
Refleks Hwang Ji Na mundur beberapa langkah. Saat ini ia
berada tepat di belakang Chanwo. Hwang Ji Na memilih untuk berlindung di balik
punggung pria itu dari pada harus mengambil resiko yang sama sekali tidak ia
inginkan. Baginya, Wilson adalah sosok yang cukup berpotensi untuk mengancam. Ia
tahu persis jika pria itu sama sekali tidak pernah berurusan dengan dirinya.
Ini adalah kesempatan pertama bagi mereka berdua untuk saling bertemu secara
langsung. Satu-satunya orang yang berurusan dengan pria itu adalah Chanwo. Dari
awal kedatangannya Hwang Ji Na bisa menyimpulkan dengan jelas jika Chanwo
adalah sasaran utama dari Wilson. Pasalnya, pria itu terus menyoroti Chanwo
dengan lekat. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Chanwo.
Begitu pula sebaliknya.
Meski Hwang Ji Na tidak memiliki urusan sama sekali dengan
pria itu, tapi tetap saja ancamannya terasa begitu nyata. Tidak menutup
kemungkinan bagi gadis itu untuk terseret dalam pusaran masalah yang diciptakan
oleh Chanwo. Sebelum hal tersebut terjadi, ia masih sempat untuk mencegahnya. Atau
istilah kasarnya adalah menyelamatkan diri.
“Jadi, selama ini kau yang selalu mengusikku?” tanya Wilson
sambil tersenyum miring.
“Apa maksud anda?” tanya Chanwo balik.
Ia pura-pura tak tahu, padahal semuanya sudah jelas. Sontak
hal itu berhasil memancing tawa sinis dari Wilson. Bagaimana bisa Chanwo
bersikap seperti ini. Semua orang mengakui jika ia adalah yang terbaik dalam
hal bersandiwara.
“Sebaiknya kau mengaku lebih dulu sebelum aku yang
membongkar semuanya,” ancam Wilson. Kali ini ia sedang tidak main-main.
“Aku sungguh tidak mengerti dengan perkataanmu barusan,”
ungkap Chanwo masih dengan sandiwaranya.
Dari pada menyerang balik, pria ini jauh lebih memilih untuk
bermain aman. Chanwo terus menepis dan berusaha mengelak dari setiap tuduhan
yang dilayangkan Wilson kepadanya.
Sikap Chanwo yang terlalu bertele-tele ini berhasil menguji
kesabaran Wilson. Ia nyaris kehilangan kendali. Emosinya mulai mencapai puncak
tertinggi. Menurutnya Chanwo hanya membuang-buang waktunya saja. Jadi, Wilson
berinisiatif untuk mempersingkat semuanya saja.
Ada dua pilihan yang ditawarkan oleh pria itu tadi. Mengaku
lebih dulu, atau Wilson yang akan bertindak lebih jauh. Tapi, sayangnya Chanwo
__ADS_1
sama sekali belum memilih salah satu di antaranya. Waktu untuk penawaran sudah
habis. Sekarang saatnya bagi Wilson untuk bertindak. Tidak ada yang bisa
mengganggu gugat pilihannya. Karena Chanwo tidak mau mengaku lebih dulu, maka
otomatis Wilson yang akan membongkar semua penyamarannya selama ini.
Tanpa pikir panjang lagi, Wilson segera menarik kerah baju
pria itu. Membuat jarak di antara mereka semakin tipis. Kedua bola mata Wilson
memanas. Ubun-ubunnya mendidih. Ia sudah tak bisa membendung emosinya yang
sudah terlanjur meluap.
Kedua gigi taring yang selama ini disembunyikan oleh Wilson
keberadaannya, kini ia ekspos tanpa ragu. Semua itu terjadi seiring dengan
naiknya tekanan darahnya yang mengakibatkan emosi pria ini memuncak. Sontak
Hwang Ji Na dan Eun Ji Hae terperanjat kaget mengetahui fakta tersebut. Seumur
hidupnya ia tinggal dengan Wilson, gadis itu sama sekali tidak tahu jika Wilson
sama sekali bukan berasal dari kaum manusia biasa.
Wilson menyeringai tajam ke arah Chanwo. Ia berusaha untuk mendesak
pria itu. Tidak bisa dipungkiri jika Wilson berhasil mendominasi di sini. Chanwo
yang tidak ingin merasa kalah, langsung memamerkan taringnya juga. Gigi taring
mereka tampak mengkilap. Seolah belum pernah digunakan sama sekali.
