
Kompetisi antar akademi sihir hanya tinggal hitungan hari
lagi. Semua orang telah mempersiapkan diri. Memberikan penampilan terbaik yang
mereka bisa. Nyaris seluruh siswa dari akademi sihir Mooneta dilibatkan. Ada
berbagai macam cabang perlombaan yang mereka ikuti. Ada kategori tim dan
individu. Namun, karena lebih banyak perlombaan yang dilakukan secara
berkelompok, mau tak mau mereka pasti memerlukan banyak orang. Bahkan, ada
beberapa siswa yang tidak hanya mengikuti satu cabang lomba saja.
Ini merupakan perhelatan akbar. Kompetisi paling besar dan
bergengsi. Selalu menjadi saat yang ditunggu-tunggu bagi semua orang. Seluruh
akademi sihir akan memberikan hal terbaik yang mereka bisa. Mooneta, Reodal,
serta Orton adalah tiga akademi sihir yang menduduki tahta tertinggi selama
ini. Orang-orang menyebutnya sebagai si “Tiga Besar”.
Akan ada banyak orang pastinya nanti. Mereka tidak sabar
untuk menyaksikan kehebihan di lapangan. Keriuhan suasana pasti bukan menjadi
sesuatu yang bisa dielakkan dengan begitu saja. Bukan hanya menonton
pertandingan lalu pulang. Ada yang lebih menarik perhatian dari pada itu. Hanya
pada kompetisi tersebutlah mereka bisa menyaksikan persaingan ketat antara
akademi-alademi sihir terkenal. Seperti Mooneta, Reodal dan juga Orton.
Ketiganya adalah saingan berat satu sama lain pada saat semacam ini. Ada yang
bertindak sportif, ada pula yang akan melakukan berbagai cara demi mendapatkan
gelar kemenangan.
Persaingan mereka terkenal cukup ketat dan sengit. Ini
adalah poin utamanya pada kompetisi kali ini. Semua orang akan melihat betapa
hebatnya mereka. Biasanya, Mooneta memang selalu menjadi yang pertama dari
tahun ke tahun. Belum ada yang bisa menggeser posisi mereka. Tidak mudah memang
untuk mengalahkan anak-anak Mooneta. Bahkan, Reodal sendiri pernah mengakui hal
tersebut.
“Jadi, kita akan kembali berlatih lagi kali ini?” tanya Nhea
kepada teman sekamarnya tanpa memalingkan perhatian.
“Tentunya!” balas Oliver dengan yakin.
Gadis itu hanya bisa menghela napas dengan pasrah sesaat
setelah mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan harapan. Akhir-akhir ini
memang melelahkan. Tidak bisa dipungkiri. Mereka terus berlatih sepanjang hari
demi mempersiapkan yang terbaik. Hari dimana kompetisi akan berlangsung sudah
semakin dekat. Bibi Ga Eun pun tak segan-segan untuk menambah frekuensi latihan
mereka menjadi lebih sering dari pada biasanya. Wajar saja sebenarnya.
Terhitung mulai hari ini, hanya tinggal tersisa dua minggu
__ADS_1
saja menuju hari perlombaan. Belum termasuk hari dimana mereka harus
menghabiskan waktu seharian penuh di perjalanan. Beberapa hari ke depan
diyakini sebagai hari yang tidak mudah bagi Nhea. Mungkin bukan hanya Nhea yang
merasa demikian. Tapi, beberapa orang lainnya juga.
“Bagaimana jika kita sudah kehilangan energi sebelum
bertanding? Sungguh tidak lucu sama sekali,” ucap Nhea secara gamblang.
“Aku takut jika kita tidak bisa menampilkan yang terbaik,”
timpalnya kemudian.
Oliver mengangguk setuju dengan perkataan gadis itu barusan.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Nhea ada benarnya juga. Jika mereka terus
berlatih tanpa henti, mungkin mereka akan kelelahan. Bahkan sudah kehilangan
banyak energi sebelum bertanding.
Tidak ada yang tahu apakah Bibi Ga Euun sudah memikirkan
konsekuensi jangka panjangnya sampai ke sana atau belum. Tapi, kemungkinan
besar belum. Hatinya mengatakan begitu.
“Mari kita menyusul yang lainnya ke ruang jamuan makan!”
ajak Nhea sembari menyudahi kegiatannya.
