Mooneta High School

Mooneta High School
Klan


__ADS_3

Refleks Hwang Ji Na mundur beberapa langkah. Saat ini ia


berada tepat di belakang Chanwo. Hwang Ji Na memilih untuk berlindung di balik


punggung pria itu dari pada harus mengambil resiko yang sama sekali tidak ia


inginkan. Baginya, Wilson adalah sosok yang cukup berpotensi untuk mengancam. Ia


tahu persis jika pria itu sama sekali tidak pernah berurusan dengan dirinya.


Ini adalah kesempatan pertama bagi mereka berdua untuk saling bertemu secara


langsung. Satu-satunya orang yang berurusan dengan pria itu adalah Chanwo. Dari


awal kedatangannya Hwang Ji Na bisa menyimpulkan dengan jelas jika Chanwo


adalah sasaran utama dari Wilson. Pasalnya, pria itu terus menyoroti Chanwo


dengan lekat. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Chanwo.


Begitu pula sebaliknya.


Meski Hwang Ji Na tidak memiliki urusan sama sekali dengan


pria itu, tapi tetap saja ancamannya terasa begitu nyata. Tidak menutup


kemungkinan bagi gadis itu untuk terseret dalam pusaran masalah yang diciptakan


oleh Chanwo. Sebelum hal tersebut terjadi, ia masih sempat untuk mencegahnya. Atau


istilah kasarnya adalah menyelamatkan diri.


“Jadi, selama ini kau yang selalu mengusikku?” tanya Wilson


sambil tersenyum miring.


“Apa maksud anda?” tanya Chanwo balik.


Ia pura-pura tak tahu, padahal semuanya sudah jelas. Sontak


hal itu berhasil memancing tawa sinis dari Wilson. Bagaimana bisa Chanwo


bersikap seperti ini. Semua orang mengakui jika ia adalah yang terbaik dalam


hal bersandiwara.


“Sebaiknya kau mengaku lebih dulu sebelum aku yang


membongkar semuanya,” ancam Wilson. Kali ini ia sedang tidak main-main.


“Aku sungguh tidak mengerti dengan perkataanmu barusan,”


ungkap Chanwo masih dengan sandiwaranya.


Dari pada menyerang balik, pria ini jauh lebih memilih untuk


bermain aman. Chanwo terus menepis dan berusaha mengelak dari setiap tuduhan


yang dilayangkan Wilson kepadanya.


Sikap Chanwo yang terlalu bertele-tele ini berhasil menguji


kesabaran Wilson. Ia nyaris kehilangan kendali. Emosinya mulai mencapai puncak


tertinggi. Menurutnya Chanwo hanya membuang-buang waktunya saja. Jadi, Wilson


berinisiatif untuk mempersingkat semuanya saja.


Ada dua pilihan yang ditawarkan oleh pria itu tadi. Mengaku


lebih dulu, atau Wilson yang akan bertindak lebih jauh. Tapi, sayangnya Chanwo

__ADS_1


sama sekali belum memilih salah satu di antaranya. Waktu untuk penawaran sudah


habis. Sekarang saatnya bagi Wilson untuk bertindak. Tidak ada yang bisa


mengganggu gugat pilihannya. Karena Chanwo tidak mau mengaku lebih dulu, maka


otomatis Wilson yang akan membongkar semua penyamarannya selama ini.


Tanpa pikir panjang lagi, Wilson segera menarik kerah baju


pria itu. Membuat jarak di antara mereka semakin tipis. Kedua bola mata Wilson


memanas. Ubun-ubunnya mendidih. Ia sudah tak bisa membendung emosinya yang


sudah terlanjur meluap.


Kedua gigi taring yang selama ini disembunyikan oleh Wilson


keberadaannya, kini ia ekspos tanpa ragu. Semua itu terjadi seiring dengan


naiknya tekanan darahnya yang mengakibatkan emosi pria ini memuncak. Sontak


Hwang Ji Na dan Eun Ji Hae terperanjat kaget mengetahui fakta tersebut. Seumur


hidupnya ia tinggal dengan Wilson, gadis itu sama sekali tidak tahu jika Wilson


sama sekali bukan berasal dari kaum manusia biasa.


Wilson menyeringai tajam ke arah Chanwo. Ia berusaha untuk mendesak


pria itu. Tidak bisa dipungkiri jika Wilson berhasil mendominasi di sini. Chanwo


yang tidak ingin merasa kalah, langsung memamerkan taringnya juga. Gigi taring


mereka tampak mengkilap. Seolah belum pernah digunakan sama sekali.