Hwang Ji Na refleks mundur beberapa langkah karena merasa
kaget. Sungguh pemandangan yang diluar dari ekspektasi. Untuk pertama kalinya
sebelumnya. Sepertinya hal tersebut hanya berlaku di dalam hutan kegelapan
saja. Tidak dengan di tempat ini. Semuanya berbeda jauh.
Chanwo mulai membela diri. Sudah sejak lama ia merasa jika
dirinya terancam akibat keberadaan pria itu di sekitarnya. Sekarang adalah
saatnya untuk mengerahkan seluruh kekuatan dan melawannya balik.
Melihat taring milik Chanwo yang jauh lebih panjang serta
tajam dari pada miliknya, membuat pria itu bisa menyimpulkan jika mereka tidak
berasal dari klan yang sama. Ciri fisik Chanwo tampak memenuhi kriteria untuk
digolongkan kepada klan vampir. Sudah tidak salah lagi. Wilson berhasil
menyimpulkan jika pria itu berasal dari klan vampir.
“Bagaimana bisa seorang vampir sepertimu keluar dari hutan
terkutuk itu?” ucap Wilson dengan penuh penekanan.
Kedua bola matanya menatap manik mata Chanwo dengan intens.
Tidak bisa dijelaskan apa maksud dari sorotannya barusan.
“Kau adalah seorang vampir bukan?” ucap Wilson sekali lagi
untuk memperjelas maksud dari kalimat sebelumnya.
__ADS_1
Tampaknya Chanwo sama sekali tidak berniat untuk menjawab
pertanyaan dari pria itu. Ia rasa sudah cukup jelas. Wilson pasti sudah tahu
jika Chanwo adalah seorang vampir sejak pertama kali mereka bertemu. Lantas
kenapa ia masih bertanya, padahal semua sudah cukup jelas.
“Ku rasa tidak ada lagi yang pelru ku jelaskan di sini!”
tegas Chanwo sembari menyingkirkan tangan pria itu darinya.
Untuk beberapa saat mereka tampak saling mematung di tempat.
Melemparkan tatapan mematikan yang tak terputus sejak tadi. Seolah telah
menjadi sebuah lambang dari perlawanan. Mereka berdua berusaha untuk
menunjukkan eksistensinya sekarang. Melakukan segala cara untuk mengintimidasi
lawan.
“Hentikan!” seru Eun Ji Hae yang berusaha untuk melerai
keduanya.
Mereka tidak akan pernah menemukan jalan keluar jika begini
caranya. Baik Chanwo mau pun Wilson sama-sama tak ada yang mau mengalah. Mereka
terlalu keras kepala dan egois untuk melakukan hal tersebut. Jadi, mau tak mau
Eun Ji Hae harus turun tangan pada akhirnya.
“Apa kalian akan terus bertengkar seperti ini sepanjang
hari?!” ucap gadis itu dengan nada bicara yang sengaja ditinggikan dari
biasanya.
Chanwo dan Wilson memang berhenti dari kesibukan mereka
untuk sesaat. Namun, perkataan Eun Ji Hae tadi pada dasarnya tidak akan berpengaruh
apa-apa kepada mereka berdua. Wilson melepaskan cengkramannya dari leher pria
itu. Napasnya terengah seolah ia baru saja mengeluarkan begitu banyak energi
yang membuatnya kelelahan. Sementara itu, Chanwo tetap tenang. Dadanya tidak
kembang kempis sama sekali dan ia juga kelihatan tenang. Tentu saja begitu.
Sebab Chanwo tidak bernapas sama sekali.
Suasana menjadi hening seketika. Namun, masih bisa terasa
dengan jelas ketegangan yang ada di antara mereka. Persaingan tersebut belum
hilang.
“Biarkan mereka pergi dari sini,” ujar Eun Ji Hae.
“Kau tak berhak untuk menahan mereka!” tegas gadis itu
sekali lagi.
Eun Ji Hae menepati perkataannya
yang sebelumnya. Ia sungguh tidak memanggil Wilson dengan sebutan Ayah lagi
seperti biasanya. Yang tadi telah menjadi panggilaj terakhir darinya. Ia bahkan
__ADS_1
sudah tidak memikirkan perasaan pria itu lagi sekarang. Menurutnya, Wilson
memang pantas untuk menerima semua itu.