
Meski hari ini mereka sudah tidak bertanding lagi, tapi
seluruh siswa Mooneta tetap diwajibkan untuk datang ke arena. Minimal menonton
dari tribun saja. Karena festival kali ini berlangsung di sekitar tempat
tinggal mereka, itu sebabnya anak-anak dari akademi sihir Mooneta harus
memberikan partisipasi mereka untuk memeriahkan suasana. Baik secara langsung
mau pun tidak langsung.
Sebenarnya, jika boleh jujur Nhea sendiri malas untuk datang
ke pertandingan tersebut. Ia ingin menghabiskan waktunya untuk bersantai di
atas kasur. Tidak bisa dipungkiri jika beberapa hari ini selalu menjadi hari
yang paling melelahkan di dalam hidupnya. Ia butuh istirahat. Setidaknya
sebentar saja. Siapa pun itu, tolong izinkan Nhea untuk memejamkan matanya
paling tidak lima menit. Pasti ia akan sangat bersyukur.
Namun, tampaknya hal tersebut tidak akan pernah menjadi
kenyataan. Semesta menundanya untuk bahagia. Sebab, Dewi Fortuna sedang tidak
sependapat dengan gadis ini. Setiap hal yang terjadi di muka bumi memang sering
kali tidak harus sesuai dengan pendapat kita. Namun, buukankah akan jauh lebih
baik jika kita bisa menentukan segalanya dengan mudah tanpa harus menerima
penolakan dari semesta.
“Apa kau sudah selesai?” tanya Oliver yang baru saja selesai
memakai seragamnya.
Tak lama kemudian gadis itu beralih menghampiri Nhea yang
tengah duduk mematung di ujung tempat tidur. Pandangannya sempat kosong untuk
beberapa saat. dia tidak boleh terlalu sering melakukan hal seperti ini. Tidak baik.
Nhea sudah selesai memasang sepatu sejak tadi. Ia bahkan
selalu melakukan apa pun dengan cepat. Jika dibandingkan dengan teman
sekamarnya, maka sejauh ini ia yang paling cepat.
“Oh, jadi kau sudah selesai?” tanya gadis itu sekali lagi
untuk memastikan.
“Seperti yang kau lihat,” balas Nhea acuh tak acuh.
Jika seseorang sudah memakai sepatu di kamar ini saat pagi
hari, itu artinya mereka sudah selesai. Sebab sepatu merupakan hal paling akhir
yang harus mereka kerjakan.
“Kalau begitu tunggu sebentar!” sahut Oliver.
“Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku yang satu ini.
Tidak akan lama,” timpalnya kemudian.
Mulai hari ini dan seterusnya, sepertinya gadis ini akan
selalu memakai sepatu pemberian Paman Johnson. Pasalnya setelah insiden hari
__ADS_1
itu, ia menjadi tidak memiliki sepatu lagi. Sepatu dari Paman Johnson adalah
satu-satunya yang ia miliki sampai sejauh ini. Mungkin sepatu tersebut juga
akan menjadi salah satu benda kesayangannya mulai sekarang. Oliver tentu akan
menjaganya dengan baik jika begitu.
“Menurutmu, apakah kita bisa tetap di sini saja?” tanya Nhea
secara gamblang.
“Apa maksudmu?” tanya Oliver balik tanpa mengalihkan
pandangannya.
“Haruskah kita pergi ke alun-alun kota untuk menyaksikan
festival yan tengah berlangsung itu sekarang?”
Nhea kembali mempertegas ucapannya. Mungkin memang ada
beberapa kata yang tidak bisa dicerna terlalu baik oleh gadis itu pada kalimat
yang sebelumnya. Sekarang, Nhea berinisiatif untuk membuat semuanya terasa
lebih jelas dan transparan saja.
“Apa kau berharap agar kita tetap berada di akademi?” tanya
Oliver untuk memastikan. Namun, bagi Nhea pertanyaan itu malah terdengar
seperti sedang mengejek dirinya.
Baiklah, lupakan soal yang itu tadi. Tidak masalah juga jika
benar. Karena, memang hanya Nhea satu-satunya orang yang tapak konyol di antara
mereka berdua. Bagaimana bisa jika ia berharap pada sesuatu yang sudah
Sepertinya Nhea sama sekali tidak berniat untuk menjawab
pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh gadis itu. Pasalnya, masih belum ada
balasan sama sekali dari Nhea.
