
Hae. Gadis itu sama sekali belum tahu jika yang dimaksud oleh Nhea di sini
adalah Chanwo.
Tapi, coba pikrikan lebih dalam lagi. Jika dipikir-pikir,
semua rangkaian peristiwa ini seperti sedang disengaja. Pertama-tama, Chanwo
sengaja membantu Nhea agar lekas sadar. Kedua, pria itu sengaja memanggil
pasukan khusus miliknya ke medan pertempuran untuk mengalihkan perhatian. Sehingga
tidak ada seorangpun yang memperhatikan dari mana asalnya panah dengan mata
batu rubi itu datang. Secara tidak langsung, Nhea selamat pada saat itu. Dia berhasil
terlapas dari ratusan mata yang sedang ada di sana pada saat itu. Sehingga tidak
ada seorang pun yang menaruh rasa curiga kepadanya sampai saat ini.
Dan yang terakhir. Kejadian terbaru sekaligus mejadi
kejadian paling menghebohkan. Bukan hanya itu. Peristiwa yang terjadi baru-baru
ini juga menjadi yang paling buruk di antara semua peristiwa yang pernah
terjadi sebelumnya. Tapi, belum tentu jika ini adalah klimaksnya. Tidak menutup
kemungkinan jika masih ada yang jauh lebih buruk dari ini. Bahkan mungkin,
mereka tidak pernah membayangkannya sama sekali. Atau sekedar terlintas di
pikiran mereka saja tidak pernah lagi.
Nhea tidak pernah tahu apa tujuan pria itu. Tapi satu hal
yang jelas adalah Chanwo telah memanfaatkan posisi Nhea saat ini. Pria itu
membuatnya telah berkhianat secara tidak langsung kepada keluarganya sendiri. Gadis
itu bahkan telah menjadi boneka dalam permainan yang telah dirancang dengan
sedemikian rupa oleh penciptanya. Siapa lagi jika bukan Chanwo.
Akar dari semua permasalahan ini berasal dair pria itu. Coba
bandingkan saja dengan situasi di saat ini belum hadir di tempat ini. Betapa damainya
kehidupan para siswa dan yang penghuni lainnya. Namun, tepat setelah Chanwo
datang yang ada hanya kekacauan dimana-mana.
Nhea yakin jika saat ini pria itu tengah memiliki rencana
yang tidak baik untuk sekolah ini. Keberadaannya di sini telah menjadi suatu
__ADS_1
ancaman. Hanya ada dua pilihan. Antar Chanwo ingin merebut tempat ini, atau
malah ia ingin menghancurkan Sekolah Mooneta.