Mooneta High School

Mooneta High School
Hipotesa


__ADS_3

 


 


Eun Ji Hae tengah bersama Nhea di suatu ruangan kelas. Hanya


mereka berdua saja. Tidak ada yang lain. Sepertinya pembicaraan kali ini cukup


bersifat privasi. Sampai-sampai gadis itu harus menutup semua tirai dan bahkan


pintunya juga. Eun Ji Hae sempat merasa panik, karena mengira jika Nhea akan


melakukan hal buruk kepadanya. Ia takut jika ternyata gadis itu sudah


mengetahui semua rencana busuknya selama ini.


Padahal jika dipikir-pikir lagi, Eun Ji Hae jauh lebih kuat


jika dibandingkan dengan Nhea. Lantas, untuk apa ia merasa takut terhadap gadis


itu yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Sebenarnya


ia bisa melakukan apa saja jika merasa terancam. Eun Ji Hae bisa melumpuhkan


gadis itu hanya dalam satu kali serangan. Nhea pasti tidak akan bisa berkutik


lagi.


Tapi, panik tetap lah panik. Rasa itu telah merasuki


dirinya. Bahkan yang lebih buruknya lagi, hal tersebut telah berhasil


mengendalikan diri Eun Ji Hae. Gadis itu berusaha untuk bersikap tenang. Ia


tidak mau citra yang selama ini ia bangun dengan susah payah, rusak begitu saja


di depan Nhea.


Eun Ji Hae tidak perlu takut sama sekali. Tidak ada yang


perlu dicemaskan. Ia akan tetap baik-baik saja selama berada di sini. Nhea bisa


memastikan hal tersebut. Karena pada dasarnya, Nhea sama sekali tidak memiliki


niat untuk menyakiti orang tersebut. Eun Ji Hae tetap lah kakaknya. Meski


mereka tidak berasa dari rahim yang sama dan tidak memiliki hubungan darah


sedikit pun, tapi Nhea sadar betul jika Eun Ji Hae adalah salah satu bagian


dari keluarganya.


Tujuan Nhea mengajak Eun Ji Hae bicara empat mata di tempat


seperti ini adalah untuk membicarakan sesuatu yang terbilang cukup penting


baginya. Entah dengan Eun Ji Hae. Mungkin gadis itu akan menganggap semuanya


biasa saja. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Kita tidak pernah tahu seperti apa


cara pandang dan jalan pikiran setiap manusia yang tentunya pasti berbeda satu


sama lain.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Eun Ji Hae dengan


suara bergetar.


Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa


paniknya ini. Tapi tetap saja hal tersebut tidka bekerja sama sekali. Tidak


peduli seberapa keras usahanya. Hasilnya tetap saja nihil.


“Apa Kakak Ji kedinginan?” tanya Nhea balik.


Eun Ji Hae menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


“Apa kakak takut kegelapan seperti ini?” tanya gadis itu


lagi untuk memastikan jika Eun Ji Hae baik-baik saja.


“Aku tidak kenapa-kenapa! Katakan saja apa maumu!” seru Eun


Ji Hae yang tidak sabaran.


Gadis itu benar-benar menguji kesabarannya. Jika saja


kehadirannya tidak begitu penting di sekolah ini. Mungkin Eun Ji Hae sudah


menyingkirkan gadis itu dengan tangannya sendiri saat ini. Tidak akan ada sedikit


pun keraguan yang terbesit di dalam benaknya seperti saat ini. Dia tidak akan


bisa macam-macam dengan gadis yang satu itu. Dia berbeda dari yang lain. Semua


orang beigtu terobsesi untuk melindungi seorang gadis lemah seperti Nhea. Yang


bahkan belum tentu jika ia akan memberikan bayaran yang setimpal terhadap apa


yang telah dilakukan oleh orang-orang sekitarnya.


“Cepat katakan!” celetuk Eun Ji Hae.


“Baiklah,” jawab Nhea dengan tenang.


Sepertinya hanya Eun Ji Hae satu-satunya orang yang terlihat


sedang tidak baik-baik saja di sini. Ada sesuatu yang salah dengannya. Tapi


untuk saat ini, Nhea sama sekali tidak ma memusingkan hal itu terlalu


berlebihan. Lagi pula, Eun Ji Hae menyuruhnya untuk cepat-cepat menjelaskan.


