Mooneta High School

Mooneta High School
Talk About The Mistery


__ADS_3

Begitu sampai di akademi, mereka tidak langsung kembali ke


kamarnya masing-masing. Sekarang masih terlalu cepat untuk bersiap tidur. Mereka


hanya singgah sebentar ke kamar asrama untuk meletakkan barang-barangnya. Kemudian,


setelah itu kembali lagi ke gedung utama.


Mereka perlu melaksanakan jamuan makan malam seperti


biasanya. Setelah itu, sudah bisa dipastikan jika anak-anak ini akan langsung


masuk ke kelasnya. Tidak peduli seberat apa hari yang sudah mereka jalani tadi.


Belajar tetap menjadi salah satu kewajiban dan tidak dapat ditinggalkan sama


sekali.


Kegiatan belajar mengajar tetap akan dilaksanakan


sebagaimana mestinya. Tidak ada tawar-menawar lagi. Eun Ji Hae sudah meneruskan


keputusan Bibi Ga Eun soal yang satu itu kepada para siswa melalui surat


pengumuman. Mereka sebelumnya telah melakukan kesepakatan bersaama dengan


seluruh tetua yang berada di akademi. Semua orang dilibatkan dalam pengambilan


keputusan tersebut, kecuali para siswa. Dengan dalih, mereka tidak perlu


dilibatkan dalam permasalahan yang satu ini.


Festival memang penting. Namun, pelajaran juga tidak kalah


penting. Mereka tidak boleh mengesampingkan hal yang paling mendasar di akademi


ini, hanya untuk sesuatu yang bersifat sementara. Lagipula musim ini mereka tidak


terlalu berharap banyak. Akademi sihir Mooneta tidak lagi memiliki ambisi yang


kuat seperti dulu. Pasalnya, mereka sudah mulai bosan dengan peringkat tetap


yang selama ini di dapatkan.


Beberapa waktu yang lalu, Eun Ji Hae dan beberapa tokoh


penting akademi lainnya juga sempat memaparkan satu hal penting ini. Mereka


tidak harus menang. Yang terpenting adalah lakukan yang terbaik. Hasil itu yang


nomer dua. Soal peringkat bukan masalah sama sekali. Tidak penting mau berada


di posisi yang mana satu mereka.


Untuk saat ini, festival bukan lagi menjadi sesuatu yang


difokuskan. Akademi sihir Mooneta sedang teralihkan perhatiannya pada suatu hal


yang dirasa lebih penting daripada hanya sekedar peringkat. Saat ini mereka


sepakat untuk melakukan perbaikan internal maupun eksternal. Terlebih setelah


kejadian salju abadi beberapa waktu lalu yang sempat membuat kekacauan


dimana-mana.


Padahal, sudah jelas jika itu bukan salju abadi. Seseorang tengah


berusaha untuk mengelabui mereka. Mooneta mengakui jika mereka memang sempat


terkecoh pada awalnya. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Mereka segera


tanggap jika semua itu hanya tipuan semata. Tidak ada yang benar-benar


berbahaya di sini, selain musuh mereka sendiri.


“Aku tidak akan mengganti seragamku sampai selesai kelas


nanti,” ucap Oliver sambil menyimpan barang-barangnya.

__ADS_1


Sementara itu, Nhea hanya mengiyakan perkataan gadis itu


sambil menyandarkan dirinya di ambang pintu. Kali ini Nhea setuju dengan


Oliver. Gadis itu memilih untuk tetap berada di ambang pintu dan tidak masuk


sama sekali. Karena ia rasa tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan di dalam


sana. Toh, pada akhirnya mereka juga akan segera keluar.


Para siswa harus sampai di ruang jamuan makan tepat sebelum


antrian dibuka. Akan jauh labih baik lagi jika mereka mengambil posisi lebih


dulu. Dengan begitu, antrian akan berjalan lancar tanpa perlu mengular.


“Ayo pergi!” ajak Oliver.


“Aku sudah lapar,” timpalnya kemudian sambil menggandeng


tangan gadis itu.


“Bukan hanya kau satu-satunya orang yang merasa kelaparan di


sini,” cicit Nhea.


Gadis itu tidak berdecak atau menggerutu lagi kali ini untuk


menunjukkan rasa sebalnya. Melainkan Nhea mengerucutkan bibirnya hingga tampak


monyong. Di sisi lain, Oliver sama sekali tidak menghiraukan hal tersebut. Dia akan


tetap melangkah maju tanpa mempedulikan sekitarnya. Otak gadis itu sudah


dipenuhi dengan makanan.


