Mooneta High School

Mooneta High School
Telepati


__ADS_3

Hwang Ji Na menghentikan kegiatannya untuk


melambai-lambaikan tangan ke arah gadis itu. percuma saja, toh ia tak akan


menoleh sama sekali. Mau tak mau Hwang Ji Na harus memutar otak dan mencari


jalan keluar yang lainnya. Harus ada cara alternatif lain yang ia pikirkan.


Gadis itu hanya perlu menerik perhatian Eun Ji Hae saja.


Tidak dengan yang lainnya. Ia tidak boleh sampai menjadi pusat perhatian hanya


karena hal konyol seperti itu.


Hwang Ji Na menurunkan pandangannya. Kuku jemarinya ia


mainkan. Salah satunya mengusap-usap dagu. Tidak ada satu pun hal yang terlintas


di dalam pikirannya. Itu artinya, Hwang Ji Na sama sekali belum menemukan jalan


keluar sejauh ini. Kemungkinan besar, hal tersebut adalah sebuah pertanda buruk


baginya. Tidak baik sama sekali.


Sesaat kemudian, Hwang Ji Na menjentikkan jemarinya. Raut wajahnya


berubah menjadi girang seketika. Sepetinya gadis itu telah menemukan sebuah


jalan keluar bagi permasalahan yang ia miliki. Masih sama seperti yang tadi,


ekpresi Chanwo tidak berubah sama sekali. Wajahnya benar-benar datar. Antara


bosan atau ia memang sedang menikmati jalannya acara. Mereka saling tak


menghiraukan saat ini. Baik Hwang Ji Na kepada Chanwo, mau pun sebaliknya.


Keduanya tengah disibukkan dengan urusan mereka masing-masing.


“Apakah cara yang satu ini akan benar-benar berhasil?”


gumamnya dalam hati.


Ada sedikit keraguan yang terbersit di dalam benaknya.


Membuat Hwang Ji Na bimbang harus melakukannya atau tidak. Hatinya berkata


“Ya”, tapi otaknya malah berkata “Jangan”. Kedua organ yang saling berhubungan


itu sama sekali tidak sinkron satu sama lain. Mereka memberikan keputusan


mengejutkan yang datang secara tiba-tiba.


Setelah dipkirkan baik-baik, pada akhirnya Hwang Ji Na


memutuskan untuk tetap melakukan rencananya di awal. Ia tidak memiliki sisa


waktu lebih banyak lagi untuk mengubah susunan rencananya secara total. Resiko


adalah sesuatu yang wajar dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Seorang


pemimpin tidak seharusnya takut untuk mengambil resiko. Mereka dipercaya salah


satunya karena hal itu.


Hwang Ji Na memutuskan untuk membuat suatu koneksi pikiran


antara dirinya dan juga orang yang berada di seberang sana. Siapa lagi jika


bukan Eun Ji Hae. Gadis itu telah menjadi target sasarannya sejak beberapa saat  yang lalu. Ia bahkan sampai melepaskan

__ADS_1


Nhea begitu saja dari pengawasannya dan memilih untuk beralih ke Eun Ji Hae.


Semua ia lakukan dengan alasan yang masuk akal tentunya.


Ini adalah pertama kalinya bagi Hwang Ji Na untuk melakukan


telepati. Dia belum pernah melakukan hal serupa sebelumnya. Sebenarnya, pada


dasarnya setiap mahluk di muka bumi ini dibekali dengan naluri alamiah serta


intuisi. Hanya saja, soal seberapa tajam kemampuan mereka yang satu itu. Keduanya


merupakan faktor penentu dari berhasilnya atau tidak sebuah telepati.


Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, hingga yang


tersisa hanyalah gelap. Hwang Ji Na berusaha untuk mengabaikan keriuhan suasana


yang sedang terjadi di sekitarnya. Ia tidak akan membiarkan hal tersebut


merusak konsentrasinya begitu saja. Bukan pekara yang mudah untuk memusatkan


pikiran seperti ini.


Harus ada suatu keterikanan emosi spiritual di antara mereka


berdua jika ingin melakukan telepati. Ini tidak mudah, namun juga tidak terlalu


sulit. Tergantung bagaimana cara mereka mengatasi setiap gangguan yang mungkin


ada.