Yang artinya, tidak ada waktu bagi Nhea untuk mengurusi gadis itu.


“Ku rasa, ada sesuatu yang aneh di sekolah kita ini,” ungkap


Nhea.


“Aneh bagaimana maksudmu?” tanya Eun Ji Hae.


Gadis itu sama sekali belum mengerti. Ia belum mendapatkan


poin pentingnya di sini.


“Tidakkah kakak merasakan jika ada sesuatu yang terasa


ganjil terjadi di sekolah belakangan ini?” tanya Nhea balik.


“Yang mana satu?” balas Eun Ji Hae.


Gadis itu mulai terbawa suasana. Ia mengabaikan rasa


paniknya begitu saja. Kini Eun Ji Hae juga mulai tampak serius.


“Semua kejadian besar yang terjadi dua hari terakhir!”


celetuk Nhea.


Eun Ji Hae memiringkan kepalanya beberapa derajat. Ia


memaksa otaknya untuk bekerja di saat seperti ini. Tapi kali ini, hal tersebut

__ADS_1


sama sekali tidak berakhir sia-sia. Eun Ji Hae merasa apa yang dikatakan oleh


gadis itu tadi cukup masuk akal. Jika dipikir kembali, beberapa hari belakangan


ini memang terasa agak aneh. Berbeda dari biasanya.


“Tunggu, apa yang kau maksud itu adalah…..”


Ucapan Eun Ji Hae memang agak sedikit menggantung. Namun,


dengan cepat ia segera menyelesaikan kalimatnya untuk memperjelas maksud dari


perkataannya barusan.


“Kedatangan pasukan misterius pada saat peperangan itu, anak


panah misterius yang berhasil menghujam jantung Ify dan membuatnya mati di


tempat. Satu lagi adalah kejadian pagi ini,” jelas Eun Ji Hae dengan panjang


lebar.


Gadis itu menyebutkan semuanya satu-persatu secara detail. Tidak


ada satu pun yang terlewatkan di sini. Memang benar jika semua yang dikatakan


oleh Eun Ji Hae tadi adalah maksud dari Nhea. Tapi tidak termasuk perihal anak


panah misterius itu. Nhea tidak ingin membahasnya sekarang. Karena pada


kenyataannya, Nhea adalah pelakunya. Dia tidak ingin menjerumuskan dirinya


sendiri ke dalam masalah. Bukannya saat ini seluruh sekolah tidak ada yang


peduli soal hal itu.


Ify sudah meninggal. Tidak ada gunanya juga jika mereka


mencari tahu soal kebenarannya. Karena percuma saja. Gadis itu tidak akan hidup


kembali begitu kebenarannya terungkap.


“Apa itu yang kau maksud?” tanya Eun Ji Hae untuk memastikan


jika asumsinya tidak salah.


Nhea mengangguk dengan cepat, mengiyakan perkataan gadis itu


seperti biasanya.


Bagaimana bisa Eun Ji Hae masih mengingat soal anak panah


misterius itu. Tentu saja ia mengingat hal tersebut. Semua orang tahu soal anak


panah itu. Dan bodohnya, kenapa Nhea harus mengingatkan kembali gadis itu soal


kejadian yang telah berlalu.


Semakin kebenarannya terungkap, maka semakin posisi Nhea


berada di dalam bahaya. Ia tetap akan disalahkan atas meninggalnya Ify. Padahal


ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Nhea telah melepaskan


seluruh warga sekolah dari terror musin dingin. Gadis ini telah melakukan


tindakan yang benar. Tidak seharusnya ia disalahkan seperti ini.


“Tidakkah semua hal itu memiliki keterkaitan satu sama


lain?” tanya Nhea.


“Kaitan macam apa maksudmu?” tanya Eun Ji Hae balik.


Nhea bergidik. Kemudian berkata, “Aku tidak tahu apa-apa.


“Bukankah kakak juga merasakan hal yang sama?” timpalnya.


“Kemungkinan besar, jika semua masalah ini pasti berasal


dari satu orang yang sama,” simpul Eun Ji Hae.


“Aku tidak yakin jika sepenuhnya seperti yang kakak jelaskan


ini,” tepis gadis itu kemudian.


