
Setelah bersusah payah, pada
akhirnya Eun Ji Hae berhasil mengendalikan situasinyan kembali. Meski belum benar-benar
sampai sekondusif saat awal pertama masuk tadi. Tapi tidak apa. Paling tidak
sekarang sudah jauh lebuh baik dari pada sebelumnya.
Eun Ji Hae memang harus mengakui
jika tidak semudah itu untuk menaklukkan semua orang. Tidak semua orang bisa
dikendalikan dengan mudah. Terkadan ada saja salah satu dari sekelompok orang
yang berusaha untuk memberontak. Pasti selalu ada saja orang seperti itu di
setiap kelompok orang. Eun Ji Hae sudah sering menjumpai yang seperti itu. Nhea
dan teman-temannya yang lain adalah salah satunya. Ini bukan pengalaman pertama
kali Eun Ji Hae bertemu dengan orang-orang seperti mereka.
Terkadang memang membutuhkan
teknik pendekatan secara khusus untuk orang-orang seperti itu. Tidak mudah bagi
Eun Ji Hae yang memiliki kepribadian berbeda dengan orang tersebut. Mereka pasti
akan mudah akrab.
Hari ini Eun Ji Hae sudah banyak
berusaha agar bisa menentramkan lagi semua orang. Sejauh ini keadaannya sudah
cukup kacau. Tidak lagi kondusif. Padahal mereka belum memasuki acara utamanya.
Untuk kali ini Eun Ji Hae bersedia melakukan apa saja, asal acara penobatannya
berjalan lancar. Tidak pun lancar seperti apa yang ia inginkan selama ini,
paling tidak Vallery sudah mengesahkan Eun Ji Hae sebagai pimpinan akademi
sihir Mooneta yang baru.
Tidak peduli dengan apa yang
terjadi. Setidaknya Eun Ji Hae sudah mendapatkan apa yang ia mau. Cukup tidak masuk
akal terkadang. Tapi memang selalu ada saja tipikal orang seperti Eun Ji Hae.
Mereka pada umumnya akan jauh lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri di
atas kepentingan orang lain.
Untuk kasus Eun Ji Hae sendiri,
Nhea yakin betul jika sikap aslinya bukan seperti itu. Dia memiliki kepribadian
yang tidak pernah mereka kira sebelumnya. Namun, karena berada di lingkungan
yang cukup kompetitif, mau tidak mau Eun Ji Hae memang juga harus ikut
bersaing. Bukan sesuatu yang mudah baginya. Eun Ji Hae hanya bisa melakukan
cara yang satu itu jika memang ingin bertahan. Tidak ada pilihan lain.
“Terlepas dari kalian menerima
atau tidak keputusan tersebut, Eun Ji Hae tetap akan diangkat menjadi pimpinan
akademi sihir Mooneta yang baru,” ujar Bibi Ga Eun.
Seolah tidak mempermasalahkan hal
tersebut, mereka tetap akan melaksanakan acara penobatan. Sesuai dengan tatanan
acara yang sudah ditetapkan sebelumnya tentunya. Pihak keluarga inti dari
akademi sihir Mooneta tidak akan ambil pusing perihal tersebut. Terutama Eun Ji
Hae. Saat ini sungguh tidak ada hal yang sedang ia pikirkan,s elain jabatan
sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta.
Eun Ji Hae sama sekali tidak bisa
menyingkirkan hal tersebut dari dalam pikirannya. Entah kenapa bisa sampai
begitu. Sebegitu inginnya kah Eun Ji Hae menyandang status serta jabatan
sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta. Sampai ia rela melakukan apa saja untuk
mendapatkan hal tersebut. Bahkan Eun Ji Hae tidak segan-segan untuk
menghalalkan segala cara. Tujuannya hanya satu, yaitu demi tercapainya
tujuannya.
Entah dorongan macam apa yang
membuatnya menjadi seperti ini. Tidak ada yang tahu sama sekali. Padahal sebelumnya
Eun Ji Hae bukan tipikal orang yang tergila-gila akan jabatan seperti itu.
Tidak ada yang tahu pasti apa lasananya mendadak berubah seperti ini. Yang
jelas, Eun Ji Hae yang berada di hadapan mereka sekarang, bukan Eun Ji Hae yang
dulu mereka tahu.
