Mooneta High School

Mooneta High School
Arrow


__ADS_3

Hwang Ji Na sedang dalam mode waspada saat ini. Waspada akan membuatnya tetap aman. Sementara Chanwo tetap bersiaga meski tengah bersembunyi. Pria itu akan selalu siap membantu kapan pun Hwang Ji Na membutuhkan bantuannya. Chanwo bisa diandalkan.


"Aku tidak boleh lengah," gumam Hwang Ji Na.


Gadis itu memandangi sekelilingnya, memastikan jika situasinya sudah aman. Hwang Ji Na berencana untuk membuat perbatasan antara dirinya dengan para kawanan serigala itu. Sehingga mereka tidak akan bisa pergi keluar dari hutan ini.


Hwang Ji Na mengambil sebuah anak panah serta busur miiliknya. Gadis itu mengarahkan anak panah tersebut ke arah kawanan serigala itu. Entah ia akan membunuh mereka semua atau hanya sebagai gertakan saja. Tapi yang jelas jika dilihat dari ekspresi wajahnya, Hwang Ji Na tampak begitu serius. Ia sama sekali tidak menunjukkan jika dirinya sedang bermain-main dengan semua itu.


Hwang Ji Na mulai menarik busurnya dan menempatkannya pada posisi membidik yang sempurna. Begitu mendapatkan target, ia langsung melepaskan tarikannya. Membuat anak panah tersebut melesat dengan cepat.


Gadis itu sama sekali tak berniat untuk membunuh mereka. Ia hanya ingin membatasi pergerakannya. Seperti yang dikatakan di awal jika Hwang Ji Na akan membiarkan mereka untuk tetap hidup. Soal kesempatan kedua, biar semesta yang menentukan hal tersebut.


Anak panah yang dilancarkan oleh Hwang Ji Na bukan panah biasa. Melainkan anak panah yang telah diberikan mantra khusus. Hal tersebut bisa membuat sebuah portal pembatas. Efeknya memang tidak bertahan selamanya. Hanya sekitar tiga jam untuk ukuran maksimalnya. Setelah itu portalnya akan menghilang. Tapi, semua itu sudah lebih dari cukup untuk menghalau mereka semua sementara waktu. Hwang Ji Na dan yang lainnya pasti sudah pergi jauh dari sana dalam tiga jam kemudian. Tidak akan mungkin para kawanan serigala itu mengejar mereka.


Hwang Ji Na sempat diajarkan beberapa pelajaran dasar ilmu sihir yang akan berguna untuk kehidupan sehari-harinya. Begitu pula sebaliknya. Eun Ji Hae juga diajarkan ilmu bela diri dasar oleh Hwang Ji Na.


“Sepertinya mereka tidak akan bangkit dan mengejarku dalam waktu dekat,” ucap Hwang Ji Na kepada dirinya sendiri.


Sekarang situasinya sudah benar-benar aman. Tidak ada lagi yang perlu mereka takutkan. Hwang Ji Na dan Chanwo sudah bisa pergi dari sini tanpa rasa khawatir.


Hwang Ji Na membalikkan badannya. Mereka harus segera pergi dan menyusul rombongan siswa Mooneta. Mereka pasti belum pergi terlalu jauh dari sini. Seekor serigala dari klan alpha dan raja klan vampir memiliki kecepatan yang cukup untuk menyusul langkah mereka dalam waktu singkat. Chanwo bahkan bisa berlari dengan cepat. Sangking cepatnya, hampir sama dengan kecepatan cahaya.


“Mari kita pergi sekarang juga!” sahut Hwang Ji Na.


Mendengar perkataan tersebut, Chanwo langsung mengalihkan pandangannya. Ia segera keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian menghampiri Hwang Ji Na yang sudah menunggu di sana sejak tadi.

__ADS_1


“Apa kau telah menyelesaikan semuanya?” tanya Chanwo.


Hwang Ji Na hanya mengangguk sambil membenarkan posisi busur panahnya. Chanwo tampaknya langsung menyadari hal tersebut. Ia tahu jika Hwang Ji Na baru saja selesai memanah.


“Anak panahmu tidak kena sasaran?” tanya Chanwo.


“Bukan tidak tepat sasaran. Aku memang sengaja melakukan pola serangan yang sedikit meleset dari perkiraan,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Kenapa begitu?” tanya Chanwo kebingungan.


“Kau sengaja membidik dengan tidak tepat sasaran seperti itu? Untuk apa?” timpalnya kemudian.


“Hanya buang-buang anak panah saja,” cicit pria itu.


Hwang Ji Na hanya menghela napasnya. Dia sedang tidak ingin terlalu banyak bicara. Percuma juga jika ia menjelaskannya dengan panjang lebar jika pria itu tidak kunjung mengerti juga. Pada akhirnya, Hwang Ji Na hanya akan membuang-buang energinya secara sia-sia.


Chanwo tidak membalasnya dengan kata-kata, meski ia masih tidak mengerti. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya.


“Ayo pergi!” ajak Hwang Ji Na.


“Kemana?” tanya pria itu.


“Aku akan pergi menyusul Eun Ji Hae dan yang lainnya. Terserah denganmu akan pergi kemana,” ucap Hwang Ji Na secara gamblang.


Tanpa berpamitan sama sekali, gadis itu benar-benar pergi meninggalkan Chanwo di belakangnya. Ini bukan yang pertama kali bagi pria itu. Chanwo sama sekali tidak habis pikir dengan kelakuan Hwang Ji Na. I jadi banyak berubah begitu keluar dari hutan kegelapan. Sepertinya gadis itu masih terlalu bersemangat. Chanwo tahu jika ini adalah pertama kalinya bagi mereka berdua untuk menginjakkan kaki di belahan bumi lainnya. Tapi, tidak perlu sampi terlalu ambisius seperti itu.

__ADS_1


“Hey! Tunggu!” sahut Chanwo dari kejauhan.


Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera menyusul langkah Hwang Ji Na. Ia telah tertinggal jauh. Pria itu bisa tersesat jika seperti ini caranya. Chanwo sama sekali tidak bisa mengatur serta menentukan navigasi. Tidak seperti Hwang Ji Na yang tampaknya sudah cukup ahli dalam hal tersebut.


Omong-omong, gadis itu melangkah dengan sangat cepat. Baru beberapa saat, sosoknya hampir menghilang dari pandangan Chanwo. Itu sebabnya kenapa Chanwo harus menyusul Hwang Ji Na dengan segera, sebelum hal yang lebih buruk terjadi.


“Jadi, kemana kau akan pergi?” tanya Hwang Ji Na begitu pria itu sampai di sisinya.


“Memangnya kemana kau akan pergi kali ini?” tanya Chanwo balik.


Gadis itu kembali menghela napasnya dengan kasar. Padahal sudah jelas-jelas jika sebelumnya ia sempat memberitahu pria ini kemana ia akan pergi. Namun, sepertinya Chanwo tidak benar-benar hadir di sana pada saat itu. hanya raganya saja yang berada bersama Hwang Ji Na. Tidak dengan jiwanya.


“Apa kau tidak mau menjawab pertanyaanku yang satu itu?” tanya Chanwo sekali lagi.


“Aku tidak mau mengulang jawabanku,” balas Hwang Ji Na sembari mempercepat langkahnya.


“Salah sendiri kenapa kau tidak mendengarkanku tadi,” gertunya sebal.


“Siapa bilang jika aku tidak mendengar semuanya tadi?” tepis Chanwo dengan segera. Ia tidak mau sampai dirinya dituduh yang tidak-tidak oleh gadis itu.


“Lantas kenapa masih bertanya?!” protes Hwang Ji Na.


“Aku hanya ingin memastikan sekali lagi apakah kau sudah yakin dengan keputusanmu sendiri atau tidak,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Aku yakin!” tegas Hwang Ji Na.

__ADS_1


“Jangan bertanya apa pun lagi kepadaku!” tukasnya.


Hal tersebut berhasil membungkam mulut pria itu secara tidak langsung. Entah sejak kapan pria itu menjadi bawel seperti ini. Mungkin jiwanya telah bertukar dengan jiwa seorang wanita. Tidak biasanya ia seperti ini. Chanwo selalu dikenal dengan kepribadiannya yang kejam serta dingin. Oleh sebab itu semua orang begitu menghormati kedudukannya sebagai raja. Ia bahkan sudah memiliki sikap seperti itu sejak lahir.


__ADS_2