
Seharusnya sekarang para siswa
sudah terlelap. Terbuai dengan bunga-bunga mimpinya. Tapi, tidak dengan Nhea.
Malah terjadi kebalikannya kepada gadis yang satu itu. Ya, benar. Dia malah
masih terjaga. Padahal sekarang jarum jam hampir menyentuh pukul tiga pagi.
Kalian salah besar jika
mengiranya tidak bisa tidur sama sekali sejak tengah malam tadi. Justru, Nhea
merasa jika dirinya adalah orang yang paling nyenyak tidurnya. Ia baru
terbangun beberapa saat yang lalu. Entah kenapa. Sepertinya tidak semua hal
yang terjadi di dunia ini harus didasari oleh sebuah alasan. Karena, terkadang
memang ada kondisi tertentu yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata saja.
Beberapa hari belakangan ini
tampaknya dia memang sedang mengalami gangguan tidur. Berbeda dengan Eun Ji Hae
yang jam tidurnya berantakan karena disengaja oleh kesibukannya. Entah ini
memang suatu ikatan batin antara adik dan kakak atau hanya kebetulan saja.
Nhea lantas bangkit dari posisinya
hingga menghadap ke arah jendela. Kemudian membuang pandangannya keluar jendela
kaca. Menara pengawas adalah salah satu objek yang bisa ia tangkap dari
ketinggian di lantai tiga. Tidak ada lagi yang tersisa di malam hari seperti
ini kecuali gulita yang memeluk setiap insan dari berbagai penjuru.
Sekarang bukan malam hari lagi
sebenarnya. Bahkan sudah lewat dari tengah malam. Sudah memasuki dini hari
lebih tepatnya. Tidak ada siapa pun yang
masih melakukan kegiatan pada jam segini. Sebagian besar dari mereka sudah terlelap.
Terjebak bersama bunga-bunga tidur di dalam alam bawah sadarnya masing-masing.
Sepertinya Nhea adalah satu-satunya orang yang masih terjaga pada jam segini.
Bahkan Eun Ji Hae saja sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu.
Kesepian merengkuhnya dari jauh. Suasana
sunyi yang menjelma menjadi mencekam perlahan mulai mencekiknya. Sangking
sepinya, Nhea bahkan bisa mendengar deruan napasnya sendiri. Namun, gadis itu
sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Entah apa yang ada di dalam
pikirannya. Sangat sulit baginya akhir-akhir ini untuk mengontrol isi kepalanya
sendiri. Jiwanya lebih sering berkelana daripada menetap di dalam raganya.
Hantu atau hal lain semacamnya
sama sekali bukan sesuatu yang bisa mengusiknya saat ini. Nhea jauh lebih fokus
kepada isi pikirannya yang tidak jelas. Bahkan gadis itu sudah tidak
mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya saat ini.
__ADS_1
Setelah selesai bergulat dengan
isi kepalanya sendiri, pada akhirnya Nhea memilih untuk berdamai dengan
dirinya. Tidak ada jalan lain yang bisa ia andalkan pasalnya. Gadis itu
menghela napasnya dengan kasar. Menyadari tidak ada yang bisa ia temui di sini,
gadis itu beralih menuju jendela. Dia sama sekali tidak ingin pergi tidur untuk
saat ini. Rasa kantuk sudah tidak lagi berada padanya.
Ia lebih memilih untuk
menghabiskan waktu dengan duduk di depan jendela. Melemparkan pandangannya ke
luar ruangan. Mengamati satu-persatu objek yang berhasil ia tangkap pada saat
itu. Matanya memandang sampai ke batas cakrawala.
Untuk yang kesekian kalinya Nhea
kembali menghela napasnya. Tidak ada alasan tertentu. Bernapas adalah hal
paling umum yang akan dilakukan oleh semua orang. Jadi, tidak perlu ada
penjelasan lebih lagi. Semua orang pasti tahu jelas apa alasan orang lain
melakukan hal tersebut.
“Kenapa belakangan ini tidak
berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan?” batinnya dalam hati.
Sebenarnya tidak selalu begitu.