“Kami akan segera memulai acara
penobatannya. Jadi, kami berharap agar semua orang bisa duduk dengan tenang di
tempatnya masng-masing,” jelas Bibi Ga Eun dengan panjang lebar.
“Jangan ada yang berani-beraninya
mencoba untuk membuat keributan seperti tadi!” tegasnya sekali lagi.
“Apalagi sampai mengacaukan acara
sakral ini,” final Bibi Ga Eun sebelum wanita itu kembali ke tempat duduknya
semula.
Nhea sama sekali tidak habis
pikir. Bagaimana bisa Bibi Ga Eun mendadak berada di pihak Eun Ji Hae. Semua
orang juga tahu jika Bibi Ga Eun telah melakukan kesalahan yang fatal dengan
memihak Eun Ji Hae. Tidak ada seorang pun yang merasa setuju dengan hal
tersebut.
Siapa pun tidak akan setuju jika
Eun Ji Hae diangkat sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta. Bukannya tidak
pantas. Jika dipikir-pikir sekali lagi, maka Eun Ji Hae sebenarnya jauh lebih
memiliki poin plus jika dibandingkan dengan Nhea. Tapi tetap saja mereka tidak
bisa membuat keputusan seperti ini secara sepihak. Apa lagi tanpa memberi tahu
Nhea terlebih dahulu. Seolah-olah mereka telah mendahului gadis itu. Padahal posisi
Nhea sama saja dengan Eun Ji Hae. Tidak ada perbedaannya sama sekali. Malah
__ADS_1
sebenarnya Nhea jauh lebih berhak atas apa pun yang menyangkut dengan akademi
ini jika dibandingkan Eun Ji Hae.
Suasana kembali hening sekaligus
berubah menjadi mencekam di saat yang bersamaan. Bibi Ga Eun langsung kembali
ke tempat duduknya semula. Tepat setelah ia selesai menyampaikan apa-apa saja
yang rasanya perlu ia sampaikan.
Bibi Ga Eun juga telah berperan
secara tidak langsung dalam proses pengendalian situasi. Terutama setelah
kejadian tadi. Keributan mendadak muncul dan menjadi tidak terkendali. Yang
tadi itu sungguh membuat semua orang menjadi panas. Termasuk Eun Ji Hae, Bibi
Ga Eun dan Wilson. Sebaliknya, Vallery malah merasa baik-baik saja. Karena pada
akhirnya mereka harus tetap mengatakan yang sebenarnya.
Selama ini sudah begitu banyak
hal yang ditutup-tutupi oleh wanita itu. Vallery telah menyimpan begitu banyak
hal bersamanya. Ia sendiri bahkan tidak tahu harus berkata-kata bagaimana lagi.
Bukan pekara yang mudah untuk menyimpan semua rahasia tersebut. Paling tidak,
perkataannya yang tadi sudah berhasil membuatnya merasa jauh lebih lega dari
pada yang sebelumnya.
Walau pun belum benar-benar
hilang sepenuhnya, paling tidak isi pikirannya sudah tidak sepadat dulu lagi.
Masih ada sedikit ruang yang bisa ia gunakan untuk berpikir dengan jernih.
Beban yang ia pikul di pundaknya selama ini juga perlahan mulai terasa berkurang.
“Sebaiknya kita segera
melangsungkan acara penobatannya saja,” usul Wilson.
Untuk pertama kalinya pria itu
buka suara. Ia bahkan sama sekali belum ada berbicara sejak awal menginjakkan
kakinya di dalam sini. Selama ini Wilson memang cukup terkenal tidak banyak
bicara. Pria itu hanya akan buka suara, jika ia merasa benar-benar penting. Selebihnya
tidak sama sekali. Bukan orang yang pendiam. Pria itu hanya tidak suka
berbicara terlalu banyak soal hal yang sebenarnya memang tidak pantas untuk mereka
bicarakan dengan panjang lebar.
Wilson termasuk salah satu orang
yang cukup bijaksana di akademi sihir Mooneta. Ia pantas untuk menjadi seorang
pemimppin. Dulu Vallery pernah ingin
menjadikannya sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta untuk menggantikan
dirinya. Pasalnya, wanita itu juga merasa jika Wilson bisa melakukan segalanya jauh lebih baik dari pada
dirinya sendiri. Lantas, kenapa tidak?
