Mooneta High School

Mooneta High School
Lazyness


__ADS_3

Meski hari ini mereka sudah tidak bertanding lagi, tapi


seluruh siswa Mooneta tetap diwajibkan untuk datang ke arena. Minimal menonton


dari tribun saja. Karena festival kali ini berlangsung di sekitar tempat


tinggal mereka, itu sebabnya anak-anak dari akademi sihir Mooneta harus


memberikan partisipasi mereka untuk memeriahkan suasana. Baik secara langsung


mau pun tidak langsung.


Sebenarnya, jika boleh jujur Nhea sendiri malas untuk datang


ke pertandingan tersebut. Ia ingin menghabiskan waktunya untuk bersantai di


atas kasur. Tidak bisa dipungkiri jika beberapa hari ini selalu menjadi hari


yang paling melelahkan di dalam hidupnya. Ia butuh istirahat. Setidaknya


sebentar saja. Siapa pun itu, tolong izinkan Nhea untuk memejamkan matanya


paling tidak lima menit. Pasti ia akan sangat bersyukur.


Namun, tampaknya hal tersebut tidak akan pernah menjadi


kenyataan. Semesta menundanya untuk bahagia. Sebab, Dewi Fortuna sedang tidak


sependapat dengan gadis ini. Setiap hal yang terjadi di muka bumi memang sering


kali tidak harus sesuai dengan pendapat kita. Namun, buukankah akan jauh lebih


baik jika kita bisa menentukan segalanya dengan mudah tanpa harus menerima


penolakan dari semesta.


“Apa kau sudah selesai?” tanya Oliver yang baru saja selesai


memakai seragamnya.


Tak lama kemudian gadis itu beralih menghampiri Nhea yang


tengah duduk mematung di ujung tempat tidur. Pandangannya sempat kosong untuk


beberapa saat. dia tidak boleh terlalu sering melakukan hal seperti ini.  Tidak baik.


Nhea sudah selesai memasang sepatu sejak tadi. Ia bahkan


selalu melakukan apa pun dengan cepat. Jika dibandingkan dengan teman


sekamarnya, maka sejauh ini ia yang paling cepat.


“Oh, jadi kau sudah selesai?” tanya gadis itu sekali lagi


untuk memastikan.


“Seperti yang kau lihat,” balas Nhea acuh tak acuh.


Jika seseorang sudah memakai sepatu di kamar ini saat pagi


hari, itu artinya mereka sudah selesai. Sebab sepatu merupakan hal paling akhir


yang harus mereka kerjakan.


“Kalau begitu tunggu sebentar!” sahut Oliver.


“Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku yang satu ini.


Tidak akan lama,” timpalnya kemudian.


Mulai hari ini dan seterusnya, sepertinya gadis ini akan


selalu memakai sepatu pemberian Paman Johnson. Pasalnya setelah insiden hari

__ADS_1


itu, ia menjadi tidak memiliki sepatu lagi. Sepatu dari Paman Johnson adalah


satu-satunya yang ia miliki sampai sejauh ini. Mungkin sepatu tersebut juga


akan menjadi salah satu benda kesayangannya mulai sekarang. Oliver tentu akan


menjaganya dengan baik jika begitu.


“Menurutmu, apakah kita bisa tetap di sini saja?” tanya Nhea


secara gamblang.


“Apa maksudmu?” tanya Oliver balik tanpa mengalihkan


pandangannya.


“Haruskah kita pergi ke alun-alun kota untuk menyaksikan


festival yan tengah berlangsung itu sekarang?”


Nhea kembali mempertegas ucapannya. Mungkin memang ada


beberapa kata yang tidak bisa dicerna terlalu baik oleh gadis itu pada kalimat


yang sebelumnya. Sekarang, Nhea berinisiatif untuk membuat semuanya terasa


lebih jelas dan transparan saja.


“Apa kau berharap agar kita tetap berada di akademi?” tanya


Oliver untuk memastikan. Namun, bagi Nhea pertanyaan itu malah terdengar


seperti sedang mengejek dirinya.


