Mooneta High School

Mooneta High School
Brunch


__ADS_3

Kompetisi antar akademi sihir hanya tinggal hitungan hari


lagi. Semua orang telah mempersiapkan diri. Memberikan penampilan terbaik yang


mereka bisa. Nyaris seluruh siswa dari akademi sihir Mooneta dilibatkan. Ada


berbagai macam cabang perlombaan yang mereka ikuti. Ada kategori tim dan


individu. Namun, karena lebih banyak perlombaan yang dilakukan secara


berkelompok, mau tak mau mereka pasti memerlukan banyak orang. Bahkan, ada


beberapa siswa yang tidak hanya mengikuti satu cabang lomba saja.


Ini merupakan perhelatan akbar. Kompetisi paling besar dan


bergengsi. Selalu menjadi saat yang ditunggu-tunggu bagi semua orang. Seluruh


akademi sihir akan memberikan hal terbaik yang mereka bisa. Mooneta, Reodal,


serta Orton adalah tiga akademi sihir yang menduduki tahta tertinggi selama


ini. Orang-orang menyebutnya sebagai si “Tiga Besar”.


Akan ada banyak orang pastinya nanti. Mereka tidak sabar


untuk menyaksikan kehebihan di lapangan. Keriuhan suasana pasti bukan menjadi


sesuatu yang bisa dielakkan dengan begitu saja. Bukan hanya menonton


pertandingan lalu pulang. Ada yang lebih menarik perhatian dari pada itu. Hanya


pada kompetisi tersebutlah mereka bisa menyaksikan persaingan ketat antara


akademi-alademi sihir terkenal. Seperti Mooneta, Reodal dan juga Orton.


Ketiganya adalah saingan berat satu sama lain pada saat semacam ini. Ada yang


bertindak sportif, ada pula yang akan melakukan berbagai cara demi mendapatkan


gelar kemenangan.


Persaingan mereka terkenal cukup ketat dan sengit. Ini


adalah poin utamanya pada kompetisi kali ini. Semua orang akan melihat betapa


hebatnya mereka. Biasanya, Mooneta memang selalu menjadi yang pertama dari


tahun ke tahun. Belum ada yang bisa menggeser posisi mereka. Tidak mudah memang


untuk mengalahkan anak-anak Mooneta. Bahkan, Reodal sendiri pernah mengakui hal


tersebut.


“Jadi, kita akan kembali berlatih lagi kali ini?” tanya Nhea


kepada teman sekamarnya tanpa memalingkan perhatian.


“Tentunya!” balas Oliver dengan yakin.


Gadis itu hanya bisa menghela napas dengan pasrah sesaat


setelah mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan harapan. Akhir-akhir ini


memang melelahkan. Tidak bisa dipungkiri. Mereka terus berlatih sepanjang hari


demi mempersiapkan yang terbaik. Hari dimana kompetisi akan berlangsung sudah


semakin dekat. Bibi Ga Eun pun tak segan-segan untuk menambah frekuensi latihan


mereka menjadi lebih sering dari pada biasanya. Wajar saja sebenarnya.


Terhitung mulai hari ini, hanya tinggal tersisa dua minggu

__ADS_1


saja menuju hari perlombaan. Belum termasuk hari dimana mereka harus


menghabiskan waktu seharian penuh di perjalanan. Beberapa hari ke depan


diyakini sebagai hari yang tidak mudah bagi Nhea. Mungkin bukan hanya Nhea yang


merasa demikian. Tapi, beberapa orang lainnya juga.


“Bagaimana jika kita sudah kehilangan energi sebelum


bertanding? Sungguh tidak lucu sama sekali,” ucap Nhea secara gamblang.


“Aku takut jika kita tidak bisa menampilkan yang terbaik,”


timpalnya kemudian.


Oliver mengangguk setuju dengan perkataan gadis itu barusan.


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Nhea ada benarnya juga. Jika mereka terus


berlatih tanpa henti, mungkin mereka akan kelelahan. Bahkan sudah kehilangan


banyak energi sebelum bertanding.


Tidak ada yang tahu apakah Bibi Ga Euun sudah memikirkan


konsekuensi jangka panjangnya sampai ke sana atau belum. Tapi, kemungkinan


besar belum. Hatinya mengatakan begitu.


“Mari kita menyusul yang lainnya ke ruang jamuan makan!”


ajak Nhea sembari menyudahi kegiatannya.