Namun, pada saat itu Wilson
menolak tawaran tersebut dengan mentah-mentah. Entah apa yang berada di dalam
keadaan sadar. Dan ia memang tidak begitu menginginkan jabatan tersebut.
Lagipula jabatan memang tidak
menentukan segalanya. Buktinya Wilson masih bisa bertahan sampai saat ini, di
tengah-tengah situasi yang kian memanas. Dengan hanya bertahan kepada dirinya
sendiri, Wilson bisa membutikan jika ia mampu.
***
Tanpa pikir panjang, Vallery
segera mengiyakan perkataan suaminya yang satu itu. Bibi Ga Eun juga tampaknya
tidak ada masalah. Mereka bertiga sepakat untuk segera mempercepat acaranya
menjadi beberapa menit lebih cepat dari pada jadwal yang seharusnya.
Terlepas dari persetujuan para
anggota, mereka akan tetap melaksanakan hal tersebut. Pasti semua orang akan
menentang kebijakan yang satu ini juga. Mereka menganggap jika keputusan yang
satu ini tidak bisa digunakan secara keseluruhan. Tapi, baik Bibi Ga Eun, Vallery,
Wilson maupun Eun Ji Hae tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali.
Tanpa mereka sadari dengan
mempercepat acara intinya, itu sama saja dengan memudahkan Chanwo dan Nhea
dalam menjalankan rencananya. Semakin cepat acara ini dilaksanakan, semakin
cepat pula Nhea dan Chanwo beraksi. Dengan begitu, maka permasalahannya akan
semakin cepat pula selesai.
Paling tidak beban pikiran gadis
ini juga akan berkurang dengan jauh lebih cepat. Dia tidak perlu memikirkan apa
pun lagi. Nhea tentu akan merasa lega.
“Persiapkan dirimu!” titah
Chanwo.
“Kita akan segera beraksi!” tegas
pria itu sekali lagi.
Chanwo bahkan sudah memberikan peringatan
terhadap gadis itu lebih dulu. Dengan begitu rencana mereka kali ini akan jauh
lebih matang dari pada yang sebelumnya.
Tanpa pikir panjang, Nhea segera
mengiyakan perkataan pria itu. Bahkan tanpa diberi tahu oleh Chanwo pun, Nhea
sudah tahu. Bukan hanya itu saja. Nhea bahkan sudah siap sejak tadi. Jadi,
tidak perlu diragukan lagi. Gadis itu selalu siap kapan saja ketika dibutuhkan.
Jangan pernah meremehkan Nhea.
Mungkin selama ini orang selalu beranggapan jika gadis itu tidak bisa melakukan
__ADS_1
apa-apa. Tapi, pada kenyataannya ia selalu bisa diandalkan. Lihat saja
bagaimana mereka selama ini.
Tidak perlu diragkan lagi memang.
Bahkan selama ini mereka berusaha untuk menghindari kenyataan tersebut. Tanpa perlu
pengakuan pun, semua orang tahu jika selama ini Nhea selalu menjadi orang yang
di andalkan. Meskipun ia tidak berada pada urutan yang pertama, tapi tetap saja
jika gadis itu termasuk kepada salah satu orang yang paling dibutuhkan di
akademi ini. Selain Oliver, Jongdae dan beberapa orang lainnya.
***
Dalam acara penobatan kali ini,
mereka terpaksa memanggil pimpinan kota. Hanya ia satu-satunya orang yang
berhak untuk mengangkat serta menurunkan pimpinan akademi. Itu artinya, meski
sudah diangkat sebagai pimpinan akademi, posisi Eun Ji Hae tetap saja belum
aman. Gadis itu masih tetap harus menjaga sikapnya di depan orang-orang
tertentu. Eun Ji Hae tidak boleh sampai kehilangan simpati dari orang-orang
penting tersebut. Apalagi kalau sampai mereka kehilangan kepercayaan terhadap
Eun Ji Hae, itu berarti posisinya sudah terancam. Eun Ji Hae sudah gawat. Kecil
kemungkinan baginya untuk tetap selamat.
