
Beruntung Eun Ji Hae termasuk orang yang cepat beradaptasi
dengan keadaan. Ia juga belajar dari kesalahannya sebelumnya. Orang bilang,
satu salah lebih mudah diingat daripada seribu hal baik. Hal serupa ternyata
terjadi kepada Eun Ji Hae. Entah sampai kapan ia akan mengingat kesalahan yang
diperbuatnya hari ini.
Eun Ji Hae langsung menemukan ruangan gadis itu begitu
sampai di akhir jalan. Tempatnya hanya berjarak beberapa meter dari ujung
lorong yang langsung mengarah kepada jalan bercabang lainnya. Sepertinya
ruangan Do Yen Sae adalah ruangan yang paling akhir. Ia yakin betul soal hal
itu.
‘TOK! TOK! TOK!’
Tanpa pikir panjang lagi, Eun Ji Hae segera mengetuk pintu
yang terbuat dari kayu jati tebal itu. Tidak ada waktu lagi. Ia bahkan sudah
terlambat selama lebih dari lima menit. Berharap suara ketukan itu merambat
sampai ke gendang telinga seseorang yang berada di dalam. Dengan begitu,
otomatis ia akan membukakakan pintunya untuk gadis ini.
‘KRIETT!!!’
“Siapa?”
“Oh, silahkan masuk!”
Benar saja, lagi-lagi dugaan Eun Ji Hae tepat. Do Yen Sae
mengeluarkan kepalanya dari balik pintu sambil bertanya siapa yang datang.
Tapi, begitu melihat Eun Ji Hae ia langsung menarik kembali semua perkataannya.
Kemudian mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
‘KRIETT!!!’
Suara pintu tertutup kali ini tidak jauh berbeda dengan
suara pintu yang terbuka tadi. Keduanya menghasilkan volume suara yang lumayan
memekik telinga. Eun Ji Hae tidak tahu masuk ke frekuensi suara mana dia. Tapi,
yang jelas pintu ini perlu perawatan lebih. Terutama pada bagian engsel agar
tidak berderit lagi.
“Silahkan duduk!” persilahkan Do Yen Sae.
Eun Ji Hae hanya membalasnya dengan sebuah anggukan,
kemudian mengambil tempat duduk yang berada tepat di hadapannya. Hanya itu,
tidak ada yang lain. Do Yen Sae seolah tahu betul siapa saja yang akan datang
ke ruangannya. Jadi, ia hanya menyisakan satu kursi kosong untuk tamu di sana.
Benar-benar hanya satu, tidak lebih.
__ADS_1
Sepertinya orang yang sering bertemu dengan gadis ini adalah
tipikal orang yang memiliki urusan pribadi dengan Do Yen Sae. Oleh sebab itu
tempat duduknya hanya tersisa satu. Agar ia tak membawa orang lain untuk masuk
ke ruangannya. Apa pun yang mereka bicarakan di sini, hanya Do Yen Sae dengan
orang itu saja yang tahu.
Ia juga sengaja membuat pintu masuk dengan bahan kayu jati
tebal agar setiap suara yang ada di dalam ini tidak mudah tersalurkan ke luar
ruangan. Lebih tepatnya seperti sebuah peredam suara. Orang yang menguping dari
pintu itu pun sepertinya tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan jika ia
menempelkan telinganya di permukaan pintu sekalipun.
Do Yen Sae benar-benar tipikal orang yang memperhatikan
segalanya secara terperinci. Ia tidak akan melewatkan satu bagian kecil pun.
Bahkan jika itu tidak berguna sama sekali.
Begitu masuk ke dalam ruangan gadis ini, Eun Ji Hae langsung
dibuat takjub dengan nuansa serba putih yang menyelimuti setiap perabo yang ada
di dalamnya. Tentu saja dindingnya juga berwarna putih. Bukan putih susu,
melainkan warna putih yang lebih mirip seperti gading gajah. Ia juga mengatur
segalanya dengan sedemikian rupa. Membuat ruangan ini terlihat lebih rapih dari
ada tamu yang akan datang. Bukan tamu biasa. Itu sebabnya ia harus memberikan
kesan pertama yang baik.