Hanya saja memang akhir-akhir ini lebih banyak terjadi hal-hal yang di luar
perlu berdamai dengan semesta. Akan jauh lebih baik jika lebih cepat.
Nhea menarik napas dalam-dalam.
Memenuhi seluruh rongga paru-parunya dengan pasokan oksigen. Cukup baginya
untuk bertahan selama beberapa saat ke depan. Udara malam hari yang sedikit
dingin berhasil menciptakan sensasi sejuk pada organ pernapasan yang
dilaluinya. Nhea menikmati hal itu. Karena setidaknya dia bisa merasa jauh
lebih baik.
Tidak ada sesuatu yang aneh
terjadi belakangan ini. Hanya saja, suasananya memang tidak senyaman dulu.
Berbeda jauh dengan awal kedatangannya kemari. Entahlah. Sulit untuk
dideskripsikan dengan kata-kata. Yang jelas, atmosfirnya pasti berbeda jauh.
Mungkin ini adalah salah satu dampak negatif dari beberapa kejadian buruk yang
pernah terjadi di sini. Mungkin energinya belum benar-benar bersih. Buktinya
auranya saja masih berbeda.
Nhea sebenarnya sudah lama merasa
tidak nyaman berada di sini. Bahkan, beberapa kali ia sempat merencanakan untuk
melarikan diri dari akademi. Tapi, itu semua hanya wacana. Tidak pernah bisa
__ADS_1
terealisasikan olehnya. Gadis itu terlalu takut untuk mengambil sebuah langkah
pasti.
Masalahnya, Nhea sama sekali
tidak tahu bagaimana caranya keluar dari dimensi ini dan kembali ke kota
asalnya. Gadis itu bahkan tidak tahu dari mana ia pertama kali memasuki tempat
tersebut. Semua terjadi begitu saja. tanpa diduga-duga. Nhea sendiri juga tidak
menyangka sebelumnya jika ia akan berakhir di tempat seperti ini bersama
orang-orang yang terkesan aneh. Yang ia tinggali sekarang adalah tempat lain.
Apa saja bisa terjadi di tempat
ini. Tidak terkecuali kepada hal yang tidak masuk akal sekali pun. Karena saat
tempat yang mereka tinggali saat ini bukanlah tempat yang sama dengan dunia
yang sempat ia tinggali dulu.
“Bagaimana caranya agar aku dapat
keluar dari tempat ini?”
“Tidak adakah sebuah portal yang
bisa membantuku untuk melarikan diri?”
Nhea terus bermonolog. Ia
berbicara kepada dirinya sendiri sejak tadi. Volume suaranya cukup pelan.
Sehingga, sangat tidak mungkin jika Oliver sampai terbangun karenanya. Meskipun
sebenarnya pasti ia masih bisa mendengar suara gadis ini secara samar-samar.
Menurutnya, lebih baik hidup
sendirian di dunia nyata dari pada harus terjebak bersama banyak orang aneh di
dimensi lain. Sempat terbesit di dalam benaknya rasa menyesal karena telah
mengikuti perkataan Bibi Ga Eun. Untuk pertama kalinya gadis itu merasa terkhianati.
Padahal sampai sekarang, Bibi Ga Eun adalah salah satu orang yang paling ia
percaya. Selain dirinya sendiri. Ada banyak hal yang bisa dijadikan sebagai
alasan sebenarnya. Jadi, tidak hanya sebatas karena kemurahan hatinya untuk
mengurusi Nhea selama ini saja. Tapi, lebih dari itu.
Sebenarnya Nhea sudah tidak
betah. Ia ingin kembali, tapi tak tahu bagaimana caranya. Semesta terlalu
kejam. Semua orang ingin menjebaknya di dalam dimensi tak berujung ini. Bahkan
Dewi Fortuna sudah tak berpihak lagi kepadanya. Mereka semua sudah berpaling.
Berbalik menyerang dirinya secara tiba-tiba. Tidak ada peringatan sama sekali.
Pantas saja ia merasa kewalahan.
Nhea tidak bisa menghadapi
semuanya sendiri. Tapi, ia adalah orang yang paling diharapkan di akademi sihir
__ADS_1
ini. Mooneta sedang membutuhkan orang seperti dirinya sekarang.