Kebetulan sekali pimpinan kota
belum datang saat keributan tengah terjadi tadi. Mereka berencana untuk segera
melangsungkan acaranya dan bersiap, tepat setelah menerima informasi jika
pimpinan kota sudah sampai di gerbang utama akademi sihir Mooneta. Salah satu
orang sudah ditugaskan untuk mengawal pimpinan kota dari gerbang utama menuju
ke aula.
Setelah dipikir-pikir, sekarang
situasinya sudah cukup kondusif. Mereka bisa langsung melantik Eun Ji Hae
secepat mungkin, untuk menghindari hal yang serupa terulang kembali. Dalam
saat-saat genting seperti ini, kecepatan dan ketepatan menjadi hal yang begitu
penting di sini. Mereka dituntut untuk bisa membaca keadaan sekitar dan
memanfaatkan situasi dengan sebaik-baiknya.
“Persiapkan dirimu, pimpinan kota
akan segera datang!” bisik Bibi Ga Eun kepada gadis itu.
Kemudian Eun Ji Hae segera
mengiyakan perkataan Bibi Ga Eun tadi. Bahkan rasanya ia sudah tidak perlu
berpikir lebih jauh lagi. Eun Ji Hae sudah mempercayakan segalanya kepada Bibi
Ga Eun. Begitu pula sebaliknya, Bibi Ga Eun merasakan hal yang sama juga. Pada
intinya, mereka sudah saling percaya saat ini. Sehingga tidak ada hal lain yang
perlu dicurigakan.
Ringkasnya, ketika dua orang atau
lebih sudah saling mempercayai antara satu dengan yang lainnya, maka tidak ada
batasan di antara mereka. Bukan pekara yang mudah untuk menaklukkan hati orang
lain. Apalagi sampai mendapatkan rasa percaya darinya.
Namun, Eun Ji Hae berhasil
membuktikan jika ia bisa. Mungkin hal tersebut terasa sama sulitnya. Tapi,
memangnya siapa yang peduli soal proses. Mereka semua hanya mementingkan hasil
akhirnya. Semua orang hanya ingin tahu sekaligus ingin melihat hasil akhirnya. Tanpa
peduli sekeras apa kau berusaha. Karena percuma saja. Mereka tetap tidak akan
mempedulikan hal tersebut, bahkan jika kau telah menunjukkan usahamu sekali
pun. Karena bagi mereka, itu sama sekali tidak penting. Tidak ada hubungannya
dengan mereka.
“Tenang saja Eun Ji Hae, sebentar
lagi kau akan segera mendapatkan apa yang kau mau,” batin Eun Ji Hae di dalam
hati.
“Hanya tinggal satu langkah lagi,”
lanjutnya.
Sejak tadi, Eun Ji Hae terus
berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, jika kejadian
barusan berhasil membuat dirinya gentar. Tapi, Eun Ji Hae berusaha sekuat
tenaga untuk bersikap biasa saja di hadapan semua orang. Ia tidak boleh
terlihat lemah.
Eun Ji Hae bukan tipikal orang
yang suka menunjukkan kelemahan dirinya sendiri di depan orang lain. Lebih
tepatnya, ia tidak suka terlihat lemah di hadapan orang. Cukup dirinya sendiri
saja yang mengetahui hal tersebut.
Bukan hanya situasinya saja yang
berubah menjadi kacau tadi. Bahkan perasaan Eun Ji Hae juga ikut berantakan.
Setiap hal yang ada di dalam dirinya sudah berantakan. Tidak jelas lagi bagaimana
bentuk dan rupanya. Eun Ji Hae sendiri tidak bisa mendeskripsikan perasaannya
sendiri dengan kata-kata.
Dari
sekian banyak hal buruk yang pernah terjadi kepada dirinya, Eun Ji Hae belum
pernah merasa begitu kacau sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya Eun Ji Hae
merasa gentar. Terutama saat ia melihat ekspresi wajah Nhea yang tampak begitu
tenang di tengah keriuhan suasana pada saat itu. Eun Ji Hae benar-benar panik ketika
mendapati hal tersebut. Ia nyaris tidak percaya jika ternyata Nhea berhasil
__ADS_1
mengelabuinya.