Mooneta High School

Mooneta High School
Step Out


__ADS_3

Setelah bersusah payah, pada


akhirnya Eun Ji Hae berhasil mengendalikan situasinyan kembali. Meski belum benar-benar


sampai sekondusif saat awal pertama masuk tadi. Tapi tidak apa. Paling tidak


sekarang sudah jauh lebuh baik dari pada sebelumnya.


Eun Ji Hae memang harus mengakui


jika tidak semudah itu untuk menaklukkan semua orang. Tidak semua orang bisa


dikendalikan dengan mudah. Terkadan ada saja salah satu dari sekelompok orang


yang berusaha untuk memberontak. Pasti selalu ada saja orang seperti itu di


setiap kelompok orang. Eun Ji Hae sudah sering menjumpai yang seperti itu. Nhea


dan teman-temannya yang lain adalah salah satunya. Ini bukan pengalaman pertama


kali Eun Ji Hae bertemu dengan orang-orang seperti mereka.


Terkadang memang membutuhkan


teknik pendekatan secara khusus untuk orang-orang seperti itu. Tidak mudah bagi


Eun Ji Hae yang memiliki kepribadian berbeda dengan orang tersebut. Mereka pasti


akan mudah akrab.


Hari ini Eun Ji Hae sudah banyak


berusaha agar bisa menentramkan lagi semua orang. Sejauh ini keadaannya sudah


cukup kacau. Tidak lagi kondusif. Padahal mereka belum memasuki acara utamanya.


Untuk kali ini Eun Ji Hae bersedia melakukan apa saja, asal acara penobatannya


berjalan lancar. Tidak pun lancar seperti apa yang ia inginkan selama ini,


paling tidak Vallery sudah mengesahkan Eun Ji Hae sebagai pimpinan akademi


sihir Mooneta yang baru.


Tidak peduli dengan apa yang


terjadi. Setidaknya Eun Ji Hae sudah mendapatkan apa yang ia mau. Cukup tidak masuk


akal terkadang. Tapi memang selalu ada saja tipikal orang seperti Eun Ji Hae.


Mereka pada umumnya akan jauh lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri di


atas kepentingan orang lain.


Untuk kasus Eun Ji Hae sendiri,


Nhea yakin betul jika sikap aslinya bukan seperti itu. Dia memiliki kepribadian


yang tidak pernah mereka kira sebelumnya. Namun, karena berada di lingkungan


yang cukup kompetitif, mau tidak mau Eun Ji Hae memang juga harus ikut


bersaing. Bukan sesuatu yang mudah baginya. Eun Ji Hae hanya bisa melakukan


cara yang satu itu jika memang ingin bertahan. Tidak ada pilihan lain.


“Terlepas dari kalian menerima


atau tidak keputusan tersebut, Eun Ji Hae tetap akan diangkat menjadi pimpinan


akademi sihir Mooneta yang baru,” ujar Bibi Ga Eun.


Seolah tidak mempermasalahkan hal


tersebut, mereka tetap akan melaksanakan acara penobatan. Sesuai dengan tatanan


acara yang sudah ditetapkan sebelumnya tentunya. Pihak keluarga inti dari


akademi sihir Mooneta tidak akan ambil pusing perihal tersebut. Terutama Eun Ji


Hae. Saat ini sungguh tidak ada hal yang sedang ia pikirkan,s elain jabatan


sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta.


Eun Ji Hae sama sekali tidak bisa


menyingkirkan hal tersebut dari dalam pikirannya. Entah kenapa bisa sampai


begitu. Sebegitu inginnya kah Eun Ji Hae menyandang status serta jabatan


sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta. Sampai ia rela melakukan apa saja untuk


mendapatkan hal tersebut. Bahkan Eun Ji Hae tidak segan-segan untuk


menghalalkan segala cara. Tujuannya hanya satu, yaitu demi tercapainya


tujuannya.


Entah dorongan macam apa yang


membuatnya menjadi seperti ini. Tidak ada yang tahu sama sekali. Padahal sebelumnya


Eun Ji Hae bukan tipikal orang yang tergila-gila akan jabatan seperti itu.


Tidak ada yang tahu pasti apa lasananya mendadak berubah seperti ini. Yang


jelas, Eun Ji Hae yang berada di hadapan mereka sekarang, bukan Eun Ji Hae yang


dulu mereka tahu.


