
Pagi ini Nhea bangun sedikit lebih telat dari pada biasanya. Kemarin ia masih terjaga sampai hampir pukul empat karena tak bisa tidur. Ia nyaris tak tidur semalaman karena terlalu menikmati purnama. Menurutnya indah saja. Sinar rembulan lembut mengelus kepalanya hingga ia tertidur.
Pertengahan musim semi menjadi saat yang paling indah selain musim gugur. Melihat semua tanaman kembali tumbuh dengan subur, dengan sebagaimana mestinya.
“Nhea! Bangun!” sahut sebuah suara. Masih berasal dari ruangan yang sama.
Gadis itu menggeliat di atas tempat tidurnya. Melakukan beberapa gerakan peregangan sebelum bangkit dari atas kasur. Dengan mata yang masih segaris, Nhea berusaha untuk mengumpulkan nyawanya yang masih tersisa di alam mimpi.
Ternyata Oliver yang membangunkan gadis itu. Tadinya, ia tidak ingin mengganggu waktu tidur Nhea. Oliver tidak tega jika harus membangunkan Nhea. Namun, pada akhirnya mau tak mau ia tetap harus melakukannya. Oliver tidak bisa membiarkan gadis itu terus terlelap sepanjang hari. Sebentar lagi jamuan makan akan diselenggarakan. Semua orang sudah bersiap untuk menuju ke gedung utama. Jika Nhea tetap dibiarkan di sini, maka ia akan melewatkan sarapan paginya. Jatah makan tidak akan diberikan secara terpisah di luar jam makan.
“Cepat bersiap, aku akan menunggumu di depan,” ucap Oliver dengan lembut. Kali ini nada bicaranya terdengar jauh lebih santai daripada biasanya.
“Baiklah,” jawab Nhea. Suaranya masih parau, khas seperti orang baru bangun tidur.
Tanpa berniat memberikan balasan lebih lanjut kepada gadis itu, Oliver segera pergi meninggalkan ruangan. Sesuai dengan janjinya tadi, ia akan menunggu di luar selama Nhea bersiap. Dia sudh selesai sejak tadi sebenarnya. Saat ini hanya tinggal menunggu Nhea saja. Kemudian mereka bisa berangkat bersama seperti biasanya.
Oliver menunggu di luar sambil memainkan kakinya. Beberapa kali ia tampak disapa oleh para siswa lain yang kebetulan sedang melewati lorong tersebut. Jujur, ia merasa bosan sekaligus bersalah terhadap Nhea. Kejadian kemarin membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Menurutnya, sikapnya kepada Nhea sudah berlebihan. Tidak seharusnya ia ikut campur dalam urusan keluarga itu. Lagipula Oliver tidak lebih dari seorang kepala asrama perempuan saja. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan anggota keluarga.
Gadis itu merasa kesepian karena kemarin Nhea benar-benar mendiamkannya. Tidak hanya itu. Nhea bahkan sampai ikut menjaga jarak dengan mereka bertiga. Wajar saja. Suasana hatinya sedang tidak baik. Ia tidak mau berada di sekitar orang-orang yang akan membuat suasana hatinya semakin kacau lagi. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Meskipun Oliver tidak benar-benar sendirian kemarin, tetap saja ia merasa kesepian. Padahal sebelum Nhea datang, selalu ada Jongdae dan juga Jang Eunbi di sisinya. Bahkan sampai kemarin sekalipun, mereka masih tetap bersama. Tapi, entah kenapa jika tidak ada Nhea semuanya terasa berbeda saja. Oliver tidak pernah benar-benar yakin dimana letak perbedaan tersebut.
__ADS_1
Sepertinya bukan hanya Oliver saja yang merasakan hal tersebut. Ia yakin jika kakanya Jongdae dan juga Jang Eunbi juga merasakan hal yang sama persis. Cepat atau lambat, mereka harus meminta maaf dengan gadis itu sesegera mungkin. Tidak baik jika membiarkan hubungan mereka tetap renggang seperti ini.
‘CEKLEK!!!’