Sebenarnya ada dua alasan kenapa Nhea bisa mengatakan


seperti itu. Lebih tepatnya ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama


kenapa gadis itu bisa tidak setuju dengan pendapat Eun Ji Hae barusan. Yang pertama


adalah, karena menurutnya hal tersebut memang tidak sepaham dengan


pemikirannya. Dan yang kedua adalah poin pentingnya di sini. Nhea tidak ingin


jika perbuatannya terungkap. Setidaknya jika memang harus berakhir dengan


seperti itu, maka Nhea perlu mengulur waktu. Dia harus mempersiapkan segalanya


dengan sedemikian rupa. Tentu saja agar dampaknya tidak sefatal itu.


Sementara itu, Eun Ji Hae terlihat mengerutkan dahinya


karena kebingungan dengan ucapan Nhea barusan. Ia sama sekali tidak mengerti


dengan maksud gadis itu. Nhea memang terlalu sulit untuk dimengerti. Tidak semua


orang bisa memahaminya dengan mudah. Mereka yang bisa dekat dengan gadis ini


pasti tidak berbeda jauh dengannya. Pasalnya, mereka bisa saling memahami satu


sama lain. Hal tersebut tidak akan pernah bisa terwujud jika mereka tidak satu


frekuensi.


“Maksudnya?” tanya Eun Ji Hae yang terlihat menuntut


penjelasan dari gadis ini.


Entah memang Eun Ji Hae yang lambat dalam mencerna sesuatu,


atau malah kepribadian Nhea yang sulit untuk diterima oleh gadis itu. Hanya ada


dua kemungkinan dengan presentase yang sama besar di sini.


“Jadi begini,” bukanya lebih dulu.


Nhea terlihat menghela napasnya panjang. Entah untuk tujuan


apa.


“Kita tidak bisa menyimpulkan jika semua peristiwa ini


disebabkan oleh satu orang yang sama,” jelas gadis itu.


“Tapi, besar kemungkinannya jika antara peristiwa yang satu


dengan peristiwa yang lain memiliki keterkaitan satu sama lain. Coba perhatikan


saja bagaimana setiap rangakaian peristiwanya. Jika diperhatikan baik-baik,


bukankah mereka seperi memiliki hubungan?” paparnya dengan panjang lebar.

__ADS_1


Eun Ji Hae mengangguk setuju dengan pendapat gadis ini


barusan. Apa yang dikatakan oleh Nhea tadi terasa cukup masuk akal. Antara peristiwa


yang petama dengan peristiwa kedua dan seterusnya, mereka seolah memiliki


kaitan yang tak terlihat dengan jelas. Butuh kreativitas tingkat tinggi untuk


memecahkan masalah yang satu ini. Pasalnya, tidak hanya logika saja yang


dibutuhkan di sini. Tapi juga imajinasi. Karena beberapa hal yang terjadi


memang terkadang tidak bisa dicerna dengan akal sehat manusia dengan begitu


saja. Kita harus mengkombinasikan keduanya untuk mencari jalan keluar yang


paling efektif.


Sebenarnya, kejadian pertama yang dimaksud oleh Nhea di sini


bukan pada saat kedatangan pasukan misterius yang mendadak membantu mereka


secara tiba-tiba. Melainkan sebuah peristiwa yang terjadi pada beberapa malam


tepat sebelum Ify datang.


Waktu itu Nhea masih belum sadarkan diri. Sampai Chanwo


datang dan membantunya untuk kembali sadar. Satu-satunya cara yang bisa ia


lakukan adalah dengan menghisap sebagian kecil darah Nhea. hal tersebut bukan


semata-mata untuk kepuasannya sendiri. Melainkan demi menjaga kelangsungan


hidup gadis ini.


Bekas lukanya bahkan masih ada sampai sekarang. Hanya saja


sudah tidak sejelas dulu. Perlahan bekas lukanya mulai memudar seiring dengan


berjalannya waktu. Namun, tidak akan pernah benar-benar menghilang.


Nhea masih merupakan keturunan klan. Sedikit banyaknya,


darah kaum kegelapan masih mengalir di dalam tubuhnya. Ia mewarisi semua itu


secara tidak langsung melalui ayahnya. Namun, darah yang ia miliki sudah tak


lagi berupa darah mursi seperti yang dimiliki oleh Chanwo dan juga Wilson. Gadis


ini juga mewarisi darah manusia.