“Ku harap mereka akan meningkatkan porsi makan kita kali


ini,” ujar Oliver.


“Kenapa begitu?” tanya Nhea secara gamblang.


tanya Oliver balik sebagai bentuk pembelaan.


“Mereka bahkan hanya memberikan roti lapi daging untuk makan


siang kita saat bertanding,” protes Oliver kemudian.


“Siapa yang peduli soal itu,” balas Nhea acuh tak acuh.


“Aku tak ingin berat badanku bertambah hanya karena harus


memakan dua porsi secara bersamaan,” jelas gadis itu kemudian.


Secara spontan, Oliver kemudian melepaskan gandengan


tangannya dari gadis itu. Namun, keduanya masih tetap berjalan berringan. Nhea


sendiri sama sekali tidak menghiraukan bagaimana sikap Oliver saat ini. Bahkan


gadis itu sama sekali tidak berniat untuk hanya sekedar menoleh dan melihat


ekspresi temannya yang satu itu. Saat ini wajahnya pasti benar-benar masam.


“Nhea!” sahut Oliver.


“Apa?” balasnya sambil tetap melaju.


“Sejak kapan kau mulai menggunakan kalung itu?” tanya


Oliver.


“Bukankan itu kalung yang kita temukan di dalam nakas


beberapa hari yang lalu?” lanjutnya.


“Kita sudah sepakat untuk tetap menyimpannya sampai bertemu


dengan pemiliknya. Atau paling tidak tahu soal sejarahnya dan milik siapa ini,”

__ADS_1


paparnya di akhir.


Nhea hanya bisa menghela napas sambil menguragi kecepatan


berjalannya. Bagaimana bisa Oliver memberikan pertanyaan sebanyak itu. Ia


bahkan tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada Nhea untuk menjawab


semuanya. Oliver terus saja bicara tanpa henti. Jangan-jangan ia memang


melakukannya dalam satu tarikan napas dan tidak ada jeda sama sekali.


“Kau sudah selesai bicara?” tanya Nhea untuk memastikan.


Pasalnya, ia tidak akan bicara sebelum gadis itu menyudahi


semua kalimatnya.


“Tentu saja!” balas Oliver dengan yakin sambil


mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Baiklah,” balas Nhea.


Gadis itu tampak menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan


pasokan okgsigen sebanyak-banyaknya. Entah seberapa panjang kalimat yang akan


ia ucapkan nanti. Sampai-sampai Nhea melakukan pesiapan seperti demikian. Rasanya


itu terlalu berlebihan jika ia hanya akan mengucapkan satu sampai dua kalimat saja.


“Pertama, kau harus tahu jika aku tidak pernah memakai


kalung ini dengan sengaja,” ungkapnya.


“Aku juga tidak tahu bagaimana kalung ini bisa berada di


leherku seperti saat sekarang ini,” jelasnya secara singkat kemudian.


“Jadi, maksudmu semua ini terjadi tanpa sepengetahuanmu


begitu?” tanya Oliver untuk memastikan.


Pasalnya, dia tidak bisa asal mengambil kesimpulan saja di


sini. Apa yang sedang ia pikirkan saat ini belum tentu sama dengan isi pikiran


Nhea. Kesalahpahaman bisa saja terjadi.


“Aku juga tidak tahu harus bagaimana mendefenisikannya,”


akui Nhea.


“Semuanya memang terjadi tanpa sepengetahuanku,” katanya.


Oliver yang mendengar penjelasan tersebut lantas langsung


mengangguk paham. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Menurutnya,


Nhea sudah tidak bisa memberikan penjelasan apa pun lagi. Pasalnya, gadis itu


sendiri juga tidak tahu hal aneh macam apa yang sedang terjadi kepadanya


sekarang.


“Apa kau tidak bisa mengingat paling tidak satu potongan


peristiwanya saja?” tanya Oliver.


“Begini, kapan kau menyadari jika ternyata kalung tersebut


tengah berada di tanganmu sekarang?” lanjutnya.


Gadis itu buru-buru mengganti pertanyaannya dengan sesuatu


yang ia rasa lebih tepat dan pantas untuk ditanyakan. Opsi kedua jauh lebih


bagus menurutnya kali ini.

__ADS_1


__ADS_2