Mooneta High School

Mooneta High School
Mengalah


__ADS_3

Pertengkaran dan perselisihan tidak dapat dihindarkan sama


sekali. Keadaan semakin memanas. Tidak ada satu pun  yang mau mengalah. Mereka tetap bersi keras


untuk menang. Setidaknya membuktikan jiika dirinya tak salah.


“Lihatlah bagaimana seorang anggota tim memanah dari Mooneta


ini. Bukankah ia tampak begitu lemah?” ujar orang asing tersebut.


Tidak bisa dipungkiri lagi. Pemilihan kata yang ia gunakan


memang tidak pantas sama sekali untuk ukuran orang asing yang baru bertemu


untuk pertama kalinya. Bukankah itu terlalu kasar dan sarkas. Masih banyak


kalimat lain yang memilik makna serupa, tapi dikemas dalam bentuk yang berbeda.


Siapa pun dia, yang jelas orang ini telah berusaha untuk


mencari masalah lebih dulu. Tidak peduli sekeras apa mereka berusaha untuk


menyelesaikan semuanya. Tampaknya tujuan awal orang itu memang untuk mencari


masalah. Sehingga semuanya telah direncanakan dengan sedemikian rupa. Mulai dari


skenario bertabrakan yang dibuat seolah-olah terjadi secara tidak sengaja, hingga


skenario adu mulut.


Harus diakui jika ia berhasil memainkan perannya dengan


cukup bagus. Totalitas. Kemampuan bersandiwaranya perlu diacungi jempol. Bahkan


Nhea dan Oliver saja mengakui hal tersebut secara tidak langsung.


“Bagaimana bisa mereka memilih orang sepertimu untuk masuk


ke dalam tim mereka?” tanya orang itu lagi.


“Lebih tepatnya, kenapa orang lemah dan tidak berbakat


sepertimu bisa diterima di akademi sihir Mooneta?” ujarnya sekali lagi untuk


memperjelas kalimat yang sebelumnya sempat ia ucapkan.


“Hei! Jaga mulutmu!” seru Oliver.


Kali ini emosinya benar-benar sudah memuncak. Orang tersebut


sungguh membuatnya nyaris kehabisan rasa sabarnya. Oliver bisa saja menghabisi


orang itu di sini sekarang juga. Tapi, semua itu hanya bisa terjadi jika Oliver


sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Di saat yang bersamaan juga ia akan


dianggap sebagai manusia yang tidak berperikemanusiaan.


“Lantas, bagaimana bisa orang sepertimu bisa diterima di


akademi sihir tanpa tata krama seperti ini?” ucap Nhea dengan kalimat yang


tidak kalah pedas. Meski gadis itu terlihat amat santai saat mengucapkannya.


Kalimat dari Nhea barusan berhasil membungkam mulut orang


asing tersebut. Untuk pertama kalinya ia melihatnya mati kutu seperti ini. Keheningan


suasana merangkak secara perlahan di antara ketiganya. Mencekik mereka dalam


diam.


“Aku mungkin terluka pada pertandingan pertama. Tapi,

__ADS_1


setidaknya aku masih bertahan di sini. Kami tidak gagal sama sekali. Aku penasaran


apakah tim kalian akan tetap bertahan setelah kau mengatakan ini kepadaku atau


tidak,” jelas Nhea dengan panjang lebar.


“Atau, jangan-jangan kalian sudah tersingkirkan sejak babak


pertama?!” ucap gadis itu dengan nada sedikit terkejut.


Tenang saja. Ia tidak benar-benar terkejut. Itu hanyalah


salah satu bagian dari trik permainannya. Nhea sedang berusaha untuk meledek


balik orang asing tersebut dengan fakta yang sebenarnya masih belum bisa


dibuktikan sama sekali.


“Satu lagi yang perlu kau ingat!” ucap Nhea dengan penuh


penekanan.


“Dengan bicara begitu, kau tidak jauh lebih baik dariku. Biasanya,


orang-orang akan terlalu banyak bicara daripada melakukan aksi. Bukankah mereka


pantas untuk mendapatkan julukan sebagai seorang pecundang?” sindir gadis itu


sekali lagi.


Nhea menghela napasnya dengan kasar setelah menyelesaikan


kalimat tersebut. Tidak ada yang menyangka jika Nhea akan bersikap seperti ini.


Ternyata ia jauh lebih di luar dugaan saat emosinya tak terkontrol.


Gadis itu menyugar rambutnya, kemudian memberikan jambakan


terasa agak pusing. Hari ini banyak hal tak terduga yang sedang mencoba untuk


menjebak mereka. Tapi, anak-anak itu berhasil melewatinya dengan mudah.


Ini bukan apa-apa.  Masih banyak hal lain yang akan terjadi ke depannya. Entah itu jauh


lebih buruk atau malah sebaliknya. Masih berpegang kepada prinsip awalnya, jika


manusia tidak bisa memprediksi apa pun. Bahkan seorang peramal sekalipun, tidak


pernah benar-benar tepat.


Hanya mereka yang memiliki kepribadian sempurna yang bisa


melakukannya. Tapi, sayangnya sama sekali tidak ada yang sempurna di dunia ini.


Mereka semua tampak sama saja dengan kemampuannya. Tidak ada yang lebih unggul


apa lagi sempurna.


“Ayo, kita pergi!” ajak Nhea.


Tidak ada gunanya mereka berlama-lama di sana. Apalagi harus


sampai beradu argument. Berdebat bersama orang ini sama saja dengan menguras


energi dan emosi mereka untuk hal yang tidal penting. Padahal ada lebih banyak


hal lain yang bisa mereka lakukan. Tentunya jauh lebih berguna dari pad aharus


meladeni orang seperti dirinya.


Tanpa pikir panjang lagi, Nhea dan Oliver segera beranjak


dari sana. Tidak ada yang meminta mereka untuk melakukan hal tersebut sama

__ADS_1


sekali. Mereka hanya akan melakukan apa yang menurut mereka benar saja. Kenapa


harus merasa takut jika benar.


Ketiganya sedang sama-sama kesal saat ini. Sudah jelas jika


Nhea dan Oliver kesal karena mendadak mereka bertemu dengan seorang pengacau


yang menyebalkan. Kehadirannya sungguh tidak diharapkan. Tapi, agaknya semesta


berkata lain. Mau tak mau mereka tetap harus berhadapan dengan orang tersebut.


Di sisi lain, si orang asing tadi juga merasa kesal


diam-diam. Ia menggerutu habis-habisan. Lebih tepatnya sedang mengumpat serta


menyumpahi kedua gadis itu tadi. Siapa lagi jika bukan Nhea dan Oliver.


Dia sebal. Marah kepada dirinya sendiri karena tidak bisa


melakukan tugas semudah itu. ia bahkan tak berhasil menyelesaikan misinya untuk


membuat Nhea dan Oliver kacau sebelum bertanding. Tidak bisa dipungkiri jika


pertahanan mereka memang cukup kuat untuk ukuran seorang siswa.


Tidak mudah untuk mengendalikan emosi bagi orang biasa.


Namun, mereka berdua berhasil melakukannya. Apakah itu berarti jika Nhea dan


Oliver bukan sembarang orang?


***


“Arrghh!!! Nasil sial macam apa lagi yang menghampiri kita


kali ini?!” gerutu Oliver sambil mengacak-acak rambutnya.


Oliver butuh sesuatu untuk menyalurkan emosinya yang


terpendam. Sudah sejak tadi ia menahan semua ini.


“Kau kira hanya kau saja satu-satunya orang yang merasa kesal


di sini?” balas Nhea dengan nada bicara yang terkesan ketus.


“Aku sungguh tak habis pikir. Bagaimana bisa kita bertemu


dengan orang menyebalkan seperti dirinya,” lanjut Nhea.


“Sebenarnya dari akademi sihir mana gadis itu tadi?” tany Oliver.


“Apa tadi dia memakai seragam untuk bertanding?” tanya Nhea


balik yang kemudian segera menfapatkan anggukan dari lawan bicaranya.


Ini adalah sebuah kesempatan bagus. Orang asing tadi


menyerang mereka dengan perencanaan yang kurang matang. Nhea dan Oliver bisa


mengetahuinya dengan mudah dari mana asal sekolahnya. Seragam yang ia kenakan


tadi, adalah seragam yang sama untuk bertanding nanti. Itu berarti, jika mereka


masih memiliki kesempatan untuk mencari tahu. Masih belum terlambat sama


sekali.


Selagi mereka masih memiliki kemauan yang kuat untuk mencari


tahu, segala informasi tentang orang asing tersebut tidak akan menjadi sesuatu


yang asing lagi.

__ADS_1


__ADS_2