Gadis ini sibuk memperhatikan setiap detail penampilannya di


depan cermin tadi.


***


hari yang lalu, karena dia memang bukan pendendam. Tapi, pada kenyataannya


hubungan mereka belum baik-baik saja sama sekali. Banyak hal yang berubah.


Baiklah, mungkin Oliver tidak sempat merasakan hal tersebut dalal jangka waktu


yang cukup lama. Sebab, ia adalah satu-satunya orang yang berada pada jarak


sedekat ini dengan Nhea kapan saja. Mereka selalu bersama.


Berbeda dengan Jang Eunbi dan juga yang lainnya. Mereka


masih merasa cukup canggung kepada Nhea. Bahkan untk memulai suatu dialog saja


rasanya berat. Sudah dikatakan di awal jika hubungan mereka tidak baik-baik


lagi.


“Setelah ini kita ada latihan bersama di halaman belakang,”


ujar Oliver sambil membawa sarapannya menjuju meja.


“Latihan?” gumam Nhea pelan. Namun, ternyata tak cukup


pelan. Masih bisa tertangkap dengan jelas oleh telinga gadis itu.


“Jangan bilang jika kau melupakan yang satu itu!” balas


Oliver kemudian mendapati gelengan cepat dari Nhea.


Sebenarnya dia memang akan melupakan yang satu itu kalau


saja Oliver tdak menyinggungnya pagi ini. Bahkan, sama sekali tidak terlintas

__ADS_1


di dalam pikirannya jika setelah ini ia memiliki jadwal penting yang tidak bisa


dilewatkan.


Mereka mengambil posisi tempat duduk di sisi kanan meja


makan. Menghadap langsung ke jendela, sehingga mereka bisa melihat pemandangan


yang berada di luar sana. Tepat di hadapanmereka saat ini terdapat beberapa


bangkku kosong yang sama sekali belum di isi. Sebentar lagi semuanya akan


komplit. Lagipula beberapa di antara mereka masih sibuk mengantri untuk


mendapatkan jatah saparapn pagi.


“Kau harus banyak minum air putih agar tetap fokus selama


latihan nanti,” ujar Oliver.


Nhea yang mendapati perkataan tersebut tidak langsung membalasnya


dengan kalimat lain. Butuh waktu baginya untuk mencerna perkataan tersebut


dengan baik-baik.


Gadis itu hampir lupa jika dirinya termasuk ke dalam salah


satu kandidat peserta tim panahan. Entah apa yang membuat akademi sihir ini


mengutusnya pada cabang perlombaan yang satu itu. Padahal masih banyak cabang


perlombaan lainnya yang bisa dipertimbangkan. Lagipula Nhea yakin jika dirinya


tidak akan pernah sebaik dan sehebat teman-temannya yang lain dalam melakukan


panahan.


Sementara Oliver mendapatkan tanggung jawab untuk


bertandingdi cabang perlombaan merapalkan mantra sihir. Semua orang tahu betapa


hebatnya dia dalam melakukan hal tersebut. Tidak bisa dipungkiri jika Oliver


memang menjadi satu-satunya orang yang paling pandai dalam melakukan hal


tersebut. Hanya ada satu orang di akademi sihir ini.


Nhea sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa sampai ditunjuk


sebagai salah satu siswa yang mewakili cabang perlombaan tersebut. Sudah jelas-jelas


jika memanah memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Tidak semua orang bisa


melakukannya. Termasuk Nhea. Dia adalah orang yang mudah terkecoh. Konsentrasinya


akan buyar seketika.


Kali ini bukan lomba memanah biasa. Kenyataannya jauh lebih


sulit dari apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka harus memanah


sambil menunggangi pegasus. Sedangkan dalam posisi diam saja Nhea belum tentu


mampu mencetak skor. Bagaimana pula dengan yang satu itu. Tapi, secara


mengejutkan mereka mempercayakan hal tersebut kepada Nhea. Seolah-olah dirinya


bisa diandalkan. Padahal, gadis itu sendiri tidak terlalu yakin dengan


kemampuannya.


Mereka sudah banyak berlatih sampai hari ini. Sejauh ini

__ADS_1


kemampuan Nhea mulai meningkat, meski tidak terlihat secara signifikan. Sebenarnya


jika diperhatikan secara baik-baik, dia tidak terlalu buruk dalam hal itu.


__ADS_2