
Pertengkaran dan perselisihan tidak dapat dihindarkan sama
sekali. Keadaan semakin memanas. Tidak ada satu pun yang mau mengalah. Mereka tetap bersi keras
untuk menang. Setidaknya membuktikan jiika dirinya tak salah.
“Lihatlah bagaimana seorang anggota tim memanah dari Mooneta
ini. Bukankah ia tampak begitu lemah?” ujar orang asing tersebut.
Tidak bisa dipungkiri lagi. Pemilihan kata yang ia gunakan
memang tidak pantas sama sekali untuk ukuran orang asing yang baru bertemu
untuk pertama kalinya. Bukankah itu terlalu kasar dan sarkas. Masih banyak
kalimat lain yang memilik makna serupa, tapi dikemas dalam bentuk yang berbeda.
Siapa pun dia, yang jelas orang ini telah berusaha untuk
mencari masalah lebih dulu. Tidak peduli sekeras apa mereka berusaha untuk
menyelesaikan semuanya. Tampaknya tujuan awal orang itu memang untuk mencari
masalah. Sehingga semuanya telah direncanakan dengan sedemikian rupa. Mulai dari
skenario bertabrakan yang dibuat seolah-olah terjadi secara tidak sengaja, hingga
skenario adu mulut.
Harus diakui jika ia berhasil memainkan perannya dengan
cukup bagus. Totalitas. Kemampuan bersandiwaranya perlu diacungi jempol. Bahkan
Nhea dan Oliver saja mengakui hal tersebut secara tidak langsung.
“Bagaimana bisa mereka memilih orang sepertimu untuk masuk
ke dalam tim mereka?” tanya orang itu lagi.
“Lebih tepatnya, kenapa orang lemah dan tidak berbakat
sepertimu bisa diterima di akademi sihir Mooneta?” ujarnya sekali lagi untuk
memperjelas kalimat yang sebelumnya sempat ia ucapkan.
“Hei! Jaga mulutmu!” seru Oliver.
Kali ini emosinya benar-benar sudah memuncak. Orang tersebut
sungguh membuatnya nyaris kehabisan rasa sabarnya. Oliver bisa saja menghabisi
orang itu di sini sekarang juga. Tapi, semua itu hanya bisa terjadi jika Oliver
sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Di saat yang bersamaan juga ia akan
dianggap sebagai manusia yang tidak berperikemanusiaan.
“Lantas, bagaimana bisa orang sepertimu bisa diterima di
akademi sihir tanpa tata krama seperti ini?” ucap Nhea dengan kalimat yang
tidak kalah pedas. Meski gadis itu terlihat amat santai saat mengucapkannya.
Kalimat dari Nhea barusan berhasil membungkam mulut orang
asing tersebut. Untuk pertama kalinya ia melihatnya mati kutu seperti ini. Keheningan
suasana merangkak secara perlahan di antara ketiganya. Mencekik mereka dalam
diam.
“Aku mungkin terluka pada pertandingan pertama. Tapi,
__ADS_1
setidaknya aku masih bertahan di sini. Kami tidak gagal sama sekali. Aku penasaran
apakah tim kalian akan tetap bertahan setelah kau mengatakan ini kepadaku atau
tidak,” jelas Nhea dengan panjang lebar.
“Atau, jangan-jangan kalian sudah tersingkirkan sejak babak
pertama?!” ucap gadis itu dengan nada sedikit terkejut.
Tenang saja. Ia tidak benar-benar terkejut. Itu hanyalah
salah satu bagian dari trik permainannya. Nhea sedang berusaha untuk meledek
balik orang asing tersebut dengan fakta yang sebenarnya masih belum bisa
dibuktikan sama sekali.
“Satu lagi yang perlu kau ingat!” ucap Nhea dengan penuh
penekanan.
“Dengan bicara begitu, kau tidak jauh lebih baik dariku. Biasanya,
orang-orang akan terlalu banyak bicara daripada melakukan aksi. Bukankah mereka
pantas untuk mendapatkan julukan sebagai seorang pecundang?” sindir gadis itu
sekali lagi.
Nhea menghela napasnya dengan kasar setelah menyelesaikan
kalimat tersebut. Tidak ada yang menyangka jika Nhea akan bersikap seperti ini.
Ternyata ia jauh lebih di luar dugaan saat emosinya tak terkontrol.