“Kami akan segera memulai acara


penobatannya. Jadi, kami berharap agar semua orang bisa duduk dengan tenang di


tempatnya masng-masing,” jelas Bibi Ga Eun dengan panjang lebar.


“Jangan ada yang berani-beraninya


mencoba untuk membuat keributan seperti tadi!” tegasnya sekali lagi.


“Apalagi sampai mengacaukan acara


sakral ini,” final Bibi Ga Eun sebelum wanita itu kembali ke tempat duduknya


semula.


Nhea sama sekali tidak habis


pikir. Bagaimana bisa Bibi Ga Eun mendadak berada di pihak Eun Ji Hae. Semua


orang juga tahu jika Bibi Ga Eun telah melakukan kesalahan yang fatal dengan


memihak Eun Ji Hae. Tidak ada seorang pun yang merasa setuju dengan hal


tersebut.


Siapa pun tidak akan setuju jika


Eun Ji Hae diangkat sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta. Bukannya tidak


pantas. Jika dipikir-pikir sekali lagi, maka Eun Ji Hae sebenarnya jauh lebih


memiliki poin plus jika dibandingkan dengan Nhea. Tapi tetap saja mereka tidak


bisa membuat keputusan seperti ini secara sepihak. Apa lagi tanpa memberi tahu


Nhea terlebih dahulu. Seolah-olah mereka telah mendahului gadis itu. Padahal posisi


Nhea sama saja dengan Eun Ji Hae. Tidak ada perbedaannya sama sekali. Malah

__ADS_1


sebenarnya Nhea jauh lebih berhak atas apa pun yang menyangkut dengan akademi


ini jika dibandingkan Eun Ji Hae.


Suasana kembali hening sekaligus


berubah menjadi mencekam di saat yang bersamaan. Bibi Ga Eun langsung kembali


ke tempat duduknya semula. Tepat setelah ia selesai menyampaikan apa-apa saja


yang rasanya perlu ia sampaikan.


Bibi Ga Eun juga telah berperan


secara tidak langsung dalam proses pengendalian situasi. Terutama setelah


kejadian tadi. Keributan mendadak muncul dan menjadi tidak terkendali. Yang


tadi itu sungguh membuat semua orang menjadi panas. Termasuk Eun Ji Hae, Bibi


Ga Eun dan Wilson. Sebaliknya, Vallery malah merasa baik-baik saja. Karena pada


akhirnya mereka harus tetap mengatakan yang sebenarnya.


Selama ini sudah begitu banyak


hal yang ditutup-tutupi oleh wanita itu. Vallery telah menyimpan begitu banyak


hal bersamanya. Ia sendiri bahkan tidak tahu harus berkata-kata bagaimana lagi.


Bukan pekara yang mudah untuk menyimpan semua rahasia tersebut. Paling tidak,


perkataannya yang tadi sudah berhasil membuatnya merasa jauh lebih lega dari


pada yang sebelumnya.


Walau pun belum benar-benar


hilang sepenuhnya, paling tidak isi pikirannya sudah tidak sepadat dulu lagi.


Masih ada sedikit ruang yang bisa ia gunakan untuk berpikir dengan jernih.


Beban yang ia pikul di pundaknya selama ini juga perlahan mulai terasa berkurang.


“Sebaiknya kita segera


melangsungkan acara penobatannya saja,” usul Wilson.


Untuk pertama kalinya pria itu


buka suara. Ia bahkan sama sekali belum ada berbicara sejak awal menginjakkan


kakinya di dalam sini. Selama ini Wilson memang cukup terkenal tidak banyak


bicara. Pria itu hanya akan buka suara, jika ia merasa benar-benar penting. Selebihnya


tidak sama sekali. Bukan orang yang pendiam. Pria itu hanya tidak suka


berbicara terlalu banyak soal hal yang sebenarnya memang tidak pantas untuk mereka


bicarakan dengan panjang lebar.


Wilson termasuk salah satu orang


yang cukup bijaksana di akademi sihir Mooneta. Ia pantas untuk menjadi seorang


pemimppin. Dulu  Vallery pernah ingin


menjadikannya sebagai pimpinan akademi sihir Mooneta untuk menggantikan


dirinya. Pasalnya, wanita itu juga merasa jika Wilson bisa  melakukan segalanya jauh lebih baik dari pada


dirinya sendiri. Lantas, kenapa tidak?