“Aku hampir lupa jika kita memiliki janji untuk bertemu
sebelumnya,” ungkap Do Yen Sae sembari mendaratkan bokongnya di atas tempat
duduk.
“Sebenarnya aku juga datang terlambat kali ini,” beber Eun
Ji Hae juga.
Jika Eun Ji Hae tidak datang ke ruangannya, mungkin gadis
ini tidak akan pernah tahu kalau mereka memiiliki janji bertemu sebelumnya.
padahal jadwalnya belakangan ini tidak terlalu padat seperti biasanya. Lantas,
entah kenapa Do Yen Sae bisa melupakan hal penting seperti itu. Jika ia
melakukan dengan orang yang cukup penting dan melakukan kesalahan yang sama,Do
Yen Sae sama saja telah menyia-nyiakan sebuah kesempatan emas. Gadis itu pasti
akan mendapatkan kesan pertama yang buruk terhadap orang tersebut. Tapi,
untungnya kali ini ia hanya bertemu dengan Eun Ji Hae. Jadi tidak perlu terlalu
cemas. Lagi pula Eun Ji Hae juga datang terlambat.
“Jadi, apa yang akan kita bicarakan di sini?” tanya Eun Ji
__ADS_1
Hae.
Gadis itu belum tahu apa yang akan mereka bicarakan kali
ini. Do Yen Sae hanya memintanya untuk datang ke ruangannya tanpa memberi tahu
apa alasannya. Sungguh aneh. Tapi, Eun Ji Hae tetap datang untuk mencari tahu
semua itu. Ia tidak bisa tenang sebelum semua rasa penasarannya terjawab. Bisa
dibilang jika memenuhi rasa penasarannya telah menjadi suatu kebutuhan pokok
bagi gadis itu.
Di sisi lain, Do Yen Sae tidak langsung menjawab pertanyaan
Eun Ji Hae beditu saja. Ia menghela napasnya dengan kasar, hingga Eun Ji Hae
bisa mendengar deruan napasnya. Gadis itu seperti tengah berhadapan dengan
seekor naga rasanya.
Do Yen Sae menyandarkan ptubuhnya apda sandarai kursi. Ia
kemudian membenarkan posisi duduknya saat punggungnya sudah menempel dengan
permukaan kursi. Ia melipat tangannya menjadi satu, lalu mulai mengalihkan
pandangannya kembali ke arah Eun Ji Hae. Hal tersebut berhasil membuat Eun Ji
Hae bertanya-tanya apakah gadis ini selalu melakukan ritual tersebut sebelum
berbicara? Jika benar, maka ia telah membuang terlalu banyak waktu untuk
dirinya sendiri dan membuat orang lain menunggu. Padahal semua orang tahu jika
Eun Ji Hae tidak termasuk kepada golongan orang yang penyabar. Jelas gadis itu
akan menolak untuk menunggu.
“Aku ingin membicarakan soal nama akademi kita yang baru,”
ujar Do Yen Sae.
“Haha! Tentu saja begitu,” lanjutnya.
Eun Ji Hae masih belum menanggapi. Dan sepertinya ia memang
tidak ingin menanggapi hal tersebut sama sekali. Do Yen Sae mendadak tertawa
sendiri mendengar ucapannya. Itu adalah sesuatu yang aneh sekaligus mengerikan
di saat yang bersamaan. Eun Ji Hae berhasil bergidik ngeri dibuatnya.
“Gadis ini gila atau bagaimana?” batinnya dalam hati sambil
memasang wajah datar.
“Dua akademi sihir terbesar dan terbaik di negeri ini telah
memutuskan untuk bersatu. Sekarang kita adalah akademi sihir paling besar yang
pernah ada. Jadi, setelah kupikir-pikir sepertinya kita harus menemukan sebuah
nama baru untuk akademi sihir ini,” jelas Do Yen Sae dengan panjang lebar.
Sepertinya ia tahu betul apa yang harus dilakukan. Eun Ji
Hae yakin jika gadis itu telah merencanakan semuanya dengan sedemikian rupa.
__ADS_1