Tak lama kemudian, Nhea sudah siap dengan baju seragamnya. Ia terlihat jauh lebih baik jika berpenampilan seperti ini daripada yang tadi.
“Sudah selesai?” tanya Oliver dengan ragu yang kemudian mendapatkan anggukan dari Nhea.
Mereka memutuskan untuk segera pergi ke gedung utama menyusul yng lainnya. Pasti sudah banyak orang di sana. Keduanya berjalan beriringan seperti biasanya. Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang buka suara. Sehingga, suasanya yang sudah hening terasa semakin mencekam. Oliver sempat berdeham beberapa kali. Ia sengaja melakukannya untuk menetralisir atmosfir sekitar. Tapi ternyata hasilnya tetap nihil Nhea terus melaju tanpa menghiraukan hal tersebut sama sekali.
Mereka terjebak dalam situasi yang cukup canggung. Biasanya tidak pernah seperti ini. Untuk pertama kalinya mereka merasakan atmosfir yang berbeda. Didominasi oleh aura negative. Nyaris tidak ada hal positif yang terjadi di sini.
“Nhea!” sahut Oliver pelan.
“Maafkan aku soal kemarin,” ujar Oliver.
Sepertinya kali ini gadis itu tampak benar-benar tulus mengatakan hal tersebut. Oliver sungguh menyesali perbuatannya kemarin. Dia berhasil menyadari kesalahannya dalam waktu satu malam. Nhea pikir akan lebih dari itu.
“Aku sudah memaafkanmu,” balas Nhea secara gamblang.
Ia seolah tidak mempermasalahkan sesuatu yang sudah menjadi sebuah masalah kemarin. Melupakannya memang cukup mudah. Tapi, entah memang benar begitu atau tidak.
__ADS_1
Sementara itu, Oliver yang mendengar kalimat tersebut langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Otaknya menolak untuk percaya. Tidak peduli sudah seberapa sering ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri soal hal tersebut. Pasalnya, kalimat yang meluncur dari mulut gadis itu cukup sulit untuk dipercaya. Kemarin Nhea nyaris tidak mau berhubungan lagi dengannya, tapi mendadak pagi ini ia sudah memaafkan Oliver. Seolah yang kemarin tidak pernah terjadi sama sekali. Sebenarnya terbuat dari apa hati gadis ini.
“Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi?” tanya Oliver sekali lagi untuk memastikan.
“Tentu saja!” balas Nhea diiringi dengan anggukan yakin.
“Memangnya saat ini aku terlihat seperti bercanda dengan ucapanku barusan?” tanya gadis itu balik.
“Kalau begitu, biar ku tarik lagi kata-kataku,” lanjutnya.
“Jangan!” cegah Oliver.
Tentu saja dia tidak ingin jika Nhea sampai menarik kembali kata-katanya barusan. Sungguh sebuah keajaiban jika Nhea sudi memaafkannya atas kesalahan besarnya kemarin.
“Tapi, terima kasih banyak karena sudah memaafkanku,” ucap Oliver kemudian.
Nhea sama sekali tidak berniat untuk membalas ucapan gadis itu barusan. Stok kata-kata di dalam kepalanya mendadak enyah seketika.
Setelah percakapan tadi, suasana kembali hening. Namun tidak setegang tadi. Setidaknya Oliver sudah merasa jauh lebih nyaman berada di sekitar Nhea. Ia sama sekali tidak mengira jika situasinya bisa kembali seperti semula.
Dia sudah sempat merusak kepercayaan gadis ini sebelumnya. Oliver akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Karena, ia tahu jika kepercayaan bukan persoalan mudah. Merusak rasa kepercayaan orang lain sama saja dengan melemparkan batu ke sebuah kaca. Jika sudah rusak, akan sulit untuk dikembalikan lagi.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke gedung utama. Sebagian besar siswa dan beberapa orang lainnya sudah berkumpul di sana sejak pagi. Mereka akan segera memulai jamuannya dalam beberapa saat lagi. Karena berangkat lebih lama dari biasanya, Nhea dan Oliver mendapatkan barisan antri paling akhir. Tidak masalah. Selama mereka masih bisa menikmati sarapan paginya dengan tenang.