Gadis ini sibuk memperhatikan setiap detail penampilannya di
depan cermin tadi.
***
hari yang lalu, karena dia memang bukan pendendam. Tapi, pada kenyataannya
hubungan mereka belum baik-baik saja sama sekali. Banyak hal yang berubah.
Baiklah, mungkin Oliver tidak sempat merasakan hal tersebut dalal jangka waktu
yang cukup lama. Sebab, ia adalah satu-satunya orang yang berada pada jarak
sedekat ini dengan Nhea kapan saja. Mereka selalu bersama.
Berbeda dengan Jang Eunbi dan juga yang lainnya. Mereka
masih merasa cukup canggung kepada Nhea. Bahkan untk memulai suatu dialog saja
rasanya berat. Sudah dikatakan di awal jika hubungan mereka tidak baik-baik
lagi.
“Setelah ini kita ada latihan bersama di halaman belakang,”
ujar Oliver sambil membawa sarapannya menjuju meja.
“Latihan?” gumam Nhea pelan. Namun, ternyata tak cukup
pelan. Masih bisa tertangkap dengan jelas oleh telinga gadis itu.
“Jangan bilang jika kau melupakan yang satu itu!” balas
Oliver kemudian mendapati gelengan cepat dari Nhea.
Sebenarnya dia memang akan melupakan yang satu itu kalau
saja Oliver tdak menyinggungnya pagi ini. Bahkan, sama sekali tidak terlintas
__ADS_1
di dalam pikirannya jika setelah ini ia memiliki jadwal penting yang tidak bisa
dilewatkan.
Mereka mengambil posisi tempat duduk di sisi kanan meja
makan. Menghadap langsung ke jendela, sehingga mereka bisa melihat pemandangan
yang berada di luar sana. Tepat di hadapanmereka saat ini terdapat beberapa
bangkku kosong yang sama sekali belum di isi. Sebentar lagi semuanya akan
komplit. Lagipula beberapa di antara mereka masih sibuk mengantri untuk
mendapatkan jatah saparapn pagi.
“Kau harus banyak minum air putih agar tetap fokus selama
latihan nanti,” ujar Oliver.
Nhea yang mendapati perkataan tersebut tidak langsung membalasnya
dengan kalimat lain. Butuh waktu baginya untuk mencerna perkataan tersebut
dengan baik-baik.
Gadis itu hampir lupa jika dirinya termasuk ke dalam salah
satu kandidat peserta tim panahan. Entah apa yang membuat akademi sihir ini
mengutusnya pada cabang perlombaan yang satu itu. Padahal masih banyak cabang
perlombaan lainnya yang bisa dipertimbangkan. Lagipula Nhea yakin jika dirinya
tidak akan pernah sebaik dan sehebat teman-temannya yang lain dalam melakukan
panahan.
Sementara Oliver mendapatkan tanggung jawab untuk
bertandingdi cabang perlombaan merapalkan mantra sihir. Semua orang tahu betapa
hebatnya dia dalam melakukan hal tersebut. Tidak bisa dipungkiri jika Oliver
memang menjadi satu-satunya orang yang paling pandai dalam melakukan hal
tersebut. Hanya ada satu orang di akademi sihir ini.
Nhea sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa sampai ditunjuk
sebagai salah satu siswa yang mewakili cabang perlombaan tersebut. Sudah jelas-jelas
jika memanah memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Tidak semua orang bisa
melakukannya. Termasuk Nhea. Dia adalah orang yang mudah terkecoh. Konsentrasinya
akan buyar seketika.
Kali ini bukan lomba memanah biasa. Kenyataannya jauh lebih
sulit dari apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka harus memanah
sambil menunggangi pegasus. Sedangkan dalam posisi diam saja Nhea belum tentu
mampu mencetak skor. Bagaimana pula dengan yang satu itu. Tapi, secara
mengejutkan mereka mempercayakan hal tersebut kepada Nhea. Seolah-olah dirinya
bisa diandalkan. Padahal, gadis itu sendiri tidak terlalu yakin dengan
kemampuannya.
Mereka sudah banyak berlatih sampai hari ini. Sejauh ini
__ADS_1
kemampuan Nhea mulai meningkat, meski tidak terlihat secara signifikan. Sebenarnya
jika diperhatikan secara baik-baik, dia tidak terlalu buruk dalam hal itu.