Hwang Ji Na refleks mundur beberapa langkah karena merasa


kaget. Sungguh pemandangan yang diluar dari ekspektasi. Untuk pertama kalinya


sebelumnya. Sepertinya hal tersebut hanya berlaku di dalam hutan kegelapan


saja. Tidak dengan di tempat ini. Semuanya berbeda jauh.


Chanwo mulai membela diri. Sudah sejak lama ia merasa jika


dirinya terancam akibat keberadaan pria itu di sekitarnya. Sekarang adalah


saatnya untuk mengerahkan seluruh kekuatan dan melawannya balik.


Melihat taring milik Chanwo yang jauh lebih panjang serta


tajam dari pada miliknya, membuat pria itu bisa menyimpulkan jika mereka tidak


berasal dari klan yang sama. Ciri fisik Chanwo tampak memenuhi kriteria untuk


digolongkan kepada klan vampir. Sudah tidak salah lagi. Wilson berhasil


menyimpulkan jika pria itu berasal dari klan vampir.


“Bagaimana bisa seorang vampir sepertimu keluar dari hutan


terkutuk itu?” ucap Wilson dengan penuh penekanan.


Kedua bola matanya menatap manik mata Chanwo dengan intens.


Tidak bisa dijelaskan apa maksud dari sorotannya barusan.


“Kau adalah seorang vampir bukan?” ucap Wilson sekali lagi


untuk memperjelas maksud dari kalimat sebelumnya.

__ADS_1


Tampaknya Chanwo sama sekali tidak berniat untuk menjawab


pertanyaan dari pria itu. Ia rasa sudah cukup jelas. Wilson pasti sudah tahu


jika Chanwo adalah seorang vampir sejak pertama kali mereka bertemu. Lantas


kenapa ia masih bertanya, padahal semua sudah cukup jelas.


“Ku rasa tidak ada lagi yang pelru ku jelaskan di sini!”


tegas Chanwo sembari menyingkirkan tangan pria itu darinya.


Untuk beberapa saat mereka tampak saling mematung di tempat.


Melemparkan tatapan mematikan yang tak terputus sejak tadi. Seolah telah


menjadi sebuah lambang dari perlawanan. Mereka berdua berusaha untuk


menunjukkan eksistensinya sekarang. Melakukan segala cara untuk mengintimidasi


lawan.


“Hentikan!” seru Eun Ji Hae yang berusaha untuk melerai


keduanya.


Mereka tidak akan pernah menemukan jalan keluar jika begini


caranya. Baik Chanwo mau pun Wilson sama-sama tak ada yang mau mengalah. Mereka


terlalu keras kepala dan egois untuk melakukan hal tersebut. Jadi, mau tak mau


Eun Ji Hae harus turun tangan pada akhirnya.


“Apa kalian akan terus bertengkar seperti ini sepanjang


hari?!” ucap gadis itu dengan nada bicara yang sengaja ditinggikan dari


biasanya.


Chanwo dan Wilson memang berhenti dari kesibukan mereka


untuk sesaat. Namun, perkataan Eun Ji Hae tadi pada dasarnya tidak akan berpengaruh


apa-apa kepada mereka berdua. Wilson melepaskan cengkramannya dari leher pria


itu. Napasnya terengah seolah ia baru saja mengeluarkan begitu banyak energi


yang membuatnya kelelahan. Sementara itu, Chanwo tetap tenang. Dadanya tidak


kembang kempis sama sekali dan ia juga kelihatan tenang. Tentu saja begitu.


Sebab Chanwo tidak bernapas sama sekali.


Suasana menjadi hening seketika. Namun, masih bisa terasa


dengan jelas ketegangan yang ada di antara mereka. Persaingan tersebut belum


hilang.


“Biarkan mereka pergi dari sini,” ujar Eun Ji Hae.


“Kau tak berhak untuk menahan mereka!” tegas gadis itu


sekali lagi.


Eun Ji Hae menepati perkataannya


yang sebelumnya. Ia sungguh tidak memanggil Wilson dengan sebutan Ayah lagi


seperti biasanya. Yang tadi telah menjadi panggilaj terakhir darinya. Ia bahkan

__ADS_1


sudah tidak memikirkan perasaan pria itu lagi sekarang. Menurutnya, Wilson


memang pantas untuk menerima semua itu.


__ADS_2