Hwang Ji Na sudah berhasil mencapai puncak ketenangan batin


pada dirinya. Mungkin, secara tak sadar ia telah ditarik masuk ke dalam dimensi


itu saat diajak turun lebih dalam. Dengan senang hati ia malah mengulurkan


tangannya kepada seseorang yang tak ia kenali wajahnya. Orang tersebut yang


menuntunya hingga bisa sampai ke sini.


Hwang Ji Na bahkan sama sekali tidak memikirkan bagaimana


dan dari mana jalan keluarnya. Masalah jiwanya akan terjebak di dimensi lain


atau tidak adalah persoalan nomer dua. Yang terpenting untuk saat ini adalah,


ia telah berhasil menyelesaikan separuh dari misinya. Hanya tinggal beberapa


tahap lagi untuk mencapai sebuah proses yang sempurna.


Jika ia berhasil menarik jiwa Eun Ji Hae untuk masuk ke


dalam ruangan obrolan yang bersifat rahasia ini, maka misinya akan sukses.


Namun jika yang terjadi malah sebaliknya, itu artinya ia gagal. Hanya ada dua


kesimpulan akhir yang bisa ditarik di sini.


Hwang Ji Na memberanikan dirinya untuk bergerak lebih jauh


lagi. Hanya tinggal satu hal lagi yang harus ia lakukan. Yaitu, memanggil jiwa


Eun Ji Hae untuk terkoneksi bersamanya. Ini adalah puncak dari segala puncak.


Perlahan namun pasti, ia telah menghampiri jiwa gadis itu.


Menariknya secara paksa ke dalam dimensi yang sedang Hwang Ji Na masuki. Hal

__ADS_1


tersebut membuat Eun Ji Hae terkejut bukan main. Tanpa aba-aba terlebih dahulu,


tiba-tiba jiwanya ditarik. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Sudah


terlambat. Eun Ji Hae bahkan belum mengetahui siapa yang telah menarik dirinya


barusan. Semua terjadi begitu cepat, sehingga ia tidak sempat untuk mencari


tahu apa pun.


Secara tiba-tiba, jiwanya telah bersama jiwa Hwang Ji Na di


dalam suatu ruangan tanpa batas. Dunia parallel? Tidak mungkin. Bagaimana bisa


Hwang Ji Na mencapai tempat yang satu itu dengan begitu mudahnya. Sementara


para ahli spiritual handal saja belum tentu bisa sampai ke sini. Apa lagi


sampai menarik orang lain untuk ikut bersamanya.


Tingkat kekuatan spiritual Hwang Ji Na memang tidak bisa


diragukan lagi. Ia telah melakukan segalanya dengan begitu baik. Bahkan Eun Ji


Hae saja nyaris tak percaya. Tapi, yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah


ini yang disebut sebagai dunia parallel?


Terlapas dari semua kemungkinan itu, Eun Ji Hae segera


berjalan mendekat kea rah gadis itu. Ia tak mau membuang banyak waktu dengan


hal yang tidak jelas sama sekali.


“Ada apa sampai kau membawaku kemari?” tanya Eun Ji Hae


dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi dari pada biasanya.


Terlihat jelas jika gadis itu sama sekali tak menyukai


perbuatan Hwang Ji Na yang satu ini. Tidak sampai ada kejelasan yang terbilang


masuk akal.


“Aku sudah berusaha untuk memanggilmu saat di aula tadi.


Tapi, kau sama sekali tidak menghiraukan panggilanku,” ungkap Hwang Ji Na


dengan apa adanya.


“Apakah aku melakukannya?” tanya gadis itu kepada dirinya


sendiri.


Ia bahkan sama sekali tidak menyadari jika Hwang Ji Na ikut


berada di sana tadi. Eun Ji Hae kira hanya orang-orang biasa. Tidak termasuk


Hwang Ji Na.


“Mari langsung saja ke intinya!” celetuk Hwang Ji Na disaat


gadis itu tengah sibuk berpikir.


Eun Ji Hae langsung mengalihkan


pandangannya. Ia menegakkan kepalanya. Tatapannya lurus mengarah ke Hwang Ji


Na.

__ADS_1


__ADS_2