
Begitu sampai di akademi, mereka tidak langsung kembali ke
kamarnya masing-masing. Sekarang masih terlalu cepat untuk bersiap tidur. Mereka
hanya singgah sebentar ke kamar asrama untuk meletakkan barang-barangnya. Kemudian,
setelah itu kembali lagi ke gedung utama.
Mereka perlu melaksanakan jamuan makan malam seperti
biasanya. Setelah itu, sudah bisa dipastikan jika anak-anak ini akan langsung
masuk ke kelasnya. Tidak peduli seberat apa hari yang sudah mereka jalani tadi.
Belajar tetap menjadi salah satu kewajiban dan tidak dapat ditinggalkan sama
sekali.
Kegiatan belajar mengajar tetap akan dilaksanakan
sebagaimana mestinya. Tidak ada tawar-menawar lagi. Eun Ji Hae sudah meneruskan
keputusan Bibi Ga Eun soal yang satu itu kepada para siswa melalui surat
pengumuman. Mereka sebelumnya telah melakukan kesepakatan bersaama dengan
seluruh tetua yang berada di akademi. Semua orang dilibatkan dalam pengambilan
keputusan tersebut, kecuali para siswa. Dengan dalih, mereka tidak perlu
dilibatkan dalam permasalahan yang satu ini.
Festival memang penting. Namun, pelajaran juga tidak kalah
penting. Mereka tidak boleh mengesampingkan hal yang paling mendasar di akademi
ini, hanya untuk sesuatu yang bersifat sementara. Lagipula musim ini mereka tidak
terlalu berharap banyak. Akademi sihir Mooneta tidak lagi memiliki ambisi yang
kuat seperti dulu. Pasalnya, mereka sudah mulai bosan dengan peringkat tetap
yang selama ini di dapatkan.
Beberapa waktu yang lalu, Eun Ji Hae dan beberapa tokoh
penting akademi lainnya juga sempat memaparkan satu hal penting ini. Mereka
tidak harus menang. Yang terpenting adalah lakukan yang terbaik. Hasil itu yang
nomer dua. Soal peringkat bukan masalah sama sekali. Tidak penting mau berada
di posisi yang mana satu mereka.
Untuk saat ini, festival bukan lagi menjadi sesuatu yang
difokuskan. Akademi sihir Mooneta sedang teralihkan perhatiannya pada suatu hal
yang dirasa lebih penting daripada hanya sekedar peringkat. Saat ini mereka
sepakat untuk melakukan perbaikan internal maupun eksternal. Terlebih setelah
kejadian salju abadi beberapa waktu lalu yang sempat membuat kekacauan
dimana-mana.
Padahal, sudah jelas jika itu bukan salju abadi. Seseorang tengah
berusaha untuk mengelabui mereka. Mooneta mengakui jika mereka memang sempat
terkecoh pada awalnya. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Mereka segera
tanggap jika semua itu hanya tipuan semata. Tidak ada yang benar-benar
berbahaya di sini, selain musuh mereka sendiri.
“Aku tidak akan mengganti seragamku sampai selesai kelas
nanti,” ucap Oliver sambil menyimpan barang-barangnya.
__ADS_1
Sementara itu, Nhea hanya mengiyakan perkataan gadis itu
sambil menyandarkan dirinya di ambang pintu. Kali ini Nhea setuju dengan
Oliver. Gadis itu memilih untuk tetap berada di ambang pintu dan tidak masuk
sama sekali. Karena ia rasa tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan di dalam
sana. Toh, pada akhirnya mereka juga akan segera keluar.
Para siswa harus sampai di ruang jamuan makan tepat sebelum
antrian dibuka. Akan jauh labih baik lagi jika mereka mengambil posisi lebih
dulu. Dengan begitu, antrian akan berjalan lancar tanpa perlu mengular.
“Ayo pergi!” ajak Oliver.
“Aku sudah lapar,” timpalnya kemudian sambil menggandeng
tangan gadis itu.
“Bukan hanya kau satu-satunya orang yang merasa kelaparan di
sini,” cicit Nhea.
Gadis itu tidak berdecak atau menggerutu lagi kali ini untuk
menunjukkan rasa sebalnya. Melainkan Nhea mengerucutkan bibirnya hingga tampak
monyong. Di sisi lain, Oliver sama sekali tidak menghiraukan hal tersebut. Dia akan
tetap melangkah maju tanpa mempedulikan sekitarnya. Otak gadis itu sudah
dipenuhi dengan makanan.
“Ku harap mereka akan meningkatkan porsi makan kita kali
ini,” ujar Oliver.
“Kenapa begitu?” tanya Nhea secara gamblang.
tanya Oliver balik sebagai bentuk pembelaan.
“Mereka bahkan hanya memberikan roti lapi daging untuk makan
siang kita saat bertanding,” protes Oliver kemudian.
“Siapa yang peduli soal itu,” balas Nhea acuh tak acuh.
“Aku tak ingin berat badanku bertambah hanya karena harus
memakan dua porsi secara bersamaan,” jelas gadis itu kemudian.
Secara spontan, Oliver kemudian melepaskan gandengan
tangannya dari gadis itu. Namun, keduanya masih tetap berjalan berringan. Nhea
sendiri sama sekali tidak menghiraukan bagaimana sikap Oliver saat ini. Bahkan
gadis itu sama sekali tidak berniat untuk hanya sekedar menoleh dan melihat
ekspresi temannya yang satu itu. Saat ini wajahnya pasti benar-benar masam.
“Nhea!” sahut Oliver.
“Apa?” balasnya sambil tetap melaju.
“Sejak kapan kau mulai menggunakan kalung itu?” tanya
Oliver.
“Bukankan itu kalung yang kita temukan di dalam nakas
beberapa hari yang lalu?” lanjutnya.
“Kita sudah sepakat untuk tetap menyimpannya sampai bertemu
dengan pemiliknya. Atau paling tidak tahu soal sejarahnya dan milik siapa ini,”
__ADS_1
paparnya di akhir.
Nhea hanya bisa menghela napas sambil menguragi kecepatan
berjalannya. Bagaimana bisa Oliver memberikan pertanyaan sebanyak itu. Ia
bahkan tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada Nhea untuk menjawab
semuanya. Oliver terus saja bicara tanpa henti. Jangan-jangan ia memang
melakukannya dalam satu tarikan napas dan tidak ada jeda sama sekali.
“Kau sudah selesai bicara?” tanya Nhea untuk memastikan.
Pasalnya, ia tidak akan bicara sebelum gadis itu menyudahi
semua kalimatnya.
“Tentu saja!” balas Oliver dengan yakin sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baiklah,” balas Nhea.
Gadis itu tampak menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan
pasokan okgsigen sebanyak-banyaknya. Entah seberapa panjang kalimat yang akan
ia ucapkan nanti. Sampai-sampai Nhea melakukan pesiapan seperti demikian. Rasanya
itu terlalu berlebihan jika ia hanya akan mengucapkan satu sampai dua kalimat saja.
“Pertama, kau harus tahu jika aku tidak pernah memakai
kalung ini dengan sengaja,” ungkapnya.
“Aku juga tidak tahu bagaimana kalung ini bisa berada di
leherku seperti saat sekarang ini,” jelasnya secara singkat kemudian.
“Jadi, maksudmu semua ini terjadi tanpa sepengetahuanmu
begitu?” tanya Oliver untuk memastikan.
Pasalnya, dia tidak bisa asal mengambil kesimpulan saja di
sini. Apa yang sedang ia pikirkan saat ini belum tentu sama dengan isi pikiran
Nhea. Kesalahpahaman bisa saja terjadi.
“Aku juga tidak tahu harus bagaimana mendefenisikannya,”
akui Nhea.
“Semuanya memang terjadi tanpa sepengetahuanku,” katanya.
Oliver yang mendengar penjelasan tersebut lantas langsung
mengangguk paham. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Menurutnya,
Nhea sudah tidak bisa memberikan penjelasan apa pun lagi. Pasalnya, gadis itu
sendiri juga tidak tahu hal aneh macam apa yang sedang terjadi kepadanya
sekarang.
“Apa kau tidak bisa mengingat paling tidak satu potongan
peristiwanya saja?” tanya Oliver.
“Begini, kapan kau menyadari jika ternyata kalung tersebut
tengah berada di tanganmu sekarang?” lanjutnya.
Gadis itu buru-buru mengganti pertanyaannya dengan sesuatu
yang ia rasa lebih tepat dan pantas untuk ditanyakan. Opsi kedua jauh lebih
bagus menurutnya kali ini.
__ADS_1