Yang diambil Chanwo kemarin adalah darah manusia warisan


ibunya. Kini hanya tersisa sedikit kadarnya di dalam tubuh Nhea. Yang artinya


jika ia sampai kehilangan darah manusia itu, maka ia akan menjadi anggota klan


secara seutuhnya. Dia tidak bisa kembali lagi seperti dulu.


Masalahnya di sini adalah, setiap ada kejadian aneh pasti


selalu berkaitan dengan pria itu. Siapa lagi jika bukan Chanwo. Seorang pria


yang bahkan tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya dan kenapa ia bisa


sampai ke sini. Identitas pria itu masih terbilang aman. Tidak ada seorangpun


di sekolah ini yang mengetahui soal keberadaannya. Meski Wilson sempat merasa


curiga dan ia nyaris saja tertangkap.


Nhea yakin, jika peristiwa pertama, kedua dan ketiga jelas


memiliki kaita erat kepada Chanwo. Tapi untuk saat ini ia hanya bisa berasumsi


sendiri. Nhea tidak ingin membagikan buah pikirannya yang satu ini kepada orang


lain. Tidak sampai ia benar-benar yakin dengan dirinya sendiri. Setidaknya ia harus


memiliki bukti yang cukup sebelum membeberkan masalah ini. Nhea bukan tipikal


orang yang suka membual dengan semua omong kosongnya.


Chanwo bukan sorotan utamanya di sini. Tapi tujuannya dalam


melakukan setiap aksi yang kini berhasil menarik atensi Nhea dan juga Eun Ji


Hae. Gadis itu sama sekali belum tahu jika yang dimaksud oleh Nhea di sini


adalah Chanwo.


Tapi, coba pikrikan lebih dalam lagi. Jika dipikir-pikir,


semua rangkaian peristiwa ini seperti sedang disengaja. Pertama-tama, Chanwo


sengaja membantu Nhea agar lekas sadar. Kedua, pria itu sengaja memanggil


pasukan khusus miliknya ke medan pertempuran untuk mengalihkan perhatian. Sehingga


tidak ada seorangpun yang memperhatikan dari mana asalnya panah dengan mata


batu rubi itu datang. Secara tidak langsung, Nhea selamat pada saat itu. Dia berhasil


terlapas dari ratusan mata yang sedang ada di sana pada saat itu. Sehingga tidak


ada seorang pun yang menaruh rasa curiga kepadanya sampai saat ini.


Dan yang terakhir. Kejadian terbaru sekaligus mejadi


kejadian paling menghebohkan. Bukan hanya itu. Peristiwa yang terjadi baru-baru


ini juga menjadi yang paling buruk di antara semua peristiwa yang pernah


terjadi sebelumnya. Tapi, belum tentu jika ini adalah klimaksnya. Tidak menutup


kemungkinan jika masih ada yang jauh lebih buruk dari ini. Bahkan mungkin,


mereka tidak pernah membayangkannya sama sekali. Atau sekedar terlintas di


pikiran mereka saja tidak pernah lagi.


Nhea tidak pernah tahu apa tujuan pria itu. Tapi satu hal


yang jelas adalah Chanwo telah memanfaatkan posisi Nhea saat ini. Pria itu


membuatnya telah berkhianat secara tidak langsung kepada keluarganya sendiri. Gadis


itu bahkan telah menjadi boneka dalam permainan yang telah dirancang dengan


sedemikian rupa oleh penciptanya. Siapa lagi jika bukan Chanwo.


Akar dari semua permasalahan ini berasal dair pria itu. Coba


bandingkan saja dengan situasi di saat ini belum hadir di tempat ini. Betapa damainya


kehidupan para siswa dan yang penghuni lainnya. Namun, tepat setelah Chanwo


datang yang ada hanya kekacauan dimana-mana.


Nhea yakin jika saat ini pria itu tengah memiliki rencana


yang tidak baik untuk sekolah ini. Keberadaannya di sini telah menjadi suatu

__ADS_1


ancaman. Hanya ada dua pilihan. Antar Chanwo ingin merebut tempat ini, atau


malah ia ingin menghancurkan Sekolah Mooneta.


__ADS_2