Namun, pada saat itu Wilson


menolak tawaran tersebut dengan mentah-mentah. Entah apa yang berada di dalam


keadaan sadar. Dan ia memang tidak begitu menginginkan jabatan tersebut.


Lagipula jabatan memang tidak


menentukan segalanya. Buktinya Wilson masih bisa bertahan sampai saat ini, di


tengah-tengah situasi yang kian memanas. Dengan hanya bertahan kepada dirinya


sendiri, Wilson bisa membutikan jika ia mampu.


***


Tanpa pikir panjang, Vallery


segera mengiyakan perkataan suaminya yang satu itu. Bibi Ga Eun juga tampaknya


tidak ada masalah. Mereka bertiga sepakat untuk segera mempercepat acaranya


menjadi beberapa menit lebih cepat dari pada jadwal yang seharusnya.


Terlepas dari persetujuan para


anggota, mereka akan tetap melaksanakan hal tersebut. Pasti semua orang akan


menentang kebijakan yang satu ini juga. Mereka menganggap jika keputusan yang


satu ini tidak bisa digunakan secara keseluruhan. Tapi, baik Bibi Ga Eun, Vallery,


Wilson maupun Eun Ji Hae tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali.


Tanpa mereka sadari dengan


mempercepat acara intinya, itu sama saja dengan memudahkan Chanwo dan Nhea


dalam menjalankan rencananya. Semakin cepat acara ini dilaksanakan, semakin


cepat pula Nhea dan Chanwo beraksi. Dengan begitu, maka permasalahannya akan


semakin cepat pula selesai.


Paling tidak beban pikiran gadis


ini juga akan berkurang dengan jauh lebih cepat. Dia tidak perlu memikirkan apa


pun lagi. Nhea tentu akan merasa lega.


“Persiapkan dirimu!” titah


Chanwo.


“Kita akan segera beraksi!” tegas


pria itu sekali lagi.


Chanwo bahkan sudah memberikan peringatan


terhadap gadis itu lebih dulu. Dengan begitu rencana mereka kali ini akan jauh


lebih matang dari pada yang sebelumnya.


Tanpa pikir panjang, Nhea segera


mengiyakan perkataan pria itu. Bahkan tanpa diberi tahu oleh Chanwo pun, Nhea


sudah tahu. Bukan hanya itu saja. Nhea bahkan sudah siap sejak tadi. Jadi,


tidak perlu diragukan lagi. Gadis itu selalu siap kapan saja ketika dibutuhkan.


Jangan pernah meremehkan Nhea.


Mungkin selama ini orang selalu beranggapan jika gadis itu tidak bisa melakukan

__ADS_1


apa-apa. Tapi, pada kenyataannya ia selalu bisa diandalkan. Lihat saja


bagaimana mereka selama ini.


Tidak perlu diragkan lagi memang.


Bahkan selama ini mereka berusaha untuk menghindari kenyataan tersebut. Tanpa perlu


pengakuan pun, semua orang tahu jika selama ini Nhea selalu menjadi orang yang


di andalkan. Meskipun ia tidak berada pada urutan yang pertama, tapi tetap saja


jika gadis itu termasuk kepada salah satu orang yang paling dibutuhkan di


akademi ini. Selain Oliver, Jongdae dan beberapa orang lainnya.


***


Dalam acara penobatan kali ini,


mereka terpaksa memanggil pimpinan kota. Hanya ia satu-satunya orang yang


berhak untuk mengangkat serta menurunkan pimpinan akademi. Itu artinya, meski


sudah diangkat sebagai pimpinan akademi, posisi Eun Ji Hae tetap saja belum


aman. Gadis itu masih tetap harus menjaga sikapnya di depan orang-orang


tertentu. Eun Ji Hae tidak boleh sampai kehilangan simpati dari orang-orang


penting tersebut. Apalagi kalau sampai mereka kehilangan kepercayaan terhadap


Eun Ji Hae, itu berarti posisinya sudah terancam. Eun Ji Hae sudah gawat. Kecil


kemungkinan baginya untuk tetap selamat.


Kebetulan sekali pimpinan kota


belum datang saat keributan tengah terjadi tadi. Mereka berencana untuk segera


melangsungkan acaranya dan bersiap, tepat setelah menerima informasi jika


pimpinan kota sudah sampai di gerbang utama akademi sihir Mooneta. Salah satu


orang sudah ditugaskan untuk mengawal pimpinan kota dari gerbang utama menuju


ke aula.


Setelah dipikir-pikir, sekarang


situasinya sudah cukup kondusif. Mereka bisa langsung melantik Eun Ji Hae


secepat mungkin, untuk menghindari hal yang serupa terulang kembali. Dalam


saat-saat genting seperti ini, kecepatan dan ketepatan menjadi hal yang begitu


penting di sini. Mereka dituntut untuk bisa membaca keadaan sekitar dan


memanfaatkan situasi dengan sebaik-baiknya.


“Persiapkan dirimu, pimpinan kota


akan segera datang!” bisik Bibi Ga Eun kepada gadis itu.


Kemudian Eun Ji Hae segera


mengiyakan perkataan Bibi Ga Eun tadi. Bahkan rasanya ia sudah tidak perlu


berpikir lebih jauh lagi. Eun Ji Hae sudah mempercayakan segalanya kepada Bibi


Ga Eun. Begitu pula sebaliknya, Bibi Ga Eun merasakan hal yang sama juga. Pada


intinya, mereka sudah saling percaya saat ini. Sehingga tidak ada hal lain yang


perlu dicurigakan.


Ringkasnya, ketika dua orang atau


lebih sudah saling mempercayai antara satu dengan yang lainnya, maka tidak ada


batasan di antara mereka. Bukan pekara yang mudah untuk menaklukkan hati orang


lain. Apalagi sampai mendapatkan rasa percaya darinya.


Namun, Eun Ji Hae berhasil


membuktikan jika ia bisa. Mungkin hal tersebut terasa sama sulitnya. Tapi,


memangnya siapa yang peduli soal proses. Mereka semua hanya mementingkan hasil


akhirnya. Semua orang hanya ingin tahu sekaligus ingin melihat hasil akhirnya. Tanpa


peduli sekeras apa kau berusaha. Karena percuma saja. Mereka tetap tidak akan


mempedulikan hal tersebut, bahkan jika kau telah menunjukkan usahamu sekali


pun. Karena bagi mereka, itu sama sekali tidak penting. Tidak ada hubungannya


dengan mereka.


“Tenang saja Eun Ji Hae, sebentar


lagi kau akan segera mendapatkan apa yang kau mau,” batin Eun Ji Hae di dalam


hati.


“Hanya tinggal satu langkah lagi,”


lanjutnya.


Sejak tadi, Eun Ji Hae terus


berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, jika kejadian


barusan berhasil membuat dirinya gentar. Tapi, Eun Ji Hae berusaha sekuat


tenaga untuk bersikap biasa saja di hadapan semua orang. Ia tidak boleh


terlihat lemah.


Eun Ji Hae bukan tipikal orang


yang suka menunjukkan kelemahan dirinya sendiri di depan orang lain. Lebih


tepatnya, ia tidak suka terlihat lemah di hadapan orang. Cukup dirinya sendiri


saja yang mengetahui hal tersebut.


Bukan hanya situasinya saja yang


berubah menjadi kacau tadi. Bahkan perasaan Eun Ji Hae juga ikut berantakan.


Setiap hal yang ada di dalam dirinya sudah berantakan. Tidak jelas lagi bagaimana


bentuk dan rupanya. Eun Ji Hae sendiri tidak bisa mendeskripsikan perasaannya


sendiri dengan kata-kata.


Dari


sekian banyak hal buruk yang pernah terjadi kepada dirinya, Eun Ji Hae belum


pernah merasa begitu kacau sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya Eun Ji Hae


merasa gentar. Terutama saat ia melihat ekspresi wajah Nhea yang tampak begitu


tenang di tengah keriuhan suasana pada saat itu. Eun Ji Hae benar-benar panik ketika


mendapati hal tersebut. Ia nyaris tidak percaya jika ternyata Nhea berhasil

__ADS_1


mengelabuinya.


__ADS_2