“Aku sudah selesai!” seru Oliver sambil menatap kedua
kakinya yang sdah dipasangi oleh sepatu mengkilap pemberian Paman Johnson.
Sedetik kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya ke
arah Nhea. Ekspresi gadis itu masih sama saja. Tidak ada yang berubah sejak
tadi. Ia bahkan berharap agar setidaknya Nhea mamiliki sedikit semangat untuk
menjalani hari ini.
“Ayolah, apa yang terjadi denganmu?!” sahut Oliver sembari
menyenggol tangan Nhea dengan sengaja.
Bukan bermaksud usil atau semacamnya, ia hanya ingin agar
Nhea merasa terpancing. Tampaknya gadis itu sungguh tak memiliki motivasi hidup
sama sekali. Tidak masuk akal. Keadaan seperti ini benar-benar berbanding
terbalik dengan apa yang selama ini orang-orang lihat.
Tanpa pikir panjang sama sekali, Oliver lantas menarik
tangan temannya tersebut untuk beranjak dari tempat tidur. Ia tidak bisa tetap
__ADS_1
berada di sini selama seharian penuh. Sebaiknya Nhea mulai mengubur mimpinya
untuk bersantai dalam-dalam. Karena hal tersebut tidak akan pernah terjadi.
Untuk kali ini setidaknya ia harus percaya kepada Oliver.
Dengan berat hati, mau tak mau Nhea terpaksa meninggalkan
ruangan tersebut. Mereka harus segera sampai di lantai dasar asrama. Semua
orang akan dikumpulkan di tempat itu terlebih dahulu sebelum berangkan. Eun Ji
Hae telah memberikan daftar nama harian yang harus dicek kembali oleh
masing-masing ketua asrama setiap harinya.
‘TAP! TAP! TAP!’
Langkah kaki mereka terdengar sangat jelas ketika melewati
deretan anak tangga yang menghubungkan antara lantai tiga dengan lantai dua. Hanya
ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi saat ini. Yang pertama adalah, semua
orang sudah berada di lantai bawah. Sehingga suasana di lantai dua dan tiga
tampak begitu sepi dan tenang. Opsi keduanya, bisa jadi sebaliknya. Belum ada
satu pun dari mereka yang keluar dari dalam kamarnya. Mereka masih sibuk untuk
bersiap-siap di dalam kamar. Sehingga batang hidungnya tidak terlihat sama
sekali.
Nhea dan Oliver masih bisa berjalan dengan santai. Karena
bagaimanapun itu, mereka tahu betul jika sekarang bukan waktu yang tepat untuk
berangkat ke arena. Mereka masih berlum terlambat. Setidaknya pasti masih ada
sisa waktu. Paling tidak sekitar lima belas sampai dua puluh menit lagi.
“Omong-omong, ada berapa tim lagi yang belum bertanding?”
tanya Nhea secara tiba-tiba.
“Kalau tidak salah dengar, kemarin Nyonya kepala sekolah
sempat memberitahuku,” ujar Oliver. Tapi, bukan itu jawaban yang diharapkan
oleh Nhea.
“Mungkin ada sekitar lima tim lagi dari tiga cabang
perlombaan yang tersedia!” tukasnya kemudian.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Oliver
mempercepat langkahnya. Sontak Nhea mau tak mau harus mengikutinya dari
belakang dengan langkah kaki yang tak kalah cepat. Ia harus menyusul Oliver
secepat mungkin.
Sebagai ketua asrama wanita, Oliver tidak boleh sampai
terlambat. Sama halnya dengan Nhea. Kelak ia akan dipilih sebagai ketua seluruh
asrama. Tanggung jawab yang ia emban pasti akan terasa jauh lebih berat. Jadi,
mulai sekarang Nhea harus mempersiapkan diri untuk ke depannya. Setidaknya,
untuk saat ini ia bisa belajar banyak dari Oliver. Terlebih mereka teman
__ADS_1
sekamar. Jadi tidak perlu merasa sungkan lagi untuk bertanya. Gadis itu pasti
akan sangat senang jika bisa membantu.