Gadis itu menyugar rambutnya, kemudian memberikan jambakan
terasa agak pusing. Hari ini banyak hal tak terduga yang sedang mencoba untuk
menjebak mereka. Tapi, anak-anak itu berhasil melewatinya dengan mudah.
Ini bukan apa-apa. Masih banyak hal lain yang akan terjadi ke depannya. Entah itu jauh
lebih buruk atau malah sebaliknya. Masih berpegang kepada prinsip awalnya, jika
manusia tidak bisa memprediksi apa pun. Bahkan seorang peramal sekalipun, tidak
pernah benar-benar tepat.
Hanya mereka yang memiliki kepribadian sempurna yang bisa
melakukannya. Tapi, sayangnya sama sekali tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Mereka semua tampak sama saja dengan kemampuannya. Tidak ada yang lebih unggul
apa lagi sempurna.
“Ayo, kita pergi!” ajak Nhea.
Tidak ada gunanya mereka berlama-lama di sana. Apalagi harus
sampai beradu argument. Berdebat bersama orang ini sama saja dengan menguras
energi dan emosi mereka untuk hal yang tidal penting. Padahal ada lebih banyak
hal lain yang bisa mereka lakukan. Tentunya jauh lebih berguna dari pad aharus
meladeni orang seperti dirinya.
Tanpa pikir panjang lagi, Nhea dan Oliver segera beranjak
dari sana. Tidak ada yang meminta mereka untuk melakukan hal tersebut sama
__ADS_1
sekali. Mereka hanya akan melakukan apa yang menurut mereka benar saja. Kenapa
harus merasa takut jika benar.
Ketiganya sedang sama-sama kesal saat ini. Sudah jelas jika
Nhea dan Oliver kesal karena mendadak mereka bertemu dengan seorang pengacau
yang menyebalkan. Kehadirannya sungguh tidak diharapkan. Tapi, agaknya semesta
berkata lain. Mau tak mau mereka tetap harus berhadapan dengan orang tersebut.
Di sisi lain, si orang asing tadi juga merasa kesal
diam-diam. Ia menggerutu habis-habisan. Lebih tepatnya sedang mengumpat serta
menyumpahi kedua gadis itu tadi. Siapa lagi jika bukan Nhea dan Oliver.
Dia sebal. Marah kepada dirinya sendiri karena tidak bisa
melakukan tugas semudah itu. ia bahkan tak berhasil menyelesaikan misinya untuk
membuat Nhea dan Oliver kacau sebelum bertanding. Tidak bisa dipungkiri jika
pertahanan mereka memang cukup kuat untuk ukuran seorang siswa.
Tidak mudah untuk mengendalikan emosi bagi orang biasa.
Namun, mereka berdua berhasil melakukannya. Apakah itu berarti jika Nhea dan
Oliver bukan sembarang orang?
***
“Arrghh!!! Nasil sial macam apa lagi yang menghampiri kita
kali ini?!” gerutu Oliver sambil mengacak-acak rambutnya.
Oliver butuh sesuatu untuk menyalurkan emosinya yang
terpendam. Sudah sejak tadi ia menahan semua ini.
“Kau kira hanya kau saja satu-satunya orang yang merasa kesal
di sini?” balas Nhea dengan nada bicara yang terkesan ketus.
“Aku sungguh tak habis pikir. Bagaimana bisa kita bertemu
dengan orang menyebalkan seperti dirinya,” lanjut Nhea.
“Sebenarnya dari akademi sihir mana gadis itu tadi?” tany Oliver.
“Apa tadi dia memakai seragam untuk bertanding?” tanya Nhea
balik yang kemudian segera menfapatkan anggukan dari lawan bicaranya.
Ini adalah sebuah kesempatan bagus. Orang asing tadi
menyerang mereka dengan perencanaan yang kurang matang. Nhea dan Oliver bisa
mengetahuinya dengan mudah dari mana asal sekolahnya. Seragam yang ia kenakan
tadi, adalah seragam yang sama untuk bertanding nanti. Itu berarti, jika mereka
masih memiliki kesempatan untuk mencari tahu. Masih belum terlambat sama
sekali.
Selagi mereka masih memiliki kemauan yang kuat untuk mencari
tahu, segala informasi tentang orang asing tersebut tidak akan menjadi sesuatu
yang asing lagi.
__ADS_1