Baiklah, lupakan soal yang itu tadi. Tidak masalah juga jika


benar. Karena, memang hanya Nhea satu-satunya orang yang tapak konyol di antara


mereka berdua. Bagaimana bisa jika ia berharap pada sesuatu yang sudah


Sepertinya Nhea sama sekali tidak berniat untuk menjawab


pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh gadis itu. Pasalnya, masih belum ada


balasan sama sekali dari Nhea.


“Aku sudah selesai!” seru Oliver sambil menatap kedua


kakinya yang sdah dipasangi oleh sepatu mengkilap pemberian Paman Johnson.


Sedetik kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya ke


arah Nhea. Ekspresi gadis itu masih sama saja. Tidak ada yang berubah sejak


tadi. Ia bahkan berharap agar setidaknya Nhea mamiliki sedikit semangat untuk


menjalani hari ini.


“Ayolah, apa yang terjadi denganmu?!” sahut Oliver sembari


menyenggol tangan Nhea dengan sengaja.


Bukan bermaksud usil atau semacamnya, ia hanya ingin agar


Nhea merasa terpancing. Tampaknya gadis itu sungguh tak memiliki motivasi hidup


sama sekali. Tidak masuk akal. Keadaan seperti ini benar-benar berbanding


terbalik dengan apa yang selama ini orang-orang lihat.


Tanpa pikir panjang sama sekali, Oliver lantas menarik


tangan temannya tersebut untuk beranjak dari tempat tidur. Ia tidak bisa tetap

__ADS_1


berada di sini selama seharian penuh. Sebaiknya Nhea mulai mengubur mimpinya


untuk bersantai dalam-dalam. Karena hal tersebut tidak akan pernah terjadi.


Untuk kali ini setidaknya ia harus percaya kepada Oliver.


Dengan berat hati, mau tak mau Nhea terpaksa meninggalkan


ruangan tersebut. Mereka harus segera sampai di lantai dasar asrama. Semua


orang akan dikumpulkan di tempat itu terlebih dahulu sebelum berangkan. Eun Ji


Hae telah memberikan daftar nama harian yang harus dicek kembali oleh


masing-masing ketua asrama setiap harinya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Langkah kaki mereka terdengar sangat jelas ketika melewati


deretan anak tangga yang menghubungkan antara lantai tiga dengan lantai dua. Hanya


ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi saat ini. Yang pertama adalah, semua


orang sudah berada di lantai bawah. Sehingga suasana di lantai dua dan tiga


tampak begitu sepi dan tenang. Opsi keduanya, bisa jadi sebaliknya. Belum ada


satu pun dari mereka yang keluar dari dalam kamarnya. Mereka masih sibuk untuk


bersiap-siap di dalam kamar. Sehingga batang hidungnya tidak terlihat sama


sekali.


Nhea dan Oliver masih bisa berjalan dengan santai. Karena


bagaimanapun itu, mereka tahu betul jika sekarang bukan waktu yang tepat untuk


berangkat ke arena. Mereka masih berlum terlambat. Setidaknya pasti masih ada


sisa waktu. Paling tidak sekitar lima belas sampai dua puluh menit lagi.


“Omong-omong, ada berapa tim lagi yang belum bertanding?”


tanya Nhea secara tiba-tiba.


“Kalau tidak salah dengar, kemarin Nyonya kepala sekolah


sempat memberitahuku,” ujar Oliver. Tapi, bukan itu jawaban yang diharapkan


oleh Nhea.


“Mungkin ada sekitar lima tim lagi dari tiga cabang


perlombaan yang tersedia!” tukasnya kemudian.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Oliver


mempercepat langkahnya. Sontak Nhea mau tak mau harus mengikutinya dari


belakang dengan langkah kaki yang tak kalah cepat. Ia harus menyusul Oliver


secepat mungkin.


Sebagai ketua asrama wanita, Oliver tidak boleh sampai


terlambat. Sama halnya dengan Nhea. Kelak ia akan dipilih sebagai ketua seluruh


asrama. Tanggung jawab yang ia emban pasti akan terasa jauh lebih berat. Jadi,


mulai sekarang Nhea harus mempersiapkan diri untuk ke depannya. Setidaknya,


untuk saat ini ia bisa belajar banyak dari Oliver. Terlebih mereka teman

__ADS_1


sekamar. Jadi tidak perlu merasa sungkan lagi untuk bertanya. Gadis itu pasti


akan sangat senang jika bisa membantu.


__ADS_2