
Hari ini Nhea lebih banyak menghabiskan sisa waktunya bersama dengan pria itu. Lebih tepatnya, setelah perselisihan pendapat dengan teman-temannya tadi. Ia baru menyadari jika ternyata Chanwo tidak semisterius itu. Dia termasuk orang yang akan banyak bicara ketika sudah benar-benar dekat. Sebenarnya, kembali lagi kepada siapa ia berbicara.
“Sepertinya bekas luka itu tidak akan hilang,” ujar Chanwo secara gamblang.
“Aku juga sempat berpikir seperti itu,” balas Nhea sambil memperhatikan beksa luka yang dimaksud oleh pria itu tadi.
Jika dipikir-pikir, apa yang dikatakan oleh Chanwo masuk akal juga. Mungkin bekas luka ini memang tidak akan pernah hilang. Pasalnya, tidak ada perubahan yang tampak terjadi setelah beberapa bulan lalu. Bekas lukanya masih terliihat sama. Tidak memudar sama sekali.
Sejauh ini, Nhea sama sekali belum memberitahu apa penyebab luka ini sebenarnya. Meski pria itu sempat bertanya tadi, tapi ia tidak memaksakan kehendaknya. Tidak masalah jika Nhea memang tidak ingin memberitahunya. Itu haknya. Nhea berhak untuk menentukan kepada siapa ia harus membagi ceritanya. Tidak bisa dengan sembarang orang. Gadis itu sudah menerima terlalu banyak pengkhianatan sejauh ini. Mulai sekarang, ia harus lebih berhati-hati lagi.
Soal Oliver dan teman-temannya tadi, mungkin mereka akan kembali berteman seperti semula. Itu pun jika keadaan sudah mulai membaik. Pada dasarnya Nhea bukan tipikal orang yang pendendam. Dia mudah memaafkan, hanya saja sulit untuk melupakan. Tapi, bukan berarti ia dendam. Lebih tepatnya menyesal.
Kemungkinan besar Oliver, Jongdae dan Jang Eunbi akan dimaafkan oleh gadis itu. Dia tidak bermaksud untuk merusak hubungannya dengan mereka. Hanya saja, situasinya memang sedang tidak memungkinkan.
Keadaan tidak akan mungkin kembali lagi seperti semula. Mereka akan berteman lagi. Itu pasti. Tapi, tidak bisa sedekat dulu. Nhea pasti akan memberikan batasan-batasan tertentu. Ia tidak mau sampai kejadian yang sama terulang kembali.
***
Nhea dan Chanwo berjalan beriringan sejak keluar dari kelas. Ia bahkan mengabaikan teman-temannya begitu saja. Mereka tidak akan teus seperti ini. Tepat di ujung koridor nanti, mereka harus berpisah. Sekarang sudah lewat tengah malam. Kelas sudah dibubarkan sejak beberapa menit yang lalu. Sekarang sudah waktunya bagi mereka semua untuk kembali ke kamar asramanya masing-masing. Beristirahat sambil memulihkan tenaga untuk esok hari.
“Nhea!” sahut seseorang yang tiba-tiba saa muncul di hadapannya.
__ADS_1
Spontan gadis itu langsung menghentikan langkahnya seketika. Saat ini Eun Ji Hae sudah berada di hadapannya. Karena Nhea dan Chanwo merupakan orang yang berjalan paling akhir, jadi sudah tidak ada siapa-siapa lagi di tempat ini kecuali mereka bertiga. Para siswa sedang dalam perjalanan untuk kembali ke asramanya.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Eun Ji Hae.
Orang yang dimaksud hanya bisa mengerjap beberapa kali, kemudian berdeham untuk menetralisir suasana. Terlalu canggung rasanya. Wajar saja. Mereka cukup jarang bertemu. Dan sekalinya bertemu, malah membicarakan sesuatu yang serius. Jujur, jika hal itu cukup menguras pikiran bagi Nhea. Kemampuan berpikirnya tidak sama dengan Eun Ji Hae yang sudah jelas beberapa tingkat jauh lebih mahir di atasnya.
Di sisi lain Eun Ji Hae masih menatap gadis itu dengan lekat. Sorot matanya tajam, seolah sedang menuntut jawaban dari gadis yang berdiri di depannya itu.
“Baiklah,” balas Nhea.
Nhea langsung dibawa ke ruangan Eun Ji Hae yang berada tidak jauh dari sana. Sebenarnya ruangan itu bukan miliki Eun Ji Hae saja. Dia berbagi ruangan untuk bekerja dengan Bibi Ga Eun. Tapi, wanita itu sudah kembali ke kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Jadi, mereka bisa bicara empat mata. Eun Ji Hae rasa itu sudah cukup aman bagi mereka berdua.
Eun Ji Hae mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Memastikan jika tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka berdua. Kondisi koridor saat ini memang jauh dari kata ramai. Tapi, bukan berarti tidak mungkin jika ada seseorang yang sedang berusaha untuk memata-matai mereka.
‘KRIETTT!!!’
Pintu itu berderit kencang saat Eun Ji Hae menarik gagang pintunya. Suaranya cukup terdengar nyaring di tempat seperti ini. Sangattidak ramah bagi gendang telinga mereka.
Kedua gadis itu duduk di tempat yang sudah disediakan sebelumnya. Mereka bahkan tidak mempedulikan aturan jam malam. Sekarang sudah lewat tengah malam, tapi mereka bahkan belum kembali ke dalam kamar. Oliver pasti mencarinya. Mereka teman sekamar. Jadi, Oliver adalah orang pertama yang menyadari kalau Nhea tidak berada di kamarnya.
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?” tanya Eun Ji Hae. Seperti biasanya ia tidak mau membuang-buang waktu lagi.
__ADS_1
Dengan polosnya Nhea menggeleng pelan. Ia sungguh tidak tahu apa alasan Eun Ji Hae sampai harus membawanya kemari. Gadis itu sama sekali tidak menjelaskan yang satu itu kepada Nhea.
“Apa aku sudah membuat masalah? Tapi apa?” batinnya di dalam hati.
Nhea mulai merasa gugup. Sesekali ia meremas tangannya sendiri untuk mengurangi perasaan tersebut. Tidak berdampak banyak, tapi setidaknya sudah mulai berkurang. Cukup membantu Nhea yang sedang dilanda kepanikan.
Eun Ji Hae menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sorot matanya lurus menatap langit-langit ruangan ini. Ia menghela napas dengan berat. Beban yang semula berada di pundaknya ikut menguap bersama dengan sisa-sisa semangat yang ia miliki hari ini.
“Aku yakin jika kau sudah mendengar soal rumor yang beredar belakangan ini,” ucap Eun Ji Hae secara gamblang.
Gadis itu tidak mengubah posisinya sama sekali. Dia berbicara tanpa menatap adiknya yang satu ini. Meski mereka tidak memiliki hubungan darah, tapi di dalam silsilah keluarga keduanya tetap memiliki hubungan sebagai kakak adik.
“Aku baru saja mendengarnya dari teman-temanku. Jika mereka tidak membicarakannya, mungkin aku tidak akan pernah tahu,” akunya. Nhea tidak ingin menutup-nutupi apa pun lagi.
“Siapa teman yang kamu maksud?” tanya Eun Ji Hae.
“Seluruh siswa di akademi ini membicarakan soal dirimu,” ungkap Nhea secara terang-terangan.
Awalnya, gadis itu ingin memberi tahu Eun Ji Hae secara lebih spesifik. Karena sebenarnya ia mendengar semua cerita itu secara jelas dari Oliver, Jongdae dan juga Jang Eunbi. Hanya saja, Nhea memilih untuk bungkam. Dia tidak akan menunjukkan secara gamblang siapa pelakunya kali ini. Karena Nhea sendiri juga belum tahu.
Mereka bertiga bisa terkena masalah jika sampai Eun Ji Hae tahu soal apa yang terjadi di koridor tadi. Tentu gadis ini tidak akan memberikan ampun kepada mereka semua. Sebenarnya Nhea bisa saja melakukan hal tersebut jika ia mau. Tapi, untuk sementara Nhea masih berbaik hati. Dia akan memberikan kesempatan kepada ketiganya untuk memperbaiki kesalahan mereka.
__ADS_1