
Hwang Ji Na menghentikan kegiatannya untuk
melambai-lambaikan tangan ke arah gadis itu. percuma saja, toh ia tak akan
menoleh sama sekali. Mau tak mau Hwang Ji Na harus memutar otak dan mencari
jalan keluar yang lainnya. Harus ada cara alternatif lain yang ia pikirkan.
Gadis itu hanya perlu menerik perhatian Eun Ji Hae saja.
Tidak dengan yang lainnya. Ia tidak boleh sampai menjadi pusat perhatian hanya
karena hal konyol seperti itu.
Hwang Ji Na menurunkan pandangannya. Kuku jemarinya ia
mainkan. Salah satunya mengusap-usap dagu. Tidak ada satu pun hal yang terlintas
di dalam pikirannya. Itu artinya, Hwang Ji Na sama sekali belum menemukan jalan
keluar sejauh ini. Kemungkinan besar, hal tersebut adalah sebuah pertanda buruk
baginya. Tidak baik sama sekali.
Sesaat kemudian, Hwang Ji Na menjentikkan jemarinya. Raut wajahnya
berubah menjadi girang seketika. Sepetinya gadis itu telah menemukan sebuah
jalan keluar bagi permasalahan yang ia miliki. Masih sama seperti yang tadi,
ekpresi Chanwo tidak berubah sama sekali. Wajahnya benar-benar datar. Antara
bosan atau ia memang sedang menikmati jalannya acara. Mereka saling tak
menghiraukan saat ini. Baik Hwang Ji Na kepada Chanwo, mau pun sebaliknya.
Keduanya tengah disibukkan dengan urusan mereka masing-masing.
“Apakah cara yang satu ini akan benar-benar berhasil?”
gumamnya dalam hati.
Ada sedikit keraguan yang terbersit di dalam benaknya.
Membuat Hwang Ji Na bimbang harus melakukannya atau tidak. Hatinya berkata
“Ya”, tapi otaknya malah berkata “Jangan”. Kedua organ yang saling berhubungan
itu sama sekali tidak sinkron satu sama lain. Mereka memberikan keputusan
mengejutkan yang datang secara tiba-tiba.
Setelah dipkirkan baik-baik, pada akhirnya Hwang Ji Na
memutuskan untuk tetap melakukan rencananya di awal. Ia tidak memiliki sisa
waktu lebih banyak lagi untuk mengubah susunan rencananya secara total. Resiko
adalah sesuatu yang wajar dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Seorang
pemimpin tidak seharusnya takut untuk mengambil resiko. Mereka dipercaya salah
satunya karena hal itu.
Hwang Ji Na memutuskan untuk membuat suatu koneksi pikiran
antara dirinya dan juga orang yang berada di seberang sana. Siapa lagi jika
bukan Eun Ji Hae. Gadis itu telah menjadi target sasarannya sejak beberapa saat yang lalu. Ia bahkan sampai melepaskan
__ADS_1
Nhea begitu saja dari pengawasannya dan memilih untuk beralih ke Eun Ji Hae.
Semua ia lakukan dengan alasan yang masuk akal tentunya.
Ini adalah pertama kalinya bagi Hwang Ji Na untuk melakukan
telepati. Dia belum pernah melakukan hal serupa sebelumnya. Sebenarnya, pada
dasarnya setiap mahluk di muka bumi ini dibekali dengan naluri alamiah serta
intuisi. Hanya saja, soal seberapa tajam kemampuan mereka yang satu itu. Keduanya
merupakan faktor penentu dari berhasilnya atau tidak sebuah telepati.
Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, hingga yang
tersisa hanyalah gelap. Hwang Ji Na berusaha untuk mengabaikan keriuhan suasana
yang sedang terjadi di sekitarnya. Ia tidak akan membiarkan hal tersebut
merusak konsentrasinya begitu saja. Bukan pekara yang mudah untuk memusatkan
pikiran seperti ini.
Harus ada suatu keterikanan emosi spiritual di antara mereka
berdua jika ingin melakukan telepati. Ini tidak mudah, namun juga tidak terlalu
sulit. Tergantung bagaimana cara mereka mengatasi setiap gangguan yang mungkin
ada.
Hwang Ji Na sudah berhasil mencapai puncak ketenangan batin
pada dirinya. Mungkin, secara tak sadar ia telah ditarik masuk ke dalam dimensi
itu saat diajak turun lebih dalam. Dengan senang hati ia malah mengulurkan
tangannya kepada seseorang yang tak ia kenali wajahnya. Orang tersebut yang
menuntunya hingga bisa sampai ke sini.
Hwang Ji Na bahkan sama sekali tidak memikirkan bagaimana
dan dari mana jalan keluarnya. Masalah jiwanya akan terjebak di dimensi lain
atau tidak adalah persoalan nomer dua. Yang terpenting untuk saat ini adalah,
ia telah berhasil menyelesaikan separuh dari misinya. Hanya tinggal beberapa
tahap lagi untuk mencapai sebuah proses yang sempurna.
Jika ia berhasil menarik jiwa Eun Ji Hae untuk masuk ke
dalam ruangan obrolan yang bersifat rahasia ini, maka misinya akan sukses.
Namun jika yang terjadi malah sebaliknya, itu artinya ia gagal. Hanya ada dua
kesimpulan akhir yang bisa ditarik di sini.
Hwang Ji Na memberanikan dirinya untuk bergerak lebih jauh
lagi. Hanya tinggal satu hal lagi yang harus ia lakukan. Yaitu, memanggil jiwa
Eun Ji Hae untuk terkoneksi bersamanya. Ini adalah puncak dari segala puncak.
Perlahan namun pasti, ia telah menghampiri jiwa gadis itu.
Menariknya secara paksa ke dalam dimensi yang sedang Hwang Ji Na masuki. Hal
__ADS_1
tersebut membuat Eun Ji Hae terkejut bukan main. Tanpa aba-aba terlebih dahulu,
tiba-tiba jiwanya ditarik. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Sudah
terlambat. Eun Ji Hae bahkan belum mengetahui siapa yang telah menarik dirinya
barusan. Semua terjadi begitu cepat, sehingga ia tidak sempat untuk mencari
tahu apa pun.
Secara tiba-tiba, jiwanya telah bersama jiwa Hwang Ji Na di
dalam suatu ruangan tanpa batas. Dunia parallel? Tidak mungkin. Bagaimana bisa
Hwang Ji Na mencapai tempat yang satu itu dengan begitu mudahnya. Sementara
para ahli spiritual handal saja belum tentu bisa sampai ke sini. Apa lagi
sampai menarik orang lain untuk ikut bersamanya.
Tingkat kekuatan spiritual Hwang Ji Na memang tidak bisa
diragukan lagi. Ia telah melakukan segalanya dengan begitu baik. Bahkan Eun Ji
Hae saja nyaris tak percaya. Tapi, yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah
ini yang disebut sebagai dunia parallel?
Terlapas dari semua kemungkinan itu, Eun Ji Hae segera
berjalan mendekat kea rah gadis itu. Ia tak mau membuang banyak waktu dengan
hal yang tidak jelas sama sekali.
“Ada apa sampai kau membawaku kemari?” tanya Eun Ji Hae
dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi dari pada biasanya.
Terlihat jelas jika gadis itu sama sekali tak menyukai
perbuatan Hwang Ji Na yang satu ini. Tidak sampai ada kejelasan yang terbilang
masuk akal.
“Aku sudah berusaha untuk memanggilmu saat di aula tadi.
Tapi, kau sama sekali tidak menghiraukan panggilanku,” ungkap Hwang Ji Na
dengan apa adanya.
“Apakah aku melakukannya?” tanya gadis itu kepada dirinya
sendiri.
Ia bahkan sama sekali tidak menyadari jika Hwang Ji Na ikut
berada di sana tadi. Eun Ji Hae kira hanya orang-orang biasa. Tidak termasuk
Hwang Ji Na.
“Mari langsung saja ke intinya!” celetuk Hwang Ji Na disaat
gadis itu tengah sibuk berpikir.
Eun Ji Hae langsung mengalihkan
pandangannya. Ia menegakkan kepalanya. Tatapannya lurus mengarah ke Hwang Ji